
Chung Il Hoon terkejut dengan perpisahan itu. "Hyung-nim tidak jadi merekrut orang itu? Jadi, Hyung-nim telah berubah pikiran tentang menjadikan dirinya penerus mu?"
"Tentu saja tidak, saat ini dia sedang sibuk dengan gamenya."
"Intinya, Hyung-nim akan membiarkannya pergi begitu saja?"
"Untuk saat ini, biarkan saja dia melakukan apa yang dia mau. Aku yakin kemampuannya akan matang seiring berjalannya waktu. Aku hanya perlu mengawasi sambil membimbingnya. Namun, aku kepikiran tentang ceritanya. Apa ya tadi namanya, Royal Lord?"
Ketika Ahn Hyundo masih kecil, kisah tentang dunia fantasi sudah merajalela. Dan sudah banyak cerita yang mengisahkan tentang orang-orang modern berpindah ke dimensi lain untuk mendirikan kerajaan fantasi, atau bertemu pahlawan yang melegenda.
Awal mula Ahn Hyundo terinspirasi untuk mempelajari ilmu pedang, karena kisah-kisah dunia fantasi yang menceritakan tentang para pahlawan. Dia bercita-cita bisa mengelilingi dunia sambil menyandang pedang layaknya seorang pahlawan pemberani.
"Katanya, di sana ada banyak monster, ada Wyvern dan ada naga juga! Menakjubkan sekali!"
"Na-naga?"
"Setidaknya itulah yang aku dengar darinya. Meskipun belum ada seorangpun yang mempu menangkap kedua monster ini."
"Ya?" Chung Il Hoon menjawabnya dengan sedikit gugup. Mulai menebak apa yang direncanakan oleh Ahn Hyundo.
Dada Ahn Hyundo mengembang, matanya berbinar penuh semangat, "Menjelajahi dunia fantasi, menjadi seorang pahlawan, mengalahkan para monster, membunuh naga, lalu kaisar, menjadi kaisar? Hmm."
Dunia fantasi adalah tempat terbaik untuk mengaplikasikan ilmu pedang. Pertanyaannya, seberapa berharga nilai sesungguhnya dari sebuah pedang. Mempelajari ilmu pedang tidak menjamin akan mendapat kekayaan dan kekuasaan.
"Untuk membasmi monster-monster jahat yang mengancam manusia, jadi Hoon." Ahn Hyundo menatap lamat lawan bicaranya tanpa melanjutkan ucapan seakan sedang mempertimbangkan banyak hal.
Membuat Chung Il Hoon mempertanyakannya, "Ada apa, Hyung-nim?"
"Jika ingin masuk ke sana membutuhkan kapsul game, kan?"
"Betul."
"Pesan sekarang!"
"Baik, Hyung-nim!"
Dengan sigap Chung Il Hon mengeluarkan telepon untuk memenuhi pesanan Ahn Hyundo. Dia berhasil memesan kapsul game yang pemasangannya biasanya memakan waktu dua sampai tiga hari, menjadi hanya beberapa jam di hari itu juga.
...***...
Kapsul game telah dipesan seperti yang Ahn Hyundo minta. Tapi, saat memasuki ruangan, kedua mata Ahn Hyundo terbelalak. Sudut matanya menajam saat bertatapan langsung dengan Chung Il Hoon, "Apa maksudnya, Hoon?"
Di hadapan mereka ada 5 kapsul game bukannya 1.
Chung Il Hoon mau tak mau harus berterus terang, "Merupakan kewajiban dari para murid untuk mengikuti kemanapun seorang guru pergi!"
"Jadi, maksudmu, kau dan yang lain akan mengikuti ku ke Royal Road, begitu?" Sekarang Ahn Hyundo telah tahu namanya dengan benar setelah dibenahi oleh Chung Il Hoon.
"Ya, Hyung-nim!" Para instruktur menjawabnya dengan tegas.
Han Hyundo berdecak pinggang menatap mereka satu persatu, "Lalu, bagaimana dengan dojang ini? Siapa yang akan mengajari para praktisi?"
"Kita kan tidak pergi ke luar negri. Hanya ke menjelajahi dunia fantasi. Dan, bukankah ada instruktur junior?"
"Kalian ini ingin membuatku jadi pemimpin yang tidak bertanggung jawab ya?"
"Ten-tu tidak, Hyung-nim."
Para instruktur menunduk dalam penuh penyesalan.
"Wajah kalian sangat lucu saat tegang." Lalu Ahn Hyundo terkikik kecil, "Berarti game ini sangat bagus sampai kalian berempat ingin bermain juga, huh?"
Suasana sedikit mencair.
"Tolong izinkan kami, Hyung-nim!" Para instruktur membungkuk 90° secara serempak.
"Baiklah-baiklah! Ehmm. Namaku adalah Geomchi. Kalau begitu, Hoon namamu adalah Geomchi2."
"Baiklah, Hyung-nim." Lirih Chung Il Hoon.
"Oke. Kau." Ahn Hyundo menunjuk seseorang di samping kiri Chung Il Hoon, "Geomchi3. Selanjutnya, kau Geomchi4."
"Baik, Hyung-nim!"
Ini sudah menjadi kebiasaan di Republik Korea, bahwa nama panggilan para murid di dojang menggunakan urutan numerik.
"Jadi aku dipanggil Geomchi4." Gumam seorang yang baru saja di beri nama oleh Ahn Hyundo.
"Benar, kau adalah Geomchi4."
"Keukeuek!" Para instruktur berusaha kuat untuk menyembunyikan ledakan tawa. Bagaimanapun, mereka tidak bisa menghindari nasib ini.
"Lalu selanjutnya, nama mu Geomchi5."
Sekali lagi, secara serentak mereka semua membungkuk hormat pada sang Master. Berkebalikan dengan keringat dingin yang mulai membasahi punggung masing-masing instruktur.
'Nama yang sangat kekanak-kanakan! Huhu!'
'*Kemanapun aku pergi, aku akan sangat malu untuk memperkenalkan diri sendiri.'
'Nasibkuuuu*!!!'
'Sungguh malang!'
Ahn Hyundo memberi informasi singkat pada keempat muridnya jika dia akan memulai permainan di Benteng Serabourg dari Kerajaan Rosenheim, dia sudah berniat untuk melalui ketekunan yang sama dengan muridnya yang telah memulai permainan lebih dulu, Weed.
Setelah itu, barulah Ahn Hyundo memimpin perjalanan mengarungi Virtual Reality. Dia memasuki kapsul game duluan lalu membuat akun dengan nama Geomchi.
Ding!
Saat berhasil mengakses Royal Road, Geomchi sedikit tercengang dengan efek reality yang terlihat senyata di dunia nyata, "Ini sangat menakjubkan!"
Geomchi terdiam di tempat selama beberapa saat untuk membiasakan diri dengan situasi, "Aku belum pernah merasakan perasaan seperti ini sebelumnya!" Dia bisa merasakan semua aktifitas yang terjadi dalam game. Dia bisa menyaksikan secara langsung kegiatan orang-orang yang memenuhi kota, dia juga bisa mendengar obrolan dan suara orang tertawa di kota yang mirip dengan abad pertengahan.
Segala macam hal bisa disaksikan disini.
"Party kami membutuhkan 4 orang lagi dengan level yang sama!"
"Menjual kapak baja dengan harga murah!"
"Kami akan mengunjungi desa-desa Selatan untuk berdagang, mencari para Merchant lain yang ingin bergabung. Slot tanpa batas!"
Sniff!
Perut Geomchi mendadak berdemo saat merasakan aroma masakan melewati hidungnya. Secara otomatis, dia memutar kepala ke asal aroma, di sana ada seorang chef yang sedang membuat makanan lezat. Dia memiliki lesung pipi sedalam lautan, "Menjual makanan lezat! Diproduksi dengan skill cooking tahap Beginner level 7. Inilah Mung Beans yang lezat!!!"
Geomchi menelan ludah tak kuasa menahan keinginan untuk makan, dia ingin membeli makanan itu tapi tidak memiliki uang.
Tak lama kemudian, keempat muridnya akhirnya log in.
__ADS_1
Geomchi2, Geomchi3, Geomchi4, Geomchi5 datang secara bersamaan.
"Ternyata Hyung-nim di sini."
"Iya Hoon, ah maksudku Geomchi2, akhirnya kalian tiba."
"Ya, Hyung-nim." Geomchi2 membungkuk sejenak sebelum memperhatikan sekitar lagi.
"Wuawww! Pedang itu--" Geomchi4 berdecak kagum menunjuk seorang pejalan kaki yang menyandang pedang panjang yang terlihat menakjubkan. Sudah jelas dia murid seorang Master pedang, sekali lihat langsung tahu kualitas suatu pedang.
"Katana!" Lanjut Geomchi dengan senyuman lembut, tentu saja dia orang yang sangat menghargai sebuah pedang. Selama ini dia sangat menikmati momen saat mengajari muridnya cara menggunakan pedang. Tapi, melihat mereka bergabung dengannya di Royal Road seperti ini, menimbulkan kesan yang sedikit berbeda. Rasanya dia lebih bersemangat.
"Oh!" Geomchi4 kembali terkejut saat memeriksa saku, "Hyung-nim!"
Geomchi menatapnya dengan bingung, "Ada apa?!"
"Aku memiliki 10 potong roti dan sebuah botol di saku ku!"
Geomchi tertawa bangga, "Ya, luar biasa, bukan? Kalau begitu ayo kita coba bagaimana cita rasa roti di dunia ini."
Geomchi2, Geomchi3, dan Geomchi5 saling berpandangan sebelum ikut mengeluarkan roti dari balik saku untuk dicicipi.
"Cuih! Cuih!" Geomchi5 menyesal telah menggigit roti sehambar kertas dan sekeras batu itu.
"Apa benar ini roti?" Geomchi2 memperhatikan setiap inchi makanan di tangannya.
"Ini bahkan lebih keras dari batu! Apa mereka membuatnya sambil berburu!" Geomchi3 menggerutu sambil terus mengunyah roti yang mengisi mulut.
"Sebelumnya, aku telah melakukan sedikit penelitian di internet. Di dunia ini tidak hanya ada roti ini, tapi ada banyak jenis makanan yang berbeda. Ini adalah makanan tingkat dasar wajar tidak layak di makan. Tapi, makanan tingkat tinggi juga ada, dan rasanya sangat lezat. Saat menyentuh mulut, rasanya akan meleleh, sampai kau tidak mau menelannya."
Penuturan Geomchi4 membuat mereka berekspektasi tinggi.
"Seperti yang sudah ku duga, nama Geomchi4 sangat cocok dengan kepintaran mu." Ahn Hyundo mengangguk puas beberapa kali.
"Hehe, banyak yang bilang begitu. Tapi, aku sedikit malu mendengarnya dari Hyung-nim." Geomchi4 tertawa malu-malu, sekaligus merasa senang mendapat pujian secara langsung dari gurunya. Saat di dojang pun dia disukai oleh semua praktisi berkat kejujuran, kecerdasan dan ketulusannya saat membantu sesama.
"Itu kan memang fakta!" Geomchi5 mengacungkan kedua jempol padanya.
Mereka berlima tersenyum bersama. Suasana hati para Geomchi yang login ke Royal Road sangat senang, jika dilihat dari senyuman mereka.
"Jadi, saat memakan roti ini, kita hanya harus terus mengunyahnya. Ya, ku akui roti ini memang sangat keras. Tapi bukankah rasanya seperti memakan biskuit?" Geomchi2 terus mengunyah rotinya untuk mencari cita rasa dasar yang terkandung di dalam roti.
"Ah! Melihat dari cita rasanya, sepertinya roti ini terbuat dari gandum."
"Roti gandum?"
"Tak buruk juga, bagaimanapun ini hanyalah permulaan."
"Kalau begitu ayo kita mulai permainan! Pertama, kita akan memburu hewan apa?"
"Apa maksudmu? Kita harus pergi ke Training Hall untuk meningkatkan skill."
"Betul. Lee Hyun, bukan, Weed mengatakan jika player baru tidak akan bisa keluar Benteng selama 4 minggu."
"Whatttt?!!! 4 minggu?!!!!"
"Ya, 4 minggu. Sekarang ayo kita lihat seberapa bagus Training Hall ini!" Geomchi menuntun muridnya untuk mengunjungi tempat yang sudah menjadi pelatihan virtual bagi Lee Hyun.
Karena tidak mengetahui lokasi tepatnya Training Hall, para Geomchi menghabiskan banyak waktu untuk bertanya pada orang-orang, baru bisa menemukan tempat ini yang ternyata hanya berjarak beberapa meter dari tempat log in mereka tadi.
Para Geomchi berhenti di depan gerbang berwarna putih yang bertulisan besar, Training Hall.
Pandangan mereka tidak bisa berhenti mengagumi keindahan bangunan dari luar gerbang sampai ke dalam gerbang. Di dalamnya, ada beberapa orang yang tengah mengasah skill pada orang-orangan sawah.
"Oh! Jadi begitu cara mereka menggunakannya."
"Jadi, kita juga harus melakukan hal yang sama, bukan?"
"Betul. Sepertinya, tempat ini semacam tempat latihan secara sistematis guna meningkatkan stamina."
"Sayang sekali, metode pelatihan itu sudah sangat ketinggalan jaman."
"Geomchi5, ini jelas bukan tentang fasilitas, kan?! Kalian tahu betul, hal ini tidaklah penting bagi seorang lelaki sejati yang menekuni jalan pedang." Geomchi menegurnya, agar tidak keluar jalur.
"Ya, maafkan aku Hyung-nim."
Geomchi mengangguk singkat, setelah mengambil pedang kayu yang tersedia untuk para player baru, dia langsung memukuli orang-orangan sawah diikuti oleh para muridnya. Mereka semua juga sudah mendengar kisah tentang Weed tentang ketekunannya saat memperkuat skill.
"Yaattz!"
Boom!
Para Geomchi dengan semangat memukuli orang-orangan sawah. Wajah mereka terlihat sangat ceria, sedikit bernostalgia saat-saat awal menjadi peserta pelatihan di dojang. Mereka terus-menerus memukul orang-orangan sawah dengan metode latihan sepuluh tahun lalu. Sebuah metode yang sudah lama ditinggalkan oleh masyarakat modern.
"Argh! Berhitung lebih keras lagi!"
"Baik! Satu juta dua puluh satu! Satu juta dua puluh dua!"
Mereka berteriak serempak menghitung perolehan pukulan. Hal ini sudah menjadi kebiasaan mereka ketika berlatih di dojang, memberi perasaan nyaman tersendiri. Meskipun para player lain akan menyebut tindakan ini gila, mereka tidak akan beristirahat.
Seorang praktisi pedang harus memiliki tekad kuat saat memperkuat skill pedang. Barulah pelatihan ini akan berguna untuk memburu para monster.
'Aku harus membunuh para monster di Royal Road dengan pedangku!' Motto inilah yang ditanam di kepala para Geomchi oleh Ahn Hyundo untuk membakar semangat mereka.
"Ohhooo! Geomchi4 kelihatannya kau cukup mahir sekarang."
"Hehehe, terimakasih Hyung-nim, aku akan terus bekerja keras."
"Ngomong-ngomong, aku mulai merasa lapar."
"Hyung-nim, kita punya dua potong roti yang tersisa!"
"Benar kah? Bisakah aku memakannya?"
"Iya, Hyung-nim!"
Geomchi memakan roti yang tersisa. Kini, dua potong roti terakhir telah habis. "Ahhh! Akhirnya aku bisa merasa kenyang berkat roti itu!"
"Saat kita merasa lapar, maka tingkat HP akan turun secara otomatis!"
"Kau benar, Geomchi3."
"Tetapi apa yang akan kita lakukan nanti saat HP terus menurun. Sedangkan sekarang, kita tidak memiliki roti yang tersisa."
"..."
Setelah mendengar penuturan Geomchi3, keheningan melanda kelima orang itu. Suasana menjadi tegang.
"Ini adalah situasi yang serius. Apa yang harus kita lakukan?"
__ADS_1
"Sepertinya aku tahu kita harus melakukan apa."
"Geomchi2, cepat katakan apa ide mu!"
"Apa yang harus kita lakukan? Sederhana saja, saat kita berburu para monster, kita akan mendapatkan drop item lalu menghasilkan uang setelah menjualnya. Dengan uang ini kita bisa membeli makanan apapun yang mampu dibeli. Termasuk roti gandum keras yang sering kita makan selama ini."
"Oh, benar juga kita bisa menghasilkan uang dengan berburu. Ide bagus, ide bagus!"
Para Geomchi tersenyum lega, tetapi Geomchi4 menggelengkan kepala dengan tegas, "Kalian lupa? Kita kan player baru, tidak bisa meninggalkan benteng selama 4 minggu."
"Ahhh."
"Sepertinya tak akan lama lagi kita akan mati kelaparan."
"..."
Para Geomchi menundukkan kepala dalam-dalam, merasa tak memiliki jawaban yang tepat untuk menghadapi situasi pelik yang akan menimpa mereka. Biasanya, seseorang yang sudah berpengalaman mengenai game akan langsung mencari sebuah quest. Namun, mereka bahkan tidak pernah membayangkan bahwa sebuah quest akan menghasilkan uang. Satu-satunya solusi yang mereka ketahui yaitu berburu, sayangnya mereka belum bisa keluar benteng.
Geomchi memegang pedang kayunya dengan erat, lalu berseru, "Kita harus melanjutkan berlatih pedang. Untuk saat ini, tugas kita hanya harus konsentrasi mengayunkan pedang kayu!"
"Baik Hyung-nim. Kami hanya akan fokus pada pedang!"
"Oh, Hyung-nim sungguh mengagumkan!"
Geomchi2, Geomchi3, Geomchi4, Geomchi5 bertepuk tangan untuk memuji Geomchi.
Setelah itu, semangat mereka berlima kembali membara. Mereka melanjutkan kegiatan sebelumnya, memukuli orang-orangan sawah. Meskipun perut merasa lapar, tapi tekad yang kuat akan memberi mereka banyak kekuatan.
"Hohoho. Rasanya seperti dejavu." Instruktur Training Hallo tentu saja sangat bersemangat saat menyaksikan kegigihan mereka.
"Hei, jika tak keberatan kalian bisa makan bersamaku." Dengan ramah, Instruktur mengajak mereka berlima untuk makan siang bersama.
Namun, sebagai pemimpin, Geomchi dengan tegas menolak ajakan tersebut, "Tidak! Kami memiliki harga diri yang harus di junjung tinggi. Kami tidak membutuhkan belas kasihan dari seorang NPC. Bukankah itu benar, semuanya?"
"Hyung-nim benar! Kita hidup didedikasikan hanya untuk berlatih pedang! Bukan mengemis simpati!"
Mereka kembali mengayunkan pedang dengan semangat membara, "Yatz!"
Beberapa menit kemudian!
Kriuk! Kriuk! Kriuk!
"Bukankah kepala orang-orangan sawah ini seperti roti gandum? Sepertinya cukup lezat untuk disantap."
"Lihatlah jerami-jerami yang menjuntai ini seperti ramyun mentah."
"Benar juga."
Para Geomchi mulai terdengar konyol. HP mereka dipaksa turun drastis karena tidak memiliki roti gandum lagi.
HP Anda kurang dari 3%!
Stat Window beberapa kali mengulang peringatan yang sama. Tapi, terpaksa mereka hiraukan karena tidak ada yang bisa mereka lakukan. Bahkan pergerakan mereka untuk memukuli orang-orangan sawah semakin melemah berkat tidak memiliki stamina yang tersisa.
Tak lama kemudian!
Peringatan: Anda telah mati kelaparan!
Anda tidak bisa log in selama 24 jam!
Dengan mengenaskan para Geomchi mati kelaparan seperti pengemis yang kelaparan. Secara tidak langsung, mereka yang punya harga diri tinggi telah mati dengan cara memalukan di hadapan banyak orang.
Karena kematian ini sangat sederhana, jadi mereka tidak kehilangan level maupun drop item. Sebenarnya, sangat tidak mungkin bisa mati kelaparan di awal permainan padahal cara menghasilkan makanan cukup banyak. Kejadian yang menimpa kelima praktisi pedang ini sangat langka.
...***...
Ahn Hyundo mengumpulkan semua muridnya yang ikut ke Virtual Reality untuk berkumpul bersama, mengadakan rapat dadakan.
"Royal Road adalah bentuk dari peradaban yang baru, tapi kita terlalu acuh tak acuh pada pengaruhnya."
"Ya, itu benar."
"Jika lebih banyak praktisi yang menghabiskan lebih banyak waktu latihan di tempat ini, dimana mereka bisa melawan berbagai monster. Maka, motivasi mereka untuk menjadi kuat akan meningkat lebih tinggi."
"Aku sangat setuju dengan pendapat mu. Melawan monster dan membuktikan kemampuan mereka akan mengeluarkan semangat juang yang selama ini terpendam."
"Pertarungan secara langsung akan menjadi kesempatan yang bagus bagi mereka untuk menyadari kekuatan sejati dari ilmu pedang!"
"Kita harus memerintahkan para murid untuk mengikuti jejak kita ke Royal Road. Dengan ini, mereka akan mudah mendapatkan pencerahan tentang ilmu pedang."
"Menjelajahi peradaban baru dengan mengandalkan ilmu pedang. Ini ide yang sangat bagus, Hyung-nim!"
Tiba-tiba, satu-satunya perempuan yang mengisi dojang, dia adalah keponakan pertama Ahn Hyundo mengagetkan mereka berlima. "Ohhh! Kalian merencanakan hal besar di belakangku!" Dia langsung mengangkat tangan saat Chung Il Hoon akan menyangkal. Dia lalu berdecak pinggang sambil menyandar ke sisi meja, "Tapi, harus ku akui itu bukan ide buruk. Yang terpenting bagi para praktis pedang adalah tekad! Jika musuh, tidak, jika yang kalian sebut monster itu bisa membantu para murid berkembang, maka tidak ada salahnya untuk dicoba."
"Betul! Itulah inti rapat kali ini."
"Rencananya kami akan menyuruh semua praktisi resmi untuk ikut bergabung ke Royal Road. Jadi, berapa jumlah total praktisi di dojang?"
"500 orang."
"Jika kita memesan 500 kapsul game. Kita akan diberi diskon, kan?"
"Mungkin, nanti aku akan diskusikan dengan pihak yang terkait. Tapi, kemungkinan bisa dipasangnya besok pagi, karena sekarang sudah tengah malam perusahaan itu pasti sudah tutup." Chung Il Hoon membalasnya dengan percaya diri.
Dojang Ahn Hyundo memiliki reputasi terbaik di seluruh Republik Korea. Dengan ini, dojang menerima tunjangan dana dari Federasi Kendo Dunia dan Asosiasi Atlet. Selain itu, mereka juga menerima tunjangan pendaftaran dari perawat murid, ditambah beberapa orang yang menginap di asrama khusus dojang. Jadi, para instruktur tidak khawatir tentang pembelian kapsul game yang lumayan mahal karena dana dojang akan mencukupinya.
Instruktur yang memiliki nama Avatar game Geomchi4 tersenyum kecil, "Artinya, kita akan mendapatkan 5 ribu roti gandum!"
"Ahhh!"
"Kukuku!"
"Hehehe!"
...•••...
Beberapa hari ini aku merevisi bab 1-50 jadi sengaja gak update.
Boleh dibaca ulang, untuk memverifikasi apa aja yang berubah.
Ini informasi untuk orang yang males baca ulang.
Tim \= Party
Lee Hayan \= Lee Hye Yoon (Dari awal aku ngasih nama adek Lee Hyun itu Lee Hye Yoon tapi lupa)
Isi pikiran para karakter akan bertanda petik satu (')
Mungkin, kedepannya, per-bab hanya akan 2.000-2500 kata, biar updatenya banyak. (Selama ini 3.000-4000 kata)
__ADS_1