
Pertempuran Weed dan party selesai sangat cepat, rekan setimnya sedikit linglung berusaha mencerna situasi yang terjadi. Sebelumnya mereka sangat gugup saat berhadapan langsung dengan lima monster kadal berotot. Tapi anehnya pertarungan langsung selesai bahkan sebelum Surka dan Pale bertarung dengan serius.
“Apa ini hanya kebetulan? Atau apa mereka memang selemah ini?"
"Bukan, itu pasti karena Weed, skill apa barusan?"
Pale dan Surka mengeluh hampir bersamaan.
Weed meringis pelan, "Uh, emm--" Dia menggaruk kepala walau tak gatal.
"Level mu meningkat pesat ya. Tak heran jika kau bahkan tidak membutuhkan kami lagi." Romuna melipat kedua tangan di dada.
"Eh! Kata siapa? Tentu saja tidak." Weed menggelengkan kepala dengan tegas, "Sebenarnya skill ini sangat boros mana, sekali pakai langsung menghabiskan 300 mana, itupun untuk skill terlemah. Aku tidak akan bisa menggunakannya lebih dari tiga kali berturut-turut."
"Hah?"
"Seboros itu?"
Weed sengaja terdiam menunggu keterkejutan timnya reda.
Pale mengerutkan keningnya, "Sebentar-sebentar, " Dia terlalu geregetan dengan keganjilan ini. "Mana ku tinggal 230, artinya aku bahkan tidak bisa mengaktifkan skillnya sekalipun. Kalau begitu, beritahu kami berapa banyak mana yang kamu miliki hingga bisa menggunakannya tiga kali tadi?"
"900 lebih dikit." Weed menjawab dengan enteng.
"Oh My God!" Mata dan mulut Pale menganga lebar.
Romuna sang mage dan Irene sang priest memiliki sekitar 500 mana. Walau lebih tinggi di atas level mereka tetapi itu hal normal mengingat profesi mereka yang bertumpu pada mana. Tetapi mana Weed yang seorang scluptor berhasil membuat rahang mereka hampir jatuh menyentuh tanah.
Akhirnya Weed menceritakan kisah dibalik keganjilan itu. Kisah dari awal quest tentang profesi, tak lupa menceritakan tentang Tuan Konselir sang bintang kebijaksanaan sampai ke akhir cerita yang sedikit menyedihkan yaitu dirinya yang merasa tertipu saat mendapatkan profesi Legendary Moonlight Scluptor secara permanen dan tidak bisa di ganggu gugat.
Player pada umumnya memilih profesi rata-rata di level 5. Sedangkan di hadapan mereka ada seorang player yang baru memilih profesi di level 60 itupun setelah melalui serangkaian ujian berat, malah berakhir menjadi scluptor.
'Memang sedikit menyedihkan.' Setelah menghela nafas panjang Pale tersenyum kecil sambil menepuk bahu Weed, "Weed, dengar, kamu bukanlah seorang scluptor biasa, tapi Legendary Moonlight Scluptor." Dia sengaja menekankan nama profesi tersembunyi itu untuk menyadarkan Weed.
"Itu adalah sebuah profesi rahasia yang tidak semua orang memiliki kesempatan untuk mendapatkannya. Dan kabar baiknya, aku sekarang akhirnya tahu bahwa kau adalah selebriti terkenal di tengah kota." Lanjut Pale lagi setelah terdiam tiga detik, dia tersenyum sangat lebar nyaris seperti cengiran yang berisi makna ada udang dibalik bakwan.
“Selebriti?” Weed bertanya balik.
"Katanya ada seorang scluptor bijaksana yang menjual patung-patung lucu di benteng Searbough. Kami ingin mampir dan membeli beberapa tapi sayang uang kami tidak cukup." Irene menjelaskan dengan wajah sedih, layaknya anak-anak yang tidak mampu membeli mainan yang diinginkan. Matanya berkaca-kaca saat bertatapan dengan Weed. Sudah terlihat jelas apa yang ia inginkan dari Weed.
“Aku tidak berniat untuk merahasiakannya dari kalian, ngomong-ngomong aku akan membuatkan patung khusus buat kalian nanti." Weed tersenyum ceria tanpa ada yang tahu isi hatinya yang sebenarnya, 'Ladang uang baruku.'
“Terima kasih, Weed!”
"Weed yang terbaik!"
"Ya iyalah, Weed!"
Ketiga gadis di sana berteriak kegirangan, mereka tak berhenti memuji Weed dengan mengacungkan kedua jempol.
Pale berdehem kecil, "Aku juga ingin satu jika kau tidak keberatan."
Akhirnya Weed benar-benar berjanji untuk membuatkan sebuah patung khusus buat rekan separty nya nanti.
"Sekarang sudah cukup istirahatnya. Ayo bunuh beberapa monster lagi. Quest ini memiliki batas waktu, sebaiknya kita selesaikan sebelum terlambat."
"Tentu!"
Weed terus memimpin rekan separty nya melawan monster yang menghalangi jalan. Terkadang Weed meninggalkan critical damage pada musuh maka Pale atau Surka akan melanjutkan dengan beberapa serangan lalu membunuh mereka dengan cepat.
Sedangkan Romuna bertugas untuk melenyapkan satu atau dua monster dari kejauhan jika ada lebih banyak monster yang bisa ditangani oleh party.
Sisanya dikalahkan oleh Weed dan Surka yang merupakan petarung jarak dekat. Sementara petarung jarak jauh akan beristirahat sejenak untuk mengisi ulang mana. Koordinasi taktik tempur mereka sangat cocok satu sama lain.
Sebelumnya mereka telah bertarung melawan banyak tipe monster, rubah, serigala, dan beruang sekarang korban perburuan mereka beralih pada kadal raksasa yang sedikit lebih pintar.
Kecepatan perburuan mereka lebih cepat daripada saat Weed berburu seorang diri dalam dungeon tersembunyi di dungeon litvart. Tentu saja juga berbeda jauh dengan Quest ekspedisi dungeon Litvart saat Weed bersama invanteri Rosenheim. Sekarang Weed berada dalam sebuah tim yang berarti EXP yang diperoleh akan dikumpulkan dan dibagi rata.
Weed tidak perlu turun tangan langsung untuk membunuh monster yang telah sekarat oleh serangannya sendiri. Bahkan walaupun dia hanya menonton pertarungan, dia tetap akan menerima sedikit EXP karena kontribusinya yang kecil, tapi sikap pengecut seperti itu bukan Weed namanya.
"Wow! Kadal ini lebih kaya dari kelihatannya, bukan?" Surka berseru riang saat melihat banyaknya equipment dan item yang dijatuhkan oleh monster yang terbunuh. Ada sarung tangan baja, pelindung dada, dan cincin.
Mana Ring :
Efek : Meningkatkan 3% jumlah maksimum mana
Ini adalah pertama kalinya party itu melihat aksesoris seperti cincin.
"Siapa yang akan mengambil ini?"
Mendengar pertanyaan Surka, semua orang saling pandang. Akhirnya cincin itu berakhir di tangan Irene. Mereka semua setuju bahwa pertempuran akan lebih aman jika priest memiliki banyak mana untuk mendukung party.
Pada dasarnya aturan pembagian drop item dalam party mereka adalah siapa yang mendapatkannya dia yang akan memilikinya. Beda kasus jika item langka yang ditemukan, seringkali berganti kepemilikan, tergantung pada keputusan ketua party. Tapi item lain yang umum dijual di toko bebas untuk diambil siapapun. Terdengar seperti aturan yang tidak masuk akal, tetapi mereka manganggapnya dapat diterima mengingat sifat semua orang di party.
__ADS_1
Karena jika mereka menugaskan kepada satu orang untuk menjadi gudang drop item pastilah orang tersebut akan pingsan di tengah jalan karena membawa barang di luar kapasitas. Itu sebabnya mereka membuat peraturan akan membiarkan siapapun yang ingin mengumpulkan drop item sesuai kemampuannya.
Biasanya Weed dan Surka lah yang suka memunguti drop item, karena posisi mereka sebagai petarung jarak dekat sangat menguntungkan.
Setelah tadi selesai berdiskusi tentang drop item dan keuntungan lainnya, mereka semua sepakat untuk menerobos benteng para monster. Saat pertempuran di mulai, mereka tidak akan berhenti sampai pertempuran benar-benar berakhir.
Tapi tetap saja, mereka tidak tergesa-gesa, memilih berjalan santai menuruni lembah yang sekarang dalam keadaan kosong momplong. Di tengah jalan mereka memang sering beristirahat sejenak untuk mengisi ulang energi, seperti sekarang.
"Kita sudah membunuh 40 ekor lebih monster disini."
"Dan perburuan resminya baru akan dimulai! Menurutmu berapa banyak lagi monster yang harus kita habisi?"
Irene dan Romuna sibuk mendiskusikan perburuan mereka kali ini.
Weed tersenyum kecil mendengarnya, "Dengar, kalian semua tahu kan kalau kadal-kadal ini hidupnya berkelompok?"
Irene mengangguk ragu, "Um- mungkin. Tapi yang jelas jumlah mereka lebih banyak dari sekawanan orc."
"Nah itu! Yang ku lihat sikap mereka sangat menyayangi wilayah yang menjadi tempat mereka berkeluarga dan bernaung. Bagaimana jika ada seseorang yang ingin merampasnya?" Weed menatap rekannya satu persatu.
"Tentu saja mereka akan melawan dengan sekuat tenaga!" Surka bertos ria seakan menemukan keajaiban dunia ketujuh.
Weed mengacungkan kedua jempolnya, "100 untukmu Surka. Kegigihan! Itulah yang membuat para player takut dengan kadal-kadal hijau ini."
"Kadal."
"Hijau."
Romuna dan Irene saling pandang sejenak, mereka sepemikiran, merasa sedikit terganggu dengan sebutan Weed. Untuk seekor monster mengerikan bukankah sebutan kadal itu terlalu imut. Tapi akhirnya mereka memilih mengabaikannya.
"Bukankah itu berarti kita dalam masalah sekarang?" Pale menatap Weed seperti meminta pertimbangan adanya plan A dan plan B sebelum kembali bertindak. Semua orang harap-harap cemas melihat smirk khas Weed. Menantikan kejutan apalagi yang akan lelaki ajaib ini ciptakan buat mereka.
"Bisa dibilang kita dalam situasi berbahaya jika dalam keadaan normal, tapi sekarang berbeda, kita bisa mengandalkan Darius dan kawan-kawan."
"Darius-- Ahh." Pale mengangguk kecil.
Mendengar dari penjelasan Weed mereka baru sadar darimana kepercayaan tinggi dirinya berasal.
"Apa maksudnya? Tolong jelaskan, aku- ohhh! Yaampun! Aku paham sekarang!" Surka kembali berseru riang, merasa sudah sangat luar biasa pintar seperti menebak teka teki silang tersulit di dunia.
Dengan adanya Darius dan rekannya, maka semua pertarungan tidak akan berat sebelah di mereka, tentu saja semua monster disini sedang sibuk berjuang digaris depan untuk melawan Darius si penyebab bencana utama dan hanya menyisahkan sebagian disini untuk menjaga sarang.
"Darius benar-benar membantu kita." Romuna menyetujui gagasan Weed.
"Untung Weed menyadarkan kita."
Setelah melalui perjalanan panjang menerobos beberapa monster penjaga, akhirnya mereka menemui titik akhir pertarungan, karena mereka telah sampai ke pusat benteng para monster.
Sekarang, para monster itu seharusnya sedang bertarung dengan sengit melawan pasukan ekspedisi yang telah menginvasi wilayah kesayangan mereka. Artinya, pusat benteng akan hampir ditinggalkan, hanya dijaga oleh segelintir monster penjaga. Tapi yang terbayang beda dengan kenyataannya, disini lebih banyak monster yang menjaga benteng, sangat di luar dugaan mereka.
Weed bahkan menebak jika benteng ini memiliki gudang harta karun tersembunyi. Dia dengan suka rela mendaki pegunungan Barat untuk sampai ke tempat ini memang karena quest kepala desa Baran tapi di balik itu, dia memiliki agenda tersendiri.
"Semuanya dengar, sekarang kita akan bertarung dengan lebih banyak musuh, artinya mulai dari sini perjuangan kita akan sedikit sulit. Kalian siap?!" Weed bertanya kepada rekan setimnya.
“Tentu!” Jawab Surka sangat antusias.
"Berhati-hatilah! Jangan sampai para kadal itu mengeroyok kita." Peringatan Weed. Karisma nya sebagai seorang pemimpin tampak benar-benar hidup. Seperti seorang artis pro, Weed sangat mendalami tugas yang satu itu.
Sebagai pembukaan, Surka maju duluan untuk memancing sedikit demi sedikit monster ke dalam area perangkap mereka, "Hei kadal jelek!" Surka berhasil menggaet satu kelompok monster yang sedang bersantai ria layaknya di pantai.
Kruuu!
Karena agility nya lumayan tinggi, maka tingkat keberhasilannya dalam menarik perhatian sekelompok monster juga membuahkan hasil yang memuaskan.
"Aku disini! Ayo kejar aku kalau bisa!" Surka menyembulkan lidahnya untuk mengejek para monster.
Benar saja tingkah konyolnya itu berhasil meningkatkan amarah para monster, "Manusia! Aku akan menggorok lehermu!"
Tak jauh dari sana Weed dan Pale sudah siap dengan sebuah busur di tangan masing-masing. Ceritanya mereka sedang berlatih busur bersama sambil menunggu kedatangan Surka.
Sweesh!
Weed sangat bangga dengan hasil tembakannya, baru saja dia mau tersenyum sambil mengangkat dagunya tinggi-tinggi, dia langsung terkejut melihat beberapa panah lain yang sudah mengenai sasaran beberapa kali, pelakunya adalah Pale. Weed reflek menoleh ke samping mulutnya melongo melihat kecepatan tangan Pale ketika menembakkan busur yang nyaris seperti tertiup angin topan.
Dari sini perbedaan skill mereka terlihat sangat jauh layaknya langit dan bumi. Padahal skill memanah Weed sudah berkembang pesat daripada saat dia memburu para goblin. Namun dia masih tidak mungkin menyaingi skill Pale yang profesinya sebagai archer karena dia tidak pernah melepaskan busurnya.
Bagi Pale panahnya bergerak sangat cepat bahkan sebelum panahnya menembus target, panah berikutnya sudah menyusul dibelakangnya bukanlah hal yang aneh lagi. Karena sejak pertama kali memasuki profesi archer dia sudah mengasah skill Chain Shot dan Penetration, yang membuat panahnya lebih kuat.
Weed menyerah kaget dengan rekannya itu, dia memilih fokus kepada target, saat dirasa sudah cukup tepat dia langsung menembakkan panah berikutnya. Hasilnya, damage darinya masih rendah, tapi skill arcery nya tetap meningkat.
Intinya, ini berkat sifat Weed yang sangat tidak memungkinkan jika dia hanya duduk santai menonton musuhnya merengek. 'Kenapa aku hanya menonton jika musuh ada di depan mata? Ah bukan musuh tapi EXP yang berharga, kekekeke.'
Weed sangat suka berburu dan memburu, mau selama apapun itu dia tidak pernah bosan, ketika dia memulai tidak ada yang bisa menghentikannya, dia seperti orang gila yang terobsesi untuk mengejar harta karun paling berharga di dunia, matanya berbinar-binar cerah, semangatnya pun meledak-ledak, "Yatz, yatz, yatz!"
__ADS_1
Irene dan Romuna saling pandang lalu terkikik bersama. Mereka pernah membahas tentang kobaran semangatnya yang membara kepada Weed, dia mengaku bahwa rasa itu tak bisa ditahannya. Baginya hal itu adalah deru kemenangan yang keluar hanya ketika dia terlalu bersemangat.
Untungnya seruan semangat Weed itu belum pernah mengundang monster ke arah tim mereka. Meskipun mereka semua harus menanggung malu saat kepergok party lain.
'Weed biasanya dewasa, tapi terkadang dia juga kekanak-kanakan. Manusiawi sih.' Irene melamuni kebiasaan Weed yang semangatnya terkadang meledak tak terkendali.
Mereka langsung bersiap di tempat masing-masing saat mendengar suara Surka.
Tak lama kemudian Surka datang kembali ke tempat persembunyian ini dengan membawa enam ekor monster. Weed langsung menebas kepala dua ekor monster sekaligus saat melihat mereka. Sisanya dia sisakan untuk rekannya, agar mereka juga tidak kehilangan EXP yang berharga.
Jika dia memaksa untuk menghabisi semua monster sendirian, maka dirinya juga yang akan dirugikan, mananya akan habis duluan. party nya terpaksa harus istirahat agar dia dapat mengisi ulang mana. Hal itu hanya akan membuang-buang waktu, bahkan bisa jadi timing quest akan habis duluan sebelum mereka menyelamatkan para sandra. Intinya hidup itu tidak boleh terlalu rakus, harus stabil.
Sialnya dua ekor monster mengamuk pada Weed, mereka menyerangnya secara membabi buta untuk membalas dendam atas kepergian rekannya. Untung dua ekor lainnya masih fokus mengejar Surka yang masih asik berputar mengerjai mereka, lebih tepatnya untuk menguras energi mereka.
Weed tentu saja melawan balik tak kalah sengit. Tak lama, pemberitahuan dari sistem berdentingan, mengingatkannya bahwa daya tahan pedangnya sudah di bawah 10%. Weed baru sadar saat memperhatikan pedangnya yang sudah rusak di sana sini, hampir hancur, harus segera diperbaiki. Karena dari awal dia telah bertarung tanpa istirahat.
"Menyimpan iron sword!" Ditengah pertarungan Weed mundur sejenak untuk menyimpan pedang sekarat itu kedalam inventory. Mengganti serangan dengan tinju, skill andalan Surka.
“Quick Shadow Blow!” Tinju Weed menyerang monster tanpa henti. Lucunya, dia memanggil nama skill tanpa benar-benar mengaktifkannya. Karena sejak awal dia tidak pernah mempelajari skill ini, apalagi menggunakannya. Dia hanya bermodalkan meniru gerakan Surka sejauh yang dia tahu saja.
Walau tanpa mengaktifkan skill asli, tapi pukulan Weed juga sangat luar biasa, berkat latihan bela dirinya selama setahun ini.
Pabababak!
Saking cepatnya gerakan tinju Weed bahkan tak terlihat. Saat dia membabi buta meninju monster, skill intermediate handicraft nya menambah 50% damage pada monster.
Weed dengan cepat memojokkan musuh, tinjunya mengenai organ dalam mereka di setiap cela.
“Ugh!”
"Pukulan orang ini sangat menyakitkan!"
Kedua monster itu mengeluh secara bersamaan, tenaga mereka tidak sanggup lagi menyerangnya, sekarang mereka memang terpukul mundur tapi tetap tidak mau mengalah. Walau babak belur, kedua monster itu tetap menyerang Weed dengan pedang.
Intinya, antara kedua monster itu dan Weed sama-sama terobsesi untuk mengalahkan musuh satu sama lain. Mereka tidak bisa dihentikan sebelum salah satu dari mereka ada yang mati.
Langkah kaki Weed sangat ringan, setiap gerakan yang dia ambil disitu akan ada pukulan yang menusuk vital di tubuh monster. Tubuhnya bergerak sesuai keinginannya, bertumpu pada pergelangan kaki dan pinggang untuk mendukung kekuatan tinju, sampai mengenai perut dan dada target.
"Kuh!" Darah segar muncrat dari mulut salah satu monster.
"Dasar orang sinting! Ini namanya curang! Kau memukul di tempat yang sama secara berulang!" Monster lainnya berseru jengkel sambil meratap kesakitan, sama seperti rekannya, tubuhnya pun tak kalah babak belur, darah segar sudah muncrat beberapa kali dari mulutnya.
Weed menyeringai untuk mengejek musuh, "Memangnya aku peduli?"
Monster yang menjadi lawan Surka sedikit bersyukur tidak menjadi sasaran Weed, jika tidak--
"Ukh!"
Surka meninjunya sekuat tenaga, "Hei! Kau tidak berhak melirik yang lain!"
“Surka! Weed! Terus tekan mereka!” Irene mau bangga pada Weed tapi dia terlalu sibuk menyembuhkan mereka yang bertarung di garis depan maupun di garis belakang. Dia harus bergerak cepat dan tanggap. Karena jika dia terlambat sedikitpun maka kehidupan rekan setimnya yang di pertaruhkan, dia tidak boleh lengah di saat genting seperti ini.
"Jangan khawatir!" Weed tersenyum lebar membalas instruksi Irene. Dia sangat menikmati kegiatan barunya ini, meninju. Dan akhirnya dia menyadari sebuah hobi baru, meninju musuh lebih menyenangkan daripada menyerang dengan pedang, karena dia bisa merasakan sensasi bertarung secara nyata.
"Wuah!" Weed mengagumi sensasi menyegarkan ini. Dia memutar tinjunya yang perkasa sambil berteriak kegirangan.
Membuat lawannya sedikit ciut, 'Manusia sinting!'
'Dia seperti akan memanggang lalu memakan kami.'
Di sisi lain, Romuna dan Pale masih berkutat untuk menyingkirkan dua monster lainnya yang sudah memojokkan Surka.
Kembali lagi bersama Weed yang terus berjuang tanpa hasil yang nyata. Dua orang monster yang menjadi lawannya memang dipukuli habis-habisan tapi nyawanya seakan enggan melayang.
New Stat : Fighting Spirit!
Stat Window kembali berdenting di kolom Weed. Stat ini biasanya didapatkan oleh warrior di petualangan pertama mereka. Ketika diasah dapat mengurangi damage dari musuh, bahkan bisa meningkatkan sedikit HP seorang player.
Seorang player bisa saja membagikan bonus status kenaikan level pada stat Fighting Spirit, tetapi mayoritas player memilih untuk membiarkannya berkembang dengan sendirinya dan terus mengasah skill dengan serangan jarak dekat. Tapi balik lagi, hidup ini adalah pilihan.
Setelah stat Fighting Spirit ditambahkan ke statistiknya, gerakan Weed menjadi lebih efisien. Saat mengetahui berapa banyak mana yang dimiliki Irene, Weed tersenyum simpul, lalu dengan sengaja membiarkan pedang musuh mengenai tubuhnya. Karena stat barunya itu akan meningkat ketika terkena serangan. Ini yang dinamakan orang kuat itu tercipta dari rasa sakit dan penderitaan.
Dan Weed adalah tipe orang yang dengan senang hati menerima sebanyak apapun serangan monster asal tujuannya bisa tercapai, tentu saja selama mana Irene cukup untuk menjadi menyokong andalannya.
Padahal Royal Road adalah virtual reality yang mendekati dunia nyata, karena sekecil apapun rasa sakit yang kau dapatkan disini akan berdampak sama di kehidupan nyata mu. Tapi Weed menahan semua rasa sakit itu, bukan, dia menikmatinya.
"Keeekkk!"
Salah satu monster akhirnya menghembuskan nafas terakhir setelah berteriak mengerikan.
Weed mencapai prestasi tersendiri karena dapat menewaskan monster kadal hanya bermodalkan tinju semata.
Tiga monster sisanya dipojokkan oleh Romuna, Pale dan Surka, akhirnya tewas juga.
__ADS_1
Weed telah membunuh tiga ekor monster sendirian, tapi sebenarnya itu tidak mudah jika tanpa bantuan Irene yang terus meregenerasi HPnya.
Pada akhirnya sebuah kemenangan tidak hanya membutuhkan perjuangan keras tapi juga rekan seperjuangan yang solid.