Legenda Dewa Multiversal Kembar

Legenda Dewa Multiversal Kembar
Chapter 15: Ketahuan


__ADS_3

"Baik," sahut Gen dan Yuto secara bersamaan.


Mereka berempat pun segera melangkahkan kaki melewati gerbang yang telah terbuka tersebut. Lorong panjang tampak membentang sepanjang kurang lebih 8-10 meter, dengan lantai dan atap dari batu marmer mengilat berwarna kelabu tikus, diapit oleh sepasang deretan api yang berkobar dan memanjang hingga ke ujung lorong. Hawa panas mulai menghampiri Gen dan Yuto. Tubuh kedua pemuda itu mulai meneteskan peluh. Namun, mereka berdua terpaksa menahan hawa panas yang membakar kulit itu karena jika mengeluh, maka mereka bisa terbunuh saat itu juga karena ketahuan hanya berpura-pura.


Setelah beberapa menit berlalu, akhirnya lorong sepanjang 10 meter yang bagaikan neraka itu berhasil mereka tempuh. Kini, mereka memasuki sebuah ruangan luas dengan belasan tengkorak hidup yang tengah berjaga. Lantai marmer yang mengalasi ruangan tersebut dilapisi karpet berwarna ungu gelap, dan ukiran-ukiran berwarna merah menyala menghiasi dinding ruangan yang berwarna hitam kelam tersebut. Sebuah air mancur lava tampak berdiri tepat di tengah-tengah ruangan, menyemburkan lava yang kemudian tercampur kembali ke dalam kolam lava.


"Hei, Altz, Rick!! Kalian membawa pendatang baru?" Salah seorang tengkorak hidup yang mengenakan zirah berwarna hitam kelam dengan dua kristal merah menyala tersemat di dada dan pola-pola berwarna ungu terang menghiasi zirah menyapa Altz dan tengkorak hidup yang satu lagi — Rick —


"Ah, Delta!!" Rick membalas sapaan teman lamanya itu.


"Rupanya kau, Delta." Altz turut membalas sapaan teman lamanya.


Tengkorak hidup berzirah hitam dengan pola ungu bernama Delta itu menatap Altz dan Rick dengan tatapan meremehkan. "Jadi kalian masih bertahan di pangkat prajurit, ya? Sungguh kasihan."


"Hei, hei, jangan sombong hanya karena kau sudah naik pangkat jadi panglima, Delta!!!" sahut Rick.


"Ya, jangan sombong, Delta." Altz menghampiri rekannya dan merangkulnya, kemudian mencekiknya dengan pelan. Ia tak tampak gusar sedikitpun. Sebaliknya, mereka justru tampak seperti sahabat karib yang tengah bercanda.

__ADS_1


"He-hei!! Lepaskan, bodoh!! Berani sekali kau melakukan ini kepada seorang panglima, hahaha." Delta membalas candaan Altz sembari tertawa, meski rahangnya yang datar menyulitkannya untuk tersenyum.


"Iya, iya, PANGLIMA DELTA." Altz berujar sembari melepaskan Delta dari cekikannya dengan penekanan pada kata-kata: 'Panglima Delta', seolah sedang mengejek.


"Sialan kau!" Delta memukul pelan bahu Altz.


"Sudah, sudah. Sebaiknya kita jangan bercanda ketika sedang bertugas. Bisa-bisa kita terkena masalah. Aku dan Rick akan mengantarkan dua anggota baru ini dulu, ya!!" Altz menyudahi candaan mereka.


"Ya," sahut Delta sembari membalikkan tubuhnya. "Semoga berhasil,"  ucapnya sembari melambaikan lengan kanannya yang kurus dan hanya terdiri dari tulang.


"Ya." Altz membalas lambaian tangan tersebut, kemudian mengalihkan pandangannya ke arah Gen dan Yuto. Ia dan Rick bergegas menghampiri kedua pemuda tersebut dan kembali mengapit mereka. "Mari kita lanjutkan, saudara Gen dan saudara Yuto."


"Hei, apa kau dengar?"


"Apa?"


Firasat buruk mulai menghinggapi Gen dan Yuto. Keringat dingin mulai menetes dari tubuh mereka. Apakah aksi mereka ketahuan?

__ADS_1


"Kedua penjaga gerbang selatan kota ditemukan dalam keadaan tewas, dan Magus Badge milik mereka berdua raib."


Keringat dingin mengalir semakin deras di tubuh Gen dan Yuto. Kedua pemuda itu menenggak ludah, berusaha untuk tidak terlihat panik. Tampaknya, rencana mereka kali ini tidak berjalan dengan baik.


"Wah, bahaya sekali. Itu berarti pembunuh mereka berdua menyamar menjadi prajurit kegelapan."


"Iya. Berbahaya sekali, bukan?"


Keringat dingin mengalir semakin deras di tubuh Gen dan Yuto pasca Altz dan Rick menatap kedua pemuda itu dengan tatapan memicing, seolah curiga akan identitas asli mereka.


"Pembunuhnya bukan kalian, 'kan?" Rick bertanya dengan tatapan curiga yang memaksa Gen dan Yuto untuk menenggak ludah.


"Tentu saja bukan." Kakak beradik itu berusaha sebisa mungkin untuk tidak terlihat panik.


"Oh, ya?" Altz menatap dengan tatapan curiga. Tangan kanannya mulai menggenggam gagang pedang yang tersemat di punggungnya, bersiap menariknya keluar dari sarung pedang. "Bisa tunjukkan pedang yang tersarung di punggung kalian itu?"


"Ukh!!" Gen menenggak ludah sekali lagi. "Ketahuan, sialan!!" umpatnya dalam hati.

__ADS_1


To be continued


__ADS_2