Legendary Moonlight Scluptor

Legendary Moonlight Scluptor
Menginjak Benua Utara!


__ADS_3

Weed buru-buru memeriksa quest yang dipaksakan padanya. Dan tidak ada yang berubah, kesulitannya tetap tingkat B. 'Sepertinya quest ini secara paksa ditugaskan pada siapapun yang bisa membawa kembali Holy Grail. Jika sudah seperti ini, apa boleh buat, aku harus berusaha sekuat mungkin. Siapa tahu sebuah kesempatan akan muncul.'


Sikap Weed saat menindak situasi berlangsung sangat cepat dan briliant, tapi juga realistis. Dalam kehidupan, akan selalu ada kesempatan.


Namun, High Priest semakin menjatuhkan Weed dalam jurang keputusasaan dengan perkataannya berikutnya. Bahkan tidak ada cela untuk melarikan diri. "Untunglah, 20 tahun lalu, para Paladin berhasil menciptakan gerbang teleport. Dan berhasil memasang portal terakhir di Morata. Melewati gerbang teleport ini, siapapun bisa berpindah tempat dalam sekejap mata, tanpa harus bersusah payah membuang waktu dalam perjalanan."


"Jangan bilang, maksudmu aku harus--" Bibir Weed sedikit gemetar tak mampu untuk melanjutkan prakata.


"Ini mendesak. Kita tidak bisa menundanya lebih lama lagi. Kau harus berangkat besok. Tenang saja, seorang priest hebat akan ditugaskan untuk menemani mu dan membantu tugas penting ini. Dia akan memainkan peran penting dalam menyelamatkan saudara seperjuangannya yang telah dikutuk menjadi batu oleh para vampire."


"Berarti hanya satu hari. Persiapan ku hanya satu hari."


"Betul. Kami mengandalkan mu, Weed. Semangat!" High Priest menepuk bahu Weed untuk menyemangatinya.


'Waktunya sangat sempit.'


...***...


Weed berkeliling alun-alun untuk memborong banyak hal. Dia mendatangi tempat-tempat termurah sesuai kebutuhan. "Aku ingin memborong armor dan senjata. Aku membutuhkan yang harganya dibawah 1 gold."


"Oke."


Dia lalu berpindah ke tempat yang menyediakan bahan pangan, "Aku ingin membeli makanan, perban dan herb dalam jumlah yang banyak. Tolong beri aku harga diskon!"


Weed menyiapkan banyak hal dalam beberapa saat. Barulah dia menemui Mapan untuk mendiskusikan masalahnya.


"Besok aku akan pergi ke tempat yang jauh untuk mengerjakan quest. Aku akan melalui gerbang teleport di gereja Dewi Freya."


Mapan ikut senang untuknya, "Wahhh! Selamat!"


"Hmm."


"Ngomong-ngomong, apa aku bisa ikut?"


"Maaf sekali, Mapan. Aku harus pergi sendirian."


"Sayang sekali, padahal aku sangat ingin berpetualang kembali bersamamu."


"Maaf, aku tidak mampu menjamin keberhasilannya, karena quest ini sangat sulit. Tingkatannya B."


"Ohhh. Baiklah, aku mengerti. Semoga beruntung dan selamat tinggal, rekan seperjuangan." Mapan mengucapkan salam perpisahan dengan sedih.


Walau Mapan berspesialisasi dalam profesi yang sangat berguna dalam pertempuran sekalipun, Weed dengan tegas tidak akan mempertimbangkan kembali untuk membawanya dalam quest ini. Apalagi kenyataannya, Mapan hanyalah seorang Merchant lemah. Bisa-bisa dia akan menghambat proses berlangsungnya quest. Jadi, mengikut sertakan Mapan adalah pilihan terburuk nya saat ini.


Mapan akhirnya keluar dari status tim dengan Weed.


...***...


Karena semua persiapannya sudah selesai semua, Weed kembali menuju Gereja Dewi Freya untuk beristirahat.


Baru saja, Weed menginjak tangga menuju pintu masuk gereja, kedatangannya langsung disambut dengan hangat oleh High Priest dan sekelompok Paladin dan Priest.


"Hai Weed. Akhirnya aku lega saat kau kembali."


"Ah iya." Tubuh Weed gemetar saat High Priest menyelesaikan kalimatnya. Inilah kenyataan yang harus dia hadapi. 'Kira-kira seberapa besar kemungkinan keberhasilan dari quest ini? Ahhh ini rumit. Aku pikir High Priest adalah orang yang baik hati. Ternyata dia adalah tipe orang pemaksa.'


Situasi yang dijalani Weed jelas lebih menakutkan dari bertarung melawan para monster di Pegunungan Baruk. Di sini dia tidak memiliki peluang sedikitpun untuk melarikan diri.


Walau begitu, Weed telah bertekad, dia tidak akan menyerah pada quest ini. Kecuali, jika terjadi kemungkinan terburuk tanpa menghasilkan keuntungan apapun.


Berpikir sampai sejauh ini, memori Weed kembali mengingat percakapan terakhir mereka kemarin.


High Priest dengan tegas memperingatkan hal penting pada Weed, "Ini adalah sebuah tugas yang sangat penting. Ya, tidak ada yang bisa memprediksi masa depan akan berakhir seperti apa. Tapi, yang kutahu, masalah ini sangat mendesak. Bisa jadi akan semakin memburuk dalam hitungan hari."


Weed hanya bisa mengangguk pasrah, 'Betul! Ini masalah buruk! Sangat-sangat buruk untukkuuu!!!' Tapi dia menyimpan keluhan itu dalam hati.


Semua ini, tergantung pada situasi. Bisa saja alam semesta membantunya hingga berhasil menyelesaikan ujian berat ini. Bisa juga, dia malah terjebak di sana seperti para Paladin yang telah menjadi batu. Tapi, Weed bertekad tidak akan mengalami nasib yang sama.


Baru saja rasa percaya diri Weed kembali, imajinasinya langsung jatuh ke kenyataan saat mendengar suara High Priest kembali, "Sebagai seseorang yang telah mendirikan gereja Dewi Freya di kota ini, aku percaya jika kau adalah pahlawan yang diceritakan dalam legenda. Dan kau akan berhasil merebut relik suci itu secepatnya."


"Maksudnya?"


"Saat kau kembali besok, seorang priest hebat yang terpilih dari gereja ini akan hadir sebagai bawahan mu. Jika kau berhasil membawanya kembali hidup-hidup, maka kau berhak menerima hadiah sebesar kekuatan yang dimilikinya."


"..."


"Pokoknya, kau tidak usah mencemaskan perihal ini. Kami akan mempersiapkan dirinya sebaik-baiknya. Besok kami akan menemui mu langsung."


"...." Weed hanya bisa terdiam kaku.


Ternyata, semua hal sudah diatur sedemikian rupa seakan mereka telah memprediksi kedatangannya. Akhirnya, Weed tidak bisa melarikan diri apapun alasannya. 'Apanya yang Kota Somren adalah simbol kebebasan?! Kebebasan itu telah lenyap! Seharusnya julukannya diganti menjadi kota penjara tanpa jeruji!'


Holy Crown of Fargo telah dicuri langsung dari Gereja Dewi Freya. Dan berita buruknya, Weed tidak diizinkan untuk menggandeng bala bantuan dari player lain. Dia hanya boleh menggunakan orang-orang yang telah disediakan oleh High Priest.


"Sekarang adalah waktunya."


"Huh?" Ucapan High Priest berhasil mengembalikan Weed ke dunia nyata. Dia semakin curiga setelah melihat senyuman misterius dari lelaki dihadapannya. Berdasarkan pengalaman, senyuman ini sangat berbahaya.


"Mulai saat ini, aku akan memperkenalkan orang yang membantumu dalam misi penyelamatan para Paladin." High Priest mengalihkan pandangan dari Weed, "Jika masih ada yang bisa diselamatkan." Lanjutnya dengan suara lirih.


Weed tidak menanggapinya, dia memilih mengamati kunci kecil yang dipegang High Priest untuk membuka pintu di hadapan mereka berdua.


Setelah pintu terbuka, di dalamnya ada seorang anak lelaki yang memakai topi putih dan berjubah priest berwarna putih. Weed sedikit terkejut karena wajahnya sedikit mirip dengan anak seorang pejabat di komplek perumahannya.


"Dia adalah kandidat terkuat yang akan menjadi paus berikutnya di gereja ini, Alveron. Sebelumnya, terimakasih atas kesediaan mu dalam bantuan ini, Alveron."


"Merupakan kehormatan untuk melakukan sebuah tugas mulia." Alveron lalu menatap seseorang di sebelah High Priest, "Dan, suatu kehormatan juga bisa bertemu dengan mu, Weed." Dia menyapanya dengan formal.


Ketajaman mata Weed berhasil menemukan fakta penting, 'Alveron bukanlah seorang player, tetapi NPC.'


...***...

__ADS_1


Weed dan Alveron berjalan bersebelahan menuju pusat gereja. Mereka melewati rute-rute rumit yang dibangun di bawah tanah sebagai tempat menuju gerbang teleportasi. Setelah beberapa saat mengagumi keindahan aksara di dinding-dinding rute, akhirnya mereka sampai di tempat yang dituju, gerbang teleport.


Kkolkkak!


Glek!


Weed menelan ludah beberapa kali. Seperti yang diucapkan High Priest, dalam sekejap mata, dirinya bisa langsung tiba di Morata melalui gerbang dihadapannya. Tapi, dia tidak lupa jika mereka langsung berhadapan dengan marabahaya saat tiba di Morata. Karena Morata sepenuhnya telah dikuasai oleh Pure Blood Vampire Clan.


Kenyataannya, tidak semua daratan di Benua Versailles dihuni oleh para player. Benua Utara juga telah ditemukan oleh para petualang. Sayangnya, tidak ada orang yang berani mengunjunginya, karena Benua itu dihuni oleh monster-monster yang terlalu kuat termasuk Vampire Clan.


Tapi, sekarang Weed harus menguatkan diri karena sebentar lagi dirinya akan mengunjungi Benua yang digadang-gadang menjadi area terlarang. Dia berdiam diri bersama Alvero di depan gerbang teleport sambil menunggu persiapan teleport selesai.


"Kalian benar-benar harus menyelamatkan para saudara kita di sana! Semangat!" High Priest tersenyum simpul pada Weed dan Alvero sebelum mengumpulkan sejumlah besar mana untuk mengoperasikan gerbang teleport.


Cahaya keemasan keluar dari arah gerbang, berangsur-angsur mengerubungi tubuh Weed dan Alvero. Lalu, dalam sekejap mata, kedua orang itu menghilang dari gereja Dewi Freya.


Sejarah mengatakan, 150 tahun lalu di Benua Utara terdapat sebuah kekaisaran yang makmur bernama Niflheim. Sayangnya, kekaisaran itu telah di porak-porandakan oleh para monster.


Saat kekacauan terjadi, para bangsawan sibuk melarikan diri tanpa mempedulikan rakyatnya. Lalu, para pasukan yang berjuang digaris terdepan untuk memperjuangkan tanah air dibasmi tanpa sisa oleh para monster. Sejak saat itu, Kekaisaran Niflheim punah. Wilayah itu akhirnya dipenuhi oleh monster berbahaya.


Sekarang hanya ada satu aturan yang berlaku di Benua Utara, hukum rimba, siapa yang paling kuat, dia yang akan bertahan hidup dan berkuasa atas semuanya.


Weed dan Alveron muncul di pintu gerbang dalam sebuah gua. Gua inilah penghubung utama dengan gerbang teleport di gereja Dewi Freya.


Mata Weed mengerjap beberapa kali untuk menyesuaikan situasi, "Jadi, ini adalah Morata." Seperti biasa, dia berjalan-jalan untuk mempelajari sekitar.


Wush!


Semilir angin berhembus menusuk tulang pipi Weed saat dia menyentuh mulut gua, "Uhh, dinginnya!" Secara reflek langsung memeluk tubuh sendiri.


Medan dan iklim di Benua Versailles berbeda-beda tergantung lokasi wilayahnya, sama seperti di dunia nyata.


Dan, berita buruknya, Morata terletak jauh di utara benua, yang termasuk wilayah dingin. Sepanjang musim di zona ini, merupakan zona es abadi. Suhu dinginnya sangat parah, mungkin berminus-minus derajat.


"Aku tidak menyangka tempat ini akan sangat dingin!" Tubuh Weed menggigil lagi dan lagi, dia bahkan berfirasat bahwa hawa dingin itu sebentar lagi akan membekukan jantungnya.


Vitalitas tubuh Weed menyusut dengan cepat saat angin dingin terus menerus menyerang dirinya.


Peringatan : Anda telah terkena flu!


Untuk mengatasi rasa dingin, Anda disarankan untuk memakai pakaian yang tebal dan duduk di dekat api.


Jika flu berat berlangsung pada waktu yang lama, hal ini akan memperburuk kondisi Anda.


Badan menjadi lebih kaku dan kemampuan fisik berkurang sebesar 5%.


Kecepatan rasa lapar meningkat sebesar 25%!


Pesan tersebut mengingatkannya bahwa flu yang dibiarkan begitu saja akan semakin memperburuk tubuh.


"Uhhhh! Di-ngin." Weed menggigil, giginya bergemeletuk. Tapi, dia tidak punya waktu untuk mengkhawatirkan tentang kondisi ini. Dia harus mengamati wilayah sekitar, jadi dia berkeliling untuk memantau secara langsung.


Langkah Weed membawanya menuju sebuah pegunungan yang sudah tertutup salju tebal. Dalam perjalanan, dia melewati kota mati yang telah porak poranda.


Weed menggosok kedua tangan untuk mencari ruang kehangatan, "Ini pasti kota Morata."


Tatapannya lalu melintas menuju struktur bangunan hitam raksasa.


Bangunan itu memiliki pagar besar dengan lampu yang bergelantungan di tiap ruas, tapi tidak ada yang menyala. Jendela bangunan nampak menghitam kelam. Istana berwarna hitam itu tertutup salju tebal. Menciptakan kombinasi warna yang sedikit aneh, mengingat kesan kelam wilayah ini seakan disingkirkan oleh warna putih gemilau salju.


Seketika, Weed bisa menebaknya dengan jelas, "Istana Morata."


Beberapa gagak terbang mengitari atap bangunan istana.


Kwak! Kwak! Kwak!


Biasanya, burung adalah hewan yang paling rentan terhadap salju. Tubuh mereka yang lemah dengan mudah membeku akhirnya mati. Walau gagak adalah jenis burung yang lebih tangguh tapi tidak akan sekuat ini hidup di dataran salju abadi. Weed bisa menyimpulkan bahwa burung-burung itu telah berubah menjadi vampire. Karena itu, mereka tidak bisa mati.


"Aku yakin, ini adalah tempat bernaungnya para Pure Blood Vampire Clan. Huhhh! Ujian ini tak akan mudah."


Weed selesai memantau situasi dan berjalan kembali ke gua. "Jadi, ini kota Morata yang tertulis dalam legenda."


Pada zaman dahulu, kota Morata dipimpin oleh seorang duke yang merupakan paman Ratu Natalya. Kota ini dulunya sangat terkenal dan makmur berkat perekonomiannya yang berjalan lancar, kualitas kulit dan kain yang dihasilkan sangat luar biasa. Sayangnya, kemakmuran kota ini sekarang hanya menjadi legenda semata. Kenyataannya, kota ini telah hancur lebur dan menjadi kota mati yang terisolasi oleh dunia.


Tidak ada juga manusia yang mau mendiami kota mati.


Keadaan kota di Morata tidak jauh berbeda dengan ibukota Kekaisaran Niflheim itu sendiri, Mordred. Menjadi kota mati, karena semua penduduknya telah dimusnahkan.


Semakin jauh memikirkan semua ini, kepala Weed semakin pusing. Secara mental dia mulai mengatur jalan questnya, "Pertama, aku harus menyelamatkan para paladin untuk meningkatkan bala bantuan. Kedua, menyingkirkan para Vampire itu dari Morata. Ketiga, mencari Holy Crown. Ya, aku harus melakukannya sesuai rencana."


Rencana Weed terdengar sederhana dan mudah. Tapi, sebenarnya dia frustasi dengan realitas pahit tentang profesinya, Legendary Moonlight Scluptor. Untuk mengerjakan sebuah quest tingkat tinggi semacam ini, dia memerlukan profesi yang luar biasa, setidaknya selisih levelnya dengan musuh bisa ditutupi.


Saat situasi sepelik ini, Weed baru menyesali tindakannya yang tidak mencari lebih banyak EXP saat di kota Surga sebelum kembali ke bumi. "Hufth! Tidak ada gunanya menyesali apapun, saat nasi sudah menjadi bubur. Jadi, tepatnya apa yang harus ku lakukan sekarang?"


Saat sampai di gua dia langsung mendekati Alveron untuk menanyakan beberapa hal. Dia bisa mengandalkan kepercayaan kuat Alveron padanya.


Temperatur tubuh Anda telah meningkat sedikit!


Pemberitahuan dari stat window langsung berdenting saat dia memasuki gua. Karena, dalam gua ini suhunya sedikit hangat. Itupun jika angin dingin tidak berhembus ke dalam gua.


Weed duduk di samping Alveron. "Sebelum aku memulai tugas ini, kau bersantailah terlebih dahulu. Ah, aku belum memperkenalkan diri padamu dengan resmi, walau aku tahu High Priest sudah memberitahumu namaku. Namaku Weed. Aku lebih tua darimu, jadi, hormati aku, oke?" Suara Weed terdengar sopan dan berhati-hati.


"Baik, Weed."


Alveron terlihat seperti bocah lelaki yang polos dan naif. Weed tidak ingin hubungan mereka menjadi canggung jika Weed terlalu sopan padanya karena dia calon paus berikutnya. 'Bocah ini boleh juga.'


Weed mulai mengulik informasi tentang partner barunya untuk mempermudah persiapan quest, "Kau tahu kan jika quest ini sangat sulit, jadi aku ingin tahu berapa level mu?"


"320."


"..."

__ADS_1


Weed tahu jika Alveron adalah kandidat terkuat untuk menjadi paus selanjutnya pasti memiliki level yang sangat tinggi. Tapi dia terkejut saat mengetahui level seorang NPC bisa setinggi itu. Sedetik kemudian Weed berhenti bersuka cita, menyadari bahwa para priest tidak memiliki banyak kemampuan bertempur. Dia masih harus mengandalkan kekuatan sendiri untuk menyelamatkan nyawanya. 'Sayang sekali.'


Untungnya, berkat levelnya yang tinggi. Weed bisa meningkatkan Fame nya dengan drastis nantinya jika berhasil menyelesaikan quest ini, sesuai dengan fame Alveron. Jadi, Weed tidak menyalahkan bocah itu sepenuhnya, "Level mu cukup tinggi. Tapi, aku juga penasaran tentang hal lainnya. Berapa banyak fame milikmu?"


"Sebentar, aku akan mengeceknya dulu." Alveron terdiam sejenak sebelum melanjutkan, "150.002."


"..." Weed hampir terperangah jika sikap sigapnya tak segera mengambil alih. Dia juga mencoba untuk menekan rasa malunya dengan menatap wajah Alveron yang terlihat seimut bocah SD. Karena terlalu terkejut, bahkan dia sempat melupakan fakta bahwa Alvero adalah kandidat utama Paus di masa depan.


Alveron bingung sendiri ditatap seintens ini oleh Weed, "Apakah ada masalah?"


Weed akhirnya kembali ke dunia nyata, "Tidak ada, beristirahatlah dahulu."


"Baik." Layaknya seorang adik kecil yang baik dan penurut, Alveron menuruti perintah Weed tanpa bantahan. Dia pergi pojokan untuk bermeditasi dengan khusyuk.


Weed sangat puas dengan hasil ini, dia menatap ke sana kemari mencari tempat yang bagus, "Sekarang tugas kecil telah diurus, saatnya bagiku untuk memulai." Dia memilih lantai gua yang sedikit luas lalu membentangkan tikar.


Tikar ini telah menemaninya kemanapun dia berpetualang. Karena, Weed tahu dengan jelas fungsi utama tikar dalam sebuah perjalanan, dapat mencegah efek dingin dengan baik. "Berita buruknya, aku tidak tahu ternyata aku juga perlu menyiapkan pakaian." Gumamnya sambil menggigil.


Karena selama ini Weed tidak pernah berburu di daerah dengan suhu dingin seekstrem ini. Kerajaan Rosenheim dan Ibukota Somren adalah kota yang hangat, jadi tidak perlu membawa pakaian tambahan dan semacamnya. Dia tidak pernah menyangka akan kesulitan karena masalah yang sederhana, tidak membawa pakaian tambahan.


Sekarang, Weed hanya bisa menahan rasa dingin yang kian melumpuhkan tubuh. Tangannya gemetaran saat mencoba untuk membuka ransel. Dia mengeluarkan semua equipment yang dia borong seharga dibawah 1 gold.


Brakk! Brukk! Gedebuk!


Weed memukuli sebuah armor dengan kejam. Tinjunya menghantam armor itu di sana sini sampai rusak parah. Sesuai harganya yang sangat murah, endurance dari armor itupun sangat lemah. Hanya terkena beberapa hantaman tinju Weed, armor itu langsung rusak.


"Sekarang aku akan memperbaiki mu." Gumam Weed sambil mengeluarkan palu yang dia beli secara khusus di toko Blacksmith.


"Repair!" Kali ini, Weed memukul armor didepannya dengan palu. Sejak awal tujuan Weed memborong drop item level rendah ini hanya untuk meningkatkan skill repair.


Weed memukul item yang terbuat dari baja itu beberapa kali sampai area yang rusak kembali diperbaiki. Melihat dari usaha keras Weed, membuktikan bahwa memperbaiki defense sebuah armor itu sangat sulit. Setelah itu, Weed kembali melanjutkan kegiatannya, yaitu merusak dan memperbaiki armor tersebut.


10 menit kemudian, Stat Window berdenting membuat hati Weed berbunga-bunga.


Skill Repair telah meningkat!


Namun, karena menerima kerusakan yang berulang-ulang, defense armor tersebut rusak terus turun secara permanen sampai dijemput oleh pemberitahuan dari Stat Window.


Peringatan : Item rusak total!


Item rusak total karena terlalu sering menerima damage.


Armor ditangan Weed telah hancur berkeping-keping. Dan drop item yang telah rusak total tidak akan ada gunanya lagi. Jadi, Weed meletakkan armor yang telah hancur lebur itu di sisi kiri. Dia melanjutkan dengan merusak semua armor yang telah dia beli. Setelah armor habis, dia berpindah untuk merusak sepatu. Tak lama, semua sepatu itu bernasib sama dengan armor, rusak total. Seakan tak ada habisnya, Weed lalu mengeluarkan pelindung kepala.


Brakk! Brukk! Gedebuk!


Klang! Klang! Klang!


8 jam kemudian!


Stat Window memberitahukan kabar bahagia. Skill repair nya meningkat sebanyak 10%.


Di sebelah kiri Weed, puing-puing item yang rusak menumpuk sampai ke langit-langit gua. Itu semua adalah equipment yang dia borong seharga 100 gold.


"Skill Check : Repair!"


Skill Repair : Beginner Level 9,89%


Weed hanya harus meningkatkan nya 11% lagi agar skill repair nya mencapai tahap intermediate. Lalu, dia bisa memperbaiki sebuah item hingga memiliki defense maksimal.


"Hachoo!"


Weed telah merusak dan memperbaiki equipment tanpa beristirahat. Membuat vitalitas tubuhnya terus menerus menurun. Hingga menyebabkannya bersin beberapa kali, hidungnya pun meler, tak lama kemudian dia mulai sakit tenggorokan.


Peringatan : Penyakit Flu yang menyerang semakin parah!


Untuk mengatasi rasa dingin, disarankan untuk memakai pakaian yang tebal atau duduk di dekat api.


Jika flu yang parah terus berlanjut dalam jangka waktu yang lama, pasti akan memperburuk kondisi Anda.


Flu juga bisa menambah penyakit lain!


Vitality : -20%


Efek Skill : -30%


Maksimal HP dan MP berkurang!


"..." Weed kehilangan kata-kata. Dia hanya terserang sedikit flu, tapi sekarang flu nya semakin memburuk. Mungkin ini disebabkan karena dia duduk di satu tempat terlalu lama. "Sialan!"


Ada 3 hal tragis yang harus diperhatikan saat seseorang sendirian. Kelaparan! Kedinginan! Dan terserang penyakit!


Berita buruknya, berjuang dalam keadaan lapar lebih sulit dilakukan di iklim yang dingin. Apalagi Weed yang hanya mengandalkan roti gandum, makanan kering itu tidak akan menghangatkan tubuh.


Sekarang, rasa dingin telah mempengaruhi semua skillnya. Badan Weed juga menjadi lebih kaku. Serangan flu ini membuat dirinya depresi.


"Ini tak bisa dipercaya." Weed mendesah panjang.


Sejak dia memulai game ini, dia telah menjalani kehidupan yang sangat sulit. Dia mendapatkan profesi yang tidak diinginkan. Sekarang dia juga harus mengalami segala macam masalah akibat serangan rasa dingin ekstrem.


Weed menenangkan diri sendiri dengan fakta bahwa dirinya tidak sendirian mengalami penderitaan ini. Matanya berlalu menatap seorang lelaki muda yang mengenakan jubah putih di pojokan gua, 'Alveron mungkin mengalami penderitaan yang sama. Tidak, mungkin dia lebih kedinginan dibanding aku, dia harus bertahan memakai jubah setipis itu.'


Rasa puas menjalar di hati Weed, merasa lebih baik karena ada seseorang di sampingnya yang bernasib sama. Suasana hatinya sedikit membaik. Lebih baik lagi, jika ketidaktahuan Weed ini berlangsung selamanya. Karena faktanya, Alveron sama sekali tidak merasa kedinginan, jubah yang dia pakai memiliki efek spesial yang bisa mencegah hawa dingin menembusnya.


...•••...


Weed : Heiii pembaca sekalian! Kalian suka kan kisah perjalananku? Jadi, luangkan waktu kalian, kasih aku LIKE dongggg!!!! Cuman sedetik kokkk!!!


LIKE!


LIKE!

__ADS_1


LIKEEEE!!!!!


__ADS_2