Legendary Moonlight Scluptor

Legendary Moonlight Scluptor
Karya Fine Piece


__ADS_3

Ghandilva tergopoh-gopoh menghampiri Weed, wajahnya terlihat segar dan berseri, dia menggenggam tangan Weed dengan bangga, "Weed, terimakasih banyak. Kau telah membuat patung Dewi Freya yang sangat luar biasa. Semua penduduk desa akan diberkati selamanya. Dan lagi, berita tentang kecantikan yang tak tertandingi dari patung itu akan menarik banyak wisatawan untuk berkunjung. Tak salah lagi, kau adalah pendiri kedua Desa Baran."


Quest Selesai : Patung Dewi Freya!


Ghandilva sangat berterimakasih atas kerja keras Anda!


Patung Dewi Freya yang didirikan di Desa Baran akan menyebarkan harapan dan keberanian pada para penduduk. Mereka akan menerima Anda kapanpun di masa depan.


Fame : +30 


Level Up!


Level Up!


Level Up!


Fame di Desa Baran : 60%


1st Weed, 60%


2nd: Darius, 45%


3rd: Seoyoon, 33%


Hadiah quest nya sangat tinggi karena hasil pekerjaannya jauh lebih baik dari yang diharapkan.


Sebuah quest yang menghasilkan tiga level up sekaligus, bisa menjadi quest level D tersulit. Ditambah famenya di Desa Baran meningkat pesat ke posisi pertama.


Ada berbagai macam keuntungan memiliki fame di suatu desa atau kota. Jika seorang player dihormati di suatu kota, dan fame kian bertambah, maka player itu bisa memborong barang dengan diskon terbaik di sana. Selain itu, juga memenuhi syarat untuk menjadi pejabat pemerintah seperti kepala desa atau seorang baron.


Fame Weed meroket pesat sejak quest penyelamatan warga desa yang tertawan, menjual massal senjata rampasan dari benteng monster, serta membuat patung Dewi Freya yang telah hancur, hasilnya pun sangat luar biasa, secara tidak langsung dia telah mengembalikan harapan desa yang sempat padam.


Kontribusi besarnya pada desa telah diakui oleh seluruh penduduk, tidak ada yang tidak mengenal nama baik nya sebagai pahlawan heroik pendiri Patung Dewi Freya.


Sedangkan untuk kasus Darius, dia adalah pemimpin pasukan ekspedisi, dia telah berkontribusi memberantas monster yang menginvasi desa.


Kemudian ada juga Seoyoon, gadis itu telah membantai banyak monster yang mengancam di sekitar Desa Baran, dan menjual drop item ke desa ini, hal ini termasuk memutar perekonomian desa, seperti yang di lakukan Weed dan kawan-kawan. Bahkan pengaruhnya di desa Baran berada di nomor satu sebelum kedatangan Weed dan Darius.


Seketika jantung Weed berdetak kencang, “Seoyoon menempati posisi ketiga? Berarti dia pernah datang ke sini sebelumnya?”


Ketika Weed menjadikannya model untuk membuat patung, dirinya sangat yakin bahwa Seoyoon tidak akan pernah menginjakkan kaki kesini, dan menyadari wajah ini adalah gambaran dirinya.


Pikirannya simple, benua Versailles sangat luas.


Weed meneguk saliva susah payah, membayangkan adegan saat Seoyoon yang sedang tersenyum mengerikan setelah melihat patung buatannya di alun-alun desa. Lalu memenggal kepalanya tanpa basa basi. Dia seorang pembunuh berdarah dingin, jadi hal ini mungkin saja terjadi dimasa depan.


Berita buruknya jika mata Seoyoon melihat tulisan Weed yang terukir di patung, maka dia akan menebaskan pedangnya berulang kali ke leher Weed, dan akan mengejarnya sampai ke ujung dunia jika Weed kabur, lalu membunuhnya beratus kali. 'Tidak! Ini berita buruk! Buruk! Sangat buruk! Lalu aku akan jadi kecoa, cari saja jika bisa.'


Dia teringat hari mengharukan ketika dia hampir menyelesaikan patungnya. Saat itu dirinya terlalu bersuka cita dan sangat puas dengan ciptaannya sendiri. Dia masih belum tahu hasilnya akan jadi sehebat ini. Jadi, murni karena terlalu bersemangat dia menuliskan catatan pendek di bagian bawah patung Dewi Freya.


Kebiasaan orang Korea yang tidak bisa disingkirkan!


Ditengah dilema ini, Weed bertanya dengan hati-hati, "Permisi pak kepala, bolehkah aku bertanya?"


"Boleh, apa yang ingin kau ketahui?"


“Apakah orang yang bapak minta untuk mencari patung pengganti Dewi Freya bernama Seoyoon?"


"Ya, dia orangnya. Ah! Jadi kalian saling mengenal? Dia adalah gadis baik, orang yang dengan tulus menerima permintaan aneh ku, sayangnya sampai sekarang dia belum kembali."


“Ohhh begitu." Nafas Weed sedikit lega mendengar kenyataan ini. Jika pembunuh berdarah dingin itu kebetulan kembali saat dia sedang memahat patung, entah neraka macam apa yang akan membakar hidup damai nya sekarang.


Hembusan nafas Weed terdengar panjang, 'Dia mungkin akan membunuhku sebagai balasan karena telah mencuri quest nya.'


Setelah pekerjaan ini selesai, dia ingin sesegera mungkin untuk mengunjungi Kota Surga. Sebelum Seoyoon mengetahui tentang kabar tentang patung Dewi Freya yang sudah ada di alun-alun kota. Lalu memburu nyawanya yang berharga.


Langkah Weed terhenti karena tangan Ghandilva menempel di tangannya seperti permen karet. Weed menatap orang tua itu dengan bingung.


Ghandilva mengerti kekhawatiran Weed, diapun berbisik, "Ada sesuatu yang ingin aku bicarakan denganmu pahlawan desaku, Weed." Suaranya terdengar seperti madu yang mengandung racun.


Tapi Weed akan mengabaikan nya kali ini, "Ya, katakan saja."


"Apakah kau percaya dengan yang namanya takdir? Aku yakin bahwa kedatangan kau ke desa kami bukanlah sebuah kebetulan."


“Maksudnya?”


"Suatu hari di masa lalu, seorang priest dari gereja Dewi Freya mengunjungi desa kami, dan menceritakan--" Ghandilva menoleh ke sana kemari seakan takut ada yang memperhatikan mereka, dia semakin mendekat ke arah Weed, takut ada yang mendengar perkataannya.


"Katanya kejahatan sedang merajalela. Para penjahat itu menyebarkan pengaruh mereka di alam ghaib, di bawah tempat kita berada, dalam kegelapan yang dingin dan suram. Tuan Priest itu lalu menambahkan bahwa hanya Sang Pemberani lah yang bisa mengalahkan kejahatan! Kemudian, dia memberiku kekuasaan untuk memilih Sang Pemberani secara langsung."


Weed mulai merasakan racun berbuah madu dari perkataannya, dia mulai antusias, “…”


"Awalnya, aku tidak benar-benar mengerti apa arti perkataannya itu, tapi sekarang akhirnya aku paham juga. Ada satu rahasia lagi yang belum ku katakan padamu, Weed. Biji yang selalu dijaga oleh keluargaku secara turun-temurun adalah alat pemandu ke kota tersembunyi. Tuan Priest memberi wasiat agar menemukan seorang lelaki bernama Seagull untuk mengambil kembali Harta yang hilang dari gereja Dewi Freya. Temukan dia. Jadilah Sang Pemberani yang akan membasmi kejahatan!"


“..." Weed membeku di tempat.

__ADS_1


Anda mempelajari petunjuk tentang Harta yang hilang dari Gereja Dewi Freya!


'Luar biasa! Ini adalah quest berantai dari Patung Dewi Freya! Aku merasa sangat bangga, mengetahui kesempatan emas ini mendatangiku secara langsung dengan sukarela.' Sekali lagi Weed mencium bau-bau kekayaan. Tentu saja, sebagian dari kesempatan emas ini tercipta oleh Seoyoon yang terlambat mengerjakan quest hingga terganti olehnya.


"Mencegah kejahatan yang merajalela adalah tujuan utama dalam hidupku. Aku akan melakukan yang terbaik untuk menemukan Harta yang hilang dari Gereja Dewi Freya!" Weed mengangguk dengan tegas, wajahnya terlihat bertekad kuat.


"Terima kasih."


Anda telah menerima quest!


Setelah berakhir berbincang dengan Ghandilva, Weed berjalan menemui rekan setimnya, tadi mereka sudah sepakat untuk bertemu.


Di depan patung Dewi Freya, Pale menatap patung itu dengan tatapan hangat, yang tentu saja langka, "Kerja bagus, Weed. Aku tidak pernah membayangkan bahwa sebuah patung bisa seindah ini." Matanya tidak bisa berpaling barang sedetikpun dari patung.


Bukan hanya Pale, tapi termasuk semua rekan separty nya yang masih terpesona oleh kecantikan pahatan Weed.


Selama ini mereka terlalu sibuk meningkatkan level untuk mengejar ketinggalan dari Weed, bahkan mereka mengurangi waktu tidur dan menghabiskannya untuk berburu, jadi tidak sempat menonton aksi Weed memahat patung yang menjadi berita panas di Desa Baran.


Sebagai rekan, tentu saja mereka sangat bangga padanya.


“Ini sangat-sangat-sangat luar biasa. Dia terlihat hidup layaknya manusia abadi. Jujur, ini adalah patung terindah yang pernah ku temui.” Mata Surka berbinar-binar.


“Aku yakin bahkan Dewi Freya sekalipun tidak bisa menandingi kecantikan patung ini.” Romuna mengangguk sangat yakin dengan pendapatnya.


“Bagaimana kau bisa membayangkan kecantikan seperti ini? Mau tak mau aku mengagumi rasa estetika dan jiwa artistikmu yang luar biasa.” Irene tersenyum manis setelah menyenggol bahu Weed sekali.


Weed merasa sedikit malu dengan pujian mereka yang berlebihan, 'Rasa estetika yang indah? Jiwa artistik?'


Rekannya menyayangkan bahwa selama ini mereka terlalu buta hingga tidak menyadari keberadaan seorang seniman hebat, padahal dia tepat di depan mata mereka.


Tentu saja mereka belum mengetahui jati diri Weed yang sebenarnya. Daripada seorang seniman, akan lebih kredibel jika dia disebut seseorang yang haus akan kekayaan.


'Apakah mereka akan percaya jika aku memberitahu mereka bahwa aku benar-benar tidak punya ide bahkan setelah dua hari memahat? Tidak mungkin. Lebih baik tetap menjadi rahasia perusahaan.' Weed menatap rekannya dalam diam.


Lagi pula, tiada gunanya memberitahu sesuatu yang tidak akan mereka percayai.


Layaknya seorang penjual profesional yang tidak akan memberitahu segala hal tentang barang dagangannya. Dia pasti akan menyembunyikan kekurangan, hanya akan melebih-lebihkan keunggulan produk yang dijual. Pada akhirnya, kau yang memutuskan hal yang terbaik untuk dilakukan.


Kedua manik Weed beralih menatap patung replika Seoyoon di depannya, mau tak mau dia kembali membayangkan pertemuan pertama mereka, ini akan menjadi rahasia perusahaan selanjutnya, "Saat memahat patung ini aku membayangkan kalian semua dalam pikiranku. Menggabungkan perpaduan antara Irene, Surka dan Romuna. Mereplika hati yang tulus serta wajah cantik dari kalian, sehingga tara! Hasilnya bisa seindah ini."


"Omaigat!"


"Weeeeed tengkyuuu."


Sontak ketiga gadis itu membalas pujiannya dengan nada bergelombang seperti angin sepoi-sepoi di sore hari, merdu dan enak didengar. Setelah mendengar kebohongan manis Weed. semua gadis di timnya mendadak berbunga-bunga.


'Menyenangkan hati perempuan itu hal yang simpel, bukan?' Weed tersenyum bangga.


"Hei, kau yang bernama Weed, kan?" Tiba-tiba suara kasar menyeruak diantara reunian manis itu.


Semua orang serempak menoleh ke asal suara, orang itu ternyata lelaki berambut seperti moncong ayam, Darius.


"Sclupture mastery mu cukup bagus. Apa karya itu termasuk grand piece?"


Ternyata Darius mengetahui banyak hal di Benua ini. Sekarang levelnya 140, dia pasti telah lama mencari tahu segala sesuatu tentang scluptor entah dimana.


"Bukan." Jawab Weed singkat.


"Benarkah? Berarti itu sebuah Fine Piece?" Darius sangat antusias, terlihat tidak akan berhenti sebelum mendapatkan apa yang dia inginkan.


"Ya."


“Oh, aku tidak percaya akan melihat sebuah karya langka ini. Katanya, sangat sedikit scluptor yang bisa menghasilkan karya Fine Piece." Darius menunjukkan ekspresi terkejut yang berlebihan. Lalu dia menampilkan senyuman semanis mungkin.


"..." Weed terang-terangan mengabaikannya.


"Selamat! Aku tahu kau pasti mendapatkan cukup banyak statistik karena hal ini. Setidaknya keberuntungan seperti ini harus jatuh kepada seorang scluptor yang lemah." Hanya karena fakta bahwa Weed adalah seorang scluptor, Darius dengan ringan meremehkannya.


Tapi memang pada dasarnya kebanyakan scluptor itu lemah. Skill bertempur mereka sangat lemah. Sebaliknya, mereka memiliki statistik yang lebih tinggi karena menghasilkan karya-karya Fine Piece ataupun karya hebat lainnya.


Bahkan, jika mereka dapat ilmu skill bertarung yang hebat di suatu tempat, mereka tidak akan tahu bagaimana cara mempraktikkannya.


Alasan mereka memilih profesi scluptorpun karena sejak awal mereka memang tidak bisa bertarung. Bukan hanya scluptor. Tapi sebagian besar player yang memiliki profesi non-tempur tidak kompeten dalam bertarung.


Padahal, jika diasah dengan baik, melalui banyak pertempuran akan menghasilkan petarung pro. Masalahnya adalah terlalu banyak faktor yang menghambat kemajuannya.


Biasanya mereka terlalu bingung tentang bagaimana cara menanggapi serangan musuh, dan terkadang tidak tahu akan berperan seperti apa dalam sebuah tim.


Skill bertempur dasar yang mereka pelajari secara umum tidaklah cukup. Bahkan tingkatan skillnya sangat rendah. Hingga mereka sering kali direndahkan oleh rekan setim.


Di tambah lagi, mereka terlalu sibuk meningkatkan skill sclupture mastery untuk menjadi master scluptor. Jadi mereka harus rela lebih lemah dibandingkan rekan mereka, termasuk level yang juga lebih rendah, itu berlaku hanya jika mereka menghabiskan waktu bermain yang sama.


Tentu saja, Weed adalah pengecualian!


"Hei, jaga mulutmu!" Pale melangkah maju , tak terima rekannya dihina, bukan, lebih tepatnya difitnah. Dia akan menjadi orang pertama yang menebas leher orang-orang yang menyakiti hati rekan rasa sahabat nya.

__ADS_1


Kemudian, kekacauan akhirnya pecah.


"Darimana orang gila ini datang?" Surka menyemburkan kemurkaannya.


"Lihatlah wajahnya seperti wajan panas yang dilumuri minyak setelah memanggang sosis, uh mata suci ku ternodai." Romuna menutup matanya sejenak.


Irene mengangguk pada Romuna sambil meringis jijik dengan keras, lalu ikut menyemburkan perkataan kasar, "Dasar orang tolol! Tidak bisakah memilah kata sebelum berbicara? Ah! Otaknya kan kosong. Tertukar dengan dengkul kali." Ia ngos-ngosan setelah bicara ngerap, wajahnya merah berapi-api.


“...”


Weed dan Pale melongo, terkejut dengan kemurkaan para gadis yang sangat sadis. Surka dan Romuna sih tidak mengherankan bisa berkata sekasar ini karena mereka memang sering bersumpah serapah dari waktu ke waktu. Tapi yang membuat mereka berdua terkejut adalah Irene yang biasanya berjiwa lembut, orang yang anti dengan kata-kata kasar sekarang malah jadi yang paling berkobar-kobar.


Ini yang dinamakan the power of perempuan. Weed sedikit bergidik, begitupun dengan Pale.


Weed dan Pale bahkan tidak akan heran jika ketiga gadis itu tiba-tiba berubah status menjadi seorang pembunuh. Mereka memiliki pemikiran yang sama. Mulai sekarang tidak akan menyinggung hati para wanita.


Weed mengerjapkan mata beberapa kali, menurutnya pendapatnya di awal itu sangat salah. Wanita itu bukan makhluk yang simple. Bodoh jika kau menganggap telah mengenal seorang wanita hanya karena bisa membuatnya bahagia dengan beberapa pujian manis. Bahkan jika dia memiliki seribu kepandaian sekalipun, dia tidak bisa memahami isi otak wanita.


Rasanya amarah Weed telah meluap berkat sumpah serapah para gadis. Mereka seakan balas dendam menggantikan dirinya. Hatinya cukup puas.


"A-apa apaan?" Mata Darius berbinar.


Tapi baik Irene maupun Romuna tidak tersentak sedikit pun. Mereka tetap mempertahankan tatapan setajam silet.


"Kenapa, apakah perkataan kami ada yang salah?" Surka mengangkat dagunya tinggi-tinggi.


“Beraninya kau--”


“Lalu kau mau apa? Membunuh kami?” Romuna langsung memotong perkataannya dengan sadis.


"Kau pikir aku akan membiarkanmu lolos begitu saja?!" Darius bersiap untuk mencabut pedang dari gagangnya.


Jika sekarang dia adalah warrior berlevel 140, dan berniat untuk bertarung melawan mereka, maka Weed dan rekannya tidak akan bisa bertahan.


Tidak, Weed memiliki peluang kemenangan jika dia berhasil memanfaatkan potensinya dengan baik. Sekarang dia berlevel 70-an. Tapi jika ditambah statistiknya yang tinggi, dia setara dengan warrior level 100.


Mempertimbangkan skill langka dan kemampuan bertarungnya, dia yakin bisa mengalahkan Darius. Apalagi Darius meremehkannya, dia bisa memanfaatkan momen keterkejutan Darius dengan baik dengan langsung menebasnya dalam hitungan menit.


Masalahnya adalah jika duel mereka berlangsung lebih dari satu menit, maka Weed akan kehabisan mana karena skillnya, lalu tak akan lama nyawanya pun akan melayang.


Weed tidak takut pada Darius dalam hal kekuatan dan keterampilan bertempur, tapi kelemahannya terletak pada durasi. Kasus Weed bisa diumpamakan dengan ketakutan khas ejakulasi dini, ketakutan utama setiap pria. Tentunya dia masih lebih kuat dari player yang berlevel setara.


"Darius, tenangkan dirimu!"


"Biarkan aku yang maju! Dan mengajari para pelacur itu tentang tata cara bersopan santun!”


“Ingatlah! Kau adalah letnan pasukan ekspedisi ini. Artinya kau tidak boleh duel dengan bawahan sendiri. Jika kau melakukan itu, apakah kau tahu berapa banyak fame mu yang akan turun? Nah, apa kau berniat untuk menyerah pada quest ini?”


Parros dan rekan-rekan lainnya dari kelompok Darius berusaha menahannya. Mereka mencoba untuk meredam amarahnya, dan dia akhirnya tenang.


"Baiklah, kali ini aku akan memaafkan mu."


Mendengar komentar Darius, Romuna mencibir, "Kau pikir kau siapa beraninya memutuskan siapa yang memaafkan siapa?"


"Semua orang pasti pernah berbuat salah, tapi si gila ini bersikap seperti orang suci saja."


Ejekan terakhir Surka hampir menyulut pertengkaran ronde ke dua. Tapi saat itu, anggota pasukan ekspedisi sudah berkerumun mengelilingi mereka karena tertarik dengan adu bacot mereka yang selengekan.


Darius dan rekannya sudah kehilangan respek dan kepercayaan dari semua orang. Disisi lain, Weed dan rekan separtynya sangat dihormati. Dari awal, Weed telah memikat hati pasukan ekspedisi melalui masakan enak sepanjang perjalanan menuju Desa Baran. Bukan hanya itu, Weed selalu siap sedia untuk memperbaiki senjata dan armor mereka yang rusak. Terakhir, Weed menyediakan layanan gratis identifikasi item.


Terlepas dari kelebihan Weed, rekan separty Weed juga sangat ramah kepada player lain, jadi reputasi mereka juga cukup baik di mata pasukan ekspedisi.


Selain itu selama ini, saat Weed sedang sibuk mengerjakan quest patung Dewi Freya, Pale dan yang lainnya bergabung dengan beberapa party di pasukan ekspedisi untuk memburu monster bersama. Karena skill mereka yang bagus serta taktik berburu cepat membuat mereka menjadi player favorit di party manapun.


Dari sini Weed mengetahui bahwa Darius dan rekannya selalu berburu sendirian karena tidak ada orang lain yang mau mengundang mereka, apalagi bergabung dengan mereka, setelah dibisiki oleh Surka. Sudah jelas bahwa Weed berada si posisi yang jauh lebih kuat darinya. Inilah tangkapan besar yang Weed maksud, simpati massa.


Parros membalasnya dengan nada arogan, menggantikan Darius yang terdiam membeku, "Kami adalah anggota guild ICA. Aku yakin kalian semua pasti pernah mendengarnya. Itu adalah salah satu dari tiga guild teratas di Rosenheim."


Guild ini tentu saja diketahui oleh Weed, karena terkenal dengan perilaku buruknya. Tidak heran, sikap buruk Darius dan rekannya tercipta dari lingkungan yang seburuk itu.


“Dalam waktu dekat kami berencana untuk membangun sebuah kota. Jadi kami membutuhkan plat gantung yang bagus. Maukah kau mengunjungi kami nanti untuk mengukir plat guild? Akan kami bayar dengan harga tinggi." Usut punya usut akhirnya kedatangan Darius memang ada maksud terselubung. Tidak mungkin kan orang arogan seperti dia dengan ramah mendatangi Weed hanya untuk memberinya selamat atas terciptanya sebuah karya Fine Piece.


Darius memang bersuka cita atas keberhasilan dalam quest ekspedisi, tapi hatinya sebenarnya sedikit suram karena hal yang tersisa untuk masuk kantongnya jauh lebih sedikit dari apa yang dia perkirakan.


Hal itu karena seseorang telah membabat habis semua harta karun di benteng para monster. Saat itu mereka sangat marah.


Selama beberapa hari ini, Darius dan rekannya sudah mencari sang pelaku, tapi tak kunjung ketemu. Tentu saja mereka melewatkan Weed, karena yang mereka ketahui Weed hanyalah seorang scluptor lemah yang waktunya dihabiskan untuk memahat patung Dewi Freya di alun-alun desa. Merekapun tidak mencurigai rekan setimnya yang berlevel rendah. Mereka menganggapnya remahan yang tak berbahaya.


Selama penyelidikan pribadi berlangsung, mereka telah membuat serangkaian kesalahan besar yang menyebabkan lebih banyak permusuhan dengan player lain.


Sementara Weed telah membuat persahabatan yang solid dengan ketua desa, Ghandilva, dengan menyelesaikan quest Patung Dewi Freya dengan hasil yang sangat baik, hal ini seolah menggosok garam di atas luka Darius dan rekan.


Sejujurnya, Darius cemburu.


Karena rasa iri dengki yang berlebihan inilah Darius meremehkan Weed, padahal dia yang butuh, akhirnya membuat semuanya mejadi lebih rumit.

__ADS_1


__ADS_2