
Lee Hyun keluar dari kapsul game untuk membersihkan rumah. Hari ini dia melakukan pembersihan rumah secara menyeluruh. Dimulai dari membersihkan langit-langit rumah, membersihkan sopa, menyapu lantai, mengelap perabotan dan hiasan dinding, mengelap jendela, menyikat kamar mandi dan lain-lain.
"Kebersihan rumah nenek harus diperhatikan dengan baik." Tegas Weed.
Setelah berjam-jam berkutat dengan pembersihan rumah akhirnya selesai, Lee Hyun merenggangkan pinggang. Dia tersenyum simpul saat bertatapan dengan figura besar sang nenek yang menghiasi ruang tamu.
Neneknya pernah memberitahu dirinya tentang penyakit yang dia derita, artritis degeneratif. Hal ini disebabkan oleh pekerjaan berat yang dilakukan neneknya sejak masih muda. Berakhir menyebabkan banyak ketegangan pada sendi.
Tapi dokter menenangkan Lee Hyun agar tidak terlalu khawatir, "Sekarang zaman sudah modern, peralatan medis juga sudah canggih. Kerusakan sendi yang diderita nenekmu bisa diperbaiki tanpa ada masalah. Jadi, tidak usah khawatir."
Tentu saja biaya pengobatan dan obat yang dibutuhkan untuk meregenerasi sendi sangatlah mahal. Tapi, seberapapun besar biayanya, Lee Hyun bersedia mencukupinya.
Namun, setelah diperiksa secara menyeluruh, penyakit yang diderita neneknya ternyata sudah menumpuk. Selama ini dia tidak menerima pemeriksaan kesehatan secara teratur, selalu memendam rasa sakitnya sendirian, menyebabkan penyakit lain berdatangan dan semakin parah.
Hasil pengujian mengatakan bahwa sel-sel kanker telah menyebar, menggerogoti organ tubuh nenek Lee Hyun.
Untungnya di zaman modern ini tidak ada lagi orang yang meninggal disebabkan oleh penyakit kanker. Namun, pengobatan ini memerlukan waktu yang lama, akan menjalani tahap operasi dan beberapa bulan perawatan khusus di rumah sakit.
Maka dari itu, Lee Hyun berjuang mati-matian untuk mencari uang. 'Aku harus terus menabung dan berhemat. Aku tidak boleh berhenti mengumpulkan uang.'
Dia mendapat tunjangan uang dari hadiah saat mengikuti festival di sekolah Lee Hye Yoon. Selain itu, ditambah pemasukan dari Royal Road yang cukup banyak.
Lee Hyun tidak menyangka proses mengumpulkan uang ini berlangsung lebih cepat daripada yang telah dia rencanakan. Hal ini, berkat berburu siang dan malam di Lavias dan menjual drop item hasil buruannya di pelelangan menambah keuntungan beberapa kali lipat.
Saat berbalik badan, bertepatan dengan pintu depan yang terbuka menampilkan wajah manis adiknya yang masih menggunakan pakaian sekolah.
"Huh?" Lee Hye Yoon mengembangkan hidung beberapa kali, lalu menatap ke sana ke mari, "Ada acara apa ini? Rumah kelihatan sangat bersih hari ini. Uhhh! Sudah ku duga oppa adalah calon suami terbaik di dunia ini!" Lee Hayan menoel-noel bahu Lee Hyun dengan manja.
Weed mengangkat sebelah alis sambil menjauhkan bahu dari adiknya, "Jangan membuang-buang waktu. Nenek sudah menunggu kedatangan kita."
"Ais lelaki ini kolot sekali." Lee Hye Yoon berdecak sekali, "Ngomong-ngomong, ini bau apa ya? Menyengat sekali. Itu loh, bau-bau orang yang tidak mandi selama setahun!"
"Kau--"
"Hahaha!" Lee Hye Yoon berlari ke kamar setelah puas mengejek kakaknya. Sedetik kemudian, dia membuka kembali pintu kamar, "Jangan bilang oppa akan menjenguk nenek dengan pakaian itu? Ck ck ck, tidak banget." Lee Hye Yoon menggelengkan kepala beberapa kali sebelum kembali menutup pintu.
Menyisahkan Lee Hyun seorang diri yang melamuni diri sendiri dari atas sampai bawah. Kaosnya basah oleh keringat, ditambah beberapa kelatu yang menyangkut di sana sini. Mulut Lee Hyun tercengang, baru sadar jika celananya ini bolong akibat tersangkut paku saat mengganti lampu di kamar mandi tadi, menampilkan ****** ******** yang berwarna pink, dia mendesis, "Ais memalukan sekali."
Walau yang melihatnya adalah adik sendiri, tapi hal ini tetap saja memalukan buatnya. Lee Hyun berderap menuju kamar, sambil berusaha mengabaikan suara cekikikan Lee Hye Yoon.
...***...
Lee Hyun dan adiknya berkunjung ke rumah sakit tempat neneknya dirawat. "Kalian sudah datang, Hyun-ah, Hye Yoon-ah."
"Iya nek. Princess Lee Hye Yoon yang cantik jelita telah hadir."
Kedua saudara itu memeluk sang nenek secara bergantian.
"Nenek pasti kesepian."
Hal ini tidak bisa disangkal mengingat Lee Hyun yang menghabiskan sebagian besar waktunya dalam kapsul game. Sedangkan Lee Hye Yoon sibuk dengan urusan di sekolah.
Dan Lee Hyun belum mampu untuk memperkejakan seorang untuk merawat neneknya. Saat ini dia belum memiliki uang yang cukup.
Saat Lee Hye Yoon menceritakan kejadian memalukan yang kakaknya alami sebelum mengunjungi rumah sakit tadi. Sedangkan, Lee Hyun memilih untuk membersihkan ruangan neneknya. Rasa malunya masih sedikit membekas tapi Lee Hyun tidak memperdulikannya lagi. Dia ikut tersenyum saat adik dan neneknya tertawa lepas bersama.
Momen membahagiakan ini akan selalu dia kenang dalam hidupnya.
Setelah selesai dengan urusan bersih-bersih, Lee Hyun ikut duduk di samping neneknya. Dengan lembut mengusap kepala nenek, memperhatikan Lee Hye Yoon yang mengelap wajah nenek dengan handuk basah.
Tangan hangat neneknya berhasil menghangatkan hati Lee Hyun sampai ke titik terdalam, "Bagaimana perasaan nenek hari ini?"
"Sangat bahagia. Maafkan nenek, hyun-ah. Kau selalu menyempatkan diri untuk menjengukku, padahal sedang sibuk."
"Tidak, nek. Aku memiliki banyak waktu luang, dan aku datang karena merindukan nenek."
Mereka saling melempar senyuman, "Kalau benar begitu, aku ingin meminta suatu padamu. Ku harap kau mengabulkannya walau terdengar berlebihan."
"Apa itu? Katakan saja apapun yang nenek inginkan."
"Katanya, belajar itu tidak mengenal batas usia, dan tidak ada kata terlambat untuk belajar. Aku akan sangat senang jika kau bisa menyelesaikan sekolah secara normal. Tapi, kejadian dimasa lalu harus menimpa kita." Mata neneknya terlihat akan menangis.
"Tak apa itu hanya masa lalu." Lee Hyun bisa mengerti perasaan yang dialami neneknya.
Ketika Lee Hyun berhenti sekolah, Lee Hye Yoon menangis sejadi-jadinya. Tapi, karena Lee Hyun sudah berkeras akan berhenti sekolah, neneknya tidak bisa melakukan apa-apa, dia tidak bisa mengalahkan kekeras kepalaan cucunya itu jika sudah bertekad.
Selain Lee Hyun sendiri, neneknya adalah orang pertama yang ingin dia keluar dari sekolahan yang katanya adalah tempat pendidikan tapi malah menghancurkan mental cucunya. Karena, para rentenir selalu melecehkan dan mempermalukannya saat disekolah. Dan para guru tidak ada yang membantunya bahkan tidak ada yang menghiburnya.
Tempat pendidikan macam itu hanya akan memperburuk keadaan mental Lee Hyun.
Walau, neneknya sedikit kecewa karena cucu tertuanya gagal menyelesaikan pendidikan.
Tapi, sekarang perekonomian rumah tangga sudah membaik, jadi neneknya berani meminta agar harapannya terwujud, "Maukah kau menyelesaikan ujian GED, Hyun-ah?"
Pergerakan tangan Lee Hye Yoon terhenti sejenak.
Begitupun Lee Hyun, dia terdiam beberapa saat sebelum menjawab dengan tulus, "Jika itu keinginan nenek, maka aku akan memenuhinya. Aku berjanji akan mengikuti ujian GED."
Sudut bibir Lee Hye Yoon melengkung sempurna.
...***...
Lee Hyun pulang ke rumah sendirian, sementara adiknya tinggal lebih lama di rumah sakit, karena besok adalah hari libur nasional jadi dia tidak mempermasalahkannya.
Walau Lee Hyun juga ingin tetap menemani neneknya dan menikmati momen kebersamaan mereka. Sayangnya, dia memiliki pekerjaan yang harus diselesaikan. "Ujian GED ya. Kira-kira aku membutuhkan buku pelajaran jenis apa ya?"
Ketika masih sekolah, nilai-nilai Lee Hyun cukup baik. Itupun, dia jarang belajar karena tidak memiliki waktu yang cukup. "Pasti banyak buku referensi ujian di toko buku, tidak, akan lebih baik untuk membeli buku bekas."
Dengan ini, Lee Hyun pergi menuju toko buku bekas yang diketahuinya di pusat kota. Dia mengetahui toko ini saat masa-masa pelatihan di dojo di masa lalu.
Sekalian lewat, Lee Hyun menatap bangunan yang mengandung kenangan masa lalu itu, "Tempat ini tidak ada yang berubah."
"Yiyahap!"
"Hiyat!"
Teriakan-teriakan penuh semangat itu menggema sampai keluar. Membuat Lee Hyun tertarik untuk mengunjungi dojang.
...***...
__ADS_1
Di sebuah bangunan tradisional Korea Selatan!
Seorang lelaki berotot tebal meletakkan kedua tangan dibelakang punggung sambil memperhatikan keindahan pedang. Dia adalah Ahn Hyundo, "Sepertinya tidak ada yang berbakat." Dia beberapa kali mengeluhkan tentang performa murid-muridnya.
"Sejak aku menyimpan pedangku dan mulai mengajar--" Ahn Hyundo menceritakan kisah yang sama untung menghapus depresi. Selama ini, dia telah berusaha keras untuk menurunkan ilmu yang dikuasainya. Tapi, tidak peduli apapun yang dia lakukan, para muridnya tidak kunjung memahami jalan ilmu pedang.
'Hufth! Sayang sekali, sepertinya ilmu pedang akan segera menghilang. Dan tidak akan ada lagi orang yang bisa membahas tentang pedang bersamaku.'
Ahn Hyundo beralih menatap beberapa pedang yang menghiasi dinding dojo. Hatinya semakin tersayat memikirkan fakta pahit ini. Awalnya, dia membuka dojo dengan penuh semangat, berharap akan menemukan murid-murid berharga.
Tapi, kenyataannya sudah 10 tahun sejak dia membuka dojo ini, dan hanya menerima murid orang-orang dewasa, tidak mengikut sertakan anak-anak.
"Hyung-nim!" Tiba-tiba seorang murid menghadap dirinya dengan riang.
"Apa?!" Tanya Ahn Hyundo ketus, "Hal sepenting apa yang terjadi hingga kau melakukan keributan yang tak penting?"
"Dia di sini!"
"Siapa?! Tidak usah main tebak-tebakan! Aku sedang tidak mood!"
Muridnya itu menggaruk kepala terlihat bingung jadi pelampiasan kemarahan Ahn Hyundo, "Hyung-nim melupakan orang itu?" Dia menaik turunkan dua jari saat menyebut kata orang itu.
"Orang itu?" Kedua mata Ahn Hyundo melebar seakan mendapat pencerahan dari surga, "Jangan bilang--" Dia mengingat sebuah wajah familiar yang tidak pernah dilupakannya, "Dia yang itu?"
"Hooh! Dia yang itu."
Kobaran semangat kembali memenuhi mata Ahn Hyundo, tentu saja dia sangat senang dengan kedatangan orang yang digadang-gadang akan dia jadikan penerus sebelum menghilang setahun yang lalu, 'Lelaki muda itu, Lee Hyun! Satu-satunya yang bisa ku percaya untuk dijadikan penerus ku!'
Dia memilih Lee Hyun bukan tanpa alasan. Pemuda itu telah membuat Ahn Hyundo tertarik sejak awal kedatangan ke dojo. Dan dia tidak pernah mengecewakannya.
Han Hyundo dengan semangat mendekati pembawa kabar gembira ini, "Jadi, dia ada di sini?"
"Benar."
"Maksudmu di dojang?!"
Muridnya mengangguk ceria, "Iya, dia mengunjungi dojang!"
"Kalau begitu tunggu apa lagi? Ayo kita temui dia!" Ahn Hyundo tidak sabar lagi ingin segera bertemu dengan murid favorite nya itu. Dia juga ingin melihat apakah orang yang dia pilih sebagai penerusnya ini memiliki kekuatan yang cukup.
"Tetapi, ada masalah."
"Apa itu?"
"Dia meminta untuk bertanding dengan semua orang."
"Apa masalahnya jika dia ingin bertanding? Aku tak tahu apa yang membuatmu menyebut hal membahagiakan ini sebagai masalah, karena dia seharusnya cukup kuat, bukan?"
"Ya, aku menilainya dengan cara yang sama, jadi aku meminta Dog Sun hyung untuk bertanding dengan dia. Tetapi, pertandingan itu dimenangkan secara sepihak oleh Lee Hyun."
"Oh, hah?" Ahn Hyundo mengerutkan kening, sedikit tidak mempercayai kenyataan ini.
Karena, bagaimanapun, para praktisi beladiri senior seperti Dog Sun telah berlatih tanpa henti selama 3 tahun. Dalam waktu yang terbatas ini, mereka telah mencapai tingkat kemahiran yang lumayan. Bisa dikatakan, murid senior di dojang ini adalah lawan yang cukup tangguh.
Dalam pertandingan, para pemula berusaha untuk menghindari cidera parah. Tapi para senior beladiri sudah menguasai medan pertarungan dengan baik. Mereka akan menjadi lawan yang sangat sulit untuk dikalahkan.
"Ini adalah kenyataan, Hyung-nim. Dan Lee Hyun hanya membutuhkan waktu kurang dari 2 menit untuk mengalahkannya."
"Apa?!" Ahn Hyundo menoleh pada Chung Il Hoon disebelahnya, "Apa hanya aku yang merasa ada yang menjanggal? Bagaimana mungkin seorang Dog Sun bisa dikalahkan semudah ini?!"
Ternyata cerita tentang Lee Hyun masih berlanjut, pembawa pesan itu kembali menceritakan kelanjutan ceritanya, "Sebenarnya, setelah Dog Sun hyung dikalahkan, Lee Hyun lagi-lagi meminta orang lain untuk bertanding dengannya."
"Kali ini lawannya lebih senior dari Dog Sun, kan? Jadi, siapa yang menjadi lawan Lee Hyun berikutnya?"
"Chang Guk hyung."
Han Hyundo mengangguk puas. "Pilihan bagus, dia telah mempelajari ilmu pedang lebih dari 6 tahun. Kali ini, kuakui Lee Hyun sangat ceroboh mau saja melawan yang kuat setelah kelelahan bertarung melawan Dog Sun."
"Ya, awalnya aku pun berusaha untuk membuatnya mempertimbangkan hal ini kembali, tapi--"
"Jangan bilang dia terluka parah? Kita harus membawanya ke rumah sakit! Ayo!"
"Tidak! Dia baik-baik saja."
"Jadi?"
"Kali ini Lee Hyun menang lagi."
"Lagi?!"
Han Hyundo sangat terkejut. Dalam diam dia merasa puas karena penilaiannya tidak salah tentang Lee Hyun. 'Pemuda itu tidak bisa menyembunyikan semangat bertarung nya. Dia akan menjadi lebih kuat dan lebih kuat lagi! Inilah yang ku nantikan, tekad untuk memiliki kekuatan agar menjadi yang tak terkalahkan.'
Kualitas yang baik ini telah membuat Lee Hyun menang melawan Chang Guk.
"Tetapi masalah sebenarnya adalah bahwa Chang Guk hyung hanyalah salah satu dari orang-orang yang dia lawan."
"Ada lagi?"
"Ya, sejauh ini dia telah melawan 6 praktisi senior."
"Maksudmu dia secara terus-menerus melawan 6 orang?"
"Betul."
"Ayo ke sana! Aku ingin melihatnya langsung!" Ahn Hyundo tidak tahan lagi mendengar berbagai penjelasan mengejutkan itu. Dia tidak boleh melewatkan kesempatan untuk menyaksikan kekuatan orang yang dia pilih itu.
Saat sampai di lokasi kejadian, para instruktur dan praktisi beladiri di dojo sudah ramai menyaksikan pertandingan Lee Hyun.
Pujian demi pujian selalu dilayangkan pada Lee Hyun, "Stamina nya sangat luar biasa!"
"Ini adalah orang kesembilan yang dia kalahkan, kan?"
"Hooh!"
"Itu wajar, dia bisa mengalokasikan kekuatannya dengan tepat. Tidak peduli seberapa banyak stamina yang dimiliki seseorang. Tidak mudah untuk melawan 9 orang praktisi secara berturut-turut."
"Jangankan melawan praktisi beladiri sebanyak itu, melawan satu orang praktisi saja sudah cukup sulit untuk mempertahankan stamina yang dimiliki."
"Sebenarnya, bagaimana mungkin dia bisa meraih kemenangan berturut-turut seperti itu?"
__ADS_1
"Sederhana. Mengandalkan kekuatan dan teknik yang tepat. Tampaknya dia telah menemukan keseimbangan yang tepat diantara keduanya. Lihatlah, dia mengurangi pergerakan yang tak perlu dari tubuh bagian bawah. Ya, walaupun diperlukan waktu yang lama untuk mencapai kemampuan seperti itu."
"Tapi bagaimana dia bisa mencapai keahlian itu secepat ini?"
Beberapa orang di dojo telah mengenal Lee Hyun, beberapa dari mereka bahkan merupakan rekan seperjuangan di masa lalu. Tapi perbedaan kekuatan mereka sangat jauh, bisa dikatakan sejauh langit dan bumi.
Ahn Hyundo mengangguk beberapa kali sambil mengelus dagu, "Aku tahu alasan dia bertarung seperti itu."
"Apa alasannya, Hyung-nim?"
"Dia sedang bosan."
"Bosan?"
"Hm. Karena merasa bosan, dia ingin bertarung melawan siapapun yang bisa dilawan."
Semua praktisi menatap Ahn Hyundo dengan bingung. "Jadi, maksud Hyung-nim dia hanya berniat untuk menghilangkan stres begitu?"
Tapi, Ahn Hyundo tidak berniat menjawab pertanyaan itu, sebaliknya dia berbalik ikut melayangkan sebuah pertanyaan, "Ketika bertarung menghadapi seorang lawan, akan terasa menyenangkan saat memegang dan mengayunkan pedang, benar?"
"Yah, kurasa begitu."
Ahn Hyundo berhenti mengelus dagu, semakin terkesima oleh teknik pertarungan Lee Hyun, "Aku pernah merasakan perasaan ingin bebas dan bertarung tanpa alasan. Tapi, tidak menemukan lawan yang tepat. Karena, kebanyakan orang zaman sekarang tidak lagi mengeluarkan naluri asli dari sebuah pertarungan. Dan lagi, di zaman modern ini, pedang-pedang sudah tidak berguna, malah menjadi hiasan dinding. Rasa saat berhadapan dengan pedang kayu dan pedang asli itu sangat berbeda. Jadi, wajar keinginan untuk benar-benar memperkuat diri telah menghilang. Sekarang, hanya sedikit orang yang memiliki semangat membara dalam pertarungan."
Klakk!
Praktisi lain yang menjadi lawan Lee Hyun dipaksa berlutut dihadapannya. Ketika Lee Hyun secara perlahan berjalan ke arahnya, praktisi itu langsung menyerah, "Berhenti! Aku mengaku kalah!"
Lee Hyun menghentikan pedangnya tepat di depan kening praktisi itu.
'Potensi Lee Hyun sangat mengagumkan.' Ahn Hyundo menunjuk orang yang dikalahkan Lee Hyun, "Lihat! Tidak ada keinginan sama sekali untuk berjuang. Padahal dia masih memiliki kekuatan yang cukup untuk melanjutkan pertarungan dan membalikkan keadaan."
Semua praktisi beladiri yang mendengar kritikan Ahn Hyundo itu hanya bisa terdiam kelu. Karena ucapannya tidak salah.
"Siapa selanjutnya?" Dada Lee Hyun naik turun. Keringat membanjiri tubuhnya dan membasahi kaos berwarna coksu yang dia pakai sampai menampakkan otot-otot kekar dibaliknya. Penampilannya ini akan membuat gadis manapun menggila, saking seksinya.
Agak lama Lee Hyun menunggu, tapi tidak ada yang berani mengajukan diri lagi.
Di bawah cahaya matahari. Keringat yang membanjiri Lee Hyun membuat wajahnya berkilauan. Tetesan keringat mengalir melalui pedang kayu hingga jatuh ke tanah. Tapi, tidak ada jejak kelelahan sedikitpun pada dirinya. Yang ada hanyalah semangat bertarung yang berkobar-kobar di balik manik matanya.
Itu adalah tatapan yang menyerupai binatang buas!
Sosoknya terlihat layaknya seorang raja hutan yang mengeluarkan aura mendominasi pada yang lain.
Lebih dari 100 praktisi beladiri yang hadir merasa terintimidasi olehnya.
"Izinkan aku melawan mu!"
Ucapan Chung Il Hoon berhasil membuat situasi memanas.
"Hyung!" Para juniornya tidak bisa menerima tantangan ini.
Chung Il Hoon membalas mereka dengan celengan kepala, "Aku serius--"
"Hyung! Tolong pertimbangkan lagi!"
"Apa kalian akan membiarkan hal memalukan ini terus berlanjut?"
"Tapi, hyung--"
Chung Il Hoon memotong keluhan para juniornya. "Jika rumor tentang kekalahan 10 orang senior di dojo ini menyebar, maka kehormatan dojo akan menurun, kan? Keputusanku sudah bulat, aku akan melawannya."
Bagaimanapun, Chung Il Hoon adalah tangan Ahn Hyundo. Dalam dunia ini dia adalah seorang pro. Di masa lalu, dia telah memenangkan medali perak dua kali dalam turnamen Pertandingan Pedang Sedunia. Tapi, selama ini para praktisi di dojo belum pernah melihatnya bertarung secara serius. Hanya melihatnya mengajari orang lain.
Mereka jelas khawatir jika senior yang mereka hormati itu ternyata dikalahkan dengan telah oleh Lee Hyun.
'Bagaimana ini? Hyung benar-benar akan melawannya?'
'Kira-kira Lee Hyun akan menerima tantangannya apa tidak ya?'
Para praktisi menatap Lee Hyun dan Chung Il Hoon bergantian dengan cemas. Mereka berharap agar Lee Hyun menyerah karena tidak ada yang bisa menebak apa yang akan terjadi jika dia memutuskan untuk tetap melanjutkan pertarungan ini.
Situasi menegang saat Lee Hyun mengarahkan ujung pedangnya pada Chung Il Hoon. Lelaki itu juga terlihat siap untuk bertarung. Semua orang menahan nafas saat Chung Il Hoon mengambil sebilah pedang kayu berniat menyerang Lee Hyun.
Saat kedua orang itu mengambil posisi masing-masing, Ahn Hyundo akhirnya mengambil tindakan, dia berteriak menggemparkan publik, "Berhenti!"
Chung Il Hoon memandang Ahn Hyundo dengan tatapan tak ingin menyerah, "Tapi Hyung-nim, jika orang ini dibiarkan, maka kebanggan dojo akan--"
"Aku tahu, dia berhasil mengalahkan lebih dari 9 orang praktisi. Tapi apa kau melupakan fakta jika dia juga berasal dari dojang ini?"
"..." Chung Il Hoon seketika terdiam karena tidak bisa membantah fakta bahwa Lee Hyun pernah menjadi peserta pelatihan dirinya sendiri. Dan dia adalah bukti nyata yang melihat perkembangan Lee Hyun setiap hari.
"Jadi, jangan khawatir, kekalahan ini tidak akan merusak kebanggaan dojang kita."
"Hyung-nim benar juga."
Semua praktisi mulai tersenyum menyetujui ucapan Ahn Hyundo.
"Dan lagi, terlepas dari asal usul dirinya. Bukankah melawan seorang yang sudah kelelahan akan lebih memalukan?" Ahn Hyundo berusaha untuk menjaga kedamaian dalam dojang. Pertarungan antara seorang murid dan seorang instruktur adalah hal yang berbeda.
Akhirnya Chung Il Hoon memutuskan untuk mundur. "Baiklah, aku akan mengalah."
Tapi perkataan Ahn Hyundo selanjutnya membuat Chu Il Hoon ingin meludahkan darah.
"Tapi, sepertinya akan lebih adil jika orang tua renta seperti ku yang melawan seorang lawan yang kelelahan, bukan?"
"Hyung-nim!"
"Benarkah, Hyung-nim?!"
Seluruh dojang akhirnya bersuka cita. Terlepas dari usia Ahn Hyundo yang sudah lanjut, tidak ada yang menganggap dia lemah.
Ahn Hyundo telah menyandang title sebagai Juara Pertama Dunia Pertarungan Pedang selama 4 tahun berturut-turut. Sudah jelas, dia bukanlah seseorang yang bisa dikalahkan oleh sembarang orang, bahkan walau dia hanya memasang ranting.
...•••...
LIKE! LIKE! LIKE!
Menurut kalian siapakah yang akan menang, Weed vs Ahn Hyundo (Juara pertama dunia)?
__ADS_1