Legendary Moonlight Scluptor

Legendary Moonlight Scluptor
Love That Doesn't Work


__ADS_3

"Ggrrr!"


Mendadak muncul 5 Skeleton Mercenary, membuat jantung Weed berpacu tiga kali lebih cepat. Matanya menatap mereka was-was. Selama ini dia belum pernah melawan lebih dari 3 monster ini sekaligus. Tidak peduli sebaik apapun skill bertempurnya sekarang, tetap saja susah untuk melawan 5 Skeleton Mercenary sekaligus.


Saat di pertarungan Weed pasti akan membuka cela hingga musuh melancarkan serangan mematikan. Dan terlalu sibuk untuk menggunakan pertolongan pertama pada diri sendiri sampai pertarungan selesai. Jadi pertarungan kali ini dikategorikan sulit dan berbahaya. Sudut alis Weed menegas, dia bersiap untuk melarikan diri. 'Tidak ada jalan lain, aku harus--'


"Cahaya keberanian dari masa lalu, berikan pahlawan ini kekuatan untuk melawan musuhnya! Power Up!"


Weed menoleh ke belakang, di sana Dain sedang mengangkat tangan kanan, dan melepas mantra.


Swush!


Angin dingin meresap menyebar ke pembuluh darah Weed. Tubuhnya mengeluarkan cahaya menyilaukan mata. Bersamaan dengan itu, Weed merasa seluruh energinya terisi penuh. Strength nya bahkan meningkat hampir 100 poin.


Dain mengangkat kedua tangan layaknya menunggu sebuah pelukan, "Wahai wind spirit, kalahkan musuh dengan ketulusan mu! Cahaya akan menuntun mu ke jalan yang benar! Up Spirit!"


Strength dan Agility Weed meningkat pesat seketika. Tubuhnya sedikit terangkat, dia merasa seringan bulu.


"Hiyatz!" Saat berlari menghampiri musuh, padahal baru mengambil beberapa langkah tapi kecepatan Weed seperti berlari.


"Kau ditakdirkan untuk membawa kematian! Darah dan kehancuran perang ini akan menjadi rumahmu! Bloodlust!"


Bermacam-macam mantra dari Dain meningkatkan statistik Weed sampai ke titik teratas. Sekarang Weed bisa dengan mudah mengalahkan lebih dari 5 Skeleton Mercenary sekaligus.


Weed tak berhenti terkejut dengan kekuatan luar biasa yang dikeluarkan Dain. Tidak hanya memblessing Weed, dia juga menyempatkan diri untuk memberi kutukan pada musuh. Seketika musuh langsung terkena stun. Mereka juga tidak mampu lagi menyembuhkan luka yang mengalirkan darah dengan deras. Semakin lama mereka kehilangan semangat untuk bertarung.


Weed sedikit tak fokus menyerang monster karena terlalu terkejut dengan kekuatan rekan barunya, 'Tidak mungkin sihir seorang Shaman bisa sekuat ini!'


Semakin lama Weed berpikir, semakin dia yakin ada hal yang telah dia lewatkan. Dia tidak bisa paham dimana kesalahan ini dimulai.


Dalam waktu singkat mereka berhasil mengalahkan para Skeleton Mercenary tadi seakan sedang menepuk nyamuk.


Tangan Weed memunguti drop item yang dijatuhkannya secepat kilat. Lalu berlari mendekati Dain. "Sihirmu terlalu luar biasa untuk seorang player berlevel 134. Bagaimana mungkin sekuat ini? Jika aku tidak mengerti alasannya, kita tidak bisa berada dalam tim yang sama lagi." Suara Weed terdengar ngerap dan menggebu-gebu. Tidak peduli jika lawan yang diajak bicara akan tersinggung.


Senyuman Dain mengembangkan melihat Weed yang masih ngos-ngosan karena terlalu semangat bertanya, "Karena inilah hobiku."


Mata Weed memicing, terlihat belum mempercayainya, "Hobi?"


"Ya, tolong jangan anggap aku gila. Aku tidak suka membunuh monster. Aku hanya-hanya--" Dain terlihat malu untuk melanjutkan kata-katanya. Apalagi ditatap intens oleh Weed yang terlihat akan mati penasaran jika dia tidak segera memuaskan rasa penasarannya.


Dain sedikit terhibur melupakan kegugupannya, dia duduk santai, hampir tertawa saat Weed ikut duduk di dekatnya masih dengan tatapan imut, "Aku menggunakan kutukan pada monster, holy magic, kadang-kadang jika sedang malas aku hanya mengeluarkan serangan jarak jauh untuk menyerang mereka. Lalu aku akan menggunakan blessing karena mereka kekurangan banyak HP."


"Pada monster?" Weed mulai merasakan hawa-hawa negatif.


"Ya, aku bermain seperti itu."


"Gila!" Weed menatap takjub. Dia bermain-main sekaligus mempermainkan para undead yang mendiami dungeon ini. Setelah mengutuk dan menyerang para musuh hingga sekarat, dia dengan santai nya menyembuhkan mereka kembali. Sebutan gila saja tidak cukup untuk seukuran gadis imut sepertinya. Weed tidak menyangka akan menemukan orang yang seunik dia. Benar, dunia ini sangat luas.


Dain memiliki level 134 tapi sihirnya sangat kuat. Mantra blessing darinya telah meningkatkan kemampuan Weed dengan sangat luar biasa. Pada saat yang sama ikut melemahkan para monster. Hal ini seolah-olah dia telah memasang sayap pada Weed. Sungguh hal yang menakjubkan, jadi wajar Weed makin terpesona olehnya.


Sambil tersenyum kecil, Weed menantikan kerjasama mereka di masa depan. Pastinya jumlah monster yang mereka kalahkan akan sangat luar biasa. Tapi Dain memiliki prinsip tersendiri, dia tidak membunuh monster. Hal ini bukan masalah bagi Weed, karena dia bisa meningkatkan skill swordmanship saat Dain tidak ikut menyerang.


Weed menggelengkan kepala beberapa kali, 'Tidak! Aku tidak bisa mempercayai orang asing yang baru ku temui di tempat yang berbahaya seperti ini.'


Tak dapat dipungkiri, hati Weed gelisah jika Dain mungkin akan mengkhianatinya suatu saat. Walau sangat mencurigainya, tapi Weed masih fokus mendengarkan cerita Dain saat dia pertama kali menginjakkan kaki di Lavias.


Seperti yang telah Weed alami, gadis itu juga pernah mengalami beberapa hal serupa. Setelah menghabiskan beberapa waktu di Kota Surga, dia mengetahui banyak hal tentang Lavias dan kelemahannya. Menurutnya, dia pergi ke dungeon bertepatan dengan kedatangan tim Weed ke Lavias.


'Cerita yang sangat tidak bisa dipercaya.' Pikir Weed.


Walau fakta mengatakan sesuai cerita Dain. Ini salah satu alasan kenapa dia tidak pernah berpapasan dengan tim Weed di Lavias, berarti benar dia telah tinggal dalam dungeon selama ini. 'Meski demikian, itu bukan alasan yang cukup untuk mempercayai semua yang dia katakan.' Weed tetap menolak untuk mempercayainya.


"Bagaimana kalau kita berganti tempat berburu? Aku kebetulan tahu tentang beberapa dungeon baru, walaupun aku belum ke sana." Menurut penyelidikan Da'in, di Lavias setidaknya ada 8 dungeon yang belum terjamah.


'Apa ini sebuah jebakan?' Tapi Weed menyimpan pertanyaan itu rapat-rapat, "Dungeon baru? Maksudmu tak seorangpun yang pernah memasukinya, kan?"


"Ya."


Weed memiringkan kepalanya terlihat bingung. "Aku tak mengerti."


Da'in adalah salah satu anggota tim pertama yang memasuki Kota Surga. Lalu ada dungeon yang belum mereka kunjungi? Itu sangat sulit untuk dipercaya.


Dain tetap menganggap wajah penuh selidik Weed itu imut, "Tidak ada alasan khusus, karena semua orang selain aku, memiliki level lebih dari 200."


Semakin lama, Weed semakin mencurigai gelagat Dain. Padahal si empu hanya duduk santai sambil menatap kedalaman sungai. "Ahhh! Maksudmu mereka tidak mau repot-repot untuk menjelajahi dungeon dengan level rendah! Meski begitu, aku tak habis pikir bagaimana mungkin seseorang dengan sengaja mengabaikan sebuah dungeon."


Ada banyak keuntungan saat menemukan dungeon baru. Satu-satunya hal yang tak bisa diabaikan adalah fame yang meningkat drastis. Item terbaik akan di dapatkan, hal ini akan memberikan banyak keuntungan. Bahkan walaupun level seorang player sangat tinggi, jika ada ladang berburu yang layak, siapa yang akan mengabaikan hal ini. 'Dain menyembunyikan sesuatu tentang apa yang dilakukan tim nya.'


Jika dia bersikeras maka Weed pun bisa bersikap lebih keras kepala, "Aku tidak akan beranjak dari sini sampai kau menjelaskan semuanya padaku."


Wajah Dain terlihat sedih, "Maaf. Aku tetap tidak bisa memberitahumu apapun tentang mereka."


"Apakah itu sebuah rahasia?"


"Ya, aku berjanji untuk tak mengatakan apapun pada siapapun. Aku tahu ini sulit, tetapi aku mengatakan yang sebenarnya. Aku mohon percayalah."

__ADS_1


Weed memutuskan untuk mengakhiri kekeras kepalaan nya. Tidak ada yang bisa dia lakukan untuk meyakinkan Dain, agar mengungkapkan rahasia tersebut.


Kata-kata yang tampak lemah memiliki kesempatan yang lebih tinggi untuk menjadi sebuah kebenaran. Ditambah, mereka baru saja meninggalkan dungeon Cave of Dead Warriors untuk mengekplorasi dungeon- dungeon baru. Jadi setidaknya Da'in jujur tentang hal itu.


Mirkan Tower!


Secret Area of Pan Lake!


Baravall Coal Mine!


Segmail Vista!


Gaet Altar!


Parrot Nest!


Barlog Ruins!


Sealed Cave of Margres the Destroyer!


Benar saja, saat Weed dan Dain tiba di dungeon-dungeon ini ternyata belum terjamah. Mereka adalah orang pertama yang menemukannya, Weed sedikit bersuka cita.


Tempat-tempat ini sangat jauh dari Kota Surga.


Mirkan Tower, tempat yang terlihat megah dan menjulang menembus awan. Di sana mereka menghabiskan waktu memburu monster terbang. Weed memiliki Archery sebagai skill serangan jarak jauh, jadi tidak perlu repot iri pada Dain. Semakin di asah, skillnya semakin meningkat. Seperti yang diduga dari seorang Weed, dia mampu mengeluarkan damage yang besar.


Tak jauh dari menara ada penjual bulu spesial seharga 10 gold. Seorang player bisa menggunakan item tersebut untuk terbang selama sebulan penuh.


Weed dan Dain secara perlahan menjadi tim solid yang menjelajahi dungeon satu ke dungeon lainnya. Dari Mirkan Tower, Secret Area of Pan Lake, Baravall dan Coal Mine. Mereka menerima banyak keuntungan karena menjadi orang pertama yang mengunjungi dungeon. Perlahan-lahan Weed telah menurunkan kewaspadaannya pada Dain. Tapi mereka masih jarang mengobrol, masih sama dengan pertama kali bertemu, kaku.


Di Balrog Ruins, Gaet Altar dan Segmail Vista, monster yang paling lemah adalah Death Knight. Sampailah Weed untuk mengalahkan musuh yang tadinya paling dia takuti. Tempat itu terlihat suram dan tak tersentuh. Tak ada yang berani memasuki area berbahaya itu, bahkan tempatnya disegel rapat-rapat. Meski demikian, Weed membuat kemajuan pesat berkat bantuan Dain. Dia juga mendapat EXP dan drop item langka dengan jumlah yang luar biasa.


Bagaimana mungkin dia masih memancarkan aura permusuhan pada orang yang telah banyak membantu perkembangannya.


Sekarang Weed sedang dihadapkan dengan suka cita, 'Akhirnya sekarang aku bisa memasaknya.' Tatapan matanya terfokus pada dua ekor lobster.


Disamping kanannya, ada Dain yang ikut menatap lobster itu sambil menelan ludah beberapa kali.


Skill Cooking milik Weed sudah 99% untuk mencapai level 10 tahap beginner, jadi dia sengaja memilih hidangan spesial untuk 1% yang terakhir. Masakan terbaik dari Skill Cooking tahap Beginner yang bisa disajikan adalah seafood, yaitu lobster yang terkenal kelezatannya!


Tentu saja, di kehidupan nyata Lee Hyun belum pernah makan lobster sepanjang hidupnya. Masalahnya tentu saja karena harganya yang keterlaluan. Salah satu alasan dia begitu rajin melatih skill cooking adalah, agar dia bisa merasakan makanan semacam ini.


Lobster-lobster itu meronta, tetapi mereka bukanlah lawan bagi tatapan dingin Weed. Pada akhirnya, mereka hanya bisa menundukkan antena mereka dalam kekalahan. Namun, Weed tak mencoba untuk menatap mereka sampai mati, ia sedang mencoba untuk memvisualisasikan daging lobster yang mahal itu.


Tangan Weed bergetar. Bahkan di dalam game, lobster sangat langka dan mahal. Di Lavias mereka bisa dibeli dengan harga yang lumayan, 1 gold per ekor. Jika dia tak menjelajahi banyak dungeon baru dengan dobel drop rate, dia tidak akan pernah mempertimbangkan untuk membeli hewan mahal ini.


Tangan Weed bergerak seperti kilat, saat meraih kepala lobster itu dengan tangan kirinya dan menggunakan Sculpting Knife Zahab di tangan kanannya untuk memotong mereka dari kepala sampai ekor.


Tubuh lobster itu terbelah dua, Weed dengan cepat membersihkan kotoran yang ada dalam tubuh mereka, tak lupa mengeluarkan telur-telurnya. Lalu dengan cekatan mulai menggorengnya dalam minyak panas, bersama dengan saus dan rempah-rempah yang telah dipersiapkan sebelumnya.


Tak lama uap masakan mengundara. Aroma masakannya membuat perut Dain menggeruduk beberapa kali. Lobster telah dimasak dengan sempurna.


Akhirnya, hidangan lobster telah siap.


Level Upgrade : Cooking Beginner level : 10 menjadi Intermediate level : 1,0%


Fame : +10


Semua stat meningkat sebesar 5 poin


Sekarang Anda bisa memasak berbagai macam hidangan. Setelah merasa kenyang, berbagai kemampuan akan meningkat bergantung pada tipe hidangan dan bahan-bahan yang digunakan. (Contoh : Drake's egg, tanaman herbal dll).


• Afinitas mu dengan Tanah meningkat sebesar 30


• Resistensi sihir berbasis Tanah telah meningkat sebanyak 20%.


• Resistensi sihir berbasis Api dan Air telah meningkat sebanyak 10%.


New Skill : Wine-brewing


Keinginan Weed untuk mencapai skill cooking tahap Intermediate akhirnya menjadi kenyataan. Begitupun dengan bonus statnya membuahkan hasil yang memuaskan. Biasanya, untuk meningkatkan resistensi sihir memerlukan perlengkapan yang harganya cukup mahal, tetapi dia bisa menaikkan resistensi sihir miliknya hanya melalui skill cooking.


"Wow itu tampak lezat." Dain tidak bisa menahan kesabarannya lebih lanjut, dia segera menggulung lengan baju, langsung menyantap hidangan dari Weed.


Bersamaan dengan dia, Weed ikut memakan bagiannya.


Setelah kenyang, mereka kembali memburu monster-monster di dungeon selanjutnya. Posisi masih tetap sama, Dain mensupport dari belakang, lalu Weed akan menjadi penyerang terdepan. Kedua orang itu mendominasi dungeon dengan cepat.


Dain pun berusaha dengan keras memenuhi tugasnya untuk memblessing Weed dan membubuhinya dengan mantra. Hingga Weed tidak menyesal membentuk party dengannya.


Tapi, satu hal yang masih mengganjal di hati Weed. Semakin lama dia mengenal Dain semakin dia terkejut dengan apa yang ada pada dirinya. Dia terlihat seperti gadis misterius yang sulit ditemukan.


Ketika menatap monster, lalu beberapa kali memberi kutukan, matanya terlihat sangat sedih dan seperti menahan beban seberat gunung everest. Di tambah lagi, dia merasa gadis ini sama dengannya ketika menyangkut uang. Dia sangat teliti dengan uang ataupun drop item. Setiap kali Weed mencoba untuk mendapatkan keuntungan lebih banyak, Dain segera menyadari hal itu dan menegurnya dengan terang-terangan.


Pada suatu ketika, saat mereka berada di dekat dungeon Secret Area of Pan Lake, mereka menemukan tanaman herbal yang bermekaran. Di sana Dain berjongkok tanpa ragu-ragu lalu menggali tanah untuk mengambil tanaman herbal itu. Weed menatapnya takjub seakan sedang berkaca.

__ADS_1


Ini adalah sebuah naluri untuk bertahan hidup di dunia yang keras!


Kadang-kadang, Dain akan menulis puisi dengan santai sambil menunggu masakan Weed siap. Dia juga tidak segan mengeluarkan suara uniknya yang merdu di dalam keheningan hutan.


"All my love is gone (Go-o-o-o-o-o-one)."


"All my love is gone, gone, gone, gone (Go-o-o-o-o-o-one)."


"All my love is gone (Go-o-o-o-o-o-one)."


"All my love is gone."


"Now you’re dead and gone."


"All my love is gone and the hate is gone."


"I'm standing all alone."


Suara merdunya tambah merdu saat ditemani suara api unggun yang memanggang daging. Ataupun suara burung yang berkicauan seakan tak ingin ketinggalan dengan acara riang mereka.


Berkat hal itu, hati Weed tidak pernah suram. Dia dengan senang hati menikmati kejutan demi kejutan yang ditunjukkan Dain. Tanpa sadar senyuman kecil selalu terbit dari mulutnya. 'Tidak pernah terpikir akan semenyenangkan ini ketika berburu dalam party.'


Selama ini pula tidak ada seorangpun yang mengunjungi Lavias lagi. Jadi di sini terasa damai dan tentram.


Rekannya yang lama pun tidak pernah tinggal untuk memberi kabar pada Weed. Pale memberitahunya tentang mereka yang telah menetap di suatu tempat berburu di dekat Benteng Serabourg. Surka menceritakan tentang kisah perburuan mereka sampai ke ***** bengek nya. Irene yang menantikan kepulangannya. Dan Romuna yang merindukan keberadaannya dalam party. Intinya saat ini mereka masih mengurus orang tua mereka, akan sulit untuk meninggalkan mereka sendiri.


Jadi sepanjang waktu ini, Weed telah menghabiskan banyak waktu berdua dengan Dain. Sebagai bonus bahwa dia adalah gadis ideal yang Weed impikan.


Tak bisa dipungkiri Weed adalah lelaki normal. Bohong jika Weed tidak pernah tertarik pada Dain. Dia bahkan beberapa kali melirik gadis itu diam-diam.


Dain yang peka tentu saja mengetahui hal itu. Dia seringkali menatap balik lalu tersenyum manis padanya. Dia juga menikmati wajah Weed yang memerah karena salah tingkah. Ketika Weed memalingkan wajah, senyuman Dain luntur, terlihat sangat sedih memikirkan suatu hal yang tidak bisa dia ungkapkan.


Namun, dia akan tersenyum lagi saat berburu bersama Weed. Tidak dapat dipungkiri, di sini bukan Weed saja yang bahagia, tapi begitupun dengannya.


Suatu hari, Weed mulai memberanikan diri untuk mengobrol dengan ringan dengannya layaknya seorang teman, diapun mulai membuka diri dengannya, "Um. Apakah kau mau terus berburu bersamaku kedepannya?"


Dain terdiam seketika, dahinya mengernyit seakan kepedihan di seluruh dunia menekan pundaknya. Setelah beberapa saat terdiam, dia menatap wajah Weed dengan tegas, "Maaf Weed."


"Apa maksudmu?"


"Dulu, aku pernah membuat keputusan yang salah. Aku pikir tak seorangpun mencintaiku. Aku tidak bisa mempercayai siapapun."


Weed meneliti ekspresi lawan, dan tidak ada kebohongan di sana, "Apakah hal ini berhubungan dengan alasan kau ditinggalkan sendirian di Lavias?"


Dan menunduk dalam, "Sulit untuk menjelaskan seluruh ceritanya, tetapi iya, itu sedikit berkaitan." Dia mengangkat wajah lalu tersenyum tulus, "Ngomong-ngomong, aku merasa semangat ku meningkat saat menghabiskan waktu bersamamu, Weed. Mungkin, aku menemukan kepercayaan diriku sekali lagi."


"Lalu?" Weed sedikit frustasi.


Bukankah ini adalah berita bagus jika menghabiskan waktu dengannya telah membantu Dain mendapatkan kembali keberaniannya. Tetapi kenapa gadis itu memilih untuk meninggalkannya. Bagaimanapun, Weed merasa dia telah dimanfaatkan.


Tidak seorangpun suka dimanfaatkan!


Doain terlihat menyesal, "Aku tidak bermaksud seperti itu. Setelah bertemu kamu, aku merasa bisa bertahan hidup."


"Jangan bilang kau--" Weed membekap mulut tidak sanggup melanjutkan kata-kata.


"Ya, aku sakit parah. Meskipun aku bisa operasi, tapi hal itu tidak memastikan akan membuatku lebih baik. Selama ini, aku sengaja menunda-nunda operasinya, tetapi sekarang sudah saatnya untuk mengambil kesempatan itu."


Weed menatap Dain dengan berbagai ekspresi. "..."


Inilah yang tidak diinginkan Dain, ditatap iba oleh orang terdekatnya. Makanya selama ini dia selalu menahan diri agar tidak mengungkapkan kebenaran ini. Dia merasa hatinya sakit jika harus ditatap oleh Weed seperti ini.


Dain menghembuskan nafas panjang, "Tolong jangan menatapku seperti itu. Aku akan baik-baik saja. Takdir dan kebetulan hanya beda tipis, kadang-kadang sulit untuk membedakan keduanya. Aku tidak mau pertemuan kita menjadi sebuah kebetulan belaka. Aku yakin takdir lah yang mempertemukan kita. Maka percayalah, suatu hari nanti kita akan bertemu lagi. Aku benar-benar berharap bisa bertemu denganmu lagi."


Setelah mengatakan salam perpisahan menyedihkan ini, Dain log out. Meninggalkan Weed seorang diri yang melamuni kepergian dirinya.


Ketiadaan Dain di sampingnya membuat Weed merasa benar-benar hampa. Hatinya pun terasa berdenyut-denyut. Tidak bisa dipungkiri mereka telah menghabiskan banyak waktu bersama. Hal ini karena awalnya Weed terlalu mencurigainya, hingga terlalu berlebihan saat mengawasinya.


Dia tidak menyangka gadis yang mempunyai senyuman manis itu sedang menyembunyikan rasa sakit. Karena dia selalu terlihat sibuk berburu dengannya. Tak berbeda dengan Weed yang juga terlalu sibuk untuk menyadari hal itu. Mereka bahkan berburu lebih serius dan lebih intens dibandingkan saat dia bersama Pale dan yang lain yang tergolong masih santai.


Selama lebih dati satu bulan, mereka hanya berbicara jika itu benar-benar diperlukan. Selebihnya dihabiskan dengan berburu. Weed meremas rambutnya merasa frustasi sekaligus menyesali semuanya.


' Bagaimana jika Dain tidak pernah kembali lagi.' Weed menghirup nafas dalam-dalam berusaha mengenyahkan fikiran buruk yang merayapi pikirannya.


"Jika kekhawatiran ku benar-benar terjadi, maka tidak akan banyak orang yang akan mengingat kehadirannya. Selama ini dia di Lavias seorang diri dan tidak ada seorangpun yang datang untuk menjemputnya. Kurasa inilah alasan kenapa dia menghabiskan waktunya dengan mengutuk lalu menyembuhkan para monster."


Kesendirian dan ketakutan akan kematian, hanya bisa dipahami oleh mereka yang telah mengalaminya.


...•••...


Author : "Ayoooo jujur kalian tim mana nih?"


#Timoleng?


#Timkapalayar

__ADS_1


#TimKakLiaCantik


Weed : "LIKEEE!!!!"


__ADS_2