
Matahari masih berada di ufuk timur, enggan meninggalkan cakrawala yang telah menjadi tempat peristirahatannya sepanjang malam. Wajar saja, sebab sekarang masih pukul tujuh pagi. Kicauan-kicauan merdu dari burung-burung yang hinggap di dahan-dahan pohon dapat terdengar dengan jelas, sungguh mendamaikan hati. Di taman belakang penginapan yang indah dan tertata rapi, seorang pemuda berambut keemasan tengah duduk di bangku taman sembari menatap pohon-pohon yang rimbun serta bunga-bunga yang tampak cantik. Kesejukan udara pagi melenakan kulitnya yang seputih susu. Ia menarik napas dalam-dalam, menghirup udara pagi yang segar, kemudian menengadah ke langit biru yang cerah. Awan-awan berwarna putih bersih tampak mengapung di langit biru yang cerah. Perlahan, senyum terukir di wajah pemuda tersebut. Ya, pemuda itu adalah Gen.
"Pemandangan pagi yang indah," ucapnya. "Tak sia-sia aku datang kemari. Tempat ini lumayan untuk mengistirahatkan tubuh dan pikiran dari pertarungan dan takdir yang berat."
"Oh, kau di sini rupanya." Sepasang telinga Gen menangkap sebuah suara feminim yang familiar. Pemuda itu pun segera menoleh ke arah datangnya suara. Tampak seorang wanita berambut kemerahan tengah berjalan mendekatinya.
"Ah, Hina." Gen berucap sembari tersenyum ramah.
"Tempat yang indah, bukan?" Wanita yang dipanggil Hina berucap sembari mendudukkan tubuhnya di sebelah Gen, kemudian turut menatap pepohonan yang rimbun dan bunga-bunga yang indah. "Aku juga selalu datang ke sini setiap pagi."
"Apakah kau baru pertama kali datang kemari?"
"Ya," sahut Gen. Entah mengapa, jantungnya berdebar dua kali lipat lebih cepat. Ia memalingkan muka, berusaha menutupi wajahnya yang memerah.
"Indah, bukan? Tempat ini adalah lokasi refreshing yang pas untuk menentramkan hati dan pikiran yang lelah," ujar Hina.
__ADS_1
"Ya." Sekali lagi, Gen menjawab tanpa mempertemukan wajahnya dengan wajah Hina.
"Omong-omong, maaf soal yang kemarin. Jika sudah naik pitam, aku sulit mengendalikan diri. Apa aku perlu mengganti uangmu yang digunakan untuk ganti rugi?"
"Tak perlu." Sekali lagi, Gen menjawab tanpa menatap Hina.
"Sungguh?"
"Ya."
"Benarkah?" Gen berucap sembari menoleh, menatap Hina.
Senyum manis mulai terukir di wajah Hina. "Tentu saja. Jangan pernah menyerah, pahlawan. Kami mengandalkanmu."
Jantung Gen berdegup semakin kencang. Dengan susah payah, ia menahan senyum dan menyembunyikan wajahnya yang merona. "Perasaan ini ... jangan-jangan ...." Ia membatin. "Kurasa sekarang saat yang tepat untuk .... Ah, tidak. Bagaimanapun, dia hanya prajurit wanita yang menyelamatkanku, dia hanya rekan seperjalanan. Dia hanya rekan seperjuangan!!"
__ADS_1
Mendadak, kilasan wajah ayah angkat Gen melintas di benaknya. Sebuah suara menggema di pikirannya, nasihat yang pernah dilontarkan oleh sang ayah angkat sewaktu ia masih bocah.
"Jangan membohongi dirimu sendiri."
"Sial ...," batin Gen."Apa yang harus kulakukan?"
Mendadak, tatapan lembut Hina digantikan oleh tatapan waspada. Ia menengadah ke langit. Merasa penasaran, Gen pun turut menengadah. Kedua matanya membelalak lebar begitu melihat naga-naga tengkorak yang bertebaran di langit.
"Pasukan ... Dewa Magus?!"
Hinatsu tersenyum penuh semangat. "Skull Wyvern, ya? Rupanya mereka telah berhasil mengejar kita."
"Apa yang harus kita lakukan?!" Gen mulai terlihat panik.
"Tentu saja ... menghadapi mereka ...," ujar Hina sembari bangkit dari posisi duduknya. Tampak naga-naga tengkorak itu mulai menukik ke bawah. "Apa kau bisa menggunakan kekuatan positif dari CoAR sekarang?"
__ADS_1
To be continued