
Setelah kemenangan pertama di pintu markas utama monster kadal, party Weed kembali melakukan aktivitas berulang beberapa kali, yaitu Surka yang beberapa kali memancing sekelompok monster ke area mereka. Pale yang langsung menghujani kedatangan mereka dengan panah. Maupun Irene yang juga menghujani mereka dengan bola-bola api.
Terakhir ada Weed, sang pemimpin yang menargetkan leher mereka dengan serangan dadakan, bahkan cahaya pedangnya sudah terlihat seperti cahaya ilahi yang menyelimuti tubuh musuh sebelum mengirimnya ke alam baka.
Mereka terlihat bahu membahu untuk menghabisi musuh sampai ke akar-akarnya. Tidak peduli seberapa lelah, tidak peduli sebanyak apa rasa sakit yang diderita, mereka akan tetap berjuang mengalahkan monster dengan hati yang tenang, karena mereka semua percaya akan ada penyokong yang kuat di belakang mereka. Rekan seperjuangan yang rela mati demi yang lainnya. Inilah yang paling Weed sukai dari rekan party nya ini, solidaritas tinggi.
Mereka benar-benar cocok dikategorikan sebagai rekan separty yang paling solid di Benua Versailles, tentu saja sebagai player bukan NPC.
Setelah perjuangan panjang yang melelahkan nan menyakitkan, akhirnya mereka mencapai kemenangan.
Surka berlarian menghampiri kedua teman perempuannya, ia memeluk mereka tanpa aba-aba, bahkan mereka sempat-sempatnya melompat ria dan berteriak girang sambil berpelukan.
Weed tersenyum kecil melihat tingkah mereka yang biasanya cerewet dan sering berdebat, tetapi setelah berwajah tegang selama pertempuran sekarang berwajah ceria.
"Selamat." Pale mengajak Weed tos dengan tinju.
Weed menerimanya dengan senang hati. "Kau telah bekerja keras."
Walau kenyataan yang harus mereka hadapi, kemenangan kali ini belum bisa di sebut kemenangan sampai ke akar-akarnya.
Setelah selesai bersuka cita, akhirnya para gadis tersadar, mereka berdehem singkat, "Maaf Weed kami telah membuang-buang waktu." Irene menunduk dalam sebagai permintaan maaf. Diikuti yang lainnya.
"Tidak apa-apa, anggap saja itu pemanasan sebelum pertempuran inti. Siagakan diri kalian baik-baik sebelum masuk!"
'Wow! Kharisma pemimpin kita, Weeeed!' Irene memandang Romuna.
'Memang luar biasa.' Mereka bertukar telepati lagi.
Setelah berdiskusi singkat dan dirasa siap, barulah mereka masuk ke dalam benteng secara beriringan, tentu saja menuruti instruksi dari Weed untuk menyiagakan diri sepenuhnya.
Tapi kali ini, hati mereka lebih siap dan mantap. Karena mereka telah mempelajari pola serangan monster-monster disini saat melawan segerombolan penjaga benteng tadi. Mereka juga telah menemukan cara untuk memburu monster dengan cepat dan praktis.
Hal pertama yang dirasakan mereka saat memasuki benteng, aura nya sangat mencekam, membuat bulu kuduk tiba-tiba berdiri. Tapi semua orang tidak ada yang mengeluhkannya, mereka terpaksa harus mengabaikan hal ini.
Setelah menelusuri benteng, tentu saja dengan menyergap musuh secara tiba-tiba jika ada yang nongol, mereka menemukan beberapa gubuk beratapkan jerami dan berdinding ranting kayu, yang tersebar memanjang di lembah yang curam.
'Para sandra pasti ditawan di sana.' Mata Weed memicing tegas seperti memancarkan sinar laser.
Sedikit menyedihkan memang, orang tua dari anak-anak malang itu harus terkurung dalam sangkar jadi-jadian di dalam lembah yang curam dan dingin. Mereka pasti sudah sangat menderita selama ini, belum lagi memikirkan anak-anak mereka yang entah masih hidup atau berhasil tertangkap oleh monster lain. Yang pasti perasaan mereka sangat kacau dan tak berdaya.
Weed berusaha mengamati situasi terlebih dahulu. Didalam penjara yang lebih layak dari sangkar burung itu, terdapat 10 orang pria dan wanita.
Di depannya ada 8 monster yang berjaga dengan santai. Bahkan ada yang duduk-duduk, minum kopi sambil bergosip ria. Disebelahnya lagi dua ekor monster sedang main catur. Itu normal terjadi, karena mereka menganggap para tawanan hanyalah makhluk rendah yang lemah, jadi mereka bisa berjaga sambil bersantai, tidak perlu membuang banyak energi.
Menggoyahkan batin Irene dan Romuna agar ikut bergosip ria.
'Romuna, apa ada yang salah dengan penglihatan ku?!'
'Tidak! Aku juga sedang melihatnya.'
'Mereka sedang minum kopi, makan gorengan-- daging, bergosip dan--'
'Main catur!'
Para gadis sibuk bergosip dengan telepati bahkan Surka sudah ikut andil di dalamnya.
Sedangkan Weed sibuk dengan analisisnya. 'Delapan ekor.'
Weed bisa saja mengalahkan dua tiga ekor monster, setelah mempertimbangkan jumlah mana yang dia miliki saat ini, tapi sebaliknya, rekan separty nya harus mengurus lima ekor monster yang tersisa.
Dia yakin 100% bahwa dengan taktik ini mereka pasti akan menang. Tapi yang jadi pertimbangannya adalah Irene dan Romuna, player yang memiliki HP dan defense terlemah akhirnya pasti mati. Saking lemahnya Mage dan Priest, nyawanya akan langsung di ujung tanduk hanya dengan satu serangan kasar dari monster kadal.
Weed menatap semua rekannya, "Berkumpul! Kita harus musyawarah dan mufakat sekali lagi."
Weed menjelaskan situasi yang telah dia pelajari, tanpa berunding singkat, mereka mencapai kesepakatan bersama, yaitu menyelamatkan para sandera terlebih dahulu.
“Seperti biasa aku akan memancing mereka." Surka sudah tahu waktunya untuk bereaksi, setelah semua rekannya mengangguk barulah dia langsung menerjang ke arah musuh.
Monster-monster itu jelas merasa kaget, bahkan ada yang menumpahkan kopi panas ke betis temannya, mereka berteriak bersahutan.
"Manusia!"
"Kenapa makhluk ini bisa sampai di sini?"
"Mana ku tahu! Dasar sialan! Betis ku melepuh nih!"
"Lalu kenapa?"
"Minta dibunuh ya?!"
"Bacoooot!!! Bunuh makhluk ini dulu!"
Surka tak kuasa menahan tawa saat mendengar banyolan mereka, dia bahkan masih tak bisa memberhentikan tawanya saat berlarian dikejar kadal-kadal itu.
Prasangka Weed meleset, ternyata masih ada tiga ekor monster yang sedia berjaga di depan penjara, walau sempat berada dalam perdebatan sengit, otak monster itu masih waras,
"Mereka tidak sebodoh yang ku kira." Weed melakukan kontak mata dengan Surka yang sedang lari, mereka mengangguk bersama.
– Weed, aku akan lari memutar ke pintu masuk tadi sebelum kembali lagi kesini.
– Terima kasih, Surka. Itu sudah cukup. Berhati-hatilah!
Weed dan Surka membuat kesepakatan dadakan melalui whisper.
Setelah yakin bahwa Surka dan pengejarnya sudah tak terlihat. Weed dan Pale gantian menerjang ke arah musuh yang tersisa.
"Ma- manusia nya lebih banyak."
“Makhluk ini datang lagi!”
"Dan a- ada dua."
__ADS_1
Ketiga monster itu tergagap sangat tak siap dengan kedatangan mendadak ini. Apalagi serangan Weed yang lebih cepat dari angin ribut.
"Teknik Engraving Knife!"
"Fire Ball!"
"Power Shot!"
Monster-monster itu bahkan tidak bisa bertahan lebih dari satu detik dari serangan mematikan mereka bertiga. Weed dan Pale langsung membuka pintu penjara kayu. Sayangnya para orang tua itu tetap bergeming dengan pandangan kosong.
'Oh, sial!' Weed hampir saja memaki jika dia tak sempat mengontrol mulutnya, bagaimana tidak, hatinya ikut teriris melihat keadaan dalam penjara ini, bukan hanya dia tapi siapapun yang melihat pasti akan merasakan perasaan yang sama, badan kurus kering, wajah pucat, pandangan kosong, tidak ada harapan untuk hidup sama sekali.
Weed sedikit ngilu memikirkan betapa besar ketakutan dan beban yang mereka pikul setelah ditawan oleh para monster. Bahkan kematian bisa saja datang setiap saat.
'Aku pernah merasakan kepiluan ini.' Kepalan tangan Weed mengeras. Dia berjongkok di depan salah satu orang tua yang terlihat sedikit rapih, dia menggenggam kedua tangannya, dia bahkan tidak terkejut lagi merasakan betapa dinginnya jemari tangan itu. Weed mengangkat kedua sudut bibir, tersenyum tulus, "Pak, kami disini atas permintaan Pak Ghandilva, ketua Desa Baran."
Mata orang tua itu akhirnya bergetar, secara perlahan melirik ke arah Weed, "Ke- pala de- desa--" Ucapannya tergagap, terdengar sangat tak berdaya.
“Benar, beliau meminta kami untuk menyelamatkan semua orang tua dan membawa kalian pulang dengan selamat, apakah ada yang terluka?”
Akhirnya pancaran mata orang tua itu terlihat sedikit hidup, ia menaruh harapan di sana, “Silahkan lewat sini.”
Weed mengikuti langkah kecil orang tua itu, setelah melihat beberapa orang yang meringkup di sana, dia langsung memberikan pertolongan pertama dengan potion dan memberi perban bagi yang terluka. Tangannya sangat cekatan, dalam waktu singkat dia sudah mengobati semua orang yang terluka. 'Akhirnya mereka tidak terlalu menyedihkan. Ayah, ibu, lihatlah, aku memang tidak bisa menyelamatkan kalian, tapi aku bisa menyelamatkan mereka.'
"Weed, Surka hampir tiba." Pale segera memberitahu Weed berita penting ini.
"Baik, bersiaplah." Weed tersenyum pada Pale.
'Senyumannya terlihat sangat tulus dan- sedih?' Pale membalasnya tak kalah tulus.
Weed sedang sibuk mengurus para orang tua, "Pak, Bu, tunggu kami disini sebentar, dan persiapkan diri untuk pulang. Kalian ingin melihat anak-anak kalian lagi, kan?" Suaranya terdengar lembut dan menenangkan.
Rekannya pasti menganggap bahwa sikapnya ini sangat gentleman. Tapi Weed tetaplah seorang Weed, yang ada dipikirannya hanyalah, "'Poin EXP berhargaku!' Mendadak hidungnya mencium aroma uang merah.
Yang dilakukan Weed adalah misi penyelamatan. Dan otaknya tak berhenti berdengung saat melihat berapa banyak kepala disini, semakin dia menghitung semakin hatinya meledak karena gembira, karena untuk setiap kepala yang diselamatkan, dia akan menerima EXP tambahan setelah quest selesai. 'Pilihan bagus untuk melepaskan quest ekspedisi dan memilih quest ini.'
Weed dan kawan-kawan menghabisi lima ekor monster secara cepat. Mereka tak ingin membuang banyak waktu lagi. Setelah menyembunyikan sekelompok tawanan ke tempat tersembunyi barulah mereka menelusuri gubuk-gubuk sebelah untuk menyelamatkan sandra yang lain.
Setelah semua sandera diselamatkan mereka kembali bergerak untuk mencari harta jarahan para monster, sayangnya mereka harus menelan banyak kekecewaan saat mendapati gudang harga milik monster kadal tidak ada mas, intan dan permata. Padahal di sana ada tiga tumpukan besar barang, yaitu gunung perisai, gunung armor dan gunung pedang.
'Ini yang dinamakan keberuntungan tidak selalu memihak kita.' Sorot mata Weed masih tidak melayu. Dia menatap semua rekannya sambil tersenyum lebar, "Tidak ada emas, perak pun jadi."
Mereka semua tersenyum bersama, lalu bersiap untuk mengambil semua senjata yang menggunung itu.
"Tunggu sebentar, bagaimana cara kita membawanya?"
Semua orang reflek menoleh ke arah Weed setelah mendengar seteruan Pale.
"Tenang saja, aku punya ide. Angkut dulu barang-barang ini."
"Serahkan saja pada Weed." Surka langsung menarik rekannya dan menyerahkan senjata satu persatu ke tangan mereka.
"Ya, kau benar, Weed kan brilian." Irene ikut-ikutan mengantongi senjata.
Ternyata bukan hanya Pale yang penasaran, tapi semua rekan Weed penasaran dengan rencana ini.
Weed terkekeh, "Ah itu, kan ada penduduk desa."
Pale manggut-manggut, "Ohhh penduduk des- hah? Penduduk desa katamu?!"
Weed mengangguk simpul, "Ya, mereka kan banyak, kita bisa bergotong-royong."
Jder!
Seperti kembali ke dunia nyata, mereka baru sadar bahwa Weed memang selicik ini.
"Ide bagus." Irene mengangguk pada Romuna dan Surka.
"Hah?" Pale menoleh pada ketiga perempuan yang sudah sibuk memunguti senjata sambil terkikik ria.
Mereka kembali ke tempat persembunyian warga setelah menyapu habis semua senjata. Mereka mulai bersiap untuk menyerahkan satu persatu senjata kepada para warga.
"Kami akan menyelamatkan kalian." Weed berpidato dengan tegas di depan kerumunan.
Wajah para warga mulai gelisah, terlihat ketakutan saat menantikan kalimat Weed selanjutnya. "Tentu kami tidak akan meminta kompensasi apapun atas apa yang telah kami lakukan. Yang kami inginkan hanyalah sebuah biji yang telah dijanjikan oleh Pak Ghandilva, kepala desa. Semua itu karena kami kami tidak menyelamatkan kalian hanya untuk keuntungan atau hadiah semata."
Setelah mendengar kalimat lengkapnya, semua penduduk desa akhirnya melepaskan kecemasan akut di pundak mereka, walau masih tertinggal sedikit.
Weed tersenyum selembut mungkin sebelum kembali menambahkan, "Aku sangat-sangat paham kalian telah melewati berbagai macam ujian dan rasa sakit yang mendalam, tapi maukah kalian membantu membawa senjata itu ke desa?"
"..."
Wajah warga desa memucat, kecemasan mereka kembali menerkam. Mereka sudah sangat lelah baik fisik maupun mental, jadi hal yang sangat mereka harapkan sekarang adalah pulang ke rumah dan bertemu dengan anak-anak.
"Seperti yang kalian tahu, lembah ini adalah rumah alami para monster yang sulit dilalui, dan katanya sekawanan Orc juga tinggal di sini."
Hanya dengan mendengar kata Orc, para warga bergidik ketakutan. Mereka nyaris tidak selamat dari monster kadal ini jika Org adalah bencana besar berikutnya, mereka tidak tahu kali ini nyawa mereka akan selamat atau tidak.
"Ini bukan apa-apa, hanya untuk berjaga-jaga jika saja para Orc menemukan tempat ini, mereka tentu saja akan sangat senang dengan tumpukan senjata di sini. Dengan semua senjata ini, mereka bisa saja menyerbu Desa Baran. Jadi menurutku, alangkah baiknya jika senjata-senjata ini disingkirkan dari sini. Maukah kalian meringankan beban kami?"
Karena termakan oleh rayuan Weed, semua penduduk desa akhirnya bersuka rela mengangkat beban seberat apapun asalkan bisa pulang ke rumah dan kembali hidup dengan damai.
...***...
Setelah perjalanan panjang dan melelahkan akhirnya mereka semua sampai ke perbatasan Desa Baran. Sebelumnya Weed sudah menjelaskan tentang pasukan ekspedisi Desa Baran, jadi mereka tidak terkejut lagi setelah melihat mayat monster yang bergelimpangan memenuhi Desa Baran.
Walau desa tempat mereka bernaung telah hancur, tapi semua warga tetap menangis bahagia karena kepulangan mereka.
Saat di depan pintu masuk Desa Baran, Weed kembali berpidato kepada mereka, "Terimakasih banyak rekan-rekan sekalian. Kami tidak akan bisa sampai sejauh ini tanpa bantuan kalian semua. Kami akan mengambil alih barang-barang ini, jadi kalian bisa bebas untuk segera menemui anak-anak kalian. Mereka sudah menantikan kedatangan orang tua mereka." Senyuman Weed merekah indah.
Tepat setelah Weed selesai bicara, semua penduduk desa langsung meletakkan senjata berat dari pundak, dan langsung lari berhamburan untuk mencari anak-anak mereka.
__ADS_1
Gandilva sudah lama menunggu di dekat gerbang bersama anak-anak.
"Ibu!"
"Ayah!"
"Selen, Marron, ayah senang kalian masih hidup."
Reuni itu terlihat sangat mengharukan, saat mereka berpelukan dengan hangat sambil dibanjiri air mata bahagia.
Gandilva tersenyum simpul sambil berjalan menghampiri Weed dan kawan-kawan. "Kalian akhirnya berhasil menyelesaikan Questnya, Weed."
"Ya begitulah, Pak kepala desa." Weed membalasnya dengan senyuman rendah hati.
Gandilva sedikit senang dengan reaksi Weed, “Sebagai kepala desa yang bijaksana, aku sangat berterimakasih kepada kalian karena telah menyelamatkan para sandra. Sejujurnya, aku tidak menyangka kalian akan seberhasil ini. Kerja bagus, anak muda! Kami semuanya disini tidak akan pernah melupakan bantuan nyawa dari kalian." Dia menepuk bahu Weed beberapa kali. merasa sangat bangga pada dirinya sendiri karena sudah menyerahkan tugas pada orang yang tepat.
Quest Selesai : Bencana Desa Baran!
Fame : +15
• Semua keluarga yang tercerai-berai akibat invasi monster di Desa Baran dipertemukan kembali oleh para pahlawan pemberani yang senantiasa menegakkan keadilan.
• Desa dihancurkan oleh invasi monster, tetapi kokok ayam jantan dan gonggongan anjing akan terdengar lagi.
• Anak-anak lega melihat orang tua mereka lagi. Hingga mereka dewasa, mereka akan mengingat jasa para pahlawan pemberani.
Hadiah Quest : Biji Tanpa Nama
Fame dan EXP akan didistribusikan secara merata ke semua orang di party, tapi bijinya akan diberikan secara langsung kepada Weed yang merupakan ketua party.
Level Up!
"Semua orang di Desa Baran sangat berhutang budi pada kalian semua." Gandilva menggenggam kedua tangan Weed dengan mesra, mengalahkan pasutri teromantis di lapak sebelah.
"Tentu saja tidak, Pak kepala desa. Kami hanya melakukan apa yang sudah seharusnya dilakukan. Tenang saja, kami akan selalu melakukan yang terbaik untuk menjaga kedamaian dan kemakmuran Desa Baran."
Akhirnya quest mereka selesai dengan baik, dan mendapat kepercayaan penuh dari kepala Desa Baran. Senyuman Weed dan rekannya berseri-seri sambil bersalaman dengan Gandilva. Para penduduk yang telah diselamatkan oleh tim Weed sangat merasa berhutang budi kepada penyelamat mereka, hal itu akan menguntungkan mereka saat berbelanja dan melakukan hal lainnya di sini.
Ada banyak penyebab terjadinya sebuah quest. Kebanyakan NPC biasanya hanya akan mengandalkan sebuah quest kepada player kepercayaan mereka, daripada mempercayakannya pada orang asing. Tapi terkadang ada juga NPC yang rela memohon kepada siapapun yang ditemuinya, jika terdapat sebuah quest darurat, yang harus segera di selesaikan layaknya kasus Quest Desa Baran dari Gandilva.
Dimasa depan, tentu saja rasa kekeluargaan ini jauh lebih berharga daripada hadiah uang.
'Darius, kau pasti akan sangat menyesali hal ini. Ke ke ke ke.' Weed menyeringai tipis tanpa ada yang menyadarinya.
Jika Darius mengira bahwa dia tidak akan mendapatkan keuntungan materi yang tinggi dari Desa Baran, itu memang benar. Tapi lain halnya jika dia berencana untuk memperluas kekuasaannya sampai ke provinsi Selatan, berdasarkan statusnya sebagai Letnan pasukan ekspedisi.
Sebenarnya Darius tidak akan menolak quest ini jika dalam keadaan normal, tapi sekarang berbeda. dia adalah Letnan pasukan ekspedisi, jabatannya terlalu tinggi hanya untuk menyelesaikan sebuah quest kecil. Juga merupakan keputusan yang sulit jika dia harus meninggalkan quest ekspedisi yang berhadiah besar.
Weed paham dengan situasi Darius setelah mengamatinya hingga sejauh itu. 'Menyedihkan.'
Sebuah peluang sangat jarang muncul. Layaknya sebuah keberuntungan tak terduga yang entah datang dari mana dan akan pergi kemana.
Ghandilva tiba-tiba menggenggam tangan Weed, "Aku baru teringat bahwa aku memiliki quest lain untukmu. Weed, aku percaya bahwa kau adalah orang yang sangat bertanggung jawab. Ku dengar dari para warrior di pasukan ekspedisi, kau adalah seorang scluptor. Apakah aku salah?"
“Tidak, Pak.” Weed menjawab dengan tenang.
Ghandilva tersenyum bahagia menampilkan gigi-gigi kuning layaknya pisang masak, "Dulu kami memiliki patung Freya yang kami sembah di alun-alun desa.”
Freya adalah seorang dewi yang paling banyak disembah di Rosenheim. Dia terkenal dengan kecantikan yang tak tertandingi dan bisa menyuburkan ladang para petani.
Ghandilva berkata dengan wajah muram, “Kami selalu berdoa untuk perdamaian dan kemakmuran kepada patung Dewi Freya. Sayangnya dia hancur saat bencana yang terjadi di awal tahun ini. Sekarang setelah aku perhatikan lagi, semua bencana beruntun ini terjadi setelah kami kehilangan patung Dewi Freya. Bencana buruk ini tentu harus dihentikan.”
"Pak kepala desa ingin patung Dewi Freya kembali?"
“Ya, Weed!" Ghandilva berseru girang, "Aku ingin kau memahat patung Dewi Freya yang baru. Awalnya aku pernah minta tolong pada orang asing untuk membawakan patung pengganti, tetapi setelah lama berlalu, aku belum mendengar kabar apapun darinya. Padahal ini sangat penting bagi kami. Maukah kau memahat patung Dewi Freya, Weed?”
Patung Dewi Freya!
Freya, dewi kecantikan dan kesuburan adalah dewi pelindung di Desa Baran. Patung Dewi Freya berdiri di alun-alun desa, tetapi hancur tertimpa pohon pinus saat gempa bumi yang merobohkan pohon itu. Meskipun monster yang menginvasi desa telah dikalahkan, penduduk desa tidak akan hidup damai sampai patung Dewi Freya dipulihkan.
Bangun kembali patung Dewi Freya di desa Baran untuk mengembalikan kedamaian dan kemakmuran desa.
Tingkat Kesulitan : Quest Profesi!
Persyaratan : Hanya tersedia untuk Sculptor!
Quest itu tersedia khusus untuk scluptor, tingkat kesulitan dan hadiah dari quest tergantung pada hasil akhirnya. Pada umumnya, hadiah dari sebuah quest memang di tentukan dari hasil akhir sebuah quest. Kecuali untuk quest seperti pengantar pesan atau kurir.
"Tolong tunggu disini, kepala desa. Aku perlu berkonsultasi dengan rekan di party ku dulu.” Ketika Weed selesai berbincang dengannya, dia mendekati teman-temannya yang sudah menyeringai lebar padanya, karena mereka sudah menguping semua percakapan antara Weed dan Ghandilva tadi.
“Uhuyyy! Sudah kuduga seorang Weed sangat membanggakan! Selamat! Semoga berhasil.” Surka menyenggol bahu temannya itu dengan gaya santuy.
“Aku sempat khawatir saat kita membuang quest ekspedisi Desa Baran, tapi sekarang aku sangat bangga telah mempercayaimu, Weed.” Romuna tersenyum manis.
“Nona Surka dan Nona Romuna, terima kasih pujiannya.” Weed melakukan curtain call layaknya seorang artis papan atas.
“Tapi jika aku menerima quest ini, aku tidak bisa membasmi kadal hijau di Desa Baran bersama nona-nona sekalian selama beberapa hari ke depan.” Lanjut Weed sedikit geregetan.
Ternyata Pale lebih geregetan daripada dia, "Kami tidak apa-apa, Weed. Percayalah pada kami, kan kita sudah tahu kelemahan para monster ini, aku yakin kami bisa mengalahkannya tanpamu sekarang. Sejujurnya, kami sedikit terbebani oleh level mu yang jaraknya sangat jauh dari kami, biarkan kami sedikit menyusul mu, hem?"
Pale lagi-lagi mengangkat beban di pundak rekannya, karena memang benar bahwa mereka sedikit terbebani oleh level Weed yang jauh lebih tinggi darinya.
Saat Weed yang menjadi pemimpin party, dia memang sangat berjuang keras melawan para monster, dan dialah yang paling banyak melenyapkan monster-monster itu. Di hadapan semua itu, rekannya merasa sangat lemah dan seperti aksesoris semata.
Padahal seharusnya rekan party sejati itu kondisinya setara. Partynya tidak akan bisa bekerjasama dengan baik selama anggota party yang lain merasa terus-terusan berhutang nyawa pada satu orang secara khusus.
Weed baru sadar sekarang setelah memperhatikan wajah rekannya dengan detail, "Jadi seperti itu. Baiklah aku akan mengambil quest ini." Dia tersenyum menenangkan.
Setelah mengangguk pada semua rekannya, Weed berjalan santai ke arah Ghandilva, "Aku akan memahat patung Dewi Freya, kepala desa."
Anda telah menerima quest!
__ADS_1
“Terima kasih, Weed. Silahkan bersiap-siap untuk memahatnya sesegera mungkin." Ghandilva merasa hatinya berbunga-bunga.