
Hari selanjutnya setelah penyerangan Jenderal Vriltz.
Restoran, Penginapan Rade, Desa Ragrius.
"Ooh .... Jadi anda pejuang revolusioner juga, ya?" ucap Gen sembari menyeruput jusnya menggunakan sedotan.
"Ya," sahut pemuda berambut ungu itu sembari meminum habis coklat panasnya.
"Aku tahu. Anda adalah Kesatria Eternal Machina, Yuuratsu, bukan?" ujar Hinatsu.
"Ya," sahut Yuuratsu. "Memiliki tubuh cyborg seperti ini memang memberi kekuatan yang besar, tapi aku merasa aneh. Seolah-olah aku bukan manusia lagi," sahut Yuuratsu sembari membuka penutup cannon di pergelangan tangannya. Sebuah eternal beam minicannon berdiameter dua sentimeter bergegas menyeruak dari lubang persegi berukuran 2 x 2 cm itu.
"Mengapa anda menghilang selama beberapa tahun belakangan ini?" tanya Hinatsu. "Kupikir anda sudah pensiun atau tertangkap, atau lebih buruk lagi, sudah tewas."
"Hei, hei. Jangan mendoakan yang tidak-tidak." Yuuratsu berujar sembari tertawa kecil dan memasukkan kembali minicannon yang tertanam di dalam tubuhnya, kemudian menutupnya dengan penutup yang menyerupai kulit manusia. "Aku hanya beristirahat selama beberapa tahun belakangan ini. Aku sedikit tertekan karena mengambil peran pejuang seperti ini."
"Ngomong-ngomong, tidak usah terlalu formal. Kalian tidak sedang bicara dengan seorang raja," ujar Yuuratsu sembari tersenyum ramah. "Panggil saja aku Yuura."
"Baiklah," sahut Gen.
"Oke," ujar Hinatsu.
"Kau enak, ya. Memiliki kekuatan yang bisa kau kuasai sepenuhnya. Berbeda denganku," ujar Gen.
Yuuratsu menoleh ke arah Gen, kemudian tersenyum. "Suatu saat nanti, kau akan bisa menguasai kekuatanmu itu. Lagipula, kekuatanmu jauh lebih besar daripada kekuatanku. Seharusnya aku yang iri terhadap dirimu."
Yuuratsu mengangkat gelasnya, melahap salah satu dari berkeping-keping es batu yang masih tersisa di gelas kosong tersebut, kemudian mengalihkan pandangannya ke arah Yuto yang tampak sedang melihat sekeliling dengan tatapan tidak nyaman sembari menyeruput susu miliknya.
"Ada apa, kawan?" tanya Yuuratsu.
"Tidak, aku hanya merasa aneh. Sepertinya pengunjung-pengunjung di sekeliling sedang membicarakan kita," ujar Yuto.
Memang benar, pengunjung-pengunjung di sekeliling mereka tampak berbisik satu sama lain dengan raut wajah yang agak aneh sembari tersenyum.
"Tentu saja. Soalnya kita baru saja menyelamatkan desa kemarin," ujar Gen sembari tersenyum seolah bangga akan dirinya sendiri. Dengan pendengarannya yang cukup tajam, ia dapat mendengar jelas apa yang dibisikkan para pengunjung itu.
"Hei, itu para pahlawan!!"
__ADS_1
"Tentu saja. Ini, 'kan, penginapan langganan mereka?"
"Wah, bahkan Yuuratsu sang Kesatria Eternal Machina pun ada!!"
"Wah, sulit dipercaya!!"
"Ta-Tanda tangan!! Aku harus minta tanda tangan mereka!!"
"R-Rin!! Mintakan tanda tangan mereka!!"
"Enak saja nyuruh, kau saja!!"
"Baiklah. Jun, kau yang duluan membuka pembicaraan, ya?"
"Eh, kok jadi aku?"
"Kadang-kadang, semangat dari merekalah yang membuatku terus maju," ujar Yuuratsu sembari melahap habis kepingan-kepingan es batu yang tersisa di gelasnya.
"Kuharap keberadaan kita di sini tidak menyebabkan keributan atau kehebohan," sahut Yuto sembari meneguk habis susu miliknya, kemudian meletakkan gelasnya di atas meja.
"Ah, ya," ujar Hinatsu. "Kita akan melanjutkan perjalanan besok pagi."
"Apa kau punya urusan penting yang harus segera diselesaikan, Yuura?" tanya Hinatsu.
"Tidak ada, kok," ujar Yuuratsu. "Kenapa tiba-tiba bertanya begitu?"
"Bagaimana kalau kau bergabung dengan tim kami?" tawar Gen seusai menyeruput habis jus miliknya. "Musuh kita sama. Tujuan kita juga sama. Empat orang lebih baik daripada satu orang. Jadi, bagaimana menurutmu?"
"Ide bagus," sahut Yuuratsu. "Ngomong-ngomong, sebuah tim atau party memerlukan nama, bukan?"
"Ah, benar," ujar Gen. Kemudian, pemuda berambut keemasan itu berpikir keras dengan gaya layaknya detektif.
"Grand Bullet."
Suara itu membuat Hinatsu, Gen, dan Yuuratsu segera menoleh. Tampak Yuto sedang menatap dengan raut wajah datar seperti biasanya. "Bagaimana kalau Grand Bullet?"
"Ide bagus!!" ujar Gen sembari tersenyum senang.
__ADS_1
"Kau setuju, Yuura?" tanya Hinatsu.
"Ya," sahut Yuuratsu sembari tersenyum.
"Yosh!! Kalau begitu, sudah diputuskan!!" seru Gen sembari bangkit berdiri dan meninju udara, sempat membuat para pengunjung lainnya kaget. "Nama party kita adalah Grand Bullet!! Dan kita akan mewujudkan nama itu!! Menjadi peluru suci yang terus melesat ke depan tanpa rasa takut sedikitpun, tak peduli rintangan apapun yang menghadang!! Sampai akhirnya berhasil menggapai tujuannya!!!"
"Tidak usah teriak-teriak begitu," ujar Hinatsu dengan bulir keringat mengaliri keningnya.
"Biar keren, hehehe." Gen berujar sembari tersenyum memamerkan gigi-giginya.
"Bukannya keren, malah jadi konyol," ujar Hinatsu.
"Hah?!" Seketika kedua pupil mata Gen terbakar amarah. "Apa kau bilang tadi?! Kau bilang aku konyol?!"
"Ya. Itu memang benar. Tanya saja kepada adikmu itu. Aku kasihan, dia memiliki kakak sepertimu." Hinatsu melirik ke arah Yuto dengan tatapan yang seolah mengejek Gen.
"Kau ingin bergelut denganku?!"
"Malas aku bergelut dengan orang konyol sepertimu."
"Apa kau bilang tadi?!"
"K-o-n-y-o-l, apa kurang kedengaran?"
"Kau berpikir kau lebih kuat dariku?!"
"Tentu saja. Kekuatanku bisa kukendalikan sepenuhnya, berbeda dengan kekuatanmu."
"Kau ingin membuktikannya sekarang?!"
"Ayo!!!"
"Hei, hei, kalian. Nanti pemilik penginapan memarahi kita, lho." Yuuratsu menegur Gen dan Hinatsu yang tengah beradu tatapan listrik. Tampaknya, ini adalah detik-detik sebelum perang dunia ketiga.
Yuto tersenyum, kemudian berucap dalam batinnya. "Dasar."
To be continued
__ADS_1