
Weed menunggu dalam diam, tapi punggungnya merasa panas seperti di laser. Secara tak langsung merasakan tatapan-tatapan tajam dari luar.
Satu persatu para avian yang lewat berhenti di depan toko hanya untuk menontoni Weed, seperti melihat seekor monyet yang kabur dari kebun binatang.
"Aku dengar dia adalah seorang manusia." Saat berkerumun sepertinya akan kurang jika tidak diikuti oleh kegiatan bergibah ria.
"Pantas saja terlihat aneh. Kasian dia pasti sangat kesulitan saat makan karena paruhnya datar."
"Bukan hanya itu. Lihatlah baik-baik, badannya bahkan tidak berbulu juga. Tidak terbayang bagaimana dinginnya saat musim dingin tiba."
"Pasti membeku, kasiannya." Avian itu bergidik ngeri sambil memeluk tubuhnya sendiri.
Tak ada Avian normal yang akan menikmati rasa dingin. Dari sudut pandang mereka, Weed tampak seperti Avian lemah yang akan mati kapan saja karena membeku.
Seekor Avian di Rosenheim, atau di kota manapun di dunia bawah, akan menarik perhatian banyak orang juga. Tetapi di Lavias, Kota Avian, Weed sang manusia-lah yang menjadi tontonan utama.
"Ini benda yang kau minta."
Pemilik toko itu mengeluarkan beberapa armor, sebuah perisai, dua palu, dan lima pedang yang berbeda. Karena Weed tidak menggunakan perisai, jadi dia segera mengalihkan pandangan ke arah pedang dan armor. Bagaimanapun juga, kantongnya hanya menyimpan 70 gold hasil dari menjual item-item jarahan monster kadal.
Clay Sword!
Endurance : 90/90
Damage : 23-25
Sebuah pedang sihir yang diimbuhi ice spirit.
Menambah 2-5 bonus damage, pada target yang menggunakan armor dan mengurangi kecepatan gerak mereka.
Syarat :
-Level 60
-STR 200
Efek : Meningkatkan 2-5 damage ice spirit!
Harga : 188 gold!
Weed lagi-lagi mendesah, "Itemnya normal tapi harganya yang tak normal."
Sword of the Dusk Wraith!
Endurance : 200/200
Damage : 14-15
Karya dari Dwarf Theodore.
Terbuat dari baja yang ditambang di Forest of Death.
Menurunkan vitality, memiliki kesempatan kecil untuk menghasilkan triple damage pada critical hit.
Efek status : Item Terkutuk
Syarat :
-Level 70
-STR 250
Efek : Kesempatan langka untuk mengeluarkan critical hit.
Harga : 160 gold.
Weed berhenti melihat-lihat, lalu menggelengkan kepalanya. Harganya benar-benar di atas nalar, meskipun tidak mengejutkan lagi karena ini adalah kota Avian, yang mana kedatangan manusia tergolong langka. Ditambah item sejenis Clay Sword dan Sword of the Dusk Wraith adalah item kelas tinggi, tapi di Benteng Serabourg harganya setengah lebih murah daripada di sini.
Jika Weed membeli disini bukannya untung malah buntung. Lebih baik mengakhirinya dengan baik. "Aku tidak punya uang yang cukup sekarang, jadi aku tidak akan membeli apapun."
"Ohh begitu, lain kali datanglah kesini lagi. Tapi aku tidak bisa menjamin, item-item ini bisa saja sudah terjual sebelum kedatangan mu kembali, jadi lebih baik kau carilah uang secepat mungkin." Suara pemilik toko terdengar kecewa.
Tim Weed adalah satu-satunya pengembara manusia di Lavias, dan melakukan bisnis adalah fokus utamanya. Tujuan dari Weed adalah menarik keuntungan sebanyak mungkin. Jika memungkinkan dia bahkan sanggup membabat habis harta kekayaan yang tersimpan di Lavias.
Weed meninggalkan toko tersebut, meneruskan kembali perjalanan menuju arah Timur kota.
Di pinggiran kota membentang lapangan hijau luas yang memanjang sampai ke perbukitan di ujung sana.
"Chirp Chirp!"
"Cheep!"
"Tweet Tweet!"
Anak-anak Avian yang imut tengah bernyanyi bersama, mereka berbaris rapih bertengger di atas tali jemuran. Di antara mereka ada anak ayam berwarna kuning, terlihat paling menggemaskan di mata Weed.
Dengan santai Weed berjalan mendekati mereka, lalu, "Hiya?" dia berusaha memikat hati para avian kecil ini. Tetapi mereka hanya terkikik dan tidak memberi balasan lebih. Layaknya bayi pada umumnya yang hanya merespon dangkal saat dihibur. Mereka masihlah bayi polos yang belum mengerti apa-apa kecuali terkikik dan menangis.
"Selamat siang."
"Hai!"
"Halo!" Tak berhenti sampai situ, Weed sudah seperti kepala desa yang ramah dan perhatian pada warganya. Dia menyapa setiap Avian yang lalu-lalang. Berusaha melakukan apapun yang bisa dilakukan. Walau seringkali diabaikan tapi ada juga yang membalas sapaannya dengan riang.
Salah satu Avian yang pernah menggibahkan Weed saat di depan toko senjata, dengan semangat bertanya. "Halo! kau seorang pengembara yang belum pernah aku lihat sebelumnya. Apa kau termasuk orang-orang kuat yang datang dari dunia bawah?"
Weed menggeleng sambil tersenyum ramah, "Ah tidak-tidak! Aku belum cukup kuat sekarang. Meskipun aku cinta damai dan mengagumi kota seindah surga ini, aku juga menghormati seni militer. Karena kekuatan juga dibutuhkan untuk menjaga perdamaian kota yang indah nan damai seperti ini."
"Setuju! Aku juga merasakan hal yang sama. Kebetulan aku punya sebuah permintaan, aku yakin kamu pasti bisa memenuhinya. Sejujurnya, Lavias tidak sedamai yang terlihat. Kota ini adalah sebuah dataran kuno, dimana ada kejahatan besar yang bersarang di bawah tanahnya. Mereka sedang mengumpulkan kekuatan untuk menghancurkan kami. Maukah kau membantuku?"
The Undead of Lavias!
Para undead bersembunyi di balik kedalaman Kota Surga, Lavias. Penduduk Avian tidak bisa tidur nyenyak karena suara ratapan yang mengerikan dari para undead. Jika kamu kembali setelah membunuh kurang lebih 30 Skeleton Soldier di Underground Passage, hal bagus mungkin akan menantimu.
__ADS_1
Tingkat Kesulitan : D
Hadiah : Tak diketahui
Syarat Quest : Kegagalan akan menurunkan tingkat kedekatan dengan para Avian.
Weed dan timnya tentu tidak menduga jika Kota Surga lebih dari sebuah kota biasa, yang belum dijamah manusia. Dia hanya berharap untuk membeli atau mendapatkan item unik yang tidak bisa ditemukan di Benteng Serabourg.
Mereka beranggapan jika sebuah quest yang berkaitan dengan Kerajaan Rosenheim adalah quest paling bagus yang bisa mereka dapatkan.
Secara mengejutkan, ada tempat berburu di Kota Surga ini. Belum lagi, itu adalah tempat berburu undead yang langka. Skeleton Soldier berlevel sekitar 80-an.
Weed terdiam sejenak lalu menggelengkan kepalanya. "Aku mengerti, sebenarnya mengalahkan kejahatan adalah tujuan hidupku. Tetapi, aku di sini tidak sendirian, teman-temanku sedang menunggu di suatu tempat. Aku akan kembali setelah berunding dengan mereka."
Weed melanjutkan berkeliling kota dan kembali bertegur sapa dengan para Avian yang dia temui di jalan.
Kebanyakan dari para Avian baru pertama kali melihat seorang pengembara manusia. Keberadaan Weed di tengah pasar sedang menjadi topik panas di Kota Surga. Para Avian berduyun-duyun mendatangi pasar hanya untuk melihatnya. Tak sedikit dari mereka yang memberi quest pada Weed. Dan sebagian besar quest berkaitan dengan undead yang menghantui Kota Surga.
Tak lama bagi Weed untuk dekat dengan penduduk. Mereka bahkan sudah berbincang ringan sampai terbahak bersama. Ada untungnya Weed pandai berkata manis, semuanya menyukai dirinya. Bahkan beberapa Avian muda dengan berani duduk dipangkuannya.
Melalui percakapan ini Weed berusaha mengulik informasi tentang area bawah tanah Lavias, jalan menuju ke sana, dan lain-lain yang berhubungan dengan quest undead. Dia yakin semua rekannya pun akan mendapatkan quest yang sama.
Area bawah tanah Kota Surga pada dasarnya adalah zona perang. Mayoritas penghuninya adalah skeleton, Death Knight, Demonic Warden, Dullahan, Lich, Specter, dan Shade.
Dullahan sangat kuat, itu adalah tipe undead yang sempurna. Tidak hanya berlevel tinggi sekitar 140, serangan mereka sangat cepat, kemampuan tempur mereka sangat tinggi. Hal inilah yang membuat mereka sangat sulit untuk dikalahkan.
Adapun Lich, berspesialisasi dalam black magic. Mereka memiliki kecerdasan yang tinggi, dan ahli melarikan diri jika sedang terpojok.
Dan Death Knight, sesuai dengan namanya mereka terkenal dengan sebutan iblis kematian, yang selalu menunggangi kuda, layaknya Ringwraith dari film The Lord of the Ring. Level mereka mendekati 200. Death Night adalah mimpi buruk!
Jantung Weed berdebar kencang, tidak pernah menduga jika undead yang sekuat itu membayangi Kota Surga. Seketika dia ingat perkataan Pale sebelum mereka berpencar, tentang bunga ranunculus yang cantik tapi beracun.
'Ah, EXP yang ku cintai!' Weed menyeringai kecil. Seperti biasa, dia bukannya takut tapi malah bersemangat. Nalurinya berkata quest sesulit ini akan mendatangkan keuntungan yang setimpal. Jadi hatinya bergembira.
"Sya la la la." Sambil bersenandung kecil, Weed masih asik mengelilingi Kota Surga yang tak berujung. Kedua tangan ia lipat di belakang tubuh.
Beberapa saat kemudian, Weed mundur beberapa langkah, ia merasa telah melewatkan sesuatu yang menarik. Ketika berhenti, ia mendongak untuk menatap kembali papan nama besar di atas sebuah gerbang.
Beginner Training Hall!
Tanpa sadar kedua kakinya melangkah memasuki gerbang itu. Dia merasa seperti ada kekuatan mistis yang mengundangnya ke sana, entah siapa dan kenapa.
"Selamat datang. Oh kau adalah seorang manusia!" Sapa instruktur semangat, dia tersenyum tapi tidak terlihat tersenyum karena paruhnya yang keras, hanya matanya yang menunjukkan ekspresi. Rambutnya sangat mencolok karena mirip jengger ayam jago, begitupun bodynya.
"Aku kebetulan lewat sini dan mampir untuk memberi salam. Aku sudah menyelesaikan Beginner Training Class di Kerajaan Rosenheim." Weed memulai percakapan pemancing.
Semua Instruktur di Training Hall menjunjung tinggi siapapun yang menghormati seni militer dan membenci kejahatan. Mereka akan memberikan beberapa fame bagi yang lolos di Training Hall.
Weed sudah pernah memasuki Training Hall, di kerajaan Rosenheim. Di sana dia berhasil membangun hubungan yang baik dengan sang Instruktur. Berkat itu, dia mendapatkan beberapa informasi yang berguna. Tapi reaksi yang diterimanya di Training Hall Lavias sangat jauh dari dugaannya.
"Mmph?" Instruktur Avian itu menahan tawa. Matanya menunjukkan rasa geli meskipun paruhnya tetap diam.
"Tak mungkin. Sangat tidak mungkin bagimu untuk menyelesaikan Beginner Training." Dia menatap Weed dari kepala sampai kaki, "Kau tahu, tak seincipun dari sekujur tubuhmu yang memperlihatkan bukti ucapanmu." Menunjuk wajah sendiri sambil memutar nya 360°.
"Mereka hanya punya Basic Training Hall." Instruktur itu tertawa kecil seakan mengatakan 'Sudah ku duga'.
Mata Weed menyala seakan ada api di dalamnya, 'Basic Training Hall! Berarti tempat ini adalah tahap selanjutnya!" Lagi-lagi keberuntungan memihak nya, tidak ada orang yang seberuntung dirinya, bisa kebetulan menemukan tahap kedua Training Hall setelah lolos tahap basic. Bisa dikatakan takdir lah yang memihak dirinya.
Semangat Weed berkobar, "Bolehkah aku mencoba Beginner Training sekali?"
"Bolehlah. Orang-orang yang sudah menyelesaikan Basic training memiliki hak. Tapi, pelatihan di sini sangat berbeda dari Basic Training Hall di Benteng Serabourg. Resiko bahayanya lebih tinggi, jadi jangan terlalu memaksakan diri."
"Aku ingin mencobanya!" Tegas Weed penuh semangat.
"Mencoba? Maksudmu latihannya?"
"Ya!"
Instruktur itu mengagumi kegigihan hati Weed, dia akhirnya membuka diri sedikit. "Semangatmu sangat menakjubkan. Kalau begitu, ikuti aku."
"Baik." Weed mulai membuntuti instruktur.
Dia membawa Weed ke sebuah bangunan di belakang Training Hall. Pintu masuknya terlihat mengerikan, berbentuk paruh burung elang yang terbuka lebar seakan siap menyantap mangsa. Weed melaju dengan tenang bersiap untuk melewati pintu masuk menuju lorong yang gelap gulita.
Tiba-tiba instruktur berhenti mendadak di depan pintu, "Yang harus kamu lakukan adalah melewati lorong ini, dan keluar dengan selamat ke pintu keluar di ujung sana. Sederhana kan? Tapi, skill tempur tidak akan bisa digunakan. Saran ku, jangan menyalakan api, itu akan membuatnya terlalu mudah. Bukan, amat sangat mudah."
"Dimengerti." jawab Weed singkat. Dia sudah tidak sabar ingin mencoba training macam apa yang ada di depannya.
Setelah instruktur mengangguk barulah Weed memasuki pintu paruh menuju lorong kegelapan. Dia tidak menahan diri langsung mempercepat langkahnya.
Awalnya, tidak ada hal yang membuat Weed cemas. Namun, semakin dalam dia melangkah keyakinannya perlahan memudar. Pikirannya berkecamuk, mulai penasaran dengan isi lorong.
Daripada mati penasaran lebih baik memenuhi hasrat asal tidak melanggar peraturan. Weed menggunakan tangan dan kaki untuk merasakan jalan yang ada di depannya. Karena sangat gelap, dia tidak akan tahu apa yang akan menjeratnya di lorong ini, lebih baik bersiap. Tiba-tiba--
PYIING!
Weed reflek menundukkan kepala mengikuti naluri yang mengatakan ada serangan tebasan. Benar saja, tak lam kemudian ia merasakan beberapa helai rambutnya yang terpotong jatuh menyentuh wajah. Dan dia menyadari ketenangan terakhirnya telah berakhir.
'Sebuah serangan? Bagus!' Darahnya seakan mendidih setelah dipompa terlalu semangat oleh jantung.
Weed sudah menarik iron swordnya, dengan yakin menusukkan ke arah depan. Meskipun dia tak bisa melihat, dia bisa merasakan sesuatu mendekat.
CLANG!
Pedang besi tersebut berbenturan. melawan sesuatu yang terbuat dari logam. Menilai dari damage yang dihasilkan, serangan itu bukan diblokir oleh perisai. Tapi badan musuh yang sekeras batu!
Swush!
"Dari kanan!" Weed bisa merasakan serangan datang, mengandalkan suara udara terpotong. Sekarang pun dia yakin jika serangan selanjutkan akan datang dari kanan, karena instingnya mengatakan demikian.
Iron Sword Weed bergerak seolah mempunyai pikiran sendiri. Ayunannya bergerak tenang untuk menangkis serangan dalam kegelapan. Seseorang yang tidak memiliki pengalaman berlatih pedang dalam kehidupan nyata tidak akan bisa melakukan gerakan seluwes ini. Tidak, bahkan mungkin saat serangan pertama datang, kepalanya langsung tertebas.
'Sepuluh, mungkin lebih!' pikir Weed.
__ADS_1
Serangan bertubi-tubi datang berusaha menghancurkan pertahanan Weed.
"Yatz!"
Weed berteriak semangat sambil melompat tinggi. Saat berguling mendarat di tanah, dia dengan cepat menebas ke samping untuk mengincar pergelangan kaki lawan.
Percikan api bertebaran, mempercantik kegelapan lorong. Seakan memercikkan api semangat juang kedua belah pihak. Saat iron swordnya menggores sesuatu yang terbuat dari besi, untuk sesaat, area di sana terlihat jelas.
Weed akhirnya tahu di sana ada puluhan barbarian berpakaian full baja yang mengepungnya. Mereka berpakaian lengkap, ada yang memegang pedang, tongkat, palu, kapak, stik, dan gada.
"Sial!" Rasa dingin menjalar di tulang punggung Weed, karena semangatnya yang berkobar-kobar telah padam, seperti sebuah lilin tertiup angin deras.
Tetapi serangan dari Barbarian tidak kunjung berakhir. Weed bisa menangkis beberapa serangan yang datang, tetapi didalam lorong yang gelap gulita mustahil baginya bisa menangani semua serangan sekaligus.
Sebuah serangan mendarat pada punggungnya, dan menghempaskannya ke tanah. Para Barbarian bergerumun seperti hyena langsung menyerang lagi dari segala arah
...****...
"Kau gagal." Mendengar suara sang Instruktur, Weed perlahan berdiri. Seluruh tubuhnya terasa sakit.
'Tempat macam apa ini?' Mata Weed berlarian menatap sekitar, dia akhirnya sadar sudah kembali ke pintu masuk Training Hall. Pasti instruktur yang telah membawanya kembali ke sini.
Weed merasakan HP-nya berkurang drastis. Dia diserang massa sampai HP-nya tersisa kurang dari 30, bahkan tepukan kecil bisa membunuhnya. Beruntungnya, tubuhnya tidak terluka, jadi HP-nya tidak akan berkurang lagi berkat kehilangan darah.
"Inilah yang terjadi saat mereka yang tidak punya cukup kemampuan memaksa menantang tempat ini. Aku menyelamatkanmu kali ini, tetapi jika kau mencobanya lagi, kau akan mati." Instruktur terlihat memarahi Weed bukan karena meremehkan nya, tapi lebih ke nasihat sebagai seorang instruktur di Training Hall.
Weed menggelengkan kepala untuk menenangkan diri, barulah bertanya, "Apakah aku harus berlevel lebih tinggi agar bisa berhasil?"
"Bukan itu. Infinite Steel Man menyesuaikan kekuatan dengan level penantangnya."
"Jadi itu artinya kemampuanku yang sebenarnya belum cukup kuat."
Instruktur mengangkat kedua bahu sambil tersenyum pasrah, "Begitulah."
"Sudah berapa lama, sejak aku masuk?"
"Sekitar 4 jam."
"Omayah! Teman-temanku telah menungguku. Aku pasti akan kembali lagi." Weed berjanji pada instruktur dan meninggalkan Training Hall untuk menuju ke titik pertemuan yang telah ditentukan.
Setelah keluar dari gerbang Beginner Training Hall, Weed langsung sprint dengan kecepatan maksimal. Setelah semakin dekat dengan titik pertemuan, dia lega melihat seluruh anggota partynya yang sudah berkumpul semua. Mereka sedang cemas menantikan dirinya.
Setelah melihat batang hidung Weed di kejauhan mereka semua terlihat gembira, langsung melampaui penuh semangat.
Terutama Surka, dia tak segan meloncat bagai anak TK, "Weed sebelah sini!"
Tak lama Weed. akhirnya hampir mencapai titik pertemuan, tapi dia sudah berhenti sprin, sibuk menenangkan nyawanya yang putus-putus, akibat olahraga dadakan.
"Weed!" Surka berseru, dengan cepat berlari ke arahnya.
"Maaf aku terlambat." kata Weed dengan nada meminta maaf, dia masih sedikit ngos-ngosan.
"Kami menemukan sebuah quest besar!" Romuna merentangkan kedua tangannya lebar-lebar untuk menggambarkan seberapa besar quest yang mereka dapatkan.
"Kami menunggumu kembali, Weed. Jadi, kita semua bisa memutuskan apakah kita harus menerimanya atau tidak." Pale melirik Romuna sebentar, terlihat gagal fokus karena pipi gadis itu yang mengembung terlihat sangat menggemaskan.
Saat mereka berpisah di persimpangan ini tadi, semua anggota partynya yang lain telah menjelajahi Lavias dengan sungguh-sungguh, untuk mengumpulkan informasi sebanyak mungkin.
Pertama, bagaimana caranya untuk kembali ke dunia bawah. Mereka bisa menggunakan sebuah item bernama The Feather of Lightness. Berita bagusnya item itu sangat mudah ditemukan di toko manapun, tentunya hanya di Lavias. Fungsinya akan memperlambat turunnya benda yang jatuh.
Mereka bisa menggunakan item tersebut untuk melompat dari Lavias. Mungkin menyenangkan bagi Weed yang menyukai tantangan ekstream, tetapi akan menjadi pengalaman yang mengerikan bagi seseorang pengidap acrophobia seperti Surka.
Yang kedua adalah berita yang sedikit mengecewakan. Ternyata party Weed bukanlah player pertama yang menemukan Lavias. Ya, walau mereka telah menduga hal ini saat pertama kali menginjakkan kaki di Lavias, tidak adanya pemberitahuan dari stat window. Tapi mereka masih merasa kecewa setelah mengetahui kebenarannya secara langsung.
Yang berikutnya adalah quest-quest!
Irene telah menemukan sebuah quest untuk membunuh 20 Skeleton Knight. Hadiahnya adalah sebuah Cincin yang meningkatkan level regenerasi Mana sebesar 10%.
Tentu saja, Skeleton Knight adalah monster yang sulit untuk dihadapi, dengan level mereka yang berkisar 100-an. Tetapi, tim tersebut merasa tergoda oleh hadiahnya. Bagaimanapun juga, sebuah cincin yang meningkatkan level regenerasi mana sangatlah langka. Harga jualnya di kota besar manapun di Benua Versailles tidak ternilai!
"Dimana tempatnya?" tanya Weed, juga tertarik dengan hadiahnya.
Seperti itulah, mereka menerima quest untuk membunuh Skeleton Knight tersebut.
Anda adalah orang pertama yang menemukan Dungeon Memphis!
Hadiah : Fame +200
• Dobel EXP dan dobel rate drop item setiap hari selama seminggu.
• Monster pertama yang terbunuh akan menjatuhkan item qualitas terbaik, yang bisa dijatuhkan oleh monster tersebut.
Stat Window segera berdentingan mengagetkan Weed dan kawan-kawan layaknya notifikasi masuknya bonus gaji di awal kerja. Mereka membeku di tempat.
"Bukankah ini--" Surka menoleh pada Romuna.
"Kita pengunjung pertama!" Romuna berseru penuh suka cita, langsung lompat indah bersama Surka. Pale tersenyum lebar melihat kelakuan mereka sekaligus bahagia karena kenyataan ini.
Lahan berburu yang memberi dobel EXP sangat layak dimasuki, tidak peduli seberapa berbahayanya. Sungguh sayang untuk ditinggalkan dan kehilangan semua EXP yang potensial itu.
'Orang lain mungkin saja datang duluan ke Lavias, tapi secara tak terduga mereka belum mendatangi tempat berburu yang hadiahnya se-- ah entahlah. Tidak mungkinkan mereka tidak mampu menemukan tempat ini tapi bisa menemukan jalan menuju Kota Surga. Lebih baik jangan terlalu senang dulu.' Weed berusaha keras untuk mempertahankan kelogisannya, tetapi rasa gembira di hatinya tidak bisa disangkal.
"Untuk saat ini, mari kita lihat-lihat dulu. Tujuan utama kita adalah membunuh Skeleton Knight. Tapi, karena kita perlu tahu apakah kita bisa melakukannya, kita harus memburu apapun yang kita temui terlebih dulu. Irene!"
"Ya!" Irene refleks menjawab dengan tegas saat namanya terpanggil oleh Weed.
"Tolong support kami, terutama dengan blessing mu."
"Baik! Dan karena tempat ini dipenuhi dengan undead, aku juga akan menyerang menggunakan holy magic."
Blessing dan Holy Magic milik priest sangat fatal bagi undead. Holy Magic berfungsi untuk meningkatkan damage 1.5 kali terhadap musuh-musuh yang berbeda, dan memberikan damage tambahan jika lawannya adalah undead.
"Ayo pergi." Weed melangkah cool layaknya seorang pemimpin sejati.
__ADS_1