
Yuto mendecih pelan di dalam batinnya. "Sial. Kalau sudah begini, apa boleh buat."
Dengan cepat, Yuto menarik keluar pedangnya yang berlumuran darah penjaga gerbang kota dari sarungnya. Pada saat yang sama, Altz juga menarik keluar pedangnya dari sarung. Kedua bilah besi tipis yang setajam belati itu teradu. Percikan bunga-bunga api terlontar, menghiasi udara.
"Aku dan saudaraku, Gen, memang pembunuh dari kedua penjaga gerbang selatan kota itu," ungkap Yuto dengan wajah tanpa ekspresi, sementara Altz hanya terdiam dengan wajah gusar sembari mendorong gagang pedangnya.
Rick tak tinggal diam. Ia turut menarik keluar pedangnya dari sarung dan berniat menyerang Yuto secara dadakan. Namun, ayunan pedangnya segera ditangkis oleh Gen.
"Jika kau ingin bertarung seperti lelaki sejati, satu lawan satu saja." Gen menyeringai sembari terus mendorong gagang pedangnya.
"Sialan kau, pengkhianat!!!" Rick berujar dengan gusar sembari turut mendorong gagang pedangnya.
Percikan bunga api terlontar dari kedua pedang yang tengah beradu. Suara logam beradu memenuhi suasana. Para tengkorak hidup yang tengah berjaga tak tinggal diam. Mereka menarik keluar pedang yang tersarung di punggung, bersiap untuk membantu Altz dan Rick.
Setelah beradu pedang selama beberapa detik, pedang milik Altz dan Rick terlempar. Dengan cepat, Gen dan Yuto mengayunkan pedang mereka secara vertikal hingga kedua tubuh kerangka tersebut terbelah menjadi dua dan segera hancur berkeping-keping begitu membentur lantai. Kakak beradik itu menoleh ke belakang dan mendapati belasan tengkorak hidup yang telah siap untuk bertarung. Tengkorak-tengkorak hidup itu tampak murka karena kematian dua rekan mereka. Setitik cahaya merah menyala yang berada di dalam rongga mata mereka kini memenuhi rongga mata.
"Sial .... Ini memang tidak sesuai dengan rencana ...," ucap Gen dengan suara pelan, "tapi masa bodoh dengan itu!!"
Gen menyeringai lebar sembari bersiap untuk bertarung. Yuto turut melakukan kuda-kuda berpedangnya.
__ADS_1
"AYO MAJU KALIAN SEMUA!!!" Gen berseru dengan suara lantang. Tengkorak-tengkorak hidup itu segera maju dengan pedang teracung sembari menyerukan teriakan pertempuran.
Dalam hitungan detik, seluruh tengkorak hidup hancur berkeping-keping. Tengkorak kepala, tulang lengan, dan tulang kaki mereka terpisah dari kerangka. Gen tersenyum puas sembari melihat para tengkorak hidup yang telah ambruk itu, sementara Yuto hanya menatap mereka sembari mempertahankan wajah datarnya.
Namun, rupanya pertempuran belum selesai. Puluhan tengkorak hidup muncul dari seluruh pintu yang terhubung dengan ruangan. Suara tulang beradu, langkah kaki tengkorak, dan desingan pedang dapat terdengar dengan jelas.
"Jangan bergerak!!!" seru salah seorang tengkorak hidup yang mengenakan zirah hitam bermotif ungu dan dihiasi oleh dua buah kristal berwarna merah menyala yang tersemat di dada sembari mengacungkan pedang besar berwarna merah darah miliknya. Dengan segera, Gen dan Yuto mengenali tengkorak hidup tersebut. Ia merupakan rekan dari Altz dan Rick, Panglima Delta.
"Kalian ..!! Anggota baru yang dibawa oleh Altz dan Rick!! Jadi kalian adalah penyusup?!"
"Ya," sahut Yuto sembari mempertahankan wajah datarnya. "Kau Panglima Delta, bukan? Dua rekanmu yang memuakkan itu sudah kusingkirkan."
Gen tersenyum meremehkan. "Ya, kami membunuh dua lalat itu, dan rekan-rekan mereka yang sama mengganggunya."
Kepalan tangan Delta mengerat. Gigi-giginya yang tertanam langsung pada rahang bergemeretak dengan penuh kekesalan. "Anak-anak sialan!!! Habisi mereka dengan perlahan dan menyakitkan!!! Jangan beri ampun!!!" seru Delta yang segera disambut oleh teriakan pertempuran dari para bawahannya. Tengkorak-tengkorak hidup itu segera maju dengan pedang teracung. Dengan cepat, Gen dan Yuto melakukan kuda-kuda berpedang mereka dan bersiap untuk bertarung.
——————————————————
Ruang Takhta, Lantai Empat Istana Magus.
__ADS_1
Seorang pria berzirah hitam yang dilengkapi oleh jubah berwarna kecoklatan dengan motif berwarna merah menyala memasuki ruang takhta dengan langkah formal. Pria itu segera menuju singgasana, membuat seluruh pasang mata yang berada di ruang takhta terarah ke dirinya. Tampak empat buah kristal berwarna merah menyala tersemat di dadanya.
Sesampainya di hadapan singgasana, pria tersebut segera menyibakkan jubahnya dan berlutut menggunakan satu kaki, layaknya seorang prajurit yang tengah memberi hormat kepada atasannya.
"Ada apa, Jenderal Vriltz?" Pria yang berada di atas singgasana membuka pembicaraan sembari membenarkan letak topi penyihir yang terpasang di atas kepalanya. Lingkaran sihir dan cahaya hitam yang amat pekat mengelilinginya, menunjukkan dengan jelas bahwa ia bukanlah pria sembarangan. Tampak enam buah kristal berwarna merah menyala tersemat di dadanya.
"Lapor, Dewa Magus. Para penyusup itu telah mengalahkan separuh dari seluruh prajurit yang berjaga di lantai dasar, dan saat ini Panglima Delta beserta pasukannya tengah menghadapi mereka. Kabarnya, Panglima Delta tengah kewalahan dan separuh dari seluruh pasukannya telah terbunuh. Menurut laporan prajurit yang lari ke lantai dua istana, para penyusup itu hanya bermodalkan pedang dan sama sekali tak menggunakan kekuatan sihir milik mereka," ujar Jenderal Vritz sembari mengangkat kepalanya.
"Begitu ... kuat juga mereka ...." Dewa Magus berujar sembari meraba dagunya. "Datanglah ke lokasi pertarungan bersama pasukan tambahan dari lantai dua istana dan bantulah pasukan Panglima Delta."
"Baik, Dewa Magus Yang Agung!!" Jenderal tersebut berucap dengan tegas sebelum akhirnya bangkit berdiri dan meninggalkan ruangan takhta tersebut.
"Hei, apa tak masalah mengirim langsung salah satu jenderal seperti ini, Dewa Magus?" tanya seorang pria berambut biru turqoise. Kedua mata beriris biru laut itu menatap iris hitam kelam milik Dewa Magus. Tampak lima buah kristal merah menyala tersemat di bagian dada bajunya. Ia merupakan tangan kanan Dewa Magus yang kedua, Sang Ice Magician of Immortality, Jenderal Tertinggi Zard.
"Tenang saja, Zard," sahut Dewa Magus. "Sehebat apapun ilmu berpedang mereka, mereka tetaplah penyihir biasa. Bahkan, mungkin mereka tak memiliki kekuatan sihir. Akan sangat sulit bagi para penyusup itu untuk membunuh seorang jenderal."
"Sebentar lagi ... kedua penyusup itu akan menemui ajal mereka ...."
To be continued
__ADS_1