Legenda Dewa Multiversal Kembar

Legenda Dewa Multiversal Kembar
Chapter 7: Pengorbanan dan Wasiat


__ADS_3

Kalau mau nambah feels, silakan bacanya sambil mendengarkan backsound ‘Decision’ dari Naruto Shippuden :3


————————————————————————————————————


"Kau tidak bisa memikulkan takdir ini kepada mereka berdua, Yuji!! Takdir ini terlalu berat bagi mereka!!" Yuko menolak dengan tegas. Wanita berambut hitam panjang yang diikat menggulung ke belakang itu menatap tajam kepada suaminya.


"Tetapi, tidak ada cara lain, Yuko! Kita harus menyegel kekuatan sihir Core of All Realms ke dalam tubuh Gen dan Yuto dengan menggunakan sihir terlarang itu!!" Sang suami menegaskan. Pria bertopi penyihir itu tetap berpegang teguh pada keputusannya.


"Tapi ... jika kita menggunakan sihir itu, maka kita akan mati!!" Yuko bersikeras.


"Tidak apa-apa, biarlah kita yang menjadi tumbal untuk sihir terlarang itu ...." Yuji berujar sembari menatap lurus ke arah bola bercahaya yang berada di depannya. Core of All Realms, atau biasa disingkat menjadi CoAR, sumber utama energi sihir pembentuk alam semesta. "Ini semua ... demi masa depan seluruh semesta ...."


Meski agak ragu, pada akhirnya Yuko pun mendukung keputusan suaminya.


"Baik, kita akan memulainya."


Yuji dan Yuko menatap dengan serius ke arah CoAR.


"Forbidden Magic: Seal!!! Target: Yuto and Gen, Power: Core of All Realms, Sacrifice: Full Body!!!" Yuji dan Yuko berseru secara bersamaan dengan suara lantang.


Perlahan, bola cahaya raksasa itu terserap ke dalam tubuh Yuto dan Gen. Struktur tubuh Yuji dan Yuko mulai memudar. Perlahan, partikel-partikel berwarna keemasan keluar dari tubuh mereka. Itulah energi kehidupan mereka yang telah ditumbalkan.


"Ini saatnya, Yuko. Waktunya untuk pesan terakhir kita."


Yuko menatap kedua putranya yang tengah tertidur nyenyak. Air mata mulai menetes dari sudut matanya. "Sayang sekali .... Kalian bahkan belum pernah melihat wajah ayah dan ibu kalian, dan sekarang kalian akan berpisah dengan mereka," ucap Yuko dengan penuh rasa haru dan sedih.


"Aku tahu, bahwa kalian masih bayi, dan kalian tentu tidak akan mengerti apa yang kukatakan. Terlebih lagi, kalian sedang tertidur nyenyak sekarang. Namun, biarkan ibu kalian ini mengucapkan salam perpisahan."

__ADS_1


"Gen ... Yuto .... Mulai sekarang, kalian akan menjalani hidup yang pahit. Maafkan ayah dan ibu, karena membuat kalian memikul takdir yang berat ini. Ibu hanya ingin berkata, jalanilah hidupmu dengan penuh semangat, layaknya nyala api yang membara, dan jangan pernah menyerah. Meski berat dan pahit, pikullah takdir kalian. Takdir memang terkadang menyakitkan, tetapi semua kesakitan itu mendorong kalian untuk menjadi pribadi yang lebih baik lagi. Pribadi kalian akan dibentuk dengan cara yang sangat menyakitkan, tapi jangan pernah berhenti berjuang. Jangan berhenti, tetaplah jalani hidup ini. "


"Ayah juga ingin berpesan kepada kalian," ucap Yuji. Perlahan, air mata menetes dari sudut matanya. "Kalian adalah laki-laki. Kuatkanlah tekad kalian, dan berlakulah seperti seorang pria sejati."


"Ayah dan ibu pasti akan baik-baik saja di alam sana, jadi kalian jangan khawatir. Urus saja diri kalian sendiri, dan yang terpenting adalah jangan biarkan nyala api yang berkobar di dalam hati kalian itu padam."


"Mungkin itu saja pesan dari ayah dan ibu, sampai jumpa di alam sana."


Yuji mengeluarkan secarik kertas dan menulis sesuatu dengan menggunakan sihir kegelapan, kemudian meletakkannya di atas dada Gen*. "Forbidden Magic: Teleport. Target: Gen and Yuto. Sacrifice: Right Hand."*


Sosok bayi Yuto dan Gen pun menghilang, bersama dengan secarik kertas yang diletakkan di atas tubuh mereka. Mereka telah diteleportasi ke Desa Zen. Bersamaan dengan itu, tangan kanan milik Yuji pun lenyap tak berbekas.


"Ukh!!!" rintih Yuji.


"Suamiku!!!" Yuko tampak panik.


Yuji tersenyum kecut. "Bodoh sekali, aku berjanji kepada para anggota kelompok Penyihir Revolusioner untuk pulang ke Desa Zen, tetapi malah begini akhirnya."


"Tidak masalah, jika kau tidak bisa menepati janji itu. Mereka pasti akan mengerti." Yuko berujar sembari tersenyum, padahal air mata masih mengalir dari sudut matanya.


Struktur tubuh Yuji dan Yuko semakin memudar.


"Hei, istriku. Menurutmu, apa kita akan bisa bertemu lagi di alam sana?"


"Entahlah, tapi aku harap kita bisa bertemu lagi."


"Aku juga berharap begitu."

__ADS_1


Tepat setelah Yuji menyelesaikan ucapannya, tubuh mereka berdua menghilang sepenuhnya.


———————————————————————————


Desa Zen, Pulau Zerra, Planet Aojin, Semesta Magus.


Hari telah malam di Planet Aojin. Zirai, sang satelit dari Planet Aojin yang memiliki ukuran dua kali lipat lebih besar dari bulan dan memiliki rupa yang mirip dengan bulan mengapung di langit. Cahaya kelabunya yang cukup terang menimpa Desa Zen. Itu karena malam ini adalah waktunya bagi Zirai untuk purnama. Bintang-bintang beraneka warna bertaburan di langit yang berwarna navy, berkelap-kelip secara perlahan, menambah keindahan langit malam. Desa Aojin tampak indah pada malam ini. Lampu-lampu sihir bertaburan di titik-titik tertentu desa, bagaikan lampu-lampu kecil yang indah. Tembok desa melingkari Desa Zen dengan ketat dan hanya menyisakan empat lubang besar berbentuk persegi panjang di timur, barat, utara, dan selatan. Lubang-lubang itu adalah gerbang masuk Desa Zen. Di atas tembok desa, penjaga-penjaga yang mengenakan zirah besi dan bersenjatakan busur serta panah sihir tengah berdiri sembari menatap hutan lebat dan gelap yang mengelilingi Desa Zen. Kesiagaan yang tinggi tampak di sepasang mata mereka yang tajam bagaikan mata elang.


Para anggota kelompok Penyihir Revolusioner masih menunggu kepulangan Yuji dan Yuko di dalam rumah masing-masing, sembari terus berdoa. Sepasang pria dan wanita berjalan-jalan ke luar rumah untuk menikmati pemandangan malam yang indah dan melepaskan kecemasan mereka. Sang pria memiliki rambut pendek cepak berwarna merah darah sementara sang wanita memiliki rambut sebahu berwarna biru.


Mendadak, dua bayi yang dibalut kain berbahan sihir kegelapan muncul tak jauh dari mereka, tepat di bawah lampu pijar. Kulit mereka putih bagaikan susu. Salah satunya berambut hitam kelam dan yang satunya lagi memiliki rambut berwarna keemasan. Secarik kertas terletak rapi di atas dada sang bayi berambut hitam. Keduanya tampak sedang tertidur nyenyak.


"Kedua bayi itu?? Bukankah mereka tak ada di sana tadi?" ucap sang wanita keheranan.


Sepasang pria dan wanita itu menghampiri kedua bayi tersebut. Mereka mengambil secarik kertas yang terletak di atas tubuh sang bayi berambut hitam dan membacanya.


"Untuk siapapun yang menemukan surat ini. Kami mohon, rawatlah bayi-bayi ini. Bayi yang berambut hitam bernama Yuto, sementara bayi yang berambut keemasan bernama Gen. Rawatlah mereka. Pastikan mereka selalu mendapatkan makanan dan tempat tinggal yang layak. Pastikan mereka selalu merasa bahagia. Jika bisa, carikan juga guru untuk mereka. Jangan terlalu keras pada mereka. Saat kalian membaca surat ini, kami telah tiada. Kekuatan Core of All Realms disegel ke dalam tubuh bayi-bayi ini. Terima kasih atas kesediaan kalian. Jagalah Gen dan Yuto. Kami memercayai anda.


Tertanda, ketua dan wakil ketua kelompok Penyihir Revolusioner,


Yuji dan Yuko."


Sepasang penyihir itu terpaku. Keterkejutan dan rasa sedih bercampur aduk, menguasai hati mereka. Perlahan, air mata menetes dari sudut mata mereka. Mereka pun bertekad untuk menjaga dan merawat Gen dan Yuto hingga mereka tumbuh dewasa.


"Tenang saja, Yuji-sama dan Yuko-sama. Kami pasti akan merawat dan menjaga putra-putra kalian. Kami akan memastikan, mereka akan tumbuh menjadi pemuda yang kuat, tampan, dan bijaksana."


To be continued

__ADS_1


Hayo, kalian nangis, ya? 😏


__ADS_2