Legenda Dewa Multiversal Kembar

Legenda Dewa Multiversal Kembar
Chapter 5: Penyihir Api Abadi, Crimson Eternity (Bagian 2)


__ADS_3

Crimson segera melesat menuju Yuji dengan kecepatan yang sangat cepat, sehingga hanya terlihat seperti selintas cahaya merah menyala. Ia segera mengayunkan pedangnya ke arah Yuji.


*traaangg!!!*


Yuji berusaha menahan serangan itu dengan menggunakan barrier kegelapan miliknya. Namun, barrier itu mulai retak. Retakan tersebut semakin membesar dan menjalar ke seluruh bagian barrier hingga dinding itu hancur berkeping-keping bagaikan cermin yang jatuh ke lantai.


"Dapat!!"


Crimson mengayunkan pedangnya secara horizontal, berusaha memisahkan lengan kiri Yuji dari tubuhnya. Dengan sigap, Yuji menghindar dari serangan fatal itu hingga pedang milik Crimson hanya membelah ruang hampa.


"Nya-nyaris ...," ucap Yuji dengan terbata-bata sembari berusaha mengatur nafasnya. Jantungnya masih berdegup kencang akibat serangan tadi.


"Ternyata kecepatanmu cukup tinggi," ucap Crimson sembari tersenyum bengis. "Tapi, kau tidak mungkin bisa menghindari ini!!! Magic: Non-element: Self-Duplicate!!!"


Crimson menduplikasi dirinya menjadi 30, kemudian mereka mengelilingi Yuji.


"Sekarang waktunya, untuk mengakhiri karirmu, Yuji Zamoto!!!" Ketiga puluh Crimson tersebut segera melesat secepat kilat ke arah Yuji sembari mengayunkan pedangnya.


"Magic: Dark Element: Tenebris' Wrath."


Seketika, pedang yang tergenggam di tangan Yuji bergerak dengan sendirinya, secepat kilat, membelah dan menikam. Dua puluh sembilan duplikat dari Crimson hancur menjadi debu emas, menyisakan satu Crimson dengan jubah yang telah compang-camping akibat terkena sabetan Yuji hingga menampilkan beberapa luka sabet di dadanya. Sebuah luka gores tertera di dekat mata kanannya, perlahan meneteskan darah. Dialah Crimson yang asli.


"Return."


Tepat setelah Yuji mengucapkan kata itu, pedang miliknya melesat ke arahnya dengan secepat kilat, bagaikan sebuah bumerang. Yuji pun menangkap gagang pedang itu dan menggenggamnya.


"Jadi kau sudah mulai serius, ya ...," ucap Crimson sembari menunjukkan senyum yang seolah berkata: 'Aku menerima tantanganmu.' Adrenalin mengalir di dalam tubuhnya bagaikan darah yang bersirkulasi. Semangatnya terpompa. Ia sangat jarang bertemu dengan penyihir yang kuat seperti ini.


"Immortality, active!!!"


Sesaat setelah kalimat itu terucap, luka-luka di tubuh Crimson menghilang tanpa bekas, termasuk luka gores yang berada di dekat mata kanannya.


"Kau beruntung karena berhasil membuatku menggunakan sihir immortality milikku. Sejujurnya, aku sangat jarang bertemu dengan orang yang kuat seperti dirimu," ucapnya sembari tersenyum bengis. "Izinkan aku menunjukkan kepadamu alasan mengapa aku dijuluki Flame Magician of Immortality."


"Waktunya pertunjukan," ucap Crimson."Blood Armageddon."


Seketika, puluhan meteor berwarna merah darah muncul di atas Yuji dan menghujaninya habis-habisan, menciptakan sebuah ledakan besar.


"Yuji!!!" Yuko berteriak dengan wajah panik, mencoba menghampiri suaminya.

__ADS_1


"Sayang sekali, Wakil Ketua. Tampaknya suamimu telah tiada." Crimson berucap sembari tersenyum bengis.


Yuko berdecak kesal. "Kau ...!!!"


"Siapa yang kau bilang sudah tiada, Crimson?"


"Apa?!" Crimson menoleh ke arah tumpukan meteor yang menindih Yuji dengan wajah terkejut. Yuko pun turut menoleh ke arah tumpukan meteor itu. Wajahnya menunjukkan keterkejutan yang sama dengan Crimson.


Tumpukan meteor itu bergetar, kemudian terangkat ke atas. Sebuah sosok tampak sedang mengangkat tangan kanannya ke atas untuk menahan tumpukan meteor itu.


Crimson mulai berkeringat dingin. "Jangan-jangan ...!!"


Sosok itu melemparkan tumpukan meteor tersebut ke arah Crimson. Crimson segera mengepalkan tangan kanannya dan melapisi kepalan itu dengan aura merah menyala, kemudian menghancurkan tumpukan meteor itu hingga menjadi debu.


Sosok tersebut mendekati Crimson. Kini wujudnya tampak dengan jelas. Sosok itu adalah Yuji.


"Yo," ucapnya sembari tersenyum.


Yuko menghela napas lega. "Syukurlah," ucapnya dengan suara pelan.


"Kau ternyata sangat kuat, Yuji Zamoto." Crimson berkata sembari tersenyum penuh semangat. Adrenalin yang mengalir di dalam tubuhnya kini telah mencapai tingkat tertinggi, membuatnya dipenuhi oleh semangat yang membara layaknya kobaran api yang sangat besar. "Tampaknya kita bisa menjadi rival yang sebanding."


"Sebanding? Akulah yang terkuat di antara kita berdua. Karena itu akulah yang akan menang!!!" sahut Yuji dengan penuh percaya diri.


Mendadak, seluruh tubuh Yuji terasa sangat berat. Ia jatuh berlutut sembari berusaha menahan tekanan yang benar-benar menyiksa dirinya. "Ukh!!! AAARGGHH!!!!"


"Hebat, hebat." Crimson berujar sembari bertepuk tangan. Senyum bengis tertera di wajahnya. "Jika kau adalah penyihir biasa, pasti tubuhmu sudah hancur karena tekanan gravitasi yang sangat tinggi ini."


"Ukh!!! Sialan!!!" seru Yuji sembari berusaha menahan rasa sakit akibat tekanan yang amat sangat.


"Beraninya kau!!!" Yuko berucap dengan wajah geram sembari menghampiri Crimson. Namun, mendadak sebuah kubus muncul dan mengurungnya. Ia berusaha menghancurkan kubus itu, tetapi semua usahanya sia-sia.


"Sia-sia saja, wakil ketua. Kubus itu adalah immortal object," ujar Crimson.


"Sialan ... kau!!!' SIALAN KAU!!!" umpat Yuji.


"Tutup mulut berisikmu itu," ucap Crimson sembari menjentikkan jari. Perlahan, api abadi melingkupi seluruh tubuh Yuji dan membakarnya.


"AAAAAAARRRRRGGGGGGHHHHHHHHHHHHH!!!" Yuji berteriak kesakitan. Rasa sakit yang ia rasakan kini meningkat dua kali lipat.

__ADS_1


"Si-sialan!!! Forbidden Magic ...."


Raut wajah Crimson segera berubah ketika mendengar kata-kata itu. Kedua matanya membelalak. "Di-dia menguasai Forbidden Magic?! Aku tidak boleh memberinya kesempatan untuk menggunakan sihir itu!!!"


"Increase temperature 80%!!!"


"AAAAAAAARRRRGGGHHHHH!!!" Yuji berteriak kesakitan. Ia merasa semakin panas.


"Hentikan!!! Dia sudah tak mampu bertarung lagi!!!" seru Yuko.


Crimson menoleh ke arah Yuko. "Aku tidak akan berhenti sampai dia tiada."


Yuji menyadari kelengahan Crimson dan tak menyia-nyiakan kesempatan emas itu. "Forbidden Magic: Immortality Crusher & Instant Kill!!! Sacrifice: 10% of my age!!!"


Crimson menyadari kelengahannya. Penyesalan mulai timbul di dalam hatinya. Kedua matanya membesar seketika. Tubuhnya mulai hancur menjadi debu emas. "Tidak!!!"


"TIDAAAAAKKK!!!"


Bersamaan dengan berakhirnya jeritan itu, tubuh Crimson pun hancur sepenuhnya, menyisakan debu-debu berwarna keemasan yang melayang-layang di ruang hampa. Kubus yang mengurung Yuko segera menghilang.


"Fyuh ... syu-syukurlah masih sempat ...." Yuji berucap sembari bangkit berdiri. Rambut, tubuh, dan pakaiannya dibasahi oleh keringat. Seluruh tubuhnya dipenuhi oleh luka bakar.


Yuko menghampiri suaminya itu sembari mengeluarkan sebuah Healing Potion dari Dimensional Storage Gate. Yuji segera meminum ramuan penyembuh itu dan luka-luka bakar di sekujur tubuhnya menghilang tanpa bekas. Staminanya juga kembali pulih.


"Kau sudah merasa baikan?" tanya Yuko dengan wajah khawatir.


"Ya," sahut Yuji sembari tersenyum.


"Lain kali, jangan membuatku ketakutan setengah mati seperti tadi, dasar bodoh," ujar Yuko sembari tersenyum. "Kupikir kau sudah tiada."


"Jangan bodoh. Aku adalah Yuji Zamoto, pemimpin dari kelompok Penyihir Revolusioner. Aku takkan mati dengan mudah," ujar Yuji.


"Jangan sok kuat. Buktinya, tadi kau hampir mati, 'kan?" ujar Yuko.


"Ya ... soal itu, sih ...." Yuji berujar sembari menggaruk bagian belakang kepalanya, bingung mencari jawaban untuk membela imejnya sebagai seorang pemimpin yang kuat.


"Jangan khawatir," ujar Yuko. "Walaupun kau tidak sekuat yang kuharapkan, kau tetap suamiku. Aku mencintaimu, Yuji."


"Aku juga mencintaimu, Yuko."

__ADS_1


Akhirnya pemenang pun ditetapkan. Yuji dan Yuko adalah pemenang dari perang tersebut.


To be continued


__ADS_2