
Matahari semakin meninggi. Cahaya putih keemasannya semakin menyilaukan mata Yuto dan Gen. Angin berembus kencang, menerbangkan pasir-pasir berwarna coklat cream, membuat kedua pemuda itu terpaksa melindungi mata mereka menggunakan tangan kanan. Yuto dan Gen telah melewati perbatasan antara padang rumput dengan gurun pasir. Panas gurun pasir mulai membakar tubuh mereka, membuat peluh bercucuran dan membanjiri tubuh.
"Sial ...!!! Panas sekali, sih!!!" keluh Gen sembari mengusap keringatnya. Namun, itu adalah usaha yang sia-sia. Peluh terus mengaliri sekujur tubuhnya.
"Bersabarlah, kak," sahut Yuto dengan wajah yang terlihat tenang dan datar. "Baru panas begini saja sudah mengeluh, bagaimana ketika kita bertarung nanti?"
"Baiklah." Gen berujar sembari mengusap peluh yang mengaliri pelipisnya sekali lagi.
Yuto turut mengusap peluh yang mengalir turun melintasi keningnya dengan wajah tenang, kemudian ia merogoh saku celananya dan mengambil peta yang diberikan oleh ayah angkatnya tak lama sebelum mereka berangkat.
__ADS_1
"Hmm ... menurut peta ini, sebentar lagi kita akan sampai," ucap Yuto sembari terus menatap lembaran kertas itu dengan saksama. "Pusat kekuasaan sang immortal otoriter, Dewa Magus, di planet Aojin. Kota Rainzar, huh?"
"Sebentar lagi? Aku sudah tak tahan dengan hawa panas ini. Ini bagaikan di neraka." Gen terus mengoceh sembari mengerucutkan bibir layaknya bocah berusia 7 tahun yang tengah merajuk. Peluh terus mengaliri sekujur tubuhnya.
"Bersabarlah. Sebentar lagi, kok." Yuto mulai merasa terganggu dengan sifat rewel kakaknya."Dasar, masa' seorang kakak seperti ini?" batin Yuto sembari mengomel dalam hati.
Gen menenggak ludah. Sebenarnya, ia tak percaya diri untuk melakukan ini. Ia merasa bahwa misi takdir ini adalah beban yang sangat berat baginya. Ini akan menjadi pertarungannya yang pertama. Ia tak memiliki pengalaman, hanya bermodalkan keahlian berpedang dan kekuatan yang belum bisa ia kendalikan. Ia takut gagal, takut kepada lawan, dan ketakutan yang terbesar adalah: TAKUT AKAN KEMATIAN. Sedahsyat apapun kekuatan yang ada di dalam tubuh Gen, ia tetaplah hanya penyihir biasa. Ia hanya pemula dalam pertarungan. Kemenangan belum tentu akan menjadi miliknya. Ia juga takut akan kehilangan moral karena terlampau banyak membunuh penyihir bawahan Dewa Magus. Sejahat apapun para penyihir itu, mereka tetaplah makhluk yang berasal dari kaum yang sama dengannya.
"Apakah aku sanggup ... menanggung risiko kekalahan, rasa bersalah, dan kegagalan?" Gen membatin. Langkahnya mulai melambat. Jarak antara pemuda itu dengan tembok kota hanya tersisa tiga meter."Atau ... apakah aku harus kembali ke Desa Zen? Beban ini terlalu berat untukku. Mungkin melarikan diri dari takdir ini adalah jalan terbaik."
__ADS_1
Namun, seketika secercah cahaya harapan muncul di dalam hati Gen. Api semangat mulai menyala di hatinya dan berkobar, semakin lama semakin besar. Pemuda berambut keemasan itu kembali mempercepat langkahnya, lebih cepat dari sebelumnya. Ia mendengar kata-kata:"Bodoh!! Kau sudah mau menyerah sebelum memulai pertarungan? Dasar lemah. Jika kau menyerah sekarang, sederet berlian yang berada tepat di hadapanmu saat ini akan menjadi sia-sia. Kau mengerti maksudku, bukan?"
Matahari semakin meninggi. Panas terik terus membakar tubuh Gen dan Yuto. Namun, kedua pemuda itu tampak sama sekali tak memedulikan hawa panas tersebut. Senyum penuh semangat terukir di wajah Gen. Angin gurun yang kencang menerbangkan helai-helai poni keemasannya. Sepasang mata keemasannya menajam, menatap dengan serius dan penuh semangat.
"Tentu saja, aku mengerti!!" Gen membatin, meski ia mengetahui bahwa takkan ada seorangpun yang mengatakan kata: 'Bagus!!' kepadanya sembari mengacungkan jempol. Ia bahkan tak mengetahui siapa sumber suara yang menyemangatinya dari dalam batinnya itu.
Tak lama kemudian, Gen beserta Yuto pun tiba di depan gerbang kota. Kedua penjaga gerbang segera memasang sikap siaga.
To be continued
__ADS_1