Legenda Dewa Multiversal Kembar

Legenda Dewa Multiversal Kembar
Chapter 12: Gerbang Kota Rainzar


__ADS_3

"Tunjukkan Magus Badge kali-ugh!!!" Belum sempat salah seorang penjaga menyelesaikan kalimatnya, Gen telah lebih dulu melakukan sapuan kaki terhadap penjaga tersebut, kemudian ia segera mengunci tubuh penjaga itu. Penjaga gerbang tersebut pun berontak, mengerahkan seluruh kekuatannya, berusaha melepaskan diri dari kuncian Gen.


Gen tersenyum penuh kepuasan. "Latihanku selama ini rupanya tidak sia-sia," batinnya.


"Kurang ajar!!!" Penjaga yang satunya lagi murka dan segera melemparkan tombaknya ke arah Gen. Namun, dengan sigap Yuto menangkis tombak tersebut menggunakan pedang kesayangannya.


"Anak sial!!!" Dengan nada gusar, penjaga itu berlari menuju Yuto, berniat bertarung menggunakan tangan kosong.


Penjaga itu segera mencengkeram kedua lengan Yuto yang siap mengayunkan pedang miliknya. Ia juga mengunci kedua kaki Yuto.


"Cih ... sialan!!!" Yuto mengumpat dalam hati.

__ADS_1


Gen yang tengah mengunci tubuh penjaga lainnya hanya mampu menggertakkan gigi dengan kesal. Jika ia membantu adiknya, maka kunciannya terhadap penjaga itu akan lepas.


Yuto terus berusaha keras, sampai akhirnya dia berhasil melepaskan kuncian kakinya. Dengan sigap, pemuda berambut hitam kelam itu menyapu kaki sang penjaga, membuatnya terjatuh. Dengan cepat, Yuto menyabetkan pedangnya ke samping kepala sang penjaga, membuat ketopongnya terlepas.


"Sekarang waktunya!!!" seru Yuto sembari menghujamkan pedangnya ke dahi sang penjaga.


"Energy Barrier!!!" Dengan cepat, penjaga itu menciptakan sebuah perisai yang melindungi kepalanya dari tusukan pedang Yuto.


Sementara itu, Yuto terus mengeratkan genggamannya pada pedang kesayangannya, mendorong pedang itu dengan sekuat tenaga hingga akhirnya barrier yang diciptakan oleh sang penjaga hancur. Pedang Yuto pun menancap tepat di dahi penjaga tersebut, membuatnya meregang nyawa seketika. Darah mengucur dari luka tusukan.


Kedua mata keemasan milik Gen membelalak seketika. Namun, seolah tak memedulikan tatapan mata kakaknya, Yuto mendekati penjaga yang tubuhnya tengah dikunci oleh Gen dan memenggal kepalanya. Darah mengalir deras, membasahi hamparan pasir berwarna cream. Dengan wajah datar dan tampak tak bersalah, Yuto menyarungkan kembali pedangnya yang berlumuran darah merah.

__ADS_1


"Yu-Yuto ...." Gen menatap tak percaya. Mulutnya ternganga. Kedua matanya masih membelalak lebar, tak percaya apa yang baru saja dilakukan oleh adiknya.


"Mari kita masuk ke dalam kota." Yuto kembali menghiraukan tatapan mata sang kakak. Sorot mata tajamnya yang menyeramkan sempat membuat kakaknya bergidik ngeri. Wajah berkulit putih susu itu tampak datar, tanpa sedikitpun tanda ekspresi. Angin gurun kembali bertiup kencang, menerbangkan pasir-pasir, menambah tegang suasana.


"B-Baik." Gen pun menghentikan tatapannya dan bergegas bangkit, meninggalkan sepasang jasad penjaga yang berlumuran darah itu. Gerbang ini dan bagian dalam kota dipisahkan oleh sebuah lorong panjang, karena itulah tak ada prajurit lain di dalam kota yang menyadari peristiwa tadi. Terlebih lagi, sedari tadi tak ada satupun prajurit yang masuk atau keluar dari gerbang selatan ini.


"Tunggu." Mendadak, Yuto berbalik dan mendekati jasad kedua penjaga gerbang yang tadi ia bunuh, kemudian melepas Magus Badge milik mereka dan memakaikan salah satunya di dada kirinya. "Ini," ucapnya sembari menyodorkan lencana hitam legam bermotif lingkaran sihir berwarna ungu gelap tersebut kepada Gen.


"Tunggu, Yuto. Apa kau berencana untuk ...."


"Ya," sahut Yuto. "Kita akan menyamar."

__ADS_1


To be continued


__ADS_2