
"True Omni-Conqueror Form, ya?" ujar Gen. "Kalau begitu, aku juga!!" Secepat kilat, tubuhnya diselimuti oleh energi hitam dan emas serta membesar menjadi seukuran planet Jupiter. Tubuh sebelah kirinya berubah menjadi Yggdrasil, sementara tubuh bagian kanannya berubah menjadi Death. Lambang matahari hitam dan emas tertera di dadanya, dan 14 pasang sayap perlambang Seven Deadly Sins dan Seven Crests of Heaven terpasang di punggungnya. Masing-masing sayap berukuran dua kali lipat dari benua Asia.
"Inilah True Fourteen Conquerors Form." Pemuda itu berucap dengan suara yang menggetarkan seisi tata surya tersebut.
Gen bergegas memunculkan pedangnya. Kali ini pedang kembar, dengan warna hitam pekat dan putih bersinar. Lebarnya hanya seukuran bumi, tapi panjangnya tiga kali lipat dari ukuran planet Jupiter.
"Heat!!!"
Secepat cahaya, Gen mengayunkan pedang kembarnya. Jenderal Tertinggi Pythius bergegas menangkis serangan itu menggunakan Pentagram of System seukuran separuh dari planet Jupiter. Benturan antar senjata itu mengakibatkan semesta Magus bergetar hebat, bahkan dua kali lipat lebih hebat daripada gempa sebelumnya, ketika Gen bertarung melawan Jenderal Yuuratsu Avalion yang telah menyerap kekuatanSeven Deadly Sins danSeven Crests of Heaven.
Kedua pria itu melompat mundur, nyaris menghancurkan planet yang berada di lapisan terluar sebuah tata surya, kemudian mengadu senjata sekali lagi. Gempa yang hebat kembali timbul akibat tabrakan ketiga senjata itu, menggetarkan semesta Magus dan membuat panik seluruh penghuni semesta.
"Sial!! Kalau begini terus, pertarungan ini tidak akan pernah selesai!!!" seru Jenderal Tertinggi Pythius. "Aku harus mengaktifkan kekuatan penuh yang sebenarnya ... dari Core of System!!!"
"Hooo ... ingin menggunakan seratus persen kekuatan, ya?" ujar Gen. Pemuda itu tampak merasa tertantang. "Kalau begitu, aku juga akan menggunakan seratus persen kekuatan dari Core of All Realms!!!"
Gen dan Jenderal Tertinggi Pythius melesat ke luar semesta Magus dengan kecepatan berkali-kali lipat dari kecepatan cahaya. Kini, ukuran mereka bertambah menjadi sebesar semesta.
"Aku benar-benar serius kali ini!!!" seru Jenderal Tertinggi Pythius sembari menatap tajam ke arah Gen. Ia melenyapkan Pentagram of System miliknya dan menggantinya dengan System Blade yang berukuran sama dengan Sword of Dual Energy milik Gen. Sembari mengacungkan pedangnya yang berwarna putih bersinar itu ke depan dengan cepat bagaikan cahaya, ia melancarkan serangan terkuatnya. "System 1000 Slash Punishment!!! Lancarkan hukuman terakhir dan tebaslah segalanya!!!"
Gen yang menyadari itu bergegas mengeluarkan serangan terkuatnya juga. "Final Punishment!!!"
Eternal Light berwarna hitam legam dan keemasan serta tebasan-tebasan berwarna putih kebiruan itu beradu. Namun, Eternal Light milik Gen dicincang habis oleh System 1000 Slash Punishment milik Jenderal Tertinggi Pythius. Keseribu tebasan itu mengenai Gen dengan telak, memenuhi tubuhnya dengan luka tebasan.
"Ugh ..., mustahil .... Lukaku ... tidak beregenerasi?!" Gen terkejut sembari menatap luka-lukanya yang masih utuh. "Seharusnya ... di wujud ini aku menjadi immortal!!!"
"Cih, sialan!!" Gen melayang mundur dengan tubuh dipenuhi oleh luka tebasan. Meski ia telah menjadi immortal akibat berhasil menguasai kekuatan CoAR, tetap saja imortalitasnya kalah telak dengan kekuatan serangan Jenderal Tertinggi Pythius yang luar biasa, apalagi kini Pythius memiliki kekuatan yang lebih besar dari Dewa Magus, sebab ia telah mengaktifkan kekuatan penuh dari Core of System. Sword of Dual Energy milik Gen kini telah patah menjadi dua.
"Gen!!! Hentikanlah!!!" Pythius melesat dengan kecepatan tinggi menuju Gen sembari mengacungkan System Blade miliknya, bahkan jauh lebih cepat dari kecepatan cahaya. "Peranmu terbalik!! Api dendam yang ada di dalam dirimu sudah membutakanmu!! Kembalilah menjadi Gen yang dulu!! Sang pejuang revolusioner yang hebat!!!"
"Tidak!!!" seru Gen. "Aku bertarung bukan untuk dendam!! Aku bertarung ... untuk semua orang yang kucintai, yang telah mati mengenaskan!!!" Gen segera memunculkan sebuah bola energi sebesar semesta, dengan kombinasi warna hitam kelam dan putih bersinar, kemudian melemparkannya ke arah Jenderal Tertinggi Pythius.
"Balas dendam hanya akan mengundang balas dendam lagi, Gen!!!" Pythius berseru sembari menciptakan lubang cacing raksasa yang segera menyerap bola energi itu, kemudian memuntahkannya kembali ke arah Gen.
__ADS_1
"Tidak!!! Aku bertarung bukan untuk kegelapan!!! Aku bertarung ... demi mereka!!!" Gen kembali memunculkan bola energi raksasa sehingga kedua bola energi itu bertubrukan, menciptakan ledakan yang setara dengan Big Bang dan memancarkan radiasi yang amat kuat.
------------------------
(Rekomendasi backsound:
Kalau mau nambah feels, kalian bacanya bisa sambil dengerin OST Journey Through The Decade Symphony Remix.)
"Ayah, Ibu, Yuto, Hinatsu ...."
"Semuanya ...."
"Aku gagal ...."
"Aku sudah gagal melindungi kalian semua ... dan sekarang aku gagal membalaskan dendam kalian."
Setetes air mata mulai mengaliri wajah Gen.
"Aku ... tidak pernah berhasil .... Hidupku dipenuhi oleh kegagalan ...."
"Itu sudah cukup, Gen." Mendadak sebuah suara yang feminim terdengar di telinga Gen."Meski kau gagal melindungiku, tapi kau berhasil memperoleh kekuatan yang luar biasa. Aku sangat bangga terhadap dirimu, Gen ...."
"Hi-Hinatsu?!" Air mata mengalir semakin deras di wajah Gen.
"Ya ... hal yang sama juga berlaku untukku, kakak."
"Yu-Yuto?"
"Benar, meskipun sisi yang kau pilih berbeda dengan sisi yang kami pilih, kau bertarung demi kami. Ayah sangat bangga terhadap dirimu, nak."
"A-Ayah?"
"Itu benar, Gen. Ibu tidak pernah menyangka kekuatan yang kami titipkan bisa menjadi sebesar ini. Anak laki-laki ibu ...."
__ADS_1
"I-Ibu ...." Air mata mengalir semakin deras di wajah Gen.
"Anak ibu yang dulu cengeng ... sekarang sudah tumbuh menjadi pemuda yang sangat kuat."
Gen tersenyum penuh kebanggaan dengan wajah yang dipenuhi oleh air mata. Radiasi itu telah melalap hampir seluruh tubuhnya.
"Tentu saja ...."
"Kau sudah tumbuh besar, Gen .... Ibu sangat bangga terhadapmu ...."
——————————————————————————
"Jadi ... inilah takdirku yang sebenarnya?"
"Meskipun aku mendapat peran sebagai antagonis dalam kisah kali ini, tapi aku sama sekali tidak keberatan, karena aku bertarung untuk orang-orang yang kucintai."
"Kisahku telah usai. Eraku telah mencapai akhir dari kejayaannya."
"Pertarungan kami telah menciptakan keseimbangan antara energi positif dan negatif, serta melenyapkan kekejaman serta kejahatan dari Multiverse Magusian. Tirani Dewa Magus telah runtuh, digantikan oleh kesejahteraan. Mulai sekarang, seluruh semesta akan hidup dalam kedamaian."
"Tetapi, legenda ini baru saja dimulai."
"Tongkat komando telah diserahkan kepada generasi berikutnya, generasi yang kupercayai untuk menjaga dan merawat kedamaian di seluruh semesta."
"Lembaran yang lama memang akan usai, tetapi lembaran yang baru akan dimulai."
"Langkah kaki musim semi sudah mulai terdengar. Salju telah mulai mencair. Cahaya matahari yang hangat kembali menyinari seluruh semesta. Tak lama lagi, musim panas akan tiba, menandakan gugurnya bunga-bunga perjuanganku."
"Mahkota dari bunga-bunga perjuangan yang bermekaran di pohonku memang akan gugur. Namun, kematianku akan menghasilkan buah-buah kesejahteraan yang manis, yang kemudian akan dibuang bijinya dan tumbuh menjadi pohon baru. Bunga-bunga perjuangan yang baru akan tumbuh dan bermekaran, memancarkan serbuk sari keberanian."
"Kuserahkan multiverse ini sepenuhnya kepada kalian ... generasi selanjutnya ...."
——————————————
__ADS_1
Apakah ini END? Atau bukan? Hanya Tuhan dan author yang tahu, hohohoho XD *ditampol readers*