Legendary Moonlight Scluptor

Legendary Moonlight Scluptor
Perjalanan menuju Desa Baran!


__ADS_3

Hutan rimba di Utara!


Pasukan ekspedisi Desa Baran sedang berhenti untuk istirahat dan makan siang. Beberapa player memakan makanan kering atau roti hitam. Begitu juga dengan prajurit NPC, mereka selalu menerapkan untuk makan tepat waktu.


"Bagaimana dengan persiapan makanan kita?" Surka menatap Pale.


Setelah berpandangan dengan Pale, mereka semua mengalihkan pandangan ke arah Weed. Karena mereka tahu dengan percakapan yang terjadi antara Weed dan penjaga toko pagi tadi, bahwa Weed lumayan handal dalam hal memasak.


Weed mengerti tentang kekhawatiran mereka, Dia melangkah maju ke depan tim untuk membagi tugas, "Aku akan membuatkan kalian makanan. Pale, bisakah kau berburu kelinci dan rusa? Bawalah sebanyak dua ekor."


"Oke." Pale menyanggupi permintaannya langsung.


"Kami akan mencari kayu bakar!" Surka berkata dengan lantang bahkan sebelum Weed memberi instruksi padanya, dia langsung menarik kedua gadis lainnya untuk memasuki hutan.


Pale tersenyum kecil pada Weed sambil mengangkat kedua bahu. Dia lalu membawa busurnya mengikuti jejak Irene dan yang lain, tidak lama kemudian dia kembali dengan 3 kelinci dan 2 rusa. Sebagai seorang Archer yang bersenjata utama dengan busur, sekarang dia sudah mahir memanah kelinci tanpa meleset.


"Sekarang aku akan menyiapkan makanan lezat untuk kalian," Weed mulai menata bumbu-bumbu memasak. Dia menyalakan api unggun, menguliti kelinci dan rusa, lalu menusuknya dengan batang kayu yang sudah dibentuk sebelumnya. Setelah semua siap, dia memanggang daging-daging itu di atas perapian, memutar sedikit demi sedikit, terakhir membumbui secara merata.


"Emmm, kelihatannya enak." Surka mengendus ke arah panggangan, matanya memejam penuh penghayatan.


"Bisakah kita memakannya sekarang?" Irene menelan saliva beberapa sambil melotot menatap daging panggang.


Surka dan Irene terlena oleh aroma daging yang sedang dipanggang, godaan yang tidak tertahankan.


Sebelumnya, Weed telah memikat lidah dan perut jedral Midvale dan pasukannya di Dungeon Litvart. Mereka memakan sup daging buatannya layaknya sekelompok serigala yang lapar, bahkan mengeruk kerak panci tidak mau menyia-nyiakan kaldu yang tersisa.


Sedangkan sekarang, skill handicraft nya sudah mencapai tingkat intermediate, menjadikan masakannya mengeluarkan aroma yang lebih kuat, ditambah statistik art yang membuat daging panggang terlihat lebih nikmat. Bahkan daging yang dipanggang di atas api itu terlihat mengkilap dan menggoda selera.


"Silahkan dinikmati." Weed menghidangkan masakannya, dia sangat yakin telah membuat teman-temannya menderita saat menunggu masakan buatannya. Seperti pepatah, rasa lapar adalah bumbu yang paling nikmat.


Munch!


Setelah Weed menghidangkan masakan, teman-temannya langsung berebutan mengambil daging panggang, mereka merobeknya dengan cepat mengabaikan rasa panas karena baru di angkat dari perapian. Lalu memakannya dengan lahap sampai memenuhi mulut.


"Ya Tuhan! Enaaaakkk sekaliiii!" Surka berteriak panjang sambil mengunyah dengan cepat.


"Kau yang terbaik, Weed!" Romuna mengacungkan kedua jempol tangannya yang berminyak. Bibirnya bahkan dilapisi oleh minyak berwarna kuning.


Irene memakan satu daging kelinci panggang utuh. Pale sibuk melahap semua paha rusa. Mereka terlihat seperti serigala rakus yang melahap semuanya sampai ketulang-tulang.


"Terima kasih, Weed."


"Iya Weed, terimakasih banyak."


Mereka memuji Weed lagi dan lagi karena sangat bahagia bisa memakan makanan seenak itu.


"Biasa saja." Weed melihat sekeliling, dan melihat banyak player lain yang mengelilingi acara makan siang mereka tanpa disadari.


"Kelihatannya enak sekali."


"Benar."


"Aku iri dia bisa menikmati makanan seperti itu!"


Diantara mereka semua, selera makan Irene dan Romuna lah yang paling rakus dan terlihat seperti sedang menikmati makanan yang paling nikmat di dunia.


Seorang pria berjalan mendekati tim Weed, "Boleh aku minta sedikit dagingnya?" Dia membuang semua rasa malu untuk menikmati daging panggang yang terlihat paling nikmat di dunia itu.


"Silahkan. Tapi lain kali tolong bawa beberapa daging padaku." Weed dengan ramah mendistribusikan masakannya pada orang lain.

__ADS_1


"Benarkah? Ah tentu, terimakasih banyak." Tentu saja semua orang menerima pemberian Weed dengan senang hati. Makanannya bahkan langsung habis dalam sekejap.


Weed mulai bekerja lebih keras pada waktu makan berikutnya karena ada banyak player yang mendatanginya sambil membawa hasil buruan, meminta Weed memasaknya untuk mereka. Walau sebenarnya ada beberapa diantara mereka yang bisa memasak, tetapi hanya masakan karena terpaksa saat perbekalan sudah habis, mereka tidak mempunyai keahlian seperti Weed.


Terlebih lagi 80% dari pasukan ekspedisi ini adalah pria. Mereka membenci pekerjaan kasar di dapur seperti mengupas kentang dan memotong bawang dalam jumlah banyak. Bukan hanya player pria yang membencinya, tetapi juga player wanita. Bahkan mereka yang telah mempelajari skill cooking lebih memilih berburu daging dan menyuruh Weed untuk memasaknya.


Di hari kedua, seorang pria mendesah panjang di samping Weed, "Aku merasa kasihan melihatmu sangat kelelahan bahkan di jam istirahat, aku benar-benar berhutang budi padamu, Weed."


"Tidak perlu sungkan, aku melakukan ini karena aku menginginkannya." Weed tersenyum kecil padanya walau sedang sibuk memasak.


"Tapi--"


Weed menatapnya dengan tenang, "Apa kau benar-benar merasa tidak enak dengan ini? Lalu, bagaimana jika kita lakukan barter? Jika kau ingin melunasi rasa hutang budi mu, kau bisa membayar makanannya, maksudku, untuk bumbu masakan."


"Nah, aku sangat setuju, akhirnya aku merasa lebih baik."


Pekerjaan sampingan yang sangat menguntungkan!


Weed mulai mengumpulkan sedikit demi sedikit bayaran dari masakannya. Tentu saja Weed tidak akan melewatkan kesempatan apapun, dia menghargai bumbu masakannya lebih mahal dari harga asli, dan tidak ada satupun dari kliennya yang komplain dengannya. Mereka bahkan merasa bahwa masakan Weed lebih baik dari harganya.


Ketika pasukan ekspedisi istirahat di sebuah kota, Weed segera mengisi stok bumbu masakan dalam jumlah banyak. Dia ingin segera menaikkan skill cooking agar bisa mendapat banyak bonus resep rahasia. Menu baru pasti akan membuahkan banyak keuntungan baginya.


Suasana hati Weed menjadi sangat baik setelah mengalami banyak keuntungan sampai sejauh ini. Dalam perjalanan dia sibuk meningkatkan skill cooking ditemani oleh Knife Sclupting Zahab, selain fungsi aslinya untuk memahat bisa juga digunakan untuk mengupas kentang. Hasilnya sangat sempurna, jadi dia telah memanfaatkan dengan baik knife sclupting. 'Memahat patung dan mengupas kentang adalah hal yang sama.'


Masakan original yang disajikan Weed meningkatkan HP sebanyak 5%. Ditambah dengan skill handicraft tingkat intermediate yang memberikan efek sebanyak 50%. Jadi hasil masakan Weed akan menghasilkan HP sebanyak 7,5%. Peningkatan ini memang terlihat tidak penting, namun dapat mencegah seseorang dari kematian karena serangan mendadak.


Wajah-wajah yang tidak terlihat asing mendekati Weed yang terlalu sibuk memasak. Mereka semua memakai seragam infanteri Rosenheim.


"Komandan!"


Hanya ada beberapa NPC yang memanggil Weed dengan sebutan itu. Weed berhenti memotong daging, dia mengangkat kepala dan melihat wajah yang telah dia kenal sedang tersenyum hangat dihadapannya. "Kalian adalah--"


"Bagaimana kabar kalian?" Weed menyapa mereka dengan ramah.


"Kami semua dipromosikan menjadi ketua pasukan, komandan." Becker menjawabnya dengan lantang.


Para prajurit yang telah dilatih dengan giat oleh Weed dipromosikan menjadi denarion, mereka tidak bisa kembali ke resimen asli mereka. Jadi, atasan militer memberikan mereka sebuah pasukan untuk menjalankan quest baru.


"Jadi atasan memerintahkan kalian untuk bergabung dengan pasukan ekspedisi menuju Desa Baran." Weed merasa bangga pada mereka.


"Benar, komandan," Dale terlihat sangat senang karena bertemu dengan komandannya disini. "Setelah quest ini selesai, kami akan ditugaskan untuk menjaga perbatasan di desa itu."


"Hehe." Hosram menyengir senang.


"Aku rindu akan masakan mu, komandan," Becker menatap Weed dengan rindu.


"Kami minta maaf karena tidak bisa melayani komandan lagi, namun kita masih bisa menunjukkan bahwa persahabatan kita tidak akan pernah padam." Kata mantan anak buahnya sambil memegang perut buncit mereka.


"Bagaimana dia bisa mengenal prajurit Rosenheim?"


"Dari pakaiannya mereka bukanlah prajurit biasa. Mereka terlihat seperti denarion."


"Dan mereka memanggil Weed komandan, apa aku tidak salah dengar?"


Mata Surka dan Pale melebar sempurna, mereka sangat terkejut dengan kenyataan ini. Karena denarion adalah jabatan yang cukup tinggi, dan level orang-orang yang terlihat sepeti denarion di depan Weed juga terlihat memiliki level yang tinggi.


Weed menyajikan masakannya pada mantan anak buahnya, "Tentu saja, ini makanlah."


Tanpa perlu basa basi, semua persediaan untuk pasukan mereka langsung mereka serahkan kepada Weed saat itu juga.

__ADS_1


...***...


Membutuhkan waktu selama 10 hari agar pasukan ekspedisi sampai ke Desa Baran. Dan selama itu pula Weed sudah berusaha keras untuk meningkatkan Skill Cooking nya agar mencapai tingkat intermediate.


Sebelumnya Weed juga sudah berusaha keras, saat berada di dungeon Litvart, setiap harinya dia harus memasak untuk 32 orang 3 kali sehari, 96 masakan perhari, total 3 ribu mangkuk.


Lalu sambil memahat, dia menerima pesanan makanan di Benteng Serabuorg.


Sekarang Weed kembali memasak untuk ratusan orang dalam perjalanannya menuju Desa Baran, kira-kira dia telah menyajikan sebanyak 10 ribu masakan. Hitung saja seseorang makan 3 kali sehari, berarti akan menjadi 90 masakan dalam sebulan, dan 1080 masakan dalam setahun.


Berarti Weed telah memasak makanan yang setara dengan seorang chef biasa yang berkerja selama 10 tahun untuk mencapai tingkat intermediate. Jadi Weed sudah berusaha sangat keras sampai sejauh ini. Karena memasak sebagai hobi tidak bisa dibandingkan dengan rela menyiapkan ribuan makanan hanya untuk meningkatkan skill cooking.


Walaupun sculpture mastery adalah yang terbaik untuk meningkatkan skill handicraft, Weed tidak mau mendapat perhatian yang tidak diinginkan jika memahat patung dalam perjalanan. Sedangkan skill cooking diterima dengan baik, menghasilkan uang, dan juga meningkatkan fame.


Pasukan ekspedisi akhirnya bisa melihat Desa Baran dari kejauhan.


"Kita hampir sampai." Irene tersenyum senang melihat pantulan Desa Baran yang subur.


"Kira-kira monster seperti apa yang ada di sana? Aku tidak sabar untuk segera berburu." Surka mulai membayangkan monster yang pernah ditemuinya, lalu dia terkikik bersama Irene dan Romuna, entah sedang membahas apa.


Dalam diam Weed memandang me arah langit. Sejauh mata memandang tidak akan menemukan apapun selain awan putih dan langit biru. Sedikit harapan di hatinya runtuh seketika. 'Sudah ku duga. Kota Surga itu hanyalah legenda. Sialnya aku malah terganggu oleh omong kosong. Ini semua karena buku dari perampok keji itu. Di sana tertulis bahwa Desa Baran adalah tempat terakhir yang memiliki petunjuk tentang Kota Surga. Itulah sebabnya aku rela bergabung dengan quest ini, ternyata aku salah.'


Ketika pasukan ekspedisi berada tepat di depan Desa Baran, Darius berteriak kencang, "Berhenti!"


Semua orang berbisik bukan mempertanyakan alasan perintah yang tiba-tiba itu. Karena mereka dengan jelas bisa mengetahui penyebabnya, yaitu seorang lelaki tua yang berpakaian lusuh di depan sana. Dia berjalan terseok-seok ke arah pasukan ekspedisi.


"Apa urusanmu, lelaki tua?" Darius bertanya dengan sombong, dia bahkan tidak mau repot untuk turun dari kuda. Tubuhnya terlihat menjulang, diikuti lima anak buahnya yang juga memakai kuda, berkeliling di samping sebagai perisai untuknya.


"Salam, komandan yang terhormat. Aku adalah orang yang selamat dari Desa Baran." Orang tua itu membungkuk singkat.


Darius tidak mengatakan apapun, malah menatapnya dengan malas.


Orang tua itu akhirnya melanjutkan, "Namaku Ghandilva, kepala desa disini. Sebenarnya bukan hanya aku yang selamat, tetapi ada beberapa orang lagi, kami sedang bersembunyi sekarang. Baru-baru ini aku mengirim Jacksom untuk melaporkan bencana yang telah dialami desa kami kepada Yang Mulia Raja untuk meminta bala bantuan. Aku harap tuan adalah orang yang akan menyelamatkan kami dari bencana ini."


"Ya," Jawab Darius dengan singkat.


Ghandilva adalah kepala Desa Baran, dia dan penduduk lain sangat ketakutan, untungnya ketika para monster menyerang, ada yang berhasil melarikan diri dari desa bersamanya.


"Tenanglah. Kami akan menolong Desa Baran dari invasi monster sebentar lagi. Jadi untuk saat ini bersembunyilah dengan tenang." Darius berkata dengan tegas.


"Aku senang mendengarnya, komandan yang terhormat. Tapi aku punya permintaan pribadi."


"Apa itu?"


"Tolong selamatkan penduduk desa yang disandra oleh makhluk menjijikkan itu. Aku janji ini adalah permintaan terakhir dari orang tua yang rendah ini." Ghandilva memohon dengan putus asa.


Mata Darius bersinar. "Apa ini sebuah quest?"


"Ya, ini adalah quest khusus dari Desa Baran, komandan yang terhormat," Ghandilva terlihat sedikit lega, karena melihat tanggapan positif dari Darius.


"Hadiah apa yang bisa kau berikan?" Darius bertanya tanpa basa basi. Sebagai player berlevel tinggi tentu saja baginya ada kualifikasi tertentu untuk memilih sebuah quest. Dia tidak mau menerima quest rendahan yang akan membuang terlalu banyak waktu.


Wajah Ghandilva terlihat sedih lagi. "Kami tidak punya barang berharga, komandan. Hanya ini yang bisa kuberikan." Ghandilva menunjukkan sebuah biji tumbuhan.


"Seperti yang ku duga. Hadiah apa yang bisa kuharap kan dari orang tua lusuh? Desanya juga telah diinvasi oleh monster. Tidak ada equipment bagus, apalagi harta karun." Darius menolaknya di tempat dengan cibiran keji. Awalnya dia berpikir orang tua itu hanya mau menimbulkan masalah sebelum memasuki Desa Baran.


"Kalau begitu kami akan memburu monsternya dengan cepat, dan jika kami punya waktu, aku secara pribadi akan memerintahkan beberapa pasukan untuk menyelamatkan para korban yang disandra." Tetap saja Darius masih memilih untuk menenangkan hati orang tua itu. "Tapi kami juga tidak tahu apakah para tahanan itu masih hidup atau tidak sekarang. Jangan menghalangi jalan lagi, orang tua."


Darius langsung memacu kudanya dengan cepat meninggalkan Ghandilva. Beberapa player di dalam pasukan memanggil nama pemimpin mereka, namun tidak ada yang berani untuk menolong tetua itu.

__ADS_1


Ghandilva jatuh terduduk, dia sangat putus asa sekarang. Lalu ada sebuah tangan yang menggenggam tangan keriputnya, dia adalah Weed.


__ADS_2