
Keesokan paginya ....
"Yosh!! Grand Bullet siap untuk beraksi!!!" Si konyol Gen lagi-lagi meninju udara sembari berseru keras, membuat para pejalan kaki di sekitarnya sempat kaget.
"Astaga ...," ujar Yuto sembari menepuk dahinya.
"Apa dia selalu seperti ini?" tanya Yuuratsu dengan bulir keringat mengalir di keningnya.
"Ya," ujar Hinatsu. Sebutir keringat juga tengah mengaliri keningnya. "Dia memang konyol."
"Apa dia pikir ini main-main?" ujar Yuto sembari menghela napas berat.
"Tapi, terkadang orang seperti dia bisa jadi mood maker, lho," ujar Yuuratsu sembari tersenyum. "Tidak usah terlalu serius. Santailah sedikit."
"Haahh .... Baiklah ...," ujar Hinatsu sembari menghela napas berat.
Keempat orang dengan party bernama Grand Bullet itu pun mulai melangkah, menelusuri jalan-jalan desa Ragrius yang ramai dan padat oleh pedagang di kanan dan kiri. Keberadaan mereka mulai disadari oleh khalayak ramai. Para pejalan kaki mulai berbisik satu sama lain dengan raut wajah senang.
"Hei!! Itu mereka!!"
"Itu para pahlawan!!"
"Ta-Tanda tangan!!! Aku harus minta tanda tangan!!!"
"Hei, teman-teman. Aku punya firasat buruk tentang ini," ucap Yuto sembari menatap ke sekeliling.
__ADS_1
Benar saja, tak lama kemudian, massa menyerbu Grand Bullet. Keempat orang itu terdesak, dikerumuni oleh puluhan pejalan kaki.
"Kyaaaa!!! Itu para pahlawan!!"
"Yuuratsu sang Kesatria Eternal Machina juga ada!! Apa mereka telah menjadi rekan?"
"Yah, mereka, 'kan, sesama pejuang revolusioner!! Jadi wajar saja."
"Tuan Yuuratsu!! Boleh aku minta tanda tanganmu?"
"Hei, dua pria itu yang kemarin mengalahkan salah satu jenderal terkuat, 'kan?"
"Tanda tangan!! Para pahlawan!! Boleh aku minta tanda tangan kalian?"
"Wah, itu mereka!! Kesempatan bagus!! Heii!! Para pahlawan!!! Tolong ukir tanda tangan kalian di gagang pedangku!!!"
"Sial!!" gerutu Hinatsu.
"Mungkin ini sebabnya pahlawan dalam drama selalu datang dan pergi seperti angin," ujar Gen.
"Harusnya kita menyembunyikan identitas kita saja!!" sesal Yuuratsu.
Setelah bersusah payah, akhirnya mereka bertiga berhasil melarikan diri dari kerumunan pejalan kaki itu. Kini, mereka berada di daerah pinggiran kota yang cukup sepi, dengan rumah-rumah yang sederhana. Tepat tujuh meter di hadapan mereka, dinding pembatas desa berdiri kokoh, membentang melingkari desa.
"Sial ...," ujar Gen dengan terengah-engah. "Belum juga bertarung, tenagaku sudah terkuras."
__ADS_1
"Mungkin lain kali kita harus menyamar," ujar Yuuratsu sembari berusaha mengatur napasnya.
"Setidaknya kita berhasil lolos ...." Hinatsu berujar dengan napas yang tak beraturan sembari membungkuk. "Sial ... kerumunan massa ternyata cukup merepotkan."
"Ya, inilah resikonya jika menjadi pejuang revolusioner tapi tidak menyembunyikan identitas," sesal Gen sembari melanjutkan langkahnya, diikuti oleh Hinatsu, Yuto, dan Yuuratsu. "Seharusnya kita menjadi seperti pahlawan bertopeng saja."
"Yah ... apa boleh buat ...," ujar Yuuratsu. "Sudah terlambat kalaupun kita mau menyembunyikan identitas sekarang. Seluruh desa Ragrius telah mengenal nama dan wajah kita."
Keempat orang itu pun meneruskan langkah mereka, menelusuri jalan setapak sederhana yang sunyi dan sepi. Matahari semakin meninggi, seolah tengah berlomba layangan dengan awan-awan seputih kapas di langit biru cerah yang membentang luas, menandakan bahwa hari sudah beranjak siang. Udara pagi yang segar mulai digantikan oleh teriknya siang hari.
Tak butuh waktu lama bagi party berjuluk Grand Bullet itu untuk tiba di gerbang desa. Mereka segera disambut dengan senyum hangat oleh kedua penjaga gerbang.
"Lho? Kalian sudah mau pergi lagi?" tanya salah satu penjaga sembari tersenyum ramah. "Bukankah kalian baru tiga hari berada di sini?"
"Memang, tapi kami tidak bisa bersantai-santai terus," ujar Hinatsu. "Kami harus memenuhi panggilan takdir kami, untuk bertarung sebagai pejuang revolusioner."
"Ah, begitu." Penjaga yang satu lagi menyahut sembari tersenyum ramah. "Kalau begitu, kami tidak bisa menghalangi kalian. Semoga berhasil, para pejuang. Jika kalian ingin beristirahat lagi, datanglah ke sini. Pintu kami selalu terbuka untuk kalian."
"Kalian?" Gen mengerutkan keningnya.
Penjaga gerbang itu tertawa kecil. "Tentu saja, pahlawan. Bukan hanya untuk nona Hinatsu. Kalian bertiga juga adalah pejuang, dan sudah kami anggap sebagai penduduk desa ini. Bahkan, kemarin kalian menyelamatkan desa ini dari pasukan Dewa Magus. Kalian lebih dari sekedar penduduk. Kalian adalah pahlawan. Teruslah berjuang, kami percaya pada kekuatan kalian."
"Oke!! Akan kupastikan aku kembali dalam keadaan selamat!!" ujar Hinatsu dengan penuh percaya diri.
"Percaya saja kepada kekuatanku. Aku ini sebenarnya lebih kuat dari yang terlihat, lho." Gen berujar sembari mengangkat kepalanya dengan penuh kesombongan.
__ADS_1
"Haahh .... Kakak mulai lagi ...," ujar Yuto dengan bulir keringat mengalir di keningnya. "Dia benar-benar konyol ...."
"Baiklah!! Ayo kita melanjutkan perjalanan, Grand Bullet!!!"