
Rumah Sakit Pusat Rehabilitasi Great Society!
Di lantai atas rumah sakit, di balik jendela terlihat papan nama klasik yang bertuliskan nama, Dr. Cha Eunhee. Dia adalah seorang psikolog terkemuka di dunia medis. Di usianya yang masih muda, selain terkenal jenius, sekarang dia telah mematenkan sebuah buku tentang metode terapi untuk pengobatan penyakit jiwa.
Jadwal kerjanya pun luar biasa padat. Biasanya tidak memberikan dokter muda itu waktu untuk beristirahat.
Dia terus-terusan mendapat rentetan kunjungan pasien yang harus dirawat dan jurnal artikel mingguan yang harus dikirimkan dalam siklus tiada henti.
'Bosan! Bosaaan! Booosaaaaaaaan!' Ini adalah keluhan yang sama setiap hari, dia sudah kenyang memakannya. Meskipun memiliki keinginan yang kuat untuk melarikan diri dari semua itu, tapi dia tidak bisa mengabaikan tanggung jawabnya begitu saja.
Karena itu, dia sekarang masih bertahan dan sedang berada di tengah-tengah sesi konseling dengan seorang wanita paruh baya.
"Aku benar-benar menyesal atas apa yang dialami putrimu." kata Dr. Cha sambil mengusap air mata yang hampir menetes.
"Aku tahu, sekarang sudah lebih dari 5 tahun." Wanita itu tersenyum pahit, berusaha tegar saat menceritakan semuanya pada Dr. Cha tanpa terkecuali.
Wajah dokter muda itu sangat menenangkan, terlihat menyemangati orang di hadapannya.
"Sejak anak itu mencoba untuk mengakhiri hidupnya, aku tidak bisa berkonsentrasi pada apapun lagi." Lanjut wanita itu lagi, sekarang air matanya gagal dibendung, akibatnya bercucuran membasahi baju biru khas pasien rumah sakit Great Society yang dikenakannya.
"Bu, sekarang sudah waktunya bagimu untuk melupakan semua hal tentang putrimu. Dan mulai mencari tujuan hidupmu sendiri."
"Sebenarnya dokter--" Wanita itu menggeleng keras. Lalu memegang tangan Dr. Cha dengan erat. "A-aku yakin dia sedang terjebak di suatu tempat. Di-dia--"
...***...
Setelah menyelesaikan quest di Desa Baran, pasukan ekspedisi yang dipimpin oleh Darius mengemasi barang-barang mereka dan menuju ke Utara untuk kembali ke Benteng Serabourg.
Ada segelintir player yang menyukai tempat berburu di sekitar Desa Baran, tapi tidak dengan desa itu sendiri yang hampir tidak ada hal yang menarik. Desa itu bagaikan desa mati tak berpenghuni. Karena rumah-rumah warga yang hampir menjadi puing dimana-mana. Desa sudah rusak akibat invasi monster, dan belum ada pembangunan kembali karena kurangnya dana.
Selain itu, desa ini masih primitif. Tidak ada bar sebagai tempat meneguk bir dingin pelepasan penat sehabis berburu seharian.
Semua orang di pasukan ekspedisi merindukan dinginnya bir yang mengalir membasahi tenggorokan. Akhirnya bergegas meninggalkan desa menuju pusat kota.
Untuk penjaga keamanan Desa Baran sudah diputuskan akan dijalankan oleh infanteri Rosenheim.
Weed dan rekan separtynya menjadi orang yang terakhir melaporkan quest ekspedisi ke Ghandilva.
"Terimakasih atas bantuan kalian. Kami akan selalu mengingat bantuan besar kalian pada desa ini." Ghandilva tersenyum tulus pada mereka, karena Weed adalah orang yang paling berjasa untuk desa ini.
Ghandilva memberi Weed 20 poin fame sebagai hadiah dari quest.
Sebenarnya Weed tidak berharap banyak pada hadiah quest ekspedisi ini, karena dirinya tidak banyak berkontribusi pada quest. Malah sibuk memahat patung saat rekannya sibuk memburu sisa-sisa monster. Tapi secara tak terduga berubah menjadi keuntungan besar untuknya.
Sedangkan player lain yang berlevel 80-an dalam pasukan ekspedisi hanya menerima antara 10-15 poin fame.
Menurut Weed, menyelamatkan para penduduk yang ditawan dan merampok isi benteng monster telah menghasilkan keuntungan tersendiri untuknya dan rekan setim.
Setelah semua urusannya selesai, Weed dan rekan melapor pada Darius bahwa mereka akan tetap tinggal di Desa Baran untuk berburu monster di sekitar desa, dengan dalih untuk meningkatkan level mereka yang masih rendah.
Sekarang mereka sedang berjalan pulang setelah melapor pada Darius, "Sekarang adalah waktunya." Weed memberitahu hal yang sudah di tunggu-tunggu rekannya.
Benar saja, setelah mendengar deklarasi ini senyum penuh harap muncul di wajah semua rekannya.
"Ya!" Surka adalah orang yang selalu menunjukkan antusiasme.
“Kalau begitu, ayo pergi ke tempat yang gelap dan sunyi.”
"Tentu saja, ke tempat yang sangat-sangat sunyi. Ke suatu tempat dimana tidak ada yang bisa melihat kita." Romuna menutup mulutnya dengan tangan dan tertawa genit.
Jika seseorang tak sengaja mendengarnya, mereka bisa saja salah paham.
"Berangkat! Go go go!" Surka mengacungkan tangannya penuh semangat.
Dua lelaki dan tiga wanita itu berjalan beriringan menuju Gunung Barat dari Desa Baran. Cukup jauh melewati benteng monster kadal, lurus terus, memasuki jurang curam yang sangat sunyi dan tak berpenghuni. Semua ini tak lain dan tak bukan hanya untuk memenuhi kebutuhan mereka akan wilayah terpencil tak berpenghuni.
"Black to the pink! Eodiseodeun teukbyeolhae oh yes! Chyeoda bodeun maldeun I wanna dance." Para gadis bersenandung riang. Mereka bahkan sempat-sempatnya berjoget ria ala idol top.
"Like ttaradaradanttan! ttaradaradanttan! ttudurubbau!" Surka bernyanyi ria melantunkan lagu kesukaannya.
"Joha i bunwigiga joha! Joha nan jigeum nega joha!" Lanjut Romuna tak kalah riang, sambil bergoyang mereka sempat-sempatnya adu pinggang, saking asiknya.
"Jeongmal banhaesseo oneul bam! Neowa chumchugo sipeo!" Lanjut Irene tak mau ketinggalan. Mereka bernyanyi saling melanjutkan seakan dunia milik mereka bertiga.
Lalu, seketika mereka meloncat bersama sambil bernyanyi bersama, "BOOMBAYAH! YAH YAH YAH! BOOMBAYAH! YAH YAH YAH BOOMBAYAH! YAH YAH YAH YAH! BOOM BOOM BA! BOOM BOOM BA OPPA!"
Ya, para lelaki tidak mempermasalahkan hal ini- setelah insiden Darius yang kena semprot-. Hidup ini lebih baik dinikmati apa adanya. Keasikan mereka tentu saja menjadi hiburan tersendiri dalam perjalanan yang sangat jauh memasuki pedalaman hutan. Daripada bosan dengan kesunyian ataupun gugup karena kesuraman hutan lebih baik di hibur.
Setelah penantian panjang, akhirnya mereka sampai di kaki Gunung Barat, dan tidak ada tanda-tanda kehidupan beberapa mil jauhnya.
Perjalanan panjang lainnya akan segera dimulai.
"Disini lumayan bagus." Pale menyuarakan pendapat.
"Baik semuanya, bersiaplah."
Weed dengan hati-hati menggali tanah di sekitarnya lalu menanam biji Pohon Surgawi di dalamnya. Kemudian, dia menyiraminya sedikit.
Selama beberapa saat tidak ada reaksi apapun. Semua orang berkerumun di depannya, terlihat was-was.
Tiba-tiba tanah yang menutupi biji itu berubah warna semerah darah.
Quake!
"Kyaa!" teriak Surka reflek karena terlalu kaget.
Gempa besar mengguncang!
Tubuh Weed dan kawan-kawan bergoyang ke kanan dan ke kiri, mereka memegang tangan di kanan dan kiri masing-masing orang, berusaha saling menguatkan.
Pusat gempa berasal dari tempat Weed menanam biji itu. Tanahnya terbelah dua, dari dalamnya batang kayu yang sangat tebal muncul bergerak cepat menuju langit.
9 meter, 18 meter.
__ADS_1
Pertumbuhannya secepat kilat.
Melihat pertumbuhan yang tak terlihat seberapa cepat kecepatannya, dalam keadaan terdesak, Weed mempunyai ide briliant a.k.a licik, "Kota Surga sudah pasti berada di atas sana. Pohon ini akan menaikkan kita ke sana."
Surka cengo, "Jadi?"
“Sekarang setelah kita sampai sejauh ini, kenapa harus mundur? Cepat pegang batangnya, atau kita harus mendaki pohon ini, padahal ada cara termudah yang menghemat waktu." Weed sedikit berteriak karena suara pertumbuhan biji Pohon Surgawi layaknya suara helikopter, menderu nyaring.
"No! Aku tidak mau melakukannya!" Surka dengan tegas menolak saran Weed, dia berniat untuk segera kabur.
Tapi telat karena Weed sudah mengikat rekan separty nya dengan tali, tak lupa menyambungkannya pada dirinya. "Bersama-sama kita hidup, bersama-sama kita mati."
"Betul-betul-betul!"
Weed dan Pale memutuskan untuk memeluk dahan pohon terlebih dahulu. Untuk mengantisipasi jika Irene atau Romuna, yang berfisik paling lemah kehilangan pegangan mereka. Para lelaki bisa mencegah mereka jatuh dari ketinggian.
"KYAAA!" Surka berteriak kencang.
Weed dan rekannya bergantung pada biji Pohon Surgawi yang tumbuh dengan cepat melesat menembus awan.
Awalnya pohon yang di tumpangi mereka bergerak tak tentu arah, tapi semakin tinggi pohon tumbuh, semakin lurus dan tegap gerakannya.
Weed dan kawan-kawan memeluk batang pohon dengan erat. Pertumbuhan luar biasa pohon ini membuat mereka babak belur oleh hantaman kuat angin. Semakin lama waktu berlalu. tanah dibawah sana semakin menjauh, mengecil, tertutupi awan, dan pada akhirnya Desa Baran menghilang dari pandangan.
Setelah melewati beberapa awan, tibalah mereka di sebuah pulau yang sangat besar. Sebuah pulau yang mengapung di atas langit!
Inikah yang dinamakan negeri di atas awan! Ah tidak, lebih tepatnya Kota Langit!
"Ini adalah Kota Surga!" Party tersebut berseru serempak.
Mata mereka bersileweran menatap kesemua arah, mempelajari sekaligus menikmati pemandangan sekitar.
"Woah!"
Sebuah labirin yang terbuat dari banyak bangunan, terlihat memanjakan mata dari atas sini, mereka berada di atas bukit kecil, sedang menikmati pusat kota. Di tengah-tengah labirin itu, terdapat menara yang sangat besar berdiri menjulang. Sekawanan burung bertengger di atasnya ikut mempercantik tampilan menara. Di belakang menara dihiasi dengan lapangan hijau yang luas dan perbukitan kecil yang membentang memanjang di ujung sana.
Sesuai dengan namanya, Kota Surga!
Pulau ini layak dinamakan surganya dunia.
"Oh! Pohonnya mulai layu!" Teriak Irene saat matanya tak sengaja menatap pohon yang sempat mereka naiki mulai menguning.
Batang Pohon Surgawi layu dan terpecah menjadi beberapa keping tepat di hadapan mereka. Lalu pecahannya menyebar, menghilang di antara awan-awan. Memisahkan pulau yang mengambang ini dengan bumi yang jauh berada di bawah sana.
"Jalan kita untuk pulang nanti sudah hancur. Apa yang harus kita lakukan sekarang?" Surka menunjuk kepergian batang Pohon Surgawi dengan cemas.
Disisi lain, rekan-rekannya hanya menunjukkan ekspresi biasa.
"Petualangan yang sebenarnya di mulai dari sini. Walau pohonnya mati, masalah bagaimana cara untuk pulang, kita pikirkan nanti saja saat waktunya sudah tiba." Pale yang bijak selalu siap sedia menengahi.
"Tapi, Pale--" Surka menatapnya hampir menangis, belum apa-apa dia sudah merindukan tanah kelahirannya, sebagai avatar game tentu saja.
Weed berusaha menghiburnya, "Di mana ada kemauan, di situ ada jalan."
Weed melanjutkan dengan acuh tak acuh. "Yah, jika kita tidak bisa menemukan jalan juga, kita bisa melompat, kan? Simpel."
"A-apa?" Mulut Surka melebar, jika tak segera dihentikan, mungkin sebentar lagi dagunya menyentuh tanah.
"Yah, kita sudah pasti akan mati, tetapi setidaknya kita akan sampai di bumi."
Wajah Surka pucat pasi, apalagi setelah melihat senyuman mengerikan Weed yang menoleh singkat padanya. Dirinya takut ketinggian dan lebih takut lagi dengan ide gila rekannya.
Saat di perjalanan menuju Kota Surga, dia memeluk batang pohon Surgawi sangat erat sambil menutup mata, ketakutan setengah mati.
Mungkin dia tidak akan ikut pada petualangan ini, jika tahu akan dibawa naik sampai sejauh ini. Dan pulang dengan terjun dari ketinggian ini. 'Ini namanya aksi bunuh diri!'
"Sudahlah, lihat depanmu, kapan lagi kita bisa menikmati surganya dunia!" Irene menunjuk keindahan pemandangan didepannya.
"Neowa hamkkeramyeon nan! I could die in this moment! Forever young! Forever young!" Romuna tiba-tiba berjoget dihadapan Surka sambil bernyanyi ria.
Party itu melanjutkan perjalan sambil terus menghibur Surka di sepanjang jalan.
Setelah memasuki perkotaan, tampaklah keunikan Kota Surga yang membuatnya berbeda. Kota ini adalah tempat tinggal spesies Avian.
"Surka lihatlah mereka terlihat seperti burung kesukaanmu."
"Benar! Bukankah dia sangat mirip Dalgom?"
Romuna tersenyum bersama Irene karena berhasil menemukan kelemahan Surka. Dalgom adalah burung beo kesayangannya di rumah.
Spesies Avian ini seperti burung-burung pada umumnya, merekapun mempunyai kedua kaki sebagai tumpuan untuk berdiri. Bedanya mereka berbadan besar, bahkan lebih tinggi dari manusia, bersayap besar, berparuh tajam, matanya sangat kecil seperti mutiara, berpipi bulat, membuat siapapun yang melihatnya gemas ingin segera mencubit kedua pipi itu.
Apalagi warna mereka yang beragam layaknya pelangi, yang berkilauan di bawah sinar mentari. Inilah yang membuat pemandangan disini terlihat sangat indah dari atas bukit, mereka terlihat seperti ribuan berlian.
Berbagai macam tipe avian ada, dari yang muda sampai yang tua, semuanya berjalan bersama layaknya perkumpulan manusia pada umumnya. Para avian muda tampak imut dibandingkan avian dewasa. Sedangkan avian yang lanjut usia tampak ringkuh layaknya orang tua di ras manusia, jenggot putih terlihat memenuhi bawah paruh mereka.
"Kyaaa! Imutnya!" Benar saja, Surka langsung berseru riang setelah mengangkat pandangan. Kecintaannya pada burung mengalahkan rasa takutnya pada ketinggian. Dia tidak lagi gemetar ketakutan, sudah loncat dengan gembira menuju para avian yang terlihat menggemaskan, sayang dia diabaikan beberapa kali oleh mereka.
"Halo pengembara, selamat datang di Lavias." Seekor Avian berwarna merah menyala menyapa party Weed.
Sontak seluruh orang di partynya mengalihkan pandangan pada Weed. Masih menganggap Weed pemimpin mereka. Karena berdasarkan pengalaman sebelum-sebelumnya, Weed dianggap yang paling cocok untuk memimpin party.
Selain itu, sudah jelas bagi seluruh orang di party nya bahwa setiap tindakan Weed selalu memiliki perhitungan tersendiri. Ide-ide darinya selalu briliant. Dan poin utamanya adalah, dia sangat pandai bersilat lidah hingga terdengar semanis madu yang dengan mudah memikat hati setiap NPC, untuk mendapatkan apa yang dia inginkan.
Weed pun sadar arti tatapan semua orang padanya, dia segera mengambil alih, "Terimakasih. Kami telah melalui perjalanan panjang dari negeri yang jauh, sebelum menginjakkan kaki di tempat yang seindah surga ini. Tapi berkat keindahan yang sangat luar biasa ini akhirnya kelelahan kamipun menghilang dalam sekejap. Benarkah tempat ini adalah Lavias?"
"Benar! Kota ini adalah rumah bagi Avian yang terhormat dan bermartabat. Hanya di sini kamu bisa melihat matahari yang sangat cerah, dan udara yang sangat menyejukkan!" Burung berjenggot putih itu berkata dengan bangga sambil mengepakkan sayapnya. Bahkan bulu-bulunya tampak bergetar senang karena pujian itu.
'Kena!'
"Udara di sini memang sangat segar, dan sinar mataharinya paling menakjubkan. Begitupun dengan, awan-awan yang lewat, terlihat seperti lukisan indah yang tak nyata. Aku manjadi penasaran dengan keunggulan utama kota Lavias."
Weed langsung mengambil kesempatan dalam kesempitan ini untuk mengulik keunggulan dari kota tersebut. Jika ada item-item eksklusif yang ditemukan di Lavias, ia akan menghasilkan banyak keuntungan dengan membelinya dalam jumlah besar, dan menjualnya kembali di Kerajaan Rosenheim.
__ADS_1
"Kau hanyalah orang asing yang kebetulan bertemu denganku, berani sekali menanyakan pertanyaan yang kurang sopan seperti itu. Kau harusnya mengenalku lebih baik dahulu. Tentu Itu akan membantu, jika kau mau memberiku makanan yang lezat. Jujur, aku sangat mengharapkannya." Avian berjenggot putih itu mengepakkan sayapnya dan menjauh dari mereka.
"Tunggu! Hei!" Weed mencoba untuk menghentikan avian itu, tetapi melihat punggungnya yang menjauh dia akhirnya merelakan kepergiannya.
Weed menatap semua rekannya, "Kalau begitu, ayo berpencar untuk menjelajahi kota mulai sekarang."
Jika mereka berlima menjelajahi kota yang entah seberapa luasnya ini bersama-sama, akan terlalu banyak memakan waktu, itupun belum tentu dapat quest yang bagus, jadi alasannya mengajak berpencar hanyalah demi keuntungan jangka panjang, ini sebenarnya maksud perkataan Weed. Tentu saja dia tidak akan menyuarakan ketamakannya.
"Aku setuju, lagipula kota ini sepertinya aman, karena tidak ada zona berbahaya." Romuna menegaskan gagasan.
"Tetap saja, jangan sampai lengah. Lavias terlalu luas untuk dijelajahi seorang diri. Dan kita tidak tahu bahaya macam apa yang bersembunyi di balik kota seindah surga ini. Penampilan seringkali menipu mata. Bisa saja seperti bunga ranunculus, cantik-cantik tapi mematikan." Pale menentang dengan tegas.
Surka menatap Pale seketika, dahinya berkerut dalam, "Apa? Ra-ra-rakus?"
Romuna hampir terbahak jika tidak segera menutup mulut dengan kedua tangan, sedangkan Irene menggeleng pelan, "Ranunculus, bunga yang mirip mawar."
Weed berde-oh ria, karena diapun baru tahu, "Maka dari itu, kita harus berkumpul lagi disini setelah 2 jam."
"Nah kalau ini sih oke." Pale akhirnya setuju.
"Aku juga setuju."
"Jika dalam perjalanan nanti kalian menemukan quest yang bagus. Jangan langsung diterima, kita diskusikan terlebih dahulu, lalu mengambil keputusan bersama untuk memilih quest yang terbaik. Sekarang ayo berpencar." Tambah Weed lagi.
"Siap bos!"
Dan dengan demikian, lima orang itu putar badan melanjutkan perjalanan ke arah yang berbeda-beda.
Pertama, Weed menuju pusat kota yang padat penduduk, dia berniat untuk menyelidiki beberapa toko di sana. Pikirannya tidak jauh-jauh dari uang dan kawan-kawan.
Para pedagang yang terlihat mirip bebek memenuhi jalanan, pinggulnya terlihat sangat lentur saat dia bergoyang-goyang mengikuti gerakan kaki. Mereka sibuk menawarkan dagangan pada para pejalan kaki.
Sesuai namanya, penduduk Kota Avian memiliki ciri-ciri yang sama dengan burung, tubuh gemuk, serta kaki yang kekar, seperti seekor burung pada umumnya, ada yang berkepala burung hantu, bahkan ada yang berkepala seperti elang ganas.
'Aku tidak pernah memikirkan akan ada kota seunik ini, sangat menakjubkan.' Weed terpesona.
Jika membuka restoran ayam di sini sudah pasti diamuk massa. Karena penduduk lokal akan menganggap hal itu sebagai kanibalisme.
Tidak seperti di kota-kota manusia, di sini tidak terdapat kereta kuda. Karena badan para avian terlalu besar untuk menunggang kuda. Jika jalan tertutup, mereka hanya perlu merentangkan sayap lalu terbang melewatinya.
Dari semua tatapan yang dia terima, Weed merasa seperti seekor monyet yang kesasar di sangkar burung, saat berjalan melewati para Avian. Weed akhirnya memasuki sebuah toko senjata.
"Selamat siang." Weed menyapa dengan ramah saat dia masuk.
"Wuahhh! Seorang manusia! Apakah ada sesuatu yang kau butuhkan, pengembara?" Penjaga toko yang tadinya melamun di kasir langsung berdiri, saking gembira dengan kedatangan Weed.
Weed berdehem kecil, "Ada banyak hal yang aku butuhkan. Namun, tidak ada satupun item yang terpajang yang ku kenali. Aku ingin melihat-lihat terlebih dahulu."
"Oh silahkan."
Weed memeriksa beberapa item.
Bavaro's Steelbeak!
Endurance : 90/90
Damage : 21-23
Efek : Kemampuan untuk mendapatkan item jenis makanan yang memiliki bonus.
Ukurannya yang panjang, membuatnya mudah untuk mencapai cacing yang terpendam.
Harga : 100 gold
Weed mendesah dan mengalihkan perhatiannya pada item yang berbeda.
Silver Pitchfork of Saigon!
Endurance : 30/30
Damage : 17-19
Bagian dari sebuah set.
Daya tahan rendah karena terbuat dari perak.
Bagus untuk menyerang kepala undead saat terbang rendah.
Harga : 70 gold
Weed kembali mendesah. Harga-harga item disini membuat perutnya sakit.
Feather of the Goddess!
Endurance : 15/15
Efek : Meningkatkan Charm.
Bulu yang indah dan warnanya yang berkilau, bisa menghentikan serangan musuh ketika digunakan.
Sangat ringan hingga Anda bahkan tidak bisa merasakannya.
Membuat Anda bisa meluncur dengan cepat dan dijamin tidak akan jatuh.
Syarat : Hanya untuk wanita
Harga : 45 gold
Semua item yang terpajang tidak ada yang normal, ada garpu rumput, cangkul, kaca pembesar, benda berongga berbentuk kerucut yang ujungnya lancip dan tajam, dan benda-benda aneh lainnya yang belum pernah ada di bumi. Sepertinya, senjata-senjata ini khusus untuk Avian.
"Apa kau punya senjata yang cocok untuk manusia?" tanya Weed pada penjaga toko, yang sangat mirip seekor musang.
"Tentu saja ada! Tunggu sebentar. Aku sengaja menyimpannya di gudang, karena pembeli manusia sangat langka."
__ADS_1
Penjaga toko memasuki gudang yang pintunya nyambung dengan lorong kasir menuju bawah tanah.