
Mapan masih memikirkan tentang masa depannya nanti saat bersama Weed, dia telah merangkai beberapa catatan impian yang akan dia wujudkan, "Akhirnya, masa-masa ku sebagai Merchant yang membosankan, melelahkan, dan menyedihkan akan berakhir! Sekarang, waktunya menikmati jalur menuju kejayaan."
Bagaimanapun juga, jalur seorang Merchant sangat sulit. Mapan mengingat tahap awal dia mengunjungi Benua Versailles. Diapun bergidik merasakan bulu kuduk nya berdirian, "Hufth! masa-masa itu sangatlah sulit."
Mapan memiliki banyak harapan dan impian ketika memilih profesi Merchant. Profesi ini benar-benar memberi fantasi yang menggiurkan bagi lelaki itu. Karena motto nya sama dengan Weed, Uang! Dimana ada uang disitu ada kekuatan! Dimana ada uang disitu ada kekuasaan! Dimana ada uang disitu ada jalan! Uang adalah segala-galanya!
Pada akhirnya dunia didominasi oleh uang.
Di dunia nyata, Mapan kuliah jurusan ekonomi. Dia dengan tegas mempercayai bahwa kapitalis bukanlah ideologi, tapi ekonomi itu sendiri. Untuk mendapatkan modal, dia siap menanggung segala kesulitan.
Saat dia menemukan Benua Versailles, dia berharap dan bermimpi bahwa semua uang di dunia ini akan menjadi miliknya. Dengan impian setinggi langit ini, dia ingin membangun mega perusahaan perdagangan untuk mendapatkan kekuasaan yang tinggi. Karena di dunia yang kejam ini, sebuah gelar bangsawan yang mulia bisa dibeli dengan uang.
Intinya, Mapan memilih jalur sebagai seorang Merchant untuk menghasilkan uang yang banyak, untuk menempatkan dunia dibawah telapak kakinya.
Tetapi kenyataan tidak seindah harapan!
Kenyataannya, sejak awal menempuh jalan untuk menjadi seorang Merchant sudah sulit bukan main. Karena player baru tidak diizinkan keluar Benteng selama 4 minggu, Mapan harus bekerja keras dimana-mana. Dia bekerja di hotel, toko senjata, toko bursa, dan lain lain, hal ini guna menabung uang untuk dijadikan modal. Dia akan melakukan apapun itu, termasuk berlari, melompat, ataupun berguling, asal bisa mendapat hal yang namanya uang. Pada akhirnya, semua usaha dan kerja keras ini dia kerahkan hanya untuk profesi Merchant.
Di suatu ketika, akhirnya ada seseorang yang mengakui kerja kerasnya, "Tidak apa-apa jika kau sedikit serakah pada uang, karena itulah jati diri seorang Merchant. Menurutku, kau berbakat untuk menjadi seorang Merchant, karena aku sudah melihat semua kerja keras yang kau lakukan sejauh ini."
Mapan awalnya menunduk dalam, dia tadinya takut dimarahi akhirnya mengangkat kepala. Tadi dia sempat adu cekcok bersama pelanggan di toko ini karena masalah uang. Padahal Mapan hanya ingin menjadi pelayan yang jujur, tapi pelanggan itu malah menunding-nundingnya dengan kasar saat Mapan meminta bayarannya yang kurang 1 copper. Mapan hampir menangis melihat orang di depannya yang tersenyum menenangkan, "Pak Han."
Orang yang dia sebut Pak Han itu, menepuk bahunya beberapa kali, "Sudah jangan bersedih lagi. Nah, sekarang aku sangat membutuhkan 300 kulit kelinci. Aku akan memberimu 1 gold, jadi bisakah kau mendapatkannya untukku? Jika kau berhasil, aku secara resmi akan mengangkat mu menjadi seorang Merchant dari Kerajaan Rosenheim. Namun, ada syaratnya, kau harus menyelesaikan tugas ini secepat mungkin. 3 hari, waktunya 3 hari."
Membeli Kulit Kelinci!
Pemilik toko membutuhkan kulit kelinci dalam jumlah besar. Tidak perlu tahu alasan yang sebenarnya, tetapi akan lebih baik jika menyelesaikannya secepat mungkin.
Tingkat Kesulitan : E
Syarat : Harus selesai dalam 3 hari.
Jika Anda gagal, kepercayaan pemilik toko padamu akan berkurang dan Anda tidak akan mendapatkan komisi selama sebulan.
Hadiah: Profesi Merchant
'Asikkkk! Akhirnya aku dapat rezeki nomplok!' Mapan menerima quest itu tanpa pikir panjang.
Mapan berjalan keluar toko dengan senyuman lebar. Dadanya tidak lagi sesak setelah menghirup udara segar di luar toko. Dia menatap uang ditangannya beberapa kali, "Seperti yang diharapkan dari sebuah quest Merchant, Pak Han bahkan memberiku 1 gold. Woah! Padahal baru tahap awal, tapi uangnya sudah sebanyak ini. Bukan main!"
Tentu saja Mapan menganggap bahwa quest ini terlampau mudah untuk dijalani, karena dia belum mengetahui medan pertempuran yang sebenarnya.
Kelinci adalah monster umum yang sering bermunculan di depan Benteng. Satu kulit kelinci dijual seharga 10 copper di toko umum, jadi total pembeliannya kali ini adalah 3.000 copper. Setelah perhitungan ini, Mapan yakin bahwa uang yang akan keluar seharusnya cukup sebesar 30 silver.
Tentu saja lawan transaksi membutuhkan keuntungan juga. Dalam transaksi bisnis, kedua belah pihak antara pembeli dan penjual memerlukan keuntungannya masing-masing.
Mapan berdiri tegak dengan bangga di depan Benteng, "Membeli Kulit Kelinci! Aku akan membayar 11 copper perkulit!" Dia berteriak sekeras mungkin, berharap akan banyak player yang habis berburu kelinci akan mendatanginya.
Tiba-tiba, seorang Merchant ikut berdiri di sebelah kanannya, ikut berteriak tak kalah nyaring, "Membeli Kulit Kelinci seharga 30 copper!"
Dan seseorang tailor yang baru datang berdiri di samping kirinya akhirnya bersuara, "Membeli Kulit Kelinci seharga 50 copper!"
Mulut Mapan tak berhenti menganga, dia akhirnya sadar seberapa sulit medan pertempuran yang akan dia jalani kedepannya, "Sial! Bagaimana mungkin hal ini bisa terjadi."
Kulit kelinci yang seharusnya hanya seharga 10 copper, malah dibeli dengan harga selangit. Bukankah ini namanya penipuan bisnis.
"Apa yang terjadi?" tanya Mapan yang kebingungan, tapi jawaban lawan malah menjatuhkannya pada keputusasaan.
"Kau tidak tahu? Lihat itu!" Dia menunjuk segerombolan orang yang membawa gerobak tengah berjajaran menunggu pemburu datang, "Sadarlah kawan, kau bukan satu-satunya orang yang memborong Kulit Kelinci untuk dijual kembali. Dan lagi, di sini bukan hanya para Merchant yang membutuhkan Kulit Kelinci, tapi juga para tailor. Sudah jelas harganya akan meroket!"
Mapan menangis pilu. "Benar-benar kejam."
__ADS_1
"Kau harus terbiasa, inilah dunia yang sebenarnya."
Harga-harga yang semakin tinggi ini tentu membuat Merchant pemula merana. Tapi mereka tidak punya pilihan selain ikut berjuang dijalan penuh rintangan ini.
Begitupun dengan Mapan, karena quest nya hanya memiliki waktu yang sempit. Jadi dia terpaksa mengeluarkan semua uang yang telah dia peroleh untuk mendapatkan 300 Kulit Kelinci. Akhirnya dia bangkrut mendadak.
Pundak Mapan terkulai lemas saat dia kembali ke toko. Pemilik toko tentu tidak menyadari kesuraman hatinya. Yang penting dia senang telah mempercayakan tugas itu pada orang yang dapat dipercaya. Dengan senyuman merekah dia menepuk bahu Mapan beberapa kali, "Terimakasih dan selamat! Sekarang kau sudah resmi menjadi seorang Merchant."
Kesulitan ini hanyalah permulaan di jalan Merchant. Untuk meningkatkan level dan statistik nya, Mapan harus rela mengeluarkan isi kantong lebih banyak saat membeli barang jarahan dari para pemburu. Dia tidak bisa menyentuh daerah perburuan untuk mencari drop item secara langsung karena sangat lemah. Dan tidak ada tim yang menerima kehadiran seorang Merchant, yang hanya akan menghambat jalannya perburuan.
Saat membeli barang jarahan, Mapan harus berjuang sampai ke titik darah penghabisan. Setelah banyaknya suka duka, dan pengalaman pahit yang panjang sebagai seorang Merchant, Mapan melakukan perjalanan jauh menuju Desa Baran.
Dia dengan rajin menjual dagangannya. Setiap hari harus menunggu seorang pembeli yang mungkin atau tidak untuk membeli dagangannya. Terkadang dagangannya laris dengan mudah, tapi terkadang juga ada pembeli yang menawarkan harga terlampau murah. Dia sudah menghadapi berbagai macam pembeli, dari pembeli yang baik hati sampai pembeli laknat. Tapi dia tidak menyerah, karena dia masih yakin dengan harapan bahwa kerja keras tidak akan mengkhianati hasil.
Tapi sekarang, dia telah menjalin kerjasama dengan orang yang tepat. Jadi, semua kecemasan dan ketakutannya akan masa depan yang suram telah berakhir. Yang harus dia lakukan sekarang adalah mempercayai dan mengikuti Weed dengan sepenuh hati.
"Kerja kerasku akhirnya berakhir!" Mapan berteriak lantang melepaskan semua beban dipundaknya selama ini. "Aku akan mengikutinya kemanapun! Aku hanya harus mempercayainya!"
Mapan membuat tekad tegas. Dia menganggap Weed seorang knight yang hebat, seorang petualang berpengalaman, dan seorang master pertempuran, hanya ini yang dia yakini tentang Weed.
Perasaan senang Mapan itu nyaris pupus saat matanya tak sengaja melihat orang yang dia kenal sedang berhadapan dengan beberapa pembeli. "Bagaimana ini bisa terjadi?"
Mapan tertawa kecil, "Ah, mungkinkah aku sedang bermimpi." Dia mencubit pipinya sendiri. Setelah merasa sakit dia nyaris menjerit. Dia melakukan segala upaya untuk meyakinkan diri bahwa semua ini bukan kenyataan, tapi tidak ada perubahan.
Orang yang dilihatnya di depan sana memang benar Weed, dia sedang menjual berbagai patung, memasak, dan yang lebih buruk lagi, dia memperbaiki berbagai equipment dan drop item.
"Tidaaaaaaaaaaak!"
Sementara Weed memasak dengan riang, seseorang diam-diam menangis. Seseorang itu adalah Mapan. Weed yang dia ketahui adalah seorang prajurit hebat, sekarang malah sibuk menjual makanan dan patung.
"Bukankah ini adalah contoh paling buruk dari seorang Japkae?"
(Japkae \= Orang yang memiliki banyak keahlian, tapi semua itu hanya keahlian rendahan yang tidak lebih remahan dari tong kosong yang nyaring bunyinya)
Jadi, Mapan menenangkan diri terlebih dahulu, dia harus siap menghadapi apapun balasan yang diberikan Weed. Setelah merasa tenang barulah dia mendekati orang yang bersangkutan, "Um, Weed, apa profesi mu?"
"Aku? Seperti yang sedang kau lihat, aku seorang Sculptor."
"Se-Se-Seorang Sculptor?" Kepala Mapan berdenyut-denyut seolah bagian belakang kepalanya baru saja dihantam benda tumpul. Dia akhirnya sadar akan sesuatu, inikah yang dinamakan sakit tapi tak berdarah?
"Ya."
'Profesi Scluptor bahkan tak lebih tinggi dengan pekerjaan seorang pembantu.' Mapan diselimuti rasa pilu. Dengan tangan bergetar dia menunjuk ke arah kuali yang sedang mendidih, "Lalu bagaimana dengan masakan itu?"
"Oh ini adalah kerjaan sampingan." Weed tentu saja sadar dengan kebimbangan yang dirasakan Mapan, tapi dia tidak berniat untuk menjelaskan apapun, dia malah senang mengerjai calon sekutunya ini.
"Bagaimana dengan ini?" Mapan menunjuk setumpuk senjata yang belum di repair oleh Weed.
"Ini? Hobi. Aku rajin mempelajari skill ini. Karena aku berniat untuk mempelajari skill Blacksmith agar bisa membuat senjata dan armor dengan tangan sendiri. Jadi, aku harus meningkatkan skill repair setidaknya sampai tahap Intermediate."
Mapan yang awalnya berpikir bahwa membentuk tim dengan Weed adalah takdir yang dijatuhkan oleh langit hanya bisa menahan kekecewaan yang mendalam. 'Jadi begitu. Orang ini sangat tidak beruntung. Bagaimana bisa aku menemukan seorang japkae seperti dia?'
Mapan menyingkir ke sebelah Weed karena banyak orang protes menganggap dia memotong antrian. Tapi dia tidak sempat menjelaskan apapun pada orang-orang itu. Karena diapun terlalu banyak pikiran.
Mapan terdiam kaku memikirkan bahwa Avatar yang di sebut Weed ini sangat mengerikan, dalam artian tak berharga. Jalur yang dilaluinya sangat berantakan, hingga hal itu sudah cukup untuk dicatat dalam sejarah sebagai Avatar terburuk dari yang terburuk. Weed terlalu rajin atau terlalu tidak ada kerjaan sampai mempelajari skill yang bahkan tidak dilirik oleh orang lain. Jika itu Mapan, dia pasti sudah menyerah lalu membuat Avatar baru. 'Seberapa lambat peningkatan level avatar nya, hingga dia menjadi seperti ini?'
Tentu saja Mapan tidak tahu seberapa besar perjuangan seorang Weed. Sejak awal dia dengan tekun meningkatkan kekuatan dengan terus-menerus memukuli orang-orangan sawah di Training Hall, sambil bersabar hanya dengan memakan roti kering.
Weed juga telah melewati masa-masa memahat patung sampai matanya merah demi meningkatkan statistik walau hanya 1 poin. Dia telah menciptakan beribu patung, saking banyaknya bahkan tidak bisa dihitung seberapa banyak perkiraannya.
Sedangkan, untuk meningkatkan skill cooking, dia telah menjadi seorang chef untuk pasukan invanteri NPC saat berburu di dungeon Livart. Setiap hari, dia harus memasak beribu hidangan.
__ADS_1
Intinya, dia telah meningkatkan Avatar yang diberi nama Weed ini dengan kerja keras yang panjang dan menyulitkan jauh melebihi penderita Mapan.
Namun, yang dilihat Mapan adalah sebuah Avatar yang dibuat secara sembarangan yang mempelajari berbagai macam skill bermodalkan hobi belaka. Sedangkan dirinya bisa sampai sejauh ini, karena saat tersandung, dia menganggapnya pengalaman baru sebelum bangkit lagi.
Melihat kegigihan Weed saat berbisnis, Mapan memilih untuk tidak menyesali pilihannya tentang menjalin kerjasama dengan Weed, "Orang ini bahkan lebih mata duitan ketimbang aku. Apa boleh buat, sepertinya kami akan cocok. Seperti kata konfusius, Ketika kau berjalan bersama dua orang, maka salah satu dari mereka adalah gurumu. Jadi, bahkan walaupun dia adalah seorang japkae, aku bisa belajar sesuatu darinya." Mapan bergumam halus sambil tetap memperhatikan wajah Weed.
Setelah berpikir panjang, akhirnya Mapan menyerah dengan kekecewaannya. Dia secara antusias ikut membuka tokonya sendiri di samping Weed. Bagaimanapun juga, dia tidak bisa hanya duduk dan tidak melakukan apapun, itu adalah pemborosan waktu.
Setelah mengamati Weed beberapa waktu, kedua mata Mapan melebar, baru mengetahui jati diri seorang Merchant yang sebenarnya. Dia tak berhenti tercengang dengan sikap yang diambil Weed, 'Benar-benar penipu ulung!'
Mapan yang baru saja mengalihkan pandangan karena terlalu tak sanggup menatap Weed lebih lama, kembali menatapnya dengan mulut terbuka selebar mulut ember, 'Bagaimana bisa dia mendapatkan keuntungan yang tak masuk akal hanya dengan bahan-bahan murahan seperti itu?'
Tak lama kemudian Mapan merasa dirinya sangat marah. Bagi Mapan, yang bangga menjadi seorang Merchant yang jujur, dia merasa seolah-olah tidak punya ruang yang tersisa untuk bersaing melawan Weed, 'Tidak salah lagi, dia adalah seorang perampok dan penipu di siang bolong!'
Weed mempunyai bakat brilian untuk bicara manis pada para pembeli. Hanya dengan beberapa kata, sebuah patung yang seharga 10 silver bisa dijual dengan harga 15 silver. Melihat hal ini, membuat darah Mapan semakin mendidih.
2 hari kemudian, Weed akhirnya menutup tokonya, dengan perlahan dia memasukkan semua patung pajangan nya ke dalam ransel. Hati Weed tentu saja sangat baik, bisnisnya berjalan semulus porselen, "Mereka terjual lebih banyak dari yang ku perkirakan."
Patung-patung tersebut telah dia ukir diwaktu luangnya saat di Lavias. Dan lebih dari setengahnya telah laku terjual. Satu hal tentang kelemahan patung, orang-orang tidak akan kembali untuk membeli patung lagi. Kebanyak orang hanya membeli satu patung sebagai sovenir. Weed tidak bisa menjual patung-patung nya lebih banyak lagi, kecuali dia bertemu seorang kolektor.
Diantara para player di Desa Baran, kebanyakan orang sudah membeli satu patung. Jika Weed tinggal lebih lama lagi, yang bisa dia jual hanyalah masakannya saja.
Dan setelah mempertimbangkan tingkat levelnya saat ini, keuntungan dari patung jualannya saat ini tidaklah besar. Biaya produksi dari patung hanya 10 silver, paling tinggi bisa dijual seharga 30 silver. Maka, 10 patung akan menghasilkan 3 gold. Jumlah ini cukup tinggi saat hari-hari awal, dia masih sangat miskin, tapi sekarang sudah berbeda.
Setelah meningkatkan skill Repair dan memasaknya hingga 40%, Weed memilih untuk menutup tokonya.
Weed Dia melihat Mapan yang berada disebelahnya, "Sudah waktunya bagi kita untuk berangkat."
Mapan mengernyitkan dahi, "Huh? Berangkat ke mana?"
"Kita akan melakukan perjalanan melalui Pegunungan Baruk, seperti yang sudah aku katakan padamu."
Weed masih memiliki quest yang tertunda, mengembalikan Holy Grail ke tempat yang seharusnya dalam waktu 3 bulan. Sejak awal dia sudah berencana meninggalkan Kota Baran. Selain itu, dia yakin di sana akan banyak pengetahuan dan pengalaman yang akan didapatkan untuk menjadi seorang Scluptor yang hebat.
Meskipun sekarang Weed telah menjadi kuat dan memiliki beberapa skill andalan, tapi dia tidak lupa pada fakta bahwa profesinya adalah seorang Scluptor. Sebelum melakukan perjalanan panjang, Weed mengunjungi beberapa toko.
"Berhati-hatilah!" Ghandilva, sang kepala desa, berkata dengan hangat pada Weed di luar gerbang.
Ketiga prajurit Denarion, Dale, Becker, dan Hosram, juga mengucapkan perpisahan mereka bersama sang kepala desa.
"Aku akan kembali dan berkunjung lain kali." janji Weed.
"Tentu saja. Kami tidak akan melupakan semua bantuan yang telah tuan pahlawan berikan pada kami!" Beberapa warga desa juga ikut mengantar kepergiannya. Mereka tadi sempat mengeluhkan tidak bisa membuat pesta untuk menyambut kedatangan Weed karena dia sangat sibuk mencari uang.
"Sampai berjumpa lagi." Weed tersenyum pada mereka untuk terakhir kalinya.
"Ya, Komandan! Setelah tugas kami di sini selesai, kami akan kembali ke rumah. Jadi lain kali, kita mungkin akan bertemu di Benteng Serabourg."
...•••...
Chapter ini pendek kan?
Sengaja!
Aku sedikit kecewa antusias kalian saat membaca petualangan Weed semakin lama semakin menurun.
Aku bisa janjikan akan UP lebih panjang di chapter selanjutnya, asal like dan komennya diperbanyak.
Aku juga akan janji UP 3 atau lebih dalam sehari kalo antusias kalian apresiasi kalian terwujud.
Intinya, buktikan dulu diri kalian, maka akupun akan membuktikan diriku.
__ADS_1
Bye!
Lia Cans huhu~~