
Weed dengan cepat mengamati buku itu.
Kota Yang Tak Terlupakan di Benua Versailles # 4
*Menurut legenda, d**i atas langit provinsi selatan dari kerajaan Rosenheim terletak sebuah kota misterius, menurut catatan kota itu dihuni oleh sebuah ras yang bukan manusia. Mereka adalah kaun Aves*.
Sebagai prajurit yang kuat, ras itu membenci para monster dan mengusir para pengganggu itu keluar dari provinsi selatan, jadi para monster tidak lagi menampakkan diri di sana. Namun, ras itu sekarang telah menghilang, dan bahkan jalur menuju Kota Surga, sebutan kota di atas langit telah lenyap.
Sekarang kota Surga telah menjadi legenda yang tidak terlupakan, sebagian orang mempercayai adanya kota itu tapi sebagian lagi meragukannya. Penduduk asli di provinsi selatan sangat mempercayai tentang adanya kota surga beserta para Avian pemberani yang menghuninya, hal itu tidak lepas dari para tetua di provinsi selatan yang terus menanamkan legenda ini dalam benak generasi berikutnya.
Menurut sumber yang kurang meyakinkan, ada sebuah biji misterius sebagai sumber utama untuk menaiki Kota Surga.
Weed merasa tertipu. Tidak ada yang akan percaya dengan hal yang tidak masuk akal seperti Kota Surga. Bagaimana mungkin ada kota yang melayang di atas langit, melawan seluruh hukum fisika. Sekalipun jika memang benar ada, pastinya kota itu akan terlihat dari bumi. Dengan ini terbukti bahwa buku yang menyatakan adanya Kota Surga adalah hasil dari rumor belaka.
Tapi itu masih belum cukup, pesan terakhirnya bahkan lebih tidak masuk akal lagi. Tentang adanya sebuah biji yang akan tumbuh sampai ke langit sebagai jalur untuk memasuki Kota Surga. 'Rumor ini benar-benar keterlaluan. Dari sini sudah jelas bahwa buku ini tidak mempunyai kredibilitas sama sekali.'
Seolah mengerti bahwa Weed sangat tidak mempercayai isi buku. Volk segera membela diri "Kau mungkin sekarang tidak percaya, tapi aku mendapatkan buku ini dengan susah payah."
“…”
"Aku berharap bisa memberimu sesuatu yang lebih baik, tetapi kebetulan hanya buku ini item paling berharga yang aku miliki." Volk menjelaskan dengan putus asa, sambil menunjukkan isi dari tas punggungnya, ada kulit kelinci, sisik ular, dan sebuah pedang yang rusak.
Weed bisa saja memperbaiki pedangnya, tetapi itu adalah pedang berkualitas jelek yang hanya memiliki strenght +2, pedang itu bahkan tidak berguna bagi kobold. Hanya bisa dijual dengan harga 2 copper, itupun setelah bernegosiasi panjang dengan para blacksmith.
Volk menunduk sedih, "Aku minta maaf, Weed."
Weed menghela nafas dalam-dalam. 'Oke, untuk kali ini akan ku maafkan. Berkatnya, aku bisa mengetahui rahasia dari sculpture mastery. Jika tidak, aku pasti akan terus-menerus menciptakan pahatan yang sama selamanya. Kali ini saja, aku akan memaafkan mu walau telah menipuku 10 silver. Itu bukan masalah besar.'
Ketika Weed menyatakan harganya 3 gold, dia menganggap masih bisa di negosiasi. Harga yang dia ajukan awalnya bertujuan untuk mengagetkan Volk agar dia melakukan apa yang diinginkan oleh Weed. Harga sebagian besar patung, yang belum ditentukan harga standartnya, sangat ditentukan oleh cara seorang pembeli melakukan negosiasi dengan pemahat.
2 gold dan 90 silver, ditambah buku tidak berguna, bukanlah hal yang buruk, ditambah kenaikan level dari sculpture masterty dan handicraft miliknya. Tapi, hanya Tuhan yang tahu apa yang akan dilakukan Weed bila yang ditawarkan hanya 2 gold dan 80 silver.
"Aku pikir buku ini seharga 10 silver. Semoga kau beruntung dengan lamaran mu kepadanya, Volk. Dan untuk wanita yang kau cintai--" Weed sengaja menjeda ucapannya.
"Apa?" Dahi Volk mengernyit.
“Dia pasti akan bahagia bersama lelaki sepertimu.” Weed berkata dengan sinis. 'Memiliki seorang suami yang pelit sepertimu, paling tidak dia tidak akan pernah miskin seumur hidupnya.'
"Terima kasih, Weed." Volk tersenyum tulus.
Setelah berjabat tangan dengan Weed, Volk langsung pergi.
Weed menatap punggungnya yang kian menjauh. Tiba-tiba dia menyadari item-item berharga yang dikenakan oleh Volk. Celananya berbahan mithril, begitupun sepatunya juga berbahan mithril, melihat hal itu Weed menjadi terguncang.
'Dia memakai life cotton ring, sebuah item langka yang menggandakan max HP! Harta yang tidak ternilai! Menurut pengetahuanku, anting-anting itu menahan elemen petir. Aku dengar barang itu hanya ada di katalog, dan tidak ada yang benar-benar memilikinya. Dasar bajingan tidak tahu malu! kau kaya raya, tidak adil sekali rasanya orang kaya sepertimu baru saja menipu seorang sculptor miskin sepertiku.'
Item yang digunakan oleh Volk lebih berharga dari apa yang bisa dipikirkan oleh Weed. Beberapa dari mereka bahkan bernilai ratusan ribu gold.
Nasi sudah menjadi bubur. Tidak ada lagi yang bisa dilakukan Weed selain menyesal. Tetapi penyesalan itu tidak ada gunanya. Weed merenggangkan tangannya dan menguap karena merasa lelah setelah berjam-jam memahat karangan bunga.
Tiba-tiba, para penonton mulai menunjukkan gold ke arah Weed dan berteriak kencang.
"Tolong buatkan aku karangan bunga yang sama!"
"Aku baru saja membeli dua rubah, tapi bisakah aku menukarnya dan mengganti pesanan ku menjadi karangan bunga?"
"Tolong!"
...* * *...
Setelah meninggalkan Benteng Serabourg, Volk tersenyum manis. Hatinya sangat senang, berbanding terbalik dengan wajahnya yang menyeramkan. Tadi, Volk memang tulus menghadiahi buku kota surga pada Weed, karena telah membuatkannya karangan bunga yang berisi hati seorang scluptor.
Buku Kota Surga adalah benda yang paling berharga bagi Volk. Dia telah menghabiskan waktu selama dua bulan untuk mendapatkannya. Didalam buku itu dijelaskan ada sebuah kota misterius yang belum pernah di temukan oleh siapapun. Itulah salah satu alasan Volk datang ke kerajaan Rosenheim, dia ingin mendatangi kota tersebut.
Tetapi baginya melamar wanita yang dicintainya adalah hal terpenting di dunia melebihi apapun. Volk telah memberikan bukunya pada Weed sebagai ganti karangan bunga, namun dia masih menyesal pada Weed karena merasa buku itu sangat tidak sebanding dengan apa yang dia peroleh.
'Ku harap kau tidak membuangnya. Simpan saja. Aku yakin buku itu akan menjadi petunjuk paling penting ke kota surga jika kau mencari kota itu, dan kau akan sampai di sana suatu saat nanti.'
Volk tersenyum ceriah sambil memegang erat karangan bunga, dengan senang hati Volk pergi menuju kerajaan Brent, tempat wanita tercinta berada.
...* * *...
Karangan bunga yang terbuat dari kayu!
Itu adalah hadiah sempurna bagi seorang pria untuk melamar wanita yang dicintainya, dan begitu rumor tentang Paladin Volk, wanita pujaanya, dan karangan bunga dari kayu menyebar, toko patung milik Weed dengan cepat menjadi sangat terkenal.
Sebagian besar player menganggap patung adalah barang yang tidak berguna, mereka meletakkannya secara sembarang, patung berjenis kayu terkadang teronggok bersama kayu bakar di dekat perapian, sedangkan patung batu terbengkalai di gudang. Namun kisah Volk telah mengubah pandangan mereka terhadap patung.
Hari itu Weed memberitahukan sebuah pengumuman penting kepada para pelanggannya, suasana tiba-tiba menjadi khidmat, "Sebelumnya aku minta maaf telah mengganggu waktu kalian, tetapi disini aku akan membuat pengumuman penting, bahwa aku tidak akan membuat patung yang bentuknya sama lagi! Aku harap kalian dapat mengerti!"
Weed sudah mengetahui rahasianya, jadi dia tidak ingin menyia-nyiakan waktu dan energi lebih banyak lagi. Dia ingin segera meningkatkan level sclupture mastery dan skill handicraft, itu tujuan utamanya membuat pengumuman hari ini. Tetapi penduduk menganggapnya berbeda.
__ADS_1
“Dia adalah seniman sejati!”
“Dia sangat keren. Dia bilang dia tidak akan membuat patung yang sama dua kali."
"Kalau begitu, harga dan nilai dari patungnya pasti akan naik."
Para pelanggan Weed yang pernah membeli satu atau dua patung berbentuk kelinci atau rubah sebagai suvenir dengan harga yang murah, sekarang mereka memesan patung dengan desain orisinil. Jumlah produk yang dapat ia selesaikan turun dibawah 2 angka karena satu karya seni membutuhkan beberapa jam untuk selesai, namun mereka lebih populer dari produk terdahulunya, dan yang pasti lebih menguntungkan, karena dia menjual seharga tiga gold per patung.
Karena bisnisnya tidak membutuhkan modal besar, itu adalah bisnis yang sangat menguntungkan. Selain itu, skill sculpture mastery dan skill handicraft meningkat pesat dalam waktu singkat. Hanya dalam tiga hari, sculpture mastery nya mencapai level 8, dan skill handicraft nya naik ke level 4 intermediate.
Ketika Weed sedang tidak menerima pesanan baru, ia memasak dan menjual makanan. "Daging kelinci atau daging rubah! Bawalah daging apa saja padaku, aku akan memasaknya untukmu. Masakannya tidak bisa disimpan untuk waktu yang lama, hanya bisa dimakan hari ini juga!"
Skill cooking Weed memberikan bonus HP dan vitality pada makanan yang dia masak. Itu adalah keuntungan berlipat bagi orang miskin. Mereka yang merasa sulit menjual daging setelah berburu monster di dekat benteng berbondong-bondong menemui Weed.
"Ini--"
"Benarkah kamu bisa memasak?"
"Iya. Percayalah padaku. Yang harus kalian bayar hanyalah bumbunya. Pokoknya, cukup bawa daging apa saja kepadaku kapanpun kalian mau." Weed tersenyum dengan hangat. Senyuman professional seorang pembisnis.
Makanan yang dibuat dengan tangan seorang seniman, masakan yang disajikan oleh Weed adalah karya seni yang indah. Banyak player yang belajar skill cooking karena akan berguna ketika mereka sedang di alam liar. Namun tidak banyak koki amatir yang dapat menggunakan statistik art ketika mereka memasak.
Kecuali koki profesional, tidak banyak player yang menginvestasikan waktu dan energi pada skill cooking, dan masakan yang menggugah selera sangat jarang ditemukan bahkan masakan yang dimasak oleh koki profesional sekalipun. Menjual makanan berkualitas dengan harga rendah, menjadikan kios Weed laris manis. Para player rela mengantri untuk mendapatkan bonus HP dan vitality.
Setelah seminggu berlalu dihabiskan untuk memahat patung pesanan dan menjual masakan, seseorang mengirim whisper pada Weed.
- Weed, bisakah kau mendengar ku?
Dia adalah Pale, seorang archer yang menjadi kenalan Weed saat berburu rubah dan serigala di malam itu.
-Hai! Lama tak berjumpa. (Weed)
- Untunglah kau sedang online. Dari mana saja? Aku mengirim pesan padamu setiap hari, namun pesanku selalu di blok. (Pale)
-Aku sedang sibuk beberapa hari ini. (Weed)
Karena Weed memasuki tempat rahasia di dungeon Litvart, mengirim dan menerima pesan secara otomatis di blokir. Pale tidak tahu itu.
- Aku mengerti. Apakah kamu punya waktu sekarang? (Pale)
Weed melihat sekeliling. Patung buatannya masih populer, tapi bergantung pada pesanan pelanggan, jadi penjualannya sudah melewati masa-masa puncak. Apa yang orang-orang inginkan untuk souvenir kebanyakan bentuknya sama. Jadi, pernyataannya hanya akan membuat patung yang berbeda menjadi bumerang baginya.
- Ya (Weed)
Quest Ekspedisi Desa Baran!
Desa terpencil yang terletak di perbatasan kerajaan Risenheim, desa itu telah dikepung oleh monster.
Pasukan khusus dari kerjaan telah dikirim untuk memperkuat pertahanan benteng, dan pasukan kerajaan secara terorganisir telah berada di garis depan untuk memburu monster yang mendekat. Namun, para goblin dan orc yang menyerang dan menjarah hasil panen warga kian merajalela, membuat istana kerajaan pusing.
Quest ekspedisi yang di tugaskan kepada Darius adalah quest grup untuk mengambil alih Desa Baran dari tangan para orc. Orang yang bergabung dengan pasukan ekspedisi akan mendapat quest yang sama yaitu untuk mengusir para orc keluar dari desa.
Selama beberapa hari terkahir, topik ini telah menyebar luar keluar Benteng Serabourg. Bahkan player dari kerajaan lain berbondong-bondong datang ke Benteng Serabourg dengan tujuan yang sama yaitu untuk bergabung dalam quest ekspedisi, membuat anggota quest semakin ramai setiap harinya.
Anggota yang ikut dalam quest akan mendapat bonus EXP dan fame, sebagai penghargaan dari kerajaan Rosenheim. Berita ini sedang menjadi topik terpanas, namun belum sampai ke telinga Weed karena dia terlalu sibuk memahat patung dan memasak pesanan di kiosnya.
Weed tidak berpikir panjang, setelah mengetahui berita ini, dia langsung setuju untuk menemui anggota tim lamanya. Mereka telah menunggu di pusat kota.
"Senang berjumpa denganmu lagi Weed."
"Wow! Lama tidak berjumpa!"
Surka dan Romuna menyambut Weed dengan antusias. Penampilan mereka semua berubah drastis dari sebelumnya. Surka menggunakan jubah yang membuatnya terlihat elegan dan menawan, Irene menggunakan pakaian priest seputih salju. Sedangkan Romuna, dia hanya memakai jubah hitam yang umum ditemukan, walau begitu dia terlihat lebih mempesona dari terakhir kali mereka bertemu.
Mereka juga kaget melihat Weed setelah dia mendekat, karena dia masih saja tidak mengubah penampilannya.
"Weed, darimana saja kau?"
Weed tersenyum kecil, "Ceritanya panjang--"
Sebelum Weed menjawab sepenuhnya, Surka memotongnya duluan, "Aku mengerti. Kau tidak login selama beberapa minggu, iya kan?"
"..."
"Oh iya, apa kau mau bergabung dengan quest ekspedisi ke Desa Baran? Ayo ikut bersama kami saja, Weed!" Romuna menyelipkan tangannya ke lengan Weed dengan santai seakan mereka berdua adalah pasangan.
Pale menatap mereka dengan ekspresi terluka, membuat Weed sedikit gemetar. Dia sudah merasakan bahwa Pale sebenarnya diam-diam menyukai Romuna. Weed melepaskan tangannya dari cengkraman kuat Romuna, dia menatap mereka satu persatu. "Berapa level kalian sekarang?"
"Aku baru level 48. Itu karena aku pernah mati 5 atau 6 kali saat berburu monster, jadi levelku yang paling rendah sekarang," Surka menjawabnya malu-malu.
"Levelku 51." Irene menjawab dengan bangga.
__ADS_1
"Sama, aku juga." Romuna ikut menimpali, dia bahkan sempat bertos ria dengan Irene.
"Levelku 53." Pale menjawab dengan singkat, bahkan ekspresinya pun kaku, dia masih terganggu dengan keakraban Romuna pada Weed.
Weed mengerti bahwa anggota partynya adalah teman satu sama lain di dunia nyata, jadi mereka selalu berburu monster bersama, dan naik level dengan kecepatan yang hampir sama pula. Namun, terlihat jelas bahwa mereka telah berburu dengan serius karena level mereka naik lebih cepat daripada para player pada umumnya.
Mereka mengaku pada Weed bahwa mereka sedang cuti kuliah untuk sementara. Sekalipun mereka tidak membahasnya, Weed menduga bahwa mereka telah bermain Royal Road secara non-stop, tanpa tidur, terkurung dalam ruangan yang gelap yang terisolasi, dan merupakan individu yang kurang bersosialisasi.
Pale kemudian menetapkan bahwa Weed akan ikut bersama mereka untuk bergabung dengan quest pasukan ekspedisi. "Mereka berkata, syarat untuk bergabung dalam quest ini adalah level 30 keatas. Sedangkan keuntungannya cukup memuaskan, kau akan diberikan EXP yang lumayan banyak, dan juga mendapat beberapa fame."
Pasukan ekspedisi dijadwalkan untuk melawan beberapa jenis monster. Target utama adalah para orc yang menguasai Desa Baran, namun besar kemungkinan akan berhadapan dengan goblin yang relatif tidak terlalu berbahaya.
"Quest ini memiliki sedikit resiko, namun kita bisa meminta bantuan dari NPC bila ada kejadian tidak terduga. Aku sudah muak dan lelah melihat monster laba-laba dan bandit." Wajah Pale masih terlihat pucat walau sedang geram.
Ketika Weed tidak bersama mereka beberapa minggu terakhir, anggota partynya telah berburu monster di sebuah dungeon terdekat. Dungeon itu penuh dengan laba-laba merah beracun yang beranak pinak di balik setiap stalaktit. Racun memang bisa diatasi oleh Irene, namun Pale merasa trauma dengan jaring laba-laba yang lengket, dia sangat lelah berjuang dengan menyedihkan melawan laba-laba raksasa yang meneteskan air liur menjijikkan.
Weed mengangguk, dia memahami dengan tepat apa yang telah dilalui oleh Pale. Karena dia juga mengalami berbagai kesulitan saat memburu ratu cacing raksasa di dungeon Litvart. "Tidak ada ruginya kita bergabung dengan quest ini."
"Kita menyambut atas kembali mu dengan senang hati, Weed. Ngomong-ngomong--" Romuna menatap Weed dengan bingung.
"Ya?"
"Apa kau sudah memiliki profesi?"
Menyangkut soal profesi, Weed memang belum menentukan pilihannya ketika dia berburu bersama anggota partynya dulu. Mereka bahkan bertaruh secara pribadi kapan dia akan memilih profesinya.
"Aku sudah mendapat sebuah profesi, tapi--"
"Profesi apa itu? Beritahu kami." Irene, yang biasanya pendiam pun menatap Weed dengan mata berbinar cerah. Sebagai priest yang bertugas untuk menyembuhkan dan membelessing anggota partynya, dia berhak untuk mengetahui profesi dari rekan satu party.
Ada begitu banyak divisi untuk profesi warrior, belum lagi cabang lain dari profesi bertempur yang berspesialisasi dalam senjata dan gaya bertarung yang berbeda. Tipe tanker biasanya memiliki defense dan HP yang tinggi, dan memberikan damage bergantung dari kekuatan serang dan strength.
Untuk profesi Surka dan Pale, mereka termasuk dalam profesi menyerang dari jarak jauh, bisa dikatakan sebagai support karena memiliki agility yang lebih tinggi, kekurangannya memiliki strength dan vitality yang rendah daripada jenis petarung lainnya.
Profesi support selanjutnya adalah Paladin, yang biasa disebut holy knight, dapat menggunakan kekuatan suci, termasuk Healing Hand untuk menyembuhkan diri sendiri berkat status khusus mereka, Faith.
Weed menggaruk kepalanya yang tak gatal. "Profesi ku adalah scluptor."
"Wow keren sekali! Kau memilih profesi seorang seniman." Surka tertawa ceria, namun yang lain tampak kurang senang. Pandangan jelek tentang sculptor terukir dengan jelas dalam benak mereka.
Faktanya, profesi sculptor adalah salah satu dari profesi pengrajin yang tidak ada hubungan sama sekali dengan keahlian bertempur, dan tidak memiliki efek dalam hal strength dan vitality.
Namun, mereka tetap menerima Weed apa adanya dari hati terdalam. Mereka tidak setega itu untuk mengabaikan mantan saudara seperjuangan hanya karena dia memilih salah satu profesi yang paling tidak diinginkan.
"Kami sedang dalam perjalanan menuju Komandan Darius untuk bergabung dengan pasukannya. Ikutlah dengan kami," kata Pale.
"Tapi aku--" Weed terlihat bimbang, "Aku seorang scluptor."
"Jangan khawatir, kami bisa menutupi kekuranganmu. Kita harus bergerak cepat sebelum orang lain mengisi tempat yang masih kosong. Persediaan dari pasukannya terbatas hanya untuk 300 player dan 200 prajurit NPC yang direkrut berdasar urutan siapa yang datang terlebih dahulu." Pale menjelaskan dengan cepat.
"Ayo pergi Weed." Romuna ikut membujuknya.
"Jika kau pikir kau tidak memiliki kualifikasi untuk bergabung hanya karena kau adalah seorang sculptor, kita akan bersiap sedia untuk membantumu. Okey?" kata Surka.
Sekarang setelah Weed memberi tahu profesinya, dia tidak punya alasan lain untuk berkata tidak. Para wanita dalam party merasa seperti ibu yang tidak bisa mengabaikan Weed, sekalipun mereka pikir dia seorang yang lemah, bahkan Pale hampir memohon padanya agar bergabung dengan quest ekspedisi untuk membalas kebaikan yang telah dia lakukan untuk mereka sebelumnya.
Weed akhirnya bersedia untuk pergi menuju pasukan Darius berada, setelah melihat kegigihan mereka dalam membujuk dirinya.
...***...
Duke Kanus mengadakan pertemuan rutin untuk para knight. Semua knight yang berada di dalam Benteng diwajibkan untuk menghadirinya tanpa terkecuali. Di pertemuan itu, mereka mendiskusikan bagaimana cara mengusir para monster keluar dari Rosenheim, rencana wajib militer, dan masalah penting lainnya.
"Kau telah menyelesaikan tugasmu dengan sempurna, jendral Midvale, dan semua prajurit yang kau pimpin menjadi sangat terlatih. Aku merasa sangat bangga karena level mereka semua melebihi angka 50." Duke Kanus tersenyum senang.
"Sebenarnya bukan aku yang melatih mereka, Yang Mulia," Jawab jendral Midvale dengan hormat.
"Huh? Aku secara pribadi mempercayakan tugas ini padamu. Ceritakan padaku apa yang terjadi," Wajah Duke Kanus terlihat kurang mempercayai ucapannya.
"Jika kamu bersikeras, Yang Mulia," Jawab jendral Midvale. Dia lalu melaporkan secara detail seluruh peristiwa yang terjadi di dalam dungeon Litvart.
"Hmm. Aku mengerti." kata Duke Kanus sambil mengelus kumis lebatnya.
Knight lain juga terlihat terkejut bahwa orang asing yang bukan asli keturunan Versailles, dapat menyelesaikan tugas itu dengan baik. Para NPC menganggap diri mereka sebagai penduduk lokal karena lahir di Benua Versailles, dan para player adalah orang asing yang dikirim oleh dewa Gaea Yang Maha Suci. Karena sejatinya para NPC itu memiliki emosi, berbicara, dan bertingkah laku layaknya manusia di dunia nyata, berkat kecerdasan buatan yang telah di program dengan apik.
"Benar-benar pria yang hebat. Jendral Midvale, kenapa kau tidak merekrutnya untuk bergabung dalam infanteri Rosenheim?" tanya Duke Kanus.
"Aku sudah memintanya untuk menjadi perwira militer dua kali, namun dia berkata bahwa dia ingin mempertahankan kebebasan dan memburu para monster sesuai keinginannya sendiri." Jendral Midvake terlihat masih sedikit kecewa dengan kenyataan ini.
"Benar-benar menakjubkan," kata Duke Kanus merasa sangat kagum.
"Benar, Yang Mulia. Sekalipun dia bukan bagian dari kerajaan kita, aku sangat yakin suatu hari nanti dia pasti akan mencurahkan waktunya lagi untuk Rosenheim," kata Jendral Midvale dengan percaya diri.
__ADS_1
"Jika dugaan mu memang benar, kita pasti akan melihat dia bertempur di sisi kita saat waktunya tiba," kata Duke Kanus, lalu dia mengganti topik pembicaraan dari dungeon Litvart untuk membahas topik penting selanjutnya.