Legenda Dewa Multiversal Kembar

Legenda Dewa Multiversal Kembar
Chapter 13: Menyamar


__ADS_3

"Tapi, apa kau yakin ini akan berhasil?" Gen memiringkan kepala dengan tatapan tak percaya.


"Tenang saja, aku jamin. Kemampuan aktingku cukup baik. Beraktinglah sebisamu, kak," ujar Yuto sembari mempertahankan wajah datarnya.


Gen pun menerima badge tersebut sembari tersenyum, kemudian ia memasangnya di dada. Kedua pria itu kembali melintasi lorong yang bercahaya muram tersebut. Langkah kaki mereka menggema di lorong beralaskan semen tersebut. Setelah beberapa menit berlalu, akhirnya mereka tiba di pintu keluar lorong. Kemuraman yang lebih dahsyat menyambut kedua pemuda itu. Awan-awan kelabu memayungi kota, ditemani oleh Sang Petir yang beberapa kali menyambar. Tampak belasan pria berzirah hitam legam tengah berpatroli di jalan yang sepi. Namun, yang lebih membuat bulu kuduk berdiri daripada itu adalah beberapa tengkorak hidup yang turut berpatroli di jalan.


Seketika, kedua mata Yuto dan Gen terbelalak. Tengkorak hidup?! Bagaimana bisa?! Apakah ini adalah salah satu ciptaan dari Dewa Magus?!


"Hei, kami belum pernah melihat wajah kalian. Apakah kalian baru bergabung di sini?" Salah seorang prajurit membuka pembicaraan sembari menatap Magus Badge yang terpasang di dada Gen dan Yuto. Zirah hitam kelamnya dihiasi oleh motif berwarna ungu gelap dan dua buah kristal berwarna merah menyala yang tersemat di dada.


"Ya," sahut Yuto. "Kami sudah tak tahan dengan penindasan yang terjadi di tempat asal kami. Lagipula, membela kebenaran dan kedamaian hanyalah omong kosong. Kekuatan adalah yang kami inginkan. Kekuatan dari kegelapan, kekuatan yang dahsyat. Kedamaian abadi yang sebenarnya adalah ketika kita berkuasa penuh atas segalanya!!! Kami sudah tak ingin lagi menjadi kaum tertindas. Kini waktunya bagi kegelapan dalam diri kami untuk bersinar!!!"


Gen menahan senyum dengan rasa puas."Dia pintar berakting juga."


"Ya, itu benar." Gen melanjutkan drama tersebut. "Ketika kita melindungi hal penting, maka hal itu akan menjadi kelemahan terbesar kita. Kedamaian, kebenaran, dan keadilan, itu semua hanya omong kosong. Kesatria penyelamat hanya ada dalam cerita dongeng. Satu-satunya yang memberi kita kebahagiaan abadi adalah KEKUATAN." Gen terus berakting layaknya seorang aktor terkenal yang tengah melakonkan tokoh antagonis utama.

__ADS_1


"Semangat yang bagus, para prajurit muda." Sang prajurit tersenyum sembari menepuk punggung Gen dan Yuto, kemudian memandang ke arah teman-temannya. Tampaknya, akting mereka telah berhasil. "Untuk peresmian rekan baru kita ini, antar mereka ke istana untuk melakukan ritual pelantikan kesatria kegelapan."


"Baik, panglima." Dua tengkorak hidup yang bersama dengan sang prajurit mengangguk. Rupanya, prajurit itu adalah seorang panglima.


"Hei, entah kenapa aku meragukan niat mereka untuk bergabung dengan kita." Salah seorang tengkorak hidup berbisik kepada rekannya.


"Hm? Tapi, aku tidak melihat tanda kebohongan di mata, ucapan, maupun tingkah laku mereka, Altz." Sang rekan menyahuti tengkorak hidup yang bernama Altz.


"Memang, tapi entah mengapa aku merasa aneh," sahut Altz.


"B-Baik!!" Kedua tengkorak itu menenggak ludah, kemudian berseru serempak dan segera mengapit Gen serta Yuto.


"Mari, saudaraku. Kita akan menuju istana untuk melakukan ritual pelantikan. Ngomong-ngomong, namaku Altz." Altz berucap dengan ramah sembari mengulurkan tangannya. Meski tampangnya menyeramkan, layaknya hantu di film-film horor, rupanya hatinya tak sedingin dan sekeras yang Gen dan Yuto kira. Sayangnya, ia telah berpihak kepada kubu yang salah.


"Namaku Rick," ucap tengkorak hidup yang satu lagi sembari turut mengulurkan lengan.

__ADS_1


Gen serta Yuto pun menyambut uluran tangan tersebut dengan ramah dan hangat. Keduanya menahan senyum dengan sekuat tenaga. Jika mereka melakukan kesalahan, maka penyamaran yang sudah susah payah dibuat akan menjadi sia-sia.


"Namaku adalah Gen."


"Namaku adalah Yuto."


"Salam kenal. Mari kita berangkat, saudara Gen dan saudara Yuto. Kekuatan dahsyat dan kekuasaan absolut yang kalian inginkan itu, sebentar lagi akan menjadi milik kalian," ucap Altz sembari mengalihkan pandangannya ke depan dan mulai melangkah menelusuri jalan yang hanya dipenuhi oleh anak buah dari Dewa Magus.


Gen tersenyum kecil."Mereka pasti tak menyangka akan ditusuk dari belakang."


Dengan cepat, Yuto menyenggol bahu Gen. Bisa saja ada prajurit yang melihat senyumannya itu.


"Baiklah," sahut Gen dan Yuto serentak. "Mari berangkat."


To be continued

__ADS_1


__ADS_2