Legenda Dewa Multiversal Kembar

Legenda Dewa Multiversal Kembar
Chapter 14: Gerbang Istana


__ADS_3

Sang Petir menyambar sekali lagi. Kilat melesat melintasi langit bagaikan seekor naga keemasan berkecepatan setara dengan cahaya. Awan kelabu yang pekat masih memayungi kota Rainzar, malahan semakin tebal.


*clak!!*


*clak!!* *clak!!*


Setetes cairan bening jatuh ke permukaan kota Rainzar, diikuti oleh dua tetesan lainnya. Jumlah tetesan air yang jatuh terus bertambah, hingga akhirnya jumlahnya sudah tak bisa dihitung lagi. Hujan deras mengguyur kota Rainzar. Sang Kilat melintas secepat cahaya di angkasa sekali lagi, diikuti oleh suara guntur yang menggelegar, mengguncang bumi. Sebuah pemandangan yang cocok untuk markas seorang tokoh antagonis utama.


Di tengah jalanan yang diguyur hujan, dua orang pemuda melintas. Masing-masing pemuda menggendong sebilah pedang yang dibungkus sarung. Dua tengkorak hidup mengapit mereka. Pakaian, rambut, dan sekujur tubuh kedua pemuda tersebut basah kuyup. Namun, mereka tampak sama sekali tak peduli akan hal itu. Mereka terus melangkah, menapaki jalanan yang licin dan tergenang akibat hujan dengan sangat berhati-hati, melewati bangunan-bangunan, prajurit berzirah hitam pekat, dan tengkorak hidup. Jalanan tampak gelap akibat awan tebal berwarna hitam kelam yang memayungi kota Rainzar.

__ADS_1


"Sebentar lagi kita sampai, saudara Gen dan saudara Yuto. Bersiaplah." Salah seorang tengkorak hidup berujar sembari menoleh ke arah kedua pemuda yang ia kawal. Tepat pada saat itu, kilat melintasi langit sekali lagi, diikuti oleh guntur yang menggelegar beberapa detik kemudian. Cahaya kilat menimpa wajah tengkorak hidup tersebut, membuatnya terlihat dua kali lipat lebih mengerikan daripada sebelumnya. Rongga matanya yang hanya berisi setitik cahaya berwarna merah menyala berpadu dengan rahangnya yang kaku dan tak mampu berekspresi, menciptakan aura kelam yang membuat pemuda berambut keemasan — Gen — bergidik ngeri sesaat.


Sementara itu, pemuda yang berambut hitam kelam — Yuto — tampak tak terpengaruh sedikitpun oleh wajah sang tengkorak hidup yang diterangi oleh kilat. Ia menganggukkan kepalanya dengan pelan sembari terus mempertahankan wajahnya yang tak memiliki ekspresi sedikitpun. "Ya," ujarnya.


Keempat pria itu memandang lurus. Perlahan, siraman air hujan yang menghalangi mata tersingkap, menampakkan sebuah tembok raksasa bercat hitam dengan gerbang berukuran tak kalah besar. Tembok hitam pekat itu dihiasi oleh motif-motif berwarna merah darah, tampak seperti lambang-lambang atau tulisan pada zaman Mesir Kuno.


Tepat ketika keempat pria tersebut hanya berjarak satu meter dari gerbang, sebuah lingkaran sihir berwarna merah menyala muncul tepat di depan gerbang.


"Ya," sahut salah seorang tengkorak hidup. "Biar aku yang menanganinya." Tengkorak itu maju ke depan dan menghadap magic barrier tersebut, kemudian mulai berbicara dengan bahasa yang tidak dimengerti oleh Gen dan Yuto.

__ADS_1


"Es tres vorastun vroma tenebris, zum wris arawasuz tras tenebris. Open raz tenebris von ruzdoras. LERESTO TRES INRASTO, SIRAS ANCIENTOZ ES TENEBRIS!!!"


(TN: Artinya adalah: 'Mereka datang dari kegelapan, dan akan selalu berada dalam kegelapan. Bukalah pintu gerbang kegelapan. BIARKAN MEREKA MASUK, PARA LELUHUR KEGELAPAN YANG TERHORMAT!!!' (Ini campuran bahasa latin, inggris, dan bahasa ngawur buatan author sendiri :v))


Tepat setelah tengkorak hidup tersebut mengucapkan kata 'Tenebris', lingkaran sihir berwarna merah menyala itu lenyap tanpa jejak, diikuti oleh terbukanya gerbang raksasa berwarna hitam pekat tersebut, seolah-olah itu adalah gerbang otomatis.


"Terima kasih, Altz," ucap Gen sembari tersenyum.


"Bukan masalah." Tengkorak hidup yang dipanggil Altz berujar dengan ramah. Meski begitu, wajahnya yang tak dilapisi oleh daging maupun otot sedikitpun tetap tak memiliki ekspresi. Itu adalah hal yang wajar, sebab rahangnya yang kaku menyulitkan dirinya untuk menyunggingkan senyum. "Mari kita masuk, saudara Gen dan saudara Yuto."

__ADS_1


"Baik," sahut Gen dan Yuto secara bersamaan.


To be continued


__ADS_2