
"Wah!! Lezat sekali!! Kalian tidak mau, ya? Enak sekali, lho!!"
Gen dan Yuto hanya mampu terdiam dengan setetes keringat di kening sembari menatap Hinatsu yang menyantap beragam jenis makanan yang tertata rapi di atas meja dengan rakus.
"He-Hei, apa seorang wanita pantas untuk makan seperti itu?" Gen berbisik kepada Yuto dengan sangat berhati-hati agar tidak terdengar oleh Hinatsu.
"Entah, sepertinya dia benar-benar sudah dikuasai oleh dosa [Gluttony]," sahut Yuto.
"Dia berbanding terbalik dengan wanita pada umumnya, cara makannya sangat rakus," sahut Gen. "Penampilannya memang cukup manis, cara makannya sangat rakus."
"Apa ... yang kau bilang?!" Raut wajah Hinatsu mendadak berubah. Sepasang matanya bersinar kemerahan, bahkan Gen dan Yuto dapat merasakan hasrat membunuh yang sangat kuat terpancar dari wanita itu.
"Ukh!! Bagaimana bisa ketahuan?! Bukannya aku sudah berbisik dengan sangat lirih?!" Gen menenggak ludah.
Hinatsu bangkit dari kursinya dan segera memunculkan sebuah bola api di telapak tangannya, membuat Gen dan Yuto bergidik ngeri.
Keringat dingin mulai membanjiri tubuh Gen. "Bu-bukan!! Aku tidak bilang rakus, kok!! Maksudku rakun!! Kita tadi sedang bicara tentang rakun, 'kan?" Gen mencoba mengelak sembari menyikut Yuto.
Bola api yang berada di atas telapak tangan Hinatsu berkobar semakin hebat dan ukurannya membesar. Penginap-penginap lain mulai merasa takut karena hawa panas yang dihasilkan oleh si jago merah tersebut sungguh membakar kulit. Keringat dingin semakin deras mengaliri sekujur tubuh Gen dan Yuto.
"JANGAN MENGALIHKAN PEMBICARAAN!!!" Bentakan Hinatsu menggelegar bagaikan guntur, mengguncang bumi serta memekakkan telinga semua orang yang berada di ruang makan tersebut. Secepat kilat, wanita itu menghantam kursi yang diduduki Gen hingga terbakar menjadi abu, bahkan bola api tersebut sampai melubangi lantai papan dan membakar papan-papan di sekitar, membuat para penginap lainnya semakin panik. Bahkan, sebagian dari mereka sampai berhamburan keluar dari ruang makan. Beruntung, Gen berhasil lolos dari maut berkat kecepatan gerak refleksnya yang menakjubkan. Pemuda berambut keemasan itu hanya bisa menatap lantai yang berlubang dan terbakar dengan tatapan tak percaya dan dipenuhi ketakutan. "Mustahil ...," ucapnya dengan tenggorokan tercekat.
Hinatsu mencabut kepalan tangannya dari lubang di lantai tersebut dan kembali mengarahkan pandangannya yang amat mengintimidasi ke arah Gen yang tengah bergidik ngeri. "Bersiaplah ...."
__ADS_1
"He-Hei!! Apa-apaan ini?!" Sebuah suara memecah suasana menegangkan itu. Seorang pria paruh baya yang berpostur tubuh pendek dan cukup gemuk memasuki ruang makan dengan wajah yang memerah dan tatapan yang dipenuhi oleh kemarahan. Tampaknya ialah pemilik dari penginapan ini. "Ya ampun, pelangganku kabur semua!! Kursiku!! Lantaiku!! Siapa yang akan bertanggung jawab atas semua ini?!" geramnya.
Seketika, keringat dingin mengaliri kening Hinatsu. "Ehmm ... dia," ucapnya sembari menunjuk Gen, membuat yang ditunjuk membelalak terkejut.
"Eh?! A-Aku?!" ujar Gen sembari menunjuk dirinya sendiri.
"Baguslah, ayo cepat bayar!!" bentak sang pemilik penginapan.
"Eh? Tapi, bukan aku yang mel-"
"Kau atau temanmu yang melakukannya, sama saja!! Ayo cepat bayar!! Ini bisa menurunkan reputasi penginapanku di mata masyarakat desa!!" Belum sempat Gen menyelesaikan ucapannya, pemilik penginapan yang terbakar amarah itu telah lebih dulu memotong.
"Ta-Tapi ...."
"Tidak ada tapi-tapi!! Cepat!!" Pria gemuk itu membentak sekali lagi. "Atau kau ingin kubawa masalah ini ke jalur hukum?"
"Nah, bagus. Lain kali, jangan berbuat ulah lagi." Wajah marah pria tersebut seketika digantikan oleh wajah ceria. Ia menerima koin emas itu, kemudian meninggalkan ruang makan. Gen, Yuto, dan Hinatsu pun menghembuskan napas lega.
"Terima kasih, Gen." Hinatsu berucap sembari tersenyum manis.
Namun, kini malah Gen yang memancarkan aura kebencian yang amat hebat. "KAU!! KAU MERAMPOKKU!!! ITU SEPERTIGA DARI BEKAL UNTUK BIAYA HIDUPKU SELAMA PERJALANAN, SIALAN!!"
"SALAHMU SENDIRI MENGATAIKU RAKUS!!" balas Hinatsu dengan marah.
__ADS_1
"BUKANKAH ITU MEMANG KENYATAAN?! KAU WANITA YANG RAKUS!!"
"BERANINYA KAU MENGATAKAN ITU LAGI?!"
"YA!! MEMANGNYA KENAPA? DASAR GENDUT!!"
"BERANI SEKALI KAU MENGATAKAN ITU KEPADA SEORANG WANITA!!"
"YA!! MEMANG KENAPA?! ADA MASALAH DENGAN ITU?!"
"DASAR PIRANG!!"
"RAMBUT TOMAT!!"
"APA KAU BILANG TADI?!"
"APA KURANG KEDENGARAN?!"
"JANGAN MEMBUATKU MARAH, YA!!"
"KAU YANG MEMULAINYA, BODOH!!"
Yuto tersenyum tipis sembari menatap Gen dan Hinatsu yang tengah beradu mulut. Setelah membeku selama beberapa lama, akhirnya hati Yuto kembali mencair. "Hah ... dasar .... Apa aku harus melihat pemandangan seperti ini setiap hari?"
__ADS_1
"Memang konyol, tapi entah kenapa, pemandangan ini membawa kedamaian ke dalam hatiku."
To be continued