
Weed memungut drop item yang dijatuhkan Dullahan. Setelah itu dia berderap menuju tempat persembunyian untuk meningkatkan skill Sculpture Mastery miliknya.
"Coba memahat Dullahan ah." Dia bergumam kecil.
Sculpture Mastery milik Weed tidak meningkat banyak saat memahat bentuk patung yang sama seperti sebelumnya. Tetapi, ketika membuat sebuah patung baru, skill Handicraft dan Art akan meningkat secara signifikan. Inilah yang dinamakan seni, unik dan tidak membuat bosan orang yang menatap suatu karya seni.
Weed mengeluarkan Sculpting Knife Zahab dan sepotong kayu, lalu mulai mengukir sosok Dullahan yang baru saja dia lenyapkan.
Srak!
Dungeon itu sangat tenang hingga memantulkan gema dari pahatan Weed.
Tangannya terlihat cekatan menangani pahatan tersebut, karena sudah terbiasa dengan kegiatan mengukir seni. Sampai ke tahap, apapun yang dipikirkanya, dia bisa memahat bentuk dengan mudah.
'Akan sempurna jika level Sculpting ku naik ke tahap Intermediate.' Weed berharap sambil terus fokus memperhalus pahatan.
Sculpture Mastery miliknya saat ini ditingkat basic 99%, satu langkah lagi menuju tahap selanjutnya. Dia juga sudah membuat 5 patung Avian yang belum pernah dia pahat sebelumnya, jadi dia yakin akan kenaikan level nya.
"Semoga naik! Semoga naik! Semoga naik ke tahap Intermediate!" Weed terus melancarkan harapan walau sudah yakin dengan hasil yang didapat.
Pahatannya hampir menyentuh tahap akhir, yaitu memahat kepala Dullahan yang digendong tangan kiri.
Tidak memakan waktu lama, akhirnya patung Dullahan tersebut selesai dibuat. Terlihatlah bentuk seorang knight bertubuh besar yang dipenuhi otot menonjol. Uniknya, kepala knight tersebut buntung, dan dipegang oleh tangan kiri. Matanya memancarkan aura keganasan yang mendominasi. Dia berdiri tegak ditemani kapak perkasa.
Level Upgrade : Sculpture Mastery Beginner level : 10 ke Intermediate Level : 1,0%
Sekarang Anda bisa memahat sebuah logam khusus dan permata (mutiara, berlian, ruby, dll.)
Fame : +20
Art : +20
Efek khusus untuk profesi Moonlight Scluptor :
• Semua statistik telah meningkat sebanyak 10 poin (+10 All Stat)
• Efek dari Sculpting Blade telah meningkat sebesar +50%
• Efek baru telah ditambahkan pada skill Sculpting Blade
• Konsumsi mana untuk Sculpting Blade telah berkurang setengah
New Skill : Sculpture Destruction
Tubuh Weed bergetar tak kuat menahan suka cita. Bahkan kebahagiaan nya saat ini tidak bisa dideskripsikan dengan kata-kata, saking bahagianya.
Selama ini, dia telah merasakan semua kesedihan, kepedihan dan kesepian saat mempelajari ilmu Scluptor. Bahkan sudah banyak penghinaan demi penghinaan yang harus dia terima saat berjuang di jalan Scluptor. Sekarang kemarahan terpendamnya itu mendadak lenyap berkat keberhasilan ini.
Setelah sekian banyak usaha, akhirnya dia mencapai tahap Intermediate dalam Sculpture Mastery.
Profesi Sculptor, yang pada awalnya sangat ingin dia tinggalkan, sekarang terasa seperti profesi yang telah ditakdirkan untuknya.
Skill Sculpting Blade telah terbukti memiliki efesiensi terbesar sejauh ini. Setiap kali Weed menggunakan Sculpting Blade, skill Sclupture Mastery nya meningkat sedikit dan karena Sculpting Blade berkaitan erat dengannya. Skill tersebut semakin kuat, karena Sculpture Mastery miliknya meningkat dari Beginner menjadi Intermediate.
"Hmm, sebuah kemampuan tambahan?"
"Check Skill, Sculpting Blade!"
Sculpting Blade : Beginner Level 7,50%
Skill pedang milik Zahab, diwariskan pada mereka yang ditakdirkan untuk memahat hal yang tidak terlihat atau tidak berwujud.
Bertahan terhadap sihir yang memiliki level lebih rendah dari Sculpting Blade. Ketika sihir diserap, maka pengguna skill hanya mengeluarkan 50% dari konsumsi mana yang sebenarnya.
Konsumsi mana : 25 mana per detik.
"Ke ke ke!" Weed tidak bisa menahan tangis bahagia. Bagaimana tidak, Mage adalah lawan yang paling sulit bagi para knight. Karena mereka memiliki sihir serangan jarak jauh yang sangat sulit untuk dihindari. Tetapi, sekarang Sclupting Blade mampu menyerap sihir. Bahkan walau musuh mengeluarkan serangan menggunakan setengah mana, ini ratusan kali lebih baik daripada bagi para knight yang langsung terkena stun efek dati sihir.
"Karena konsumsi mana untuk Sculpting Blade juga berkurang, mungkin aku bisa menggunakannya ketika melakukan Triple atau Backstab?" Dia bertanya dengan keras saat merenungkan ide ini.
Sculpting Blade lebih mirip sebuah kartu as daripada skill pertempuran pada umumnya. Apalagi jika antara skill Sculpting Blade dengan Teknik Pedang Imperial Formless digabungkan, maka akan membutuhkan mana yang banyak. Tetapi Weed yakin hasilnya akan luar biasa tidak tertandingi.
Selain itu, dia masih ada Sculpture Destruction.
"Check Skill, Sculptural Destruction!"
Sculpture Destuction : Skill khusus Sculptor!
Kemarahan yang diperoleh dari menghancurkan salah satu patung milikmu sendiri dikonversi menjadi Strength atau Agility selama satu hari. Stat Art akan berubah menjadi stat pertempuran selama beberapa waktu.
Peringatan : Fame akan berkurang dan poin berikut akan dikurangi dari stat art.
__ADS_1
• Penghancuran Patung Biasa : Stat Art x2 dan dikonversi ke strenght. Stat Art -1, Fame -20.
• Penghancuran patung Fine Piece : Stat Art x4 dan dikonversi ke strenght. Stat Art -5, Fame -100
• Penghancuran Grand Piece : Stat Art x6 dan dikonversi ke strenght. Stat Art -10, Fame -200
• Penghancuran Master Piece : Stat Art x20 dan dikonversi ke strenght. Stat Art -30, Fame -1000
Jumlah statistik Art yang dikonversi pada Strength atau Agility, bergantung pada kualitas patung yang dihancurkan. Menghancurkan sebuah patung biasa, mengkonversi jumlah ganda dari statistik Art menjadi Strength atau Agility selama sehari. Sementara, menghancurkan patung fine piece atau yang lebih tinggi akan mengkonversi 4 atau 6 kali statistik Art menjadi Strength atau Agility.
Ini akan menjadi skill yang biasa digunakan bagi para Sculptor dengan Strength atau Agility rendah.
Para Sculptor, hanya mengukir patung dalam game akan memiliki statistik Art yang tinggi. Tetapi itu akan sulit bagi mereka untuk berburu, karena statistik pertempuran mereka.
Skill ini memungkinkan para Sculptor untuk mengubah statistik Art mereka menjadi statistik yang lain. Tetapi masalahnya terletak pada penalti Fame dan statistik Art yang menyertai penggunaannya.
Terlebih, Stat Art sangat sulit meningkat, artinya skill ini harus digunakan dengan hati-hati. Ada suatu penalti yang ekstrim untuk menghancurkan sebuah patung, sampai-sampai rasanya skill ini sangat sulit, dan meresahkan untuk digunakan.
Dengan kata lain, skill ini adalah pedang bermata dua.
Weed memutuskan untuk menyembunyikan dan tak menggunakannya, jika dia bisa. Strength atau Agility yang meningkat hanya sementara bukanlah kekuatan sejati. Bahkan tanpa Sculpture Destruction, Weed telah menjadi kuat setelah Sculpture Mastery miliknya mencapai tahap Intermediate.
Semua statistiknya meningkat sebanyak 10 poin dan kekuatan Sculpting Blade telah digandakan juga.
Weed bukanlah satu-satunya yang menikmati keuntungan ini. Semua skill crafting seperti cooking, sewing, smithing, fishing, farming, juga memiliki keuntungan seperti bonus stat, skill dan fame saat kenaikan level.
Ketika skill mencapai level tingkat basic, semua stat mendapat tambahan 5 poin. Sedangkan ketika mencapai level tingkat intermediate, semua stat mendapat tambahan 10 poin.
Belum ada yang tahu berapa banyak poin yang akan didapatkan setelah mencapai tingkat expert dalam sebuah skill. Pada akhirnya semua keahlian skill meningkat tergantung player itu sendiri.
Dalam kasus Weed, dia mendapatkan 10 poin statistik, dua kali lipat dari player pada umumnya. Karena profesi rahasia Moonlight Sculptor dan berkat quest yang berkaitan dengan Zahab. Sculpting Blade juga telah meningkat dengan sangat baik.
Tak seorangpun pernah menguasai salah satu craft skill sebelumnya, karena jalannya terlalu sulit. Bagi Weed pun, membutuhkan banyak waktu dan usaha keras untuk mencapai tahap intermediate. Apalagi untuk melanjutkan ke tahap expert, jalannya tentu lebih sulit dan menyakitkan.
Mata Weed berkobar, dia bertekad untuk mencapai tahap master di semua craft skill. 'Menjadi seorang master, inilah jalan satu-satunya agar organ ku tetap utuh 1,5 tahun ke depan.'
Harus Weed akui dia tidak memiliki rasa estetika yang bagus dalam dunia seni. Bahkan dia tidak memiliki gairah yang berkobar dari seorang seniman. Tapi dia memiliki bakat yang tidak seorangpun miliki, pekerja keras. Jika dia sudah bertekad, dia akan melakukan apapun untuk mencapai tujuannya, mau sesulit apapun rintangan yang menghadang, dia akan melewati semuanya.
Setelah selesai dengan kegiatan memahat, Weed mulai mengamati wilayah sekitar. Dia tidak bisa langsung menyerbu musuh tanpa tahu apa-apa tentang mereka, karena itu sama saja dengan bunuh diri. Jadi dia berkeliling, mencari tahu apapun tentang musuh.
Cave off Dead Warrior adalah sebuah dungeon di mana Ghoul, Dullahan dan Skeleton Mercenary berkeliaran di dalamnya.
Ghoul ada beberapa jenis. Ghoul yang memiliki level paling rendah selalu muncul dengan berkelompok yang terdiri dari 4-5 ghoul, kebanyakan dari mereka berlevel sekitar 110. Selain itu, ada juga Ghoul yang telah berevolusi biasanya mereka memiliki nama dan berlevel lebih dari 130. Tetap saja, monster jenis ini bukan lawan yang berbahaya. Karena biasanya mereka hanya menyerang secara sederhana. Terlalu percaya diri dengan pertahanan mereka yang kuat walau sedikit kaku.
Weed sudah mempelajari bagaimana cara untuk menyerang sambil menghindari serangan mereka yang ganas. "Bagus. Tempat ini sempurna."
Dengan ini, Weed telah menetapkan Cave of Dead Warrior sebagai tempat baru untuk berburu. Monster yang punya nama, entah itu Dullahan, Skeleton Mercenary, atau Ghoul, memang sedikit lebih berbahaya. Tetapi melawan mereka memiliki keuntungan yang besar.
Itu sangat sempurna bagi Weed, yang bertarung bermodalkan tinju dan pedang lusuh.
Terkadang juga ada Skeleton Mage yang wara-wiri. Tetapi monster itu bukan lagi masalah untuk Weed, sihir mereka tidak lagi efektif melawan dirinya. Karena dia telah memiliki kartu as khusus melawan Skeleton Mage, yaitu menggunakan Sculpting Blade yang bisa menetralisir sihir mereka. Kadang-kadang mantra mereka akan terpantul, menempatkan para Skeleton Mage itu dalam situasi yang sulit.
Tampaknya tingkat pemantulan sihir, bergantung pada penguasaan Sculpting Blade. Dia harus meningkatkan Sculpture Mastery untuk menaikkan kemungkinannya. Meningkatkan level Sculpture Mastery sekarang ini, sepenting mendapatkan exp dan level.
Sejauh ini, perburuan Weed berjalan lancar. Tapi dia masih punya satu lawan yang harus diwaspadai, Death Knight. Monster ini berlevel di atas 200, dan lebih sering muncul di Cave of Dead Warrior.
Mereka selalu berkeliaran, tak pernah tinggal di area tertentu. Weed harus menahan nafasnya dan bergerak diam-diam untuk bersembunyi dari mereka. Beruntungnya, para Death Knight punya penglihatan yang buruk, jadi Weed bisa tenang ketika dia bersembunyi di sebuah sudut.
Dia kadang-kadang menggali tanah dan bersembunyi di dalamnya, saat Death Knight mendekat.
Kening Weed berkerut terlihat tidak enak dipandang, 'Sejak kapan aku jadi sepengecut ini?'
Dia mengingat perjalanan panjangnya saat bermain di Continent of Magic. Di sana semua monster terlihat sangat lemah berkat avatarnnya yang berlevel paling tinggi. Tapi sekarang beda cerita, bahkan dia harus bersembunyi hanya karena monster seperti Death Knight.
Terlepas dari semua ini, Weed masih merasa puas dengan pencapaiannya sekarang. Dibandingkan di awal masuk game, sekarang avatar nya sudah meningkat pesat. Dia memiliki tingkat regenerasi mana yang tinggi. Dan dibantu skill perban yang sangat berguna di situasi kritis. Jadi waktu istirahatnya pun terpangkas.
Berkat hal ini, Weed bisa menaikkan level jauh lebih cepat. Ditambah lagi di sini ada banyak drop item yang lebih baik dibandingkan dengan Memphis Hall. Jadi, disini dia menetap lebih lama untuk mengasah semua skill yang dia punya. Dia sudah berjuang sejauh ini, jadi rugi jika sekarang dia harus pulang. Tapi Weed mulai bosan melawan para Dullahan.
"Dullahan adalah monster terbaik untuk diburu. Tetapi apakah tidak ada yang lebih baik? Akan bagus jika ada monster yang lebih lemah dari Death Knight tetapi cukup kuat untuk memberi exp yang lumayan banyak."
Weed bergerak dengan hati-hati tak lupa untuk membuat tempat persembunyian di area-area penting. Dia tak membutuhkan siapapun untuk mengajarinya hal ini. Dia hanya butuh beradaptasi dan bertahan hidup seperti kecoak.
Setelah melewati banyak Ghoul dan Skeleton Mercenary yang berkeliaran dalam dungeon, Weed menginjak pusat dungeon. Di sini langit-langit dungeon terlihat lebih tinggi dan lorongnya sangat luas di mana sebuah sungai bawah tanah mengalir dengan lembut.
Bunga-bunga dan beberapa tanaman herbal bermekaran di mana-mana. Sudah waktunya untuk istirahat, karena dia baru saja terlibat dalam pertarungan sengit melawan Skeleton Mercenary.
Weed mengisi ulang botol air dan tepat saat hendak duduk, matanya melebar saat melihat sebuah bayangan. Seperti biasa, kewaspadaannya selalu meningkat. Dia menggenggam clay sword sambil berjalan mengendap untuk memeriksa siluet itu. Dahinya mengernyit saat mendapati seorang gadis yang tertidur pulas.
Weed menggaruk kepalanya yang tak gatal. Matanya melirik ke sana kemari mencoba memastikan bahwa dia memang berada di pusat dungeon. Dia juga sempat mencubit diri sendiri. Tapi hasilnya tetap sama, dia tidak sedang berkhayal ataupun bermimpi. Saat Weed sedang sibuk memikirkan keganjilan itu, ternyata gadis di depannya sudah membuka mata.
"Siapa kau?" Suaranya terdengar dingin.
__ADS_1
Membuat Weed hampir melonjak karena kaget. "Aku Weed. K-kau?" Dia jadi tergagap, tidak seperti seorang Weed yang biasanya. Itu adalah perkenalan yang agak kasar. Dia tidak pernah menduga akan ada orang lain di dalam sini selain dirinya. Saat menatap wajah gadis yang baru terbangun itu, Weed merasa dia sangat cocok dengan tipe idealnya. Berpikir sampai sejauh ini, telinga Weed memerah tanpa dia sadari.
Gadis itu akhirnya tersenyum tipis melihat Weed yang salah tingkah, "Namaku Dain."
(Baca : Da'in)
Lee Hyun tentu saja pernah bertemu banyak gadis sebelumnya. Karena dia pun pernah sekelas dengan para gadis. Tetapi, dia belum pernah menghabiskan waktu dengan seseorang secara pribadi. Hal itu bukan berarti dia tidak populer. Ada beberapa gadis yang mendekati Lee Hyun, mengatakan jika aura menyedihkan dan kemiskinan miliknya sangat menarik.
Lee Hyun blak-blakan menertawakan mereka semua, karena menganggap mereka bodoh. "Kalian pikir ini keren? Cobalah alami sendiri bagaimana rasanya hidup dalam kemiskinan. Aku yakin kalian semua akan berubah pikiran."
Berteman dengan seorang gadis saja tidak pernah apalagi berkencan dengan mereka. Menurutnya hal itu merepotkan, buang-buang waktu, yang terakhir terlalu buang-buang uang. Bukannya dia berniat pelit, tapi jangankan membelikan mereka makanan, hidup keluarganya saja sudah di ujung tanduk.
Hal yang benar-benar tidak bisa dia mengerti adalah, kenapa mengencani seorang gadis harus menghabiskan banyak uang setiap kali ada acara tertentu.
Weed juga tidak pernah menginjakkan kaki di bioskop dengan adik dan neneknya. Bagaimana mungkin dia mengajak orang asing untuk bersenang-senang dan melupakan keluarga tercintanya. Bahkan Weed pernah memanjat tiang listrik terdekat hanya untuk menonton tv tetangga. Inilah satu-satunya cara agar dia bisa menonton tv.
Dia juga memiliki tv, itupun tv bekas yang telah dibuang oleh orang lain. Tapi dia tetap menahan diri agar tidak menghidupkannya, karena itu sama saja dengan membuat tagihan listriknya membengkak. Jika sedang ingin, dia akan menghidupkannya di tengah malam saat tagihan listrik jauh lebih rendah. Seperti inilah kesulitan materi dalam hidup Lee Hyun. Jadi dia tidak punya pengalaman berkencan dengan gadis manapun.
Dain.
Nama itu terus terngiang dalam pikiran Weed. Setiap lelaki punya gadis idealnya masing-masing, tak terkecuali Weed. Dia masih lelaki normal yang mendambakan rumah tangga dan pernikahan.
Wanita idealnya memiliki rambut panjang alami, wajah imut, cerdas, baik hati, dan memiliki senyuman menarik. Tetapi semua ini tak lain dan tak bukan hanyalah impian belaka. Jika ada seorang gadis yang membuatnya jatuh cinta pada pandangan pertama, maka dia adalah gadis impiannya.
Sedangkan pada Dain, Weed hanya sedikit terpesona padanya. Itu saja. Tidak lebih. Bagaimanapun, dunia ini kejam tidak seindah ekspektasi. 'Aku tak boleh mempercayai siapapun.'
Jangankan pada orang asing seperti Dain. Bahkan Weed tidak bisa menaruh kepercayaannya pada Pale dan yang lain meskipun mereka sering menghabiskan waktu bersama. Weed yakin jika manusia bisa berubah. Dan tidak selalu berada di jalur yang sama.
Saat ini mereka mungkin terlihat sedang berteman dekat, tapi tidak menutup kemungkinan jika mereka akan mengarahkan peluru padanya suatu saat nanti. Biasanya musuh datang dari selimut yang sama.
Perlakukan seseorang sesuai dengan perlakuannya padamu, tidak kurang dan tidak lebih. Ini salah satu keyakinan yang ditanamkannya dalam-dalam. Dia tidak bisa mempercayai siapapun kecuali keluarganya sendiri.
Tatapan Weed menajam. "Dain, bagaimana kau bisa datang ke sini?"
Hanya para Avian yang tinggal di Kota Surga. Mereka tak bisa mencapai dungeon ini. Menilai dari pakaiannya, dia adalah seorang petualang.
"Di sini?" Seakan tersadar sesuatu, pandangan Dain menerawang jauh ke kedalaman dungeon, "Aku sudah di sini selama 3 bulan."
'Tiga bulan?' Sebuah gambaran muncul di pikiran Weed. "Apa kau salah satu dari petualang yang pertama menemukan Kota Surga?"
"Ya, aku adalah bagian dari party itu. Tapi, aku tak mau membahasnya lebih jauh."
"Apa maksudmu?"
"Aku satu-satunya yang tersisa di sini."
"Ohhh, baiklah."
Dain menguap dengan sopan sambil merenggangkan tubuhnya. "Aku seorang Shaman level 134."
Levelnya lebih rendah dari yang diperkirakan oleh Weed. Dia menduga jika levelnya paling tidak 170, karena dia sendirian di dalam Cave of Dead Warriors. Tentu saja dirinya sendiri yang berlevel 109 juga hal yang tidak normal. Seorang player biasa tak akan berani mengarungi tempat berbahaya ini.
Weed berhenti mengangguk saat melihat tatapan intens dari Dain. Mau tak mau dia mempertanyakan kebingungannya, "Apa yang kau inginkan?"
"Jika kau juga sendirian berarti kita senasib. Ayo buat party." Dain menunggu responnya, tapi Weed malah mengerjapkan mata beberapa kali, "Kenapa? Kau tidak mau?"
Weed mengalihkan pandangan, lagi-lagi dia salah tingkah karena merasa seperti dilamar duluan oleh seorang gadis, "Tidak. Kedengarannya itu ide bagus."
Weed menegaskan ke diri sendiri bahwa dia menerima tawaran ini bukan karena Dain adalah wanita idealnya, apalagi mempercayainya. Tidak, seorang Weed yang selalu waspada sekitar tidak akan mempercayai seorang gadis yang baru saja dia temui, hanya karena mengajaknya berburu dalam sebuah party.
Tapi Weed suka mendekati dan mengamati musuhnya dari dalam selimut. 'Gadis ini terlalu mencurigakan.'
Selain itu, Weed menyimpan banyak item di beberapa tempat persembunyian di dalam dungeon, jadi dia tak bisa meninggalkan Dain sendirian.
Shaman memiliki skill White Magic yang bisa meningkatkan Strength, Agility, Speed. Dan memiliki skill Black Magic untuk mengurangi statistik musuh. Dengan ini, mereka memiliki sihir menyerang, penyembuhan, menghilangkan racun, dan kutukan. Mereka juga bisa menggunakan pedang dan gada. Jadi mereka memiliki keahlian bertempur jarak dekat yang lumayan untuk melindungi diri.
Intinya, mereka adalah player yang Serba Bisa! Namun, profesi Shaman kurang populer, karena mereka hanya memiliki sedikit skill dalam setiap aspek, dan juga tidak ada yang terlalu spesial.
Kemampuan blessing mereka lebih lemah dari Priest, dan kutukan yang mereka keluarkan lebih lemah dari Mage. Kemampuan serangan jarak dekat mereka bahkan sebanding dengan seorang Archer yang sedang memakai pedang bukannya senjata utama, panah. Saking lemahnya serangan mereka.
HP rendah, Vitality rendah dan sihir yang lebih lemah dari Mage. Statistik tak bisa ditingkatkan dalam satu area, namun juga harus dibagikan secara merata. Jadi profesi ini tak dapat keuntungan yang banyak.
Weed tidak berharap banyak pada Dain. Dia hanya berharap jika Dain tidak akan membuatnya repot. Dia berencana untuk meninggalkan Dain sesegera mungkin, setelah mengambil item yang dia simpan di tempat persembunyian.
...•••...
Nah kalian tim mana nih?!
#TimSeoyoon>#TimDain>#TimLia>Ingat! Yang terakhir tidak bisa dilupakan begitu saja. Kekekekekekekeke!
#TimDain>#TimLia>Ingat! Yang terakhir tidak bisa dilupakan begitu saja. Kekekekekekekeke!
__ADS_1
#TimLia>Ingat! Yang terakhir tidak bisa dilupakan begitu saja. Kekekekekekekeke!
Ingat! Yang terakhir tidak bisa dilupakan begitu saja. Kekekekekekekeke!