
"Sial."
Ahn Hyundo, penerus Bonkuk Kumdo, salah satu academy pelatihan ilmu pedang tradisional di Korea, ia mengerucutkan bibirnya karena kesal. Di dojang, ratusan remaja maupun orang dewasa sedang berlatih Kumdo, meneriakkan semangat perang, atau khilap dalam bahasa Bonkuk Kumdo.
“Yatz!”
“Yatz!”
Ahn Hyundo bisa mendengar letusan kihaps bergema yang dihasilkan oleh peraduan pedang.
Setelah kau menjadi swordman, sebuah pemberitahuan akan memberimu petunjuk di tahap mana seorang praktisi Kumdo berada.
Ahn Hyundo dinobatkan sebagai Master Kumdo terbaik, diakui di seluruh dunia, sudah empat kali Juara Dunia Ilmu Pedang.
Saat Ahn Hyundo semakin dewasa, dia mundur dari perlombaan dan mendedikasikan diri untuk melatih generasi praktisi Kumdo berikutnya di dojang, tangan dan tubuhnya tidak pernah meninggalkan pedang, bahkan sedetik pun.
“Aku belum pernah melihat siapa pun yang se-tekun dia. Aku seharusnya melatih anak itu dengan benar dari awal. Dia punya sesuatu, sesuatu yang bisa melampaui bakatku. Ditambah lagi dia punya nyali besar.”
Ahn Hyundo dulu merasa puas karena dia memiliki cukup banyak anak magang yang kompeten. Mereka memiliki bakat yang cukup untuk memenuhi syarat mendapatkan medali di Kejuaraan Ilmu Pedang Dunia yang diadakan setiap lima tahun.
Akan tetapi, suatu hari, persepsi grand master telah terbalik setelah melihat Lee Hyun.
...* * *...
1 tahun sebelumnya!
Seorang pria berusia sekitar 20 tahun mengunjungi dojang Ahn Hyundo.
“Perkenalkan, aku Lee Hyun. Aku datang ke sini karena orang-orang merekomendasikan ini adalah dojang terbaik.”
"Nak, kau pernah memegang pedang sebelumnya?"
"Belum! Itulah alasan ku di sini, untuk mempelajari segala hal tentang pedang.”
"Tentu. kau harus mempelajarinya. Belajar dengan giat sampai kau menjadi ahli pedang. Barulah kita bisa menyaksikan siapa yang terbaik.”
Ahn Hyundo percaya itu adalah akhirnya, dan melupakan anak itu untuk sementara waktu. Lalu suatu pagi, dia melihat Lee Hyun mengayunkan pedang di bawah pancaran sinar matahari.
Lee Hyun mengayunkan pedang selama berjam-jam. Gerakannya selaras dengan pola pernapasan, dan pedangnya mengeluarkan suara yang indah. Dia sudah mencapai tahap diluar batas seorang pemula.
Ahn Hyundo memanggil instruktur bawahannya dan bertanya kepada mereka tentang Lee Hyun, yang ternyata sangat giat berlatih.
“Berbicara tentang anak magang itu, dia pasti sudah kerasukan. Aku belum pernah melihat orang yang lebih gila dengan pelatihan pedang kecuali dia."
"Seberapa gilakah anak itu?"
"Begitu dia mengambil pedang, dia tidak pernah melepaskannya, kecuali kita mengambilnya dari tangannya."
“Kalian harus mengambil pedang dari tangannya untuk menghentikannya?”
"Ya, Hyung-nim. Jika kita meninggalkannya sendirian, dia akan mengayunkan pedang terus menerus sampai kehabisan nafas. Hari pertama dia bergabung di dojang, dia terus mengayunkan pedang sampai telapak tangannya luka dan penuh darah.”
“Dia melangkah terlalu jauh.”
"Ya Hyung-nim. Hal yang sama persis terjadi pada hari kedua. Dia berlatih teknik pedang walau darah menetes sampai membentuk kalus, jadilah telapak tangannya sekeras batu. Tidak mengherankan jika dia mencapai level ini begitu cepat."
“Dia luar biasa!”
Ahn Hyundo memilih Lee Hyun sebagai penggantinya tanpa memberitahunya.
Bakat dan ketekunan. Murid itu memiliki kedua kelebihan, dan yang benar-benar menarik perhatian dia adalah kenekatan di matanya. Ketika Ahn Hyundo menginstruksikan calon penerusnya untuk berduel, matanya bersinar dengan sesuatu yang khas.
Itu adalah keinginan petarung sejati, tidak akan bisa dikerahkan oleh manusia biasa yang instingnya telah dikebiri oleh peradaban. Ia dapat menemukannya pada Lee Hyun.
Itu masih masa percobaan baginya. Ahn Hyundo percaya bahwa terlalu dini untuk menceritakan rencananya kepada Lee Hyun, yang mungkin membahayakan perkembangannya. Oleh karena itu, sang guru telah memperlakukan muridnya dengan agak acuh tak acuh, memotivasi dia dengan banyak tujuan dan mengawasinya dari kejauhan.
Pada suatu hari, Lee Hyun berhenti datang ke dojang.
Kembali ke masa sekarang!
"Wah." Ahn Hyundo mendesah kasar.
“Aku ingin tahu apa yang dia lakukan. Aku seharusnya menjadikannya penerus ku saat masih bisa."
...***...
Sedangkan orang yang dirindukan, Lee Hyun, masih berkutat dengan game andalannya.
Weed dengan setia berlindung di belakang Pale, ia sedang meneliti pertempuran dari tempat yang aman.
"Irene, bantu aku!"
“Oke! Fire ball!" Romuna menimpali. "Kekuatan suci membawa kami pada kemenangan, Blessing!"
Saat Surka si paladin menyerang rubah secara langsung, Romuna, Pale dan Irene menyerang rubah dari belakang.
Mereka mengandalkan strategi ini karena level Surka adalah tujuh, yang tertinggi di antara mereka, dan sisanya adalah pemula dengan nyawa dan defense yang relatif rendah.
Sang rubah bergerak lincah dari satu tempat ke tempat lain. Ia menghindari pukulan Surka dengan hanya sedikit damage, dan ekornya menyerang dengan tiba-tiba berputar, kadang-kadang mengeluarkan critical dan membuat Surka mundur.
Dengan sedikit stamina yang tersisa, Surka sering kali menghadapi bahaya. Kemudian, Irene akan menyembuhkannya dengan cepat untuk memulihkan hidup dan defense nya. Sementara yang lain menyerang rubah untuk mengalihkan perhatiannya dari Surka.
"Mereka lumayan."
Kerja sama keempat orang itu sangat kompak.
Mereka tidak berebut item atau bertengkar karena hal sepele. Tampaknya, chemistry di antara rekan satu partynya telah terbangun dari waktu yang lama. Mungkin mereka telah bekerja sama dalam game online lain sebelum mereka pindah ke Royal Road.
Tetap saja, mereka harus berhati-hati saat berburu rubah berlevel 5.
Rakun dan kelinci adalah hewan buruan yang mudah, bisa ditangani oleh Surka sendiri. Tapi rubah sulit untuk ditangani seorang diri.
Weed dengan menyadari bahwa tim ini berfokus pada perburuan rubah. Dia hanya menyaksikan pertempuran yang sedang berlangsung untuk sementara waktu - sampai dia pikir dia sudah cukup melihatnya.
Matanya yang tajam menganalisis pola pergerakan rubah dan Surka.
"Ini lebih mudah dari yang aku kira."
Mereka mengalahkan musuh dengan perbandingan 4:1. Bagi Weed pergerakan rubah itu lambat dan mudah di tebak. Dia mengamatinya sampai mendapat keyakinan yang cukup. Kemudian, dia memegang iron sword dan memutuskan untuk ikut menyerang.
Surka tersenyum kecil pada Weed yang berjalan santai menghampirinya.
“Hati-hati, Weed.”
"Baik." Tanggapannya sangat singkat.
Monster dalam jangkauan mereka lagi-lagi adalah seekor rubah.
“Aku akan menarik perhatiannya dulu Weed, kamu serang belakangan. Saat rubah nya hampir mati. "
Surka meninju rubah, yang melompat ke arahnya secara refleks. Romuna, Pale dan Irene menghujaninya dengan serangan, baik fisik maupun magic.
Saat nyawa rubah merosot menjadi sepertiganya, Weed ikut menyerang.
Ia hanya punya sedikit pengalaman pertempuran sebelumnya di game virtual reality, namun ia telah terbiasa dengan ratusan latihan menggunakan pedang asli. Ditambah, ia telah memukuli orang-orangan sawah puluhan ribu kali.
Iron Sword itu membuat jejak putih berkilau sesaat di udara. Rubah terlihat kaku dari ujung jejak putih yang berbentuk setengah lingkaran. Weed telah mengatur waktu serangan dengan sangat tepat sehingga rubah bahkan tidak bisa lari dari serangannya.
Critical Hit!
Jendela pesan yang hanya terlihat oleh Weed muncul. Itu hanya muncul ketika damage yang dihasilkan berlipat ganda, hasil dari serangan yang efektif dan pengukuran yang tepat.
Slash!
Rubah terpotong menjadi dua, lalu menghilang dalam sekejap. Dia menjatuhkan dua item. Kulit dan daging rubah.
Kau bisa memasak daging menjadi steak dengan memanggangnya di atas api unggun, sedangkan kulit rubah termasuk salah satu bahan yang paling banyak digunakan untuk membuat pakaian. Proses produksinya juga membutuhkan skill khusus. Para pemula jarang mempelajari keterampilan seperti memasak dan menjahit. Umumnya item-item ini akan berakhir di toko bahan makanan terdekat.
“Langkah yang bagus! Kamu beruntung kali ini.” Suka menyeringai puas sambil mengumpulkan item.
Pale dan Romuna, yang tadinya bersiap menggunakan mantra paling kuat jika terjadi serangan balik, sangat senang dengan kesuksesan rekan setim baru mereka.
“Weed, kita akan membagi item yang kita dapatkan saat quest berburu selesai.”
"Baik."
“Kalau begitu, aku akan memancing rubah lain. Semuanya, bersiaplah.”
"Baik. Bawalah rubah yang memiliki drop item terbanyak. "
"Sial. Kau pikir hal itu bisa di atur sendiri,” gerutu Surka mengerucutkan bibir.
Dia meninju rubah yang lewat, dan menariknya lebih dekat.
"Fire ball!"
"Blessing! Healing Hand!”
Surka melakukan pertarungan yang sulit saat rubah itu berlari dengan lincah. Pale dan Romuna terus menyudutkan rubah.
Iron Sword milik Weed mulai bergerak ketika nyawa rubah tinggal 40%. Pedang meluncur keluar dari sarungnya dan menghantam rubah seperti kilat.
Swing!
Sayangnya rubah tidak menjatuhkan item apa pun kali ini, sekalipun item yang dijatuhkannya tidak terlalu bagus.
Untuk rubah ketiga, pedang beraksi setelah hidupnya tersisa tinggal 50%.
Critical hit tidak meledak lagi, jadi rubah selamat dari serangan pertama Weed. Namun, setelahnya ia melakukan serangan beruntun. Rubah akhirnya terbunuh dan menjatuhkan 1 item.
"Apa?"
__ADS_1
"Sepertinya ada yang aneh."
“Sepertinya kita berburu rubah jauh lebih cepat.”
"Saat Weed menyerang mereka, mereka selalu hampir mati."
Rekan satu partynya mendeteksi pola perburuan mereka saat memburu rubah lagi. Sejak Weed bergabung dengan party, kecepatan mereka dalam berburu rubah meningkat. Setelah dia mencabut pedang, rubah langsung dibantai tanpa ampun. Lalu lenyap menjadi kilatan abu-abu.
"Apa-apaan ini!" Mulut Pale menganga lebar, tak percaya dengan apa yang dilihatnya. Karena Weed membunuh rubah begitu cepat bahkan saat Surka sibuk menarik perhatian rubah baru dari jauh.
Bahkan walau Pale tidak menembakkan panah sekalipun, kecepatan berburu mereka hampir tidak melambat. Situasi yang tak dapat dicerna oleh mata dari anggota timnya terjadi tak lain karena status Weed.
Awalnya, Weed memiliki 10 poin strenght saat pengaktifan akunnya, ditambah 40 poin yang dia peroleh dari Training Hall. Dia telah membagi rata poin bonus stat yang diperoleh berkat kenaikan level menjadi rata dalam strenght dan agility. Sekarang, strenght dan agilitynya menjadi 55 poin, dan stamina 50 poin.
Selain itu, Weed menikmati 10 poin strenght dari iron sword yang ia pakai. Untuk mencapai tingkat kekuatan ini hanya dengan menaikkan level, kau harus mencapai level 11 dan menggunakan semua bonus stat ke dalam strenght.
Apalagi, agility, stamina, statistik, dan vitality Weed jauh melampaui levelnya saat ini. Weed di level 3, bagi orang lain paling tidak butuh 8 atau 9 level up lagi untuk setara dengannya. Saat ini ia bahkan bisa menyaingi level rata-rata 30 knight. Fakta yang lebih mengejutkan adalah Weed telah menaikkan skill Sword Mastery ke level 4 ketika memukuli orang-orangan sawah. Skillnya memberikan 40% damage lebih ke musuh.
Level skill Sword Mastery milik Weed sekarang adalah 4 + 98%. Ketika skillnya mencapai level 5, efek dari serangannya akan bertambah menjadi 50%. Dan juga, iron sword yang diberikan instruktur padanya merupakan pedang yang sangat bagus dibandingkan pedang lain yang memiliki level setara. Singkatnya, seekor rubah tak ada apa-apanya jika berhadapan dengan Weed.
"Pedang itu pasti equipment langka."
Pale merasa curiga. Jika tidak, mereka tak akan bisa menjelaskan kekuatan Weed yang tak normal. Mereka juga masih pemula, jadi tak memahami bagaimana Weed tahu waktu yang tepat untuk menyerang.
Dalam pertempuran di game online virtual reality, karena didasarkan pada gerakan nyata, seorang maniak seni bela diri jelas memiliki pengetahuan yang lebih baik daripada orang awam.
Weed menggunakan teknik pedang yang telah dia latih selama setahun penuh, walau hanya gerakan kaki yang terlihat sepele dan tidak terlihat oleh mata telanjang. Mereka hanya merasa bahwa iron swordnya luar biasa.
"Bagus!" Dengan bersemangat, Surka menarik rubah satu per satu.
Weed memegang iron sword itu dengan erat. Dia sangat bersemangat karena teknik pedang yang telah dia latih sepenuh hati terbukti produktif.
“Aku tidak boleh menyia-nyiakan satu tahun ini. Serang!" dia menyemangati diri sendiri.
Critical Hit!
Weed melakukan critical hit secara beruntun. Dia dapat memprediksi kemana arah gerak rubah lalu menyerang tepat pada waktunya. Latihan panjangnya selama setahun yang menguras keringat dan darah membuahkan hasil yang setimpal.
"Yatz!"
"Yatz!"
Teriakan semangat menggema dari mulutnya. Dia tenggelam dalam pertarungannya sendiri, mengamati para rubah lalu menyerang tanpa ampun.
Irene dan Romuna terkikik melihat pemandangan lucu dari tingkah Weed yang terlihat sangat serius. Tiba-tiba, cakar rubah mengenai dadanya.
"Healing hand!"
Tubuh Weed diselimuti cahaya putih. Kemudian dia menyadari bahwa, bahkan sebelum dia menerima blessing, darahnya hanya berkurang sedikit.
"Mungkinkah--"
Weed memanggil Surka, yang sedang berlari untuk menarik rubah lain,
“Surka.”
“Ada apa Weed?”
“Berapa HP mu?”
"150, kenapa?"
“Oh, tidak. Aku hanya penasaran."
Seekor rubah dapat memberikan damage maksimal sebesar 15. Tanpa pertahanan apapun, Weed selalu terkena damage maksimal, tapi poin life nya sendiri melebihi 700.
“Oke, Surka. Bagaimana kalau aku yang membuka serangan sekarang?”
“Apakah kamu yakin tidak apa-apa?”
"Ya. Jadi, kau teruslah menarik rubah. Romuna dan Irene tidak bisa pergi jauh karena stamina mereka cepat habis. Pale, bisakah kau memanah rubah di kejauhan untuk memancing mereka ke sini?" Dalam sekejap Weed telah berperan sebagai pemimpin party.
"Tentu saja."
"Kalau begitu, Pale, tolong bantu Surka memancing rubah ke sini."
Weed bergerak dengan liar. Ketika Surka lari kembali, ia terkena deamage dari rubah, dia segera di healing. Rubah yang dipancing oleh panah Pale langsung mati dalam sekejap oleh pedangnya. Weed mencapai level 4. Dia memutuskan untuk membagikan seluruh poin bonus stat dalam agility.
Semakin tinggi agilitynya, semakin mudah untuk menghindari serangan musuh dan semakin besar kemungkinan kau dapat melukai musuh. Ini juga tak lepas dari pengawasan matanya yang jeli dan pengukuran waktunya yang tepat.
Iron Sword yang dimiliki Weed sangat bagus untuk seorang pemula, memberikan kekuatan ekstra. Jadi dia dengan berani membagikan 5 poin dalam agility, alih-alih menambah strenght.
Perburuan terus berlanjut dengan cepat, Romuna dan Irene tidak bisa mempercayai keberuntungan mereka. Mereka belum pernah mengalami perburuan yang begitu fantastis.
“Surka, bawa lebih banyak rubah ke sini.”
"Siap! Serahkan saja padaku. Kau dapat berkonsentrasi penuh untuk memancingnya."
Surka sibuk menarik rubah ke wilayah mereka bersama Pale.
Jika Weed berburu sendiri, ia harus berkeliling untuk mencari monster dan sering istirahat untuk mengisi ulang staminanya ketika habis. Sekarang dia memiliki party yang menyediakan umpan dan seorang priest untuknya, sehingga mempercepat laju perburuan.
"Jadi ini rasanya berburu dengan tim." Dulu saat Weed memainkan Continent of Magic, dia selalu dikepung oleh monster sendirian.
Weed biasa memasuki dungeon yang dihuni oleh monster dan melawan mereka sesuka hatinya. Dia log in siang dan malam sampai dia kehabisan potion dan herb.
Inventory nya telah penuh dengan item yang sangat banyak hingga mengganggu gerakannya. Monster mengejutkannya dari segala arah. Weed juga pernah bertarung dalam kepungan monster. Dia telah membunuh sangat banyak monster dan sebaliknya ia juga telah terbunuh berkali-kali.
Weed merasa bahwa sebuah party sangatlah beda dari bagaimana ia bermain dulu. Party terasa lebih efektif, dan dia merasa lebih senang. Tak lama strategi mereka menjadi bumerang.
"Kyaaaaa!"
Surka melakukan kesalahan fatal. Ketika dia mencoba memancing rubah, dia secara tidak sengaja menarik perhatian serigala.
Surka berteriak kencang sambil berlari, "Lariii, semuanyaaaa lariiiii!"
Grrrraaaauuu!
Serigala mengejar Surka dengan cepat. Giginya yang tajam meneteskan air liur. Saat yang lain masih kaget, Surka terus diserang oleh serigala. Ia lebih cepat dari rubah, dan dengan mudah menghajar Surka. ia hanya bisa pasrah menunggu ajal.
“Aku akan menyelamatkannya. Kalian semua larilah duluan. Dengan kekuatan Holy Spirit, sembuhkan kesehatannya. Healing Hand!" Irene seorang priest menolak untuk meninggalkannya, dan ia terus merapal Healing Hand untuk mengisi daya Surka yang kian menipis.
"Sial!"
Setelah berpikir beberapa saat, Pale mulai memanahi serigala. Satu, dua, tiga tembakan. Begitu ia mengisi panah di busurnya, ia langsung menembakkannya. Multiple Shots, keahlian handalannya, terbang ke arah serigala, namun hanya menyebabkan damage kecil.
Sekarang serigala telah menandai seluruh party sebagai musuh, akan menyerang Irene dan Pale setelah menghabisi Surka.
Mata Weed berbinar cerah, dia melepas iron sword dari sarung lalu ikut menyerang.
"Bisakah aku membunuhnya? Kenapa tidak!"
Awalnya gigi dan cakar seregala terlihat mengancam. Weed yakin bahwa si serigala akan melompat dan menindih dirinya, bukan mencakar lalu menggigitnya dengan gila.
"Langkahi dulu mayatku sebelum yang lain!" Teriak Weed sambil menghampiri serigala.
Weed tidak berharap serigala akan paham apa yang dia maksud, tapi serigala seolah memiliki insting bahwa musuh paling mematikan baru saja muncul, matanya berbalik fokus pada Weed.
Grrrrrrrr!
Serigala melompat langsung menuju Weed. Weed berguling ke kanan dengan lincah, berlawanan dengan arah serang serigala lalu mengayunkan pedangnya. Tapi sial gigi serigala hampir menggorok tenggorokannya. Damage itu telah memangkas 80 poin HPnya.
“Weed, lari! Mana ku habis, aku tidak bisa membantumu dengan Healing Hand!” Teriak Irene. "Sial. Priest wanita macam apa yang tidak bisa mengatur mana sendiri?” Gumamnya pelan.
Karena Irene sepenuhnya ditugaskan untuk healing, dia seharusnya selalu memiliki cadangan mana yang cukup dalam keadaan darurat. Jika tidak, seseorang bisa saja mati, atau dalam skenario terburuknya seluruh party akan menghadapi kematian.
Weed pikir Irene pasti mempunyai suatu rencana saat dia berniat menyelamatkan Surka. Namun, hal yang dia miliki sebagai seorang priest dari lahir, hanyalah hatinya. Kondisi saat ini tidak memberi Weed waktu untuk menyalahkannya.
Serigala itu menggeram marah pada Weed.
Setelah beberapa kali menembakkan fire ball, Romuna tidak ada lagi kekuatan magic. Rupanya, dia kehabisan mana.
Hanya Pale yang tersisa dan memanah dari jauh. Serigala itu tampak penuh luka dan darah, namun apa yang dilakukan Pale sepertinya hanya menambah kemarahan serigala.
“Sini kau sialan!” Weed mengayunkan pedang dan menghadapi serigala itu.
Auuuuuuu!
Sambil melolong, serigala melompat ke arahnya. Pada waktu itu, pose tubuh dan gerakan Weed berubah drastis. Kakinya terpaku di tanah sementara pinggang dan pundaknya bergerak maju dan mundur. Seperti angin sepoi, Weed menghindari serangan serigala.
“Akan sangat bodoh jika aku mati di sini.”
Weed mampu memprediksi gerakan serigala selanjutnya, dan dia tak mau terluka. "Aku tahu aku bisa mengalahkannya."
Weed melonggarkan genggamannya pada pedang dengan sengaja.
Auuuuuuu!
Serigala itu mengerang kesakitan. Sekalipun Weed telah mengorbankan sedikit strength nya untuk agility yang lebih tinggi, damage yang diberikan oleh pedangnya sangatlah besar.
"Sial!"
Weed juga terluka setiap kali serigala mencakar dia. HP juga menurun hingga 200. Weed terlihat mandi dengan darahnya sendiri.
“Maaf, Weed! Aku tidak bisa menahannya. Dia terlalu cepat!” Agility rendah milik Pale membuat serangannya mustahil untuk mengenai serigala, yang bergerak secepat kilat.
“Aku juga akan bertarung.”
Surka menghampiri Weed. Dia sudah terluka ketika dikejar oleh serigala, HP bahkan lebih rendah dari setengahnya. Dengan kaki bergetar Weed berkata,"Sekarang dengarkan aku. Kalian semua lari ke tempat aman selagi aku bisa melindungi kalian."
“Tapi--”
__ADS_1
“Itu satu-satunya kesempatan sekarang, cepat!"
Pale dan Surka saling memandang, tetapi kaki mereka tidak menunjukkan tanda untuk pergi.
Weed bergumam lemah, “Dasar bodoh! Apa gunanya mengorbankan diri untuk orang asing?"
Pale berusaha menahan tangis.
Sebenarnya, Weed bisa saja menghindar dari kematian kalau ia ingin. Dia bisa lari dari serigala ke arah gerbang benteng dimana para penjaga akan melindunginya dari ancaman. Sebaliknya, Weed melangkah maju, mengangkat pedangnya, dan berhadapan melawan serigala demi rekan satu partynya, yang beberapa jam lalu belum dia kenal.
“Weed.” Mata Surka berkaca-kaca. Dia merasa bersalah sekaligus tersentuh oleh tindakan heroik Weed.
Weed menatap tajam serigala lalu berteriak lantang. “Jika kalian ingin tinggal di sini, sudahlah. Aku akan melakukan yang terbaik untuk melawan serigala itu. Tapi kalian harus segera pergi dari sini begitu aku terbunuh."
"Iya."
“Berjanjilah padaku, kalian harus pergi.”
"Baiklah."
Surka dan Pale pergi dan menonton pertaruangan dari jarak jauh. Weed bertarung dengan sengit melawan serigala, yang menjadi lawan tangguh.
HP Weed turun drastis jadi 150 dan tak lama kemudian turun menjadi 70. Ayunan pedangnya terus meleset dari serigala.
Serigala itu mengeluarkan banyak darah hingga terlihat satu pukulan bisa membunuhnya, tapi Weed berkali gagal melakukan serangan sejauh ini.
Irene dan Romuna menyadari bahwa HP Weed akhirnya mencapai momen terakhir, di bawah 10% .
Jantung Pale berdebar kencang, dan Surka pun terduduk. Mereka mencoba menarik perhatian serigala, tetapi dia tahu Weed-lah prioritasnya saat ini, sepenuhnya mengabaikan player lain.
Satu pukulan lagi dari serigala maka Weed akan mati.
Jika Weed terbunuh, dia akan kehilangan beberapa item dari inventorynya, ia juga akan turun 1-2 level. Dan aksesnya ditolak memasuki Royal Road selama 24 jam berikutnya, semua karena Weed memutuskan untuk mengorbankan nyawanya untuk menyelamatkan sekelompok orang asing.
Serigala itu mencibir, merasa bahwa ia lebih unggul dari musuh bebuyutannya.
Grrrrrrr!
Ketika serigala melompat untuk membunuh Weed dengan serangan terakhirnya, tebasan pedang Weed yang sebelumnya selalu meleset akhirnya merobek tulang serigala.
Di depan mata Weed, deretan jendela pesan muncul.
Level Up!
***Sword Matery : Level 5
Strenght : +50%
Agility : +15***%
New Skill : Knife Sclupting!
Begitu banyak EXP yang mengalir dari serigala sehingga levelnya meningkat menjadi 5. Weed menggelengkan kepalanya sambil bergumam kecil. “Seperti apa ya kira-kira skill Handicraft itu?"
"Stat Window!"
• ***Identification : Level 1,0%
Efek : Memungkinkan Anda mempelajari nilai asli dari item yang tidak teridentifikasi***.
Konsumsi mana: 30.
• ***Scluptor : Level 1,0%
Efek : Memungkinkan Anda untuk memahat berbagai jenis pahatan. Karya seni dengan nilai seni yang tinggi sangat berharga. Lebih mudah memenangkan hati seorang gadis***.
• ***Repair : Level 1,0%
Efek : Memungkinkan Anda untuk memperbaiki senjata dan perisai. Setelah meningkat di atas level 5, Anda dapat menempa senjata seperti baru***.
• ***Handicraft : Level 1,0%
Efek : Memiliki efek ekstra pada berbagai jenis skill handicraft dan sword mastery***.
• ***Sword Mastery : Level 5,0%
Efek : Meningkatkan kekuatan serangan dan tingkat pukulan melalui pedang***.
• ***Knife Sclupting : Level 1,0%
Efek : Memungkinkan Anda untuk mengukir yang tidak terlihat, yang tidak berwujud***.
Konsumsi mana : 50 per detik
Legenda mengatakan bahwa Grand Master Zahab secara tidak sengaja menemukan jalan kebenaran ketika dia mempraktikkan sclupture mastery, bahwa patung adalah seni yang bisa menciptakan suatu hal sesuai keinginan scluptor. Teknik rahasia Zahab diturunkan kepada penerusnya.
Weed memeriksa jendela skill dan menggelengkan kepalanya merasa tak percaya. "Aku perlu mencoba teknik Knife Sclupting ini untuk mencari tahu kebenarannya. Tapi menelan mana terlalu banyak. Pada levelku sekarang, aku tidak bisa menahannya lebih dari dua detik. Lagipula serigala itu telah mati."
"Ahhhhh!" Weed ambruk, wajahnya pucat pasi. Barulah Pale, Irene, Romuna dan Surka berlari ke arahnya.
Kata-kata pertama yang Weed ucapkan kepada rekan satu timnya adalah, "Surka, kamu baik-baik saja?"
“Weed.”
Irene dan Romuna hampir menangis. Surka yang tidak bisa menah tangisan nya segera beruraian air mata. Pale, satu-satunya pria selain Weed hanya bisa terdiam kelu, hatinya dipenuhi emosi.
Jika HP player turun di bawah 10%, tak akan lama untuk ajal menjemputnya.
Dalam satu menit, Irene memulihkan beberapa mana, langsung menggunakan Healing Hand untuk menyelamatkan Weed dari maut.
"Terima kasih, Irene."
"Dengan senang hati, Weed."
Pandangan diantara Weed dan Irene menghangat, sebuah tanda bahwa dia mulai menyayangi Weed, begitu juga dengan Romuna dan Surka.
Yang lebih mengejutkan lagi yaitu Pale menyapanya dengan rasa hormat dan kekaguman yang belum pernah ditunjukkan archer itu sebelumnya.
"Mari kita lanjutkan." kata Weed saat dia merasa lebih baik.
"Apakah kau benar, sudah merasa lebih baik?"
"Ya. Aku sudah sehat dan kuat." Weed menggulung lengan baju untuk memperlihatkan ototnya.
Surka tidak ingin melakukan kesalahan yang sama, bertekad untuk menang.
Party di bawah kepemimpinan Weed memecahkan rekor yaitu sebanyak 60 rubah dalam 4 jam berikutnya.
Romuna, Irene, Pale, dan Surka semuanya naik level, serta Weed, yang mencapai level 6. Weed membagikan semua poin bonus stat dalam agility.
"Wah. Bagus.” Romuna sangat semangat terlihat dari keringat yang memnmbanjiri wajahnya karena berlebihan menggunakan mana.
“Kita harus log out sekarang. Kita harus pergi ke academy besok pagi,"
“Kita harus berkumpul dan berburu lagi. Kau akan berada di sini besok, bukan?” Romuna bertanya pada Weed, yang mengangguk kecil.
“Bisakah aku menambahkan mu sebagai teman?” Tanya Surka.
Pale dan Irene menyeringai.
"Ya." Weed menambahkan mereka ke Daftar Temannya, dan mengucapkan selamat tinggal.
"Ini adalah bagian mu."
Weed menerima tiga perak saat mereka membagikan drop item hasil berburu. Setelah mereka pergi, dia terus memburu lebih banyak rubah.
Inilah alasan dia malas membentuk sebuah party. Ketika situasi menjadi seru, semua orang malah pergi.
Weed berburu monster sampai dia memiliki satu jam tersisa sebelum matahari terbit. Dia mengabaikan monster level rendah seperti rakun dan rubah, ia mulai meninggalkan perbatasan Benteng untuk memasuki kedalaman hutan di mana serigala berada.
Auuuuuuuu!
Sekelompok serigala muncul. Mereka perlahan mendekati Weed yang berjalan seorang diri, mata mereka berbinar senang.
Sistem Royal Road memungkinkan monster naik level dengan membunuh sesama atau membunuh player, jadi para serigala mendambakan player tunggal. Namun, saat serigala menatap mata Weed, mereka secara naluriah menggigil.
"Mata itu--"
"Manusia ini tidak menganggap kita sebagai musuhnya."
“Dia hanya menganggap kita EXP.”
“EXP yang bagus. Item yang bagus. Itu yang dia inginkan dari kita."
Serigala mengetahui niat Weed. Dan naluri petarungnya membuat mereka ketakutan.
Kaing!
Kaing!
Mereka dengan cepat berbalik untuk melarikan diri.
"Beraninya kalian pergi dari hadapanku!"
Iron Sword tidak mengenal belas kasihan dan Weed tidak mengenal kehormatan. Dia secara terbuka menikam punggung serigala yang melarikan diri, memojokkan mereka lalu menebas mereka tanpa ampun.
"Dasar bajingan, Majulah!"
Saat pedang itu menebas udara, satu serigala akan tewas. Cepat dan tanpa ampun. Sword Mastery Weed yang luar biasa meneror para serigala. Lalu kenapa ia harus bertarung dengan susah payah melawan seekor serigala ketika bersama anggota timnya?
Pada saat ajal yang tak bisa dielakkan datang, serangan Weed akhirnya mengenai serigala dan akhirnya menang. Di mata anggota timnya, Weed sangatlah beruntung. Rahasia ini hanya diketahui oleh Weed.
__ADS_1
Weed telah selesai membantai para serigala ketika matahari terbit. Ia meninggalkan medan perburuan dan pergi menuju mandor Konselor Rodriguez.