
Situasi menjadi tenang saat menyaksikan Ahn Hyundo yang berjalan ke tengah-tengah lapangan.
Para praktisi bersuka cita, "Asik! Kita akan melihat teknik pedang milik Master secara langsung."
"Kesempatan kecil seperti ini hanya akan datang sekali seumur hidup, bukan?"
"Betul sekali. Beruntungnya yang hadir hari ini."
Para praktisi menahan nafas saat Ahn Hyundo berhadapan langsung dengan Weed. Walau tidak bisa dipungkiri, mereka mengharapkan bisa menonton pertunjukan pemimpin dojang dengan cara yang lebih mulia, bukan melawan seseorang yang sudah kelelahan.
Setiap instruktur juga bingung dengan tindakan yang diambil Ahn Hyundo, 'Aku tidak menyangka Hyung-nim akan turun tangan, walau dia sangat tertarik pada anak itu.'
'Jika hal ini terus dibiarkan, takutnya akan banyak orang lain yang ingin menantangnya.'
Ahn Hyundo adalah kebanggan utama Republik Korea Selatan dalam dunia pedang. Tapi, sangat, sangat jarang melihatnya melakukan duel di depan publik seperti ini selain di pertandingan resmi. Bahkan bisa dikatakan, sebagian dari mereka belum pernah melihat teknik pedangnya secara langsung.
Meskipun Lee Hyun telah mengalahkan 9 orang senior di dojang ini, itu karena kekuatan diantara mereka memiliki celah yang besar. Begitupun kekuatan diantara Ahn Hyundo dengan Lee Hyun, celanya terlampau jauh. Tidak peduli seberapa banyak senior beladiri yang dikalahkan oleh Lee Hyun, dia masih belum mampu untuk mengalahkan seorang pro yang asli.
Semua orang yang mendalami dunia beladiri tahu dengan jelas seberapa kuat seorang Ahn Hyundo.
Mengenai, Lee Hyun, para instruktur tidak gelisah sedikitpun padanya. Mereka sangat mengagumi teknik pedangnya yang berhasil meringkuk lawan, stamina nya yang mengagumkan, dan semangatnya yang membara.
Tapi keresahan Chung Il Hoon tak kunjung membaik, 'Perasaan mengganjal ini sangat tak nyaman.'
Biasanya Chung Il Hoon akan sangat semangat saat menyaksikan Ahn Hyundo yang akan bertarung. 'Ini tak biasa. Ah, dia tidak akan serius, kan?'
Ahn Hyundo telah mencapai puncak tertinggi dalam dunia ilmu pedang. Hanya mereka yang ada dibawahnya yang bisa melihat hal itu.
Chung Il Hoon menggeleng lalu menganggukkan kepala beberapa kali. Ahn Hyundo akan bertarung dengannya memakai pedang setidaknya seminggu sekali. Saat pertarungan berlangsung, dia akan merasakan perasaan terpojok, matanya seakan buta tidak bisa melihat satupun cela. Membuat dirinya merasa putus asa sekaligus kagum. Dia bahkan tidak bisa bermimpi untuk mencapai tingkat dimana dia bisa menyentuh ujung kerahnya.
Jadi, dalam pertarungan kali ini, sangat tidak mungkin Ahn Hyundo bisa kalah. Chung Il Hoon menatap kedua orang di lapangan itu dengan tataan sedingin Kutub Utara, lalu dia menghela nafas panjang, 'Aku tidak bisa melakukan apapun untuk menghentikan mereka. Hyung-nim akan segera melawan murid favorite nya. Semoga beruntung, Lee Hyun.'
Chung Il Hoon bisa melihat kelemahan utama Lee Hyun. 'Stamina Lee Hyun sudah mencapai batasnya. Tekadnya lah yang membuatnya mampu bertahan sampai sejauh ini, tapi tak lama lagi tekad itu akan runtuh.'
Tak peduli siapapun praktisi bela diri yang akan Lee Hyun lawan berikutnya, tubuhnya tidak akan bertahan lebih lama lagi. Dia telah mencapai kondisi yang ekstrem setelah melawan 9 orang berturut-turut.
Chung Il Hoon yakin bahwa stamina Lee Hyun yang luar biasa itu akan segera berakhir. 'Pada akhirnya Hyung-nim tidak perlu berbuat banyak untuk menaklukkan seseorang yang sudah sekarat.'
Namun, perkiraan Chung Il Hoon sepenuhnya salah. Kepalanya kembali berdenyut saat Ahn Hyundo menawarkan sesuatu yang berbahaya pada Lee Hyun.
Ahn Hyundo menyilangkan kaki lalu bertumpu pada pedang kayu ditangan kanannya, "Apa kau sangat suka menggunakan pedang kayu? Aku juga memiliki pedang kayu ditangan ku. Tapi, apa kau tidak ingin merasakan bertarung dengan pedang asli?"
"Hyung-nim! Itu tak masuk akal!" Chung Il Hoon berteriak. Sebelumnya dia tidak pernah menghentikan keputusan Ahn Hyundo, tapi kali ini dia tidak bisa diam saja. "Walau bagaimanapun dia hanyalah seorang pemula! Dan pendekar pedang pemula tidak tahu bagaimana cara menggunakan pedang dengan benar dalam sebuah pertandingan!"
"Argh! Hoon! Aku tak bertanya padamu!" Ahn Hyundo menatap Chung Il Hoon berapi-api, "Aku berbicara pada lawan ku! Jangan mengganggu pertandingan!" Suaranya terdengar tegas tak menerima bantahan.
Sejujurnya, tidak ada seorangpun yang bisa menghentikan Ahn Hyundo. Termasuk Chung Il Hoon sekalipun, jika dia bersikeras menantangnya, maka kemungkinan besar dia akan menjadi subjek pelampiasan kemarahan Ahn Hyundo.
Tidak ada yang berani mengambil resiko menakutkan seperti ini.
Para instruktur terdiam, beralih menatap Lee Hyun agar dia menolak usulan tersebut. Tatapan mereka seakan mengungkapkan hal yang sama, 'Akan lebih jika kau berhenti sekarang daripada babak belur.'
Berkompetisi dengan pedang asli.
Secara harfiah, siapapun itu dan tidak peduli akan seberapa terampil dirinya, saat mendengar kata pertarungan dengan pedang asli pasti akan merasa ketakutan.
Namun, Lee Hyun berdiri tegak tanpa goyah, "Baiklah."
Semua orang mengeluhkan pilihannya ini secara serentak.
Berbeda dengan Ahn Hyundo yang langsung memujinya, "Bagus sekali! Kau pantang menyerah! Ini adalah bukti sebagai pria sejati! Chaenyol, pergi ke ruangan ku, dan bawakan dua pedang yang menempel di dinding. Kau tahu kan dimana pedang itu berada?"
"Hyung-nim!" Chaenyol menatap Chung Il Hoon saat Ahn Hyundo menatapnya dengan tegas. Setelah mendapat anggukan dari Chung Il Hoon barulah pemuda itu berlari untuk mengambil pedang.
'Aku tak menyangka masalahnya akan semakin memburuk. Pedang-pedang itu sangat tajam. Ku harap tidak ada hal buruk yang terjadi.' Chung Il Hoon menguatkan hatinya walau sangat gelisah akan hasil akhirnya entah seberapa mengerikan.
Setelah beberapa saat akhirnya Lee Hyun bisa memegang pedang asli. Dia merasakan pikirannya menjadi jernih saat telunjuknya menguji ketajaman pedang, 'Sebuah pedang.'
Tiba-tiba Lee Hyun baru sadar telah terjebak di dojo, 'Huh? Kenapa aku ada di sini?'
Lee Hyun memikirkan bahwa dia habis mengunjungi nenek di rumah sakit. Lalu pergi ke toko buku bekas untuk membeli perlengkapan ujian GED. Kemudian, kenangan lama menyeruak memasuki nalurinya saat melewati dojo. Awalnya, kedatangan dia ke sini hanya ingin menjernihkan pikiran dari rasa frustasi bukan adu pedang asli seperti ini.
Karena bagi Lee Hyun, saat mengeluarkan keringat hasil berlatih pedang sangatlah menyegarkan.
Hingga akhirnya Lee Hyun ditantang untuk bertarung menggunakan pedang kayu vs pedang kayu. Tidak ada alasan baginya untuk menolak sebuah tantangan yang adil. Lawan pertamanya sedikit lemah. Saat merasakan cela lawan Lee Hyun langsung mengalahkan lawan dengan telak. Tidak ada alasan baginya untuk memperpanjang durasi pertarungan.
Seorang petarung sejati harus menggunakan potensi kekuatan otot dengan baik. Hal ini muncul saat memanfaatkan pernafasan dan fleksibilitas inti tubuh.
Setelah lawan pertamanya mundur, muncul penantang lain yang lebih kuat. Karena Lee Hyun telah banyak pengalaman dalam melawan seorang ahli pedang. Saat pertarungan di mulai, secara naluri dia langsung mencari titik lemah lawan. Tak lama dia bisa mengetahui bahwa ilmu pedang lawan berorientasi pada pertahanan. Namun, teknik yang digunakannya tidak sempurna. Saat itu juga dia menemukan kecacatan teknik lawan. Lee Hyun menggunakan kesempatan yang ada untuk menyerang titik lemahnya.
Akhirnya kemenangan kedua kembali berpihak pada Lee Hyun, 'Tidak salah lagi, keahlian pedangku meningkat berkat Royal Road. Karena aku telah bertarung mati-matian puluhan ribu kali.'
Kebanyak orang yang bermain dalam Royal Road hanya mengandalkan skill dan mekanisme game. Tapi, tidak dengan Lee Hyun, dia dengan sungguh-sungguh mempelajari ilmu pedang di dunia nyata lalu dipraktikkan dalam game. Sesungguhnya, orang seunik dirinya sangat jarang di temukan. Jika tidak, semua master pedang di virtual reality akan menjadi master pedang.
__ADS_1
Tak lama setelah Lee Hyun mengalahkan praktisi kedua, kembali muncul penantang lain.
Lee Hyun sangat marah dengan kenyataan ini, 'Kenapa?! Kalian tidak rela aku kalahkan? Kenapa mereka sangat bertekad untuk mengalahkan ku?!'
Lee Hyun tidak sadar jika matanya yang semakin tajam terlihat seperti seekor serigala kelaparan yang berhasil mengintimidasi orang lain.
Tajam dan tangguh seperti binatang buas penguasa belantara!
Tapi, kenyataan baru saja menghempaskan kesadarannya. Dia ternyata sudah menjadi pusat perhatian khalayak.
Sekarang bahkan dirinya sedang memegang sebilah pedang asli. 'Pedang asli ya, keren hehehe.'
Lee Hyun menggelengkan kepala beberapa kali untuk menepis rasa gembira yang menjalar di hatinya. Tapi tubuhnya tidak bisa diam. Rasanya setiap sel dalam tubuhnya bergejolak hebat. Sekarang dia merasa seolah-olah pandangannya merasa 5 kali lebih jelas.
Dari tadi pagi, tubuh Lee Hyun sangat sensitif dengan segala sesuatu disekitarnya. Dia sedang stres dan tidak bisa menghilangkan rasa gelisah dihatinya.
Lee Hyun mengatur nafasnya sedemikian rupa, berusaha agar tetap tenang.
Ahn Hyundo memahami situasi hingga tidak segera menyerang. Secara tidak langsung, dia mengetahui semangat yang menggila di tubuh Lee Hyun saat memegang pedang asli tersebut.
Berkat itu, Lee Hyun bisa beristirahat sejenak untuk menstabilkan otot dan pembuluh darah.
Jemarinya yang bersentuhan langsung dengan bila pedang terasa dingin. Tapi panas yang membara dihatinya terus meningkat. 'Jadi, seperti ini rasanya memegang pedang asli.'
Tapi, Lee Hyun tidak tahu kenapa dia ada di sini dan dalam situasi ini. Tadinya, dia datang hanya untuk mencari keringat dan melepas penat. Tidak mempercayai apa yang telah terjadi. 'Apa aku menyerah saja?'
'Tapi-' Sikap pengecut seperti itu tak layak dilakukan. 'Ah, entahlah. Lagi pula tidak ada gunanya bertarung tanpa ada yang diperjuangkan. Aku bisa saja terluka saat berhadapan dengan pedang setajam ini. Hal ini tidak ada untungnya sama sekali.'
Lee Hyun akhirnya meletakkan kembali pedangnya, dan meminta maaf dengan hormat untuk mengakui kekalahan.
Tapi, Ahn Hyundo tampak tidak berniat melepaskannya, "Jangan bilang, kau takut? Ini aneh, padahal tadinya ku pikir kau sangat berani. Tapi ternyata tidak ada apa-apanya. Ya sudahlah, hukum rimba juga mengatakan, di alam liar saat bertemu dengan monster yang lebih kuat seekor binatang buas sekalipun akan memutar ekor dan melarikan diri sekuat tenaga."
Emosi Lee Hyun kembali memuncak, dan keinginannya untuk bertarung muncul kembali. Dalam sekejap dia mengangkat pedang tajam tersebut.
Chaeaeaeng!
Pernah itu mengeluarkan suara metalik yang tajam saat membelah udara.
Karena telah terprovokasi, Lee Hyun kembali tidak sadar dengan tindakannya walau tubuhnya sudah sangat kelelahan.
Di hadapannya, Ahn Hyundo juga telah menerima pedang bagiannya. Dia mundur selangkah dengan ringan, menyembunyikan senyuman kemenangan setelah berhasil memprovokasi lawan, "Jika kau tidak mampu mengayunkan pedangnya, lebih baik tidak usah berlebihan. Kau memang telah mengayunkan pedangnya sekali, tapi terlalu ceroboh. Bagaimana jika kau mencoba ayunan kedua?"
Janggang!
Saat menggenggam erat pedang itu, Lee Hyun bisa merasakan getaran halus yang mengalir ke ujung jarinya. Indra pendengaran nya merangsang suara itu dengan jelas. 'Pedang yang bagus.'
Suara pedang itu seolah-olah telah menyatu ke dalam dirinya. Sampai batas tertentu, Lee Hyun bisa mengetahui seberapa tajam pernah ditangannya. Dan perbedaan kecil yang membuatnya menjadi pedang yang bagus.
Ahn Hyundo memblokir serangan Lee Hyun dengan sangat lembut. Kemudian, barulah dia menyerang dengan kecepatan yang meningkat pesat.
Karena takut menimbulkan cidera, Lee Hyun berusaha keras menangkal serangan demi serangan yang diayunkan lawan.
Jika pedang itu menusuk dari arah depan, ada banyak ruang untuk menghindarinya. Namun, Ahn Hyundo menebas Lee Hyun seperti tirani. Ayunan pedangnya bergerak secepat cahaya. Dia menerkam Lee Hyun seolah-olah dia adalah monster jahat yang harus segera dibunuh.
Semua orang menahan nafas saat pedang Ahn Hyundo menusuk ke arah jantung Lee Hyun.
'Tidak!'
'Aku tidak mau mati!!!' Lee Hyun akhirnya ikut menyerang, hingga berhasil membelokkan jalur pedang lawan ke samping.
Pertimbangan Lee Hyun terhadap keselamatan lawan telah menghilang. Dia tidak peduli lagi terhadap apapun kecuali berjuang menghindari berbagai serangan untuk menyelamatkan nyawa kecilnya.
Sring!
Klang!
Suara udara yang terpotong beberapa kali berdesis. Diikuti dengan suara pertentangan pedang. Kilatan cahaya muncul di dekat dada mereka saat kedua pedang itu berbenturan.
Para penonton hanya bisa terbengong-bengong melihat keganasan dua orang orang itu. Mereka tidak berhenti cemas.
"I-instruktur! Bukankah hal ini harus segera dihentikan?" Chaenyol gemetaran saat bertanya pada Chung Il Hoon.
Orang yang ditanyai pun tidak bisa mempercayai situasi yang tengah terjadi. Akan sulit untuk menghentikan pertarungan ganas kedua orang itu setelah situasi yang terjadi telah memanas.
Tapi, Chung Il Hoon menemukan sesuatu yang tidak dimengerti praktisi pemula. Bagi seorang pro seperti Ahn Hyundo merupakan tugas mudah untuk melumpuhkan Lee Hyun kapanpun dia mau dengan memukul pergelangan tangannya, melemparkan gagang pedang, ataupun memukul titik vital di dahinya. Intinya, akan sangat mudah bagi Ahn Hyundo melakukan semua itu. Tapi dia tidak punya niat sedikitpun untuk melakukannya.
Walau sekujur tubuhnya semakin merinding, Chung Il Hoon hanya bisa bertahan memperhatikan arah pertarungan.
"Istruktur, ku mohon pikirkan sesuatu! Pasti kau punya ide, apa yang harus kita lakukan?" Chaenyol tidak tahan lagi dengan keterbungkaman Chung Il Hoon.
"Entahlah. Tapi kenapa aku harus khawatir?" Awalnya Chung Il Hoon juga khawatir tidak bisa mengetahui apa yang dipikirkan oleh Ahn Hyundo. Dan lagi, akan sangat berbahaya baginya jika memaksa untuk menghentikan pertarungan mereka.
Tapi setelah ditelaah lebih detail akhirnya Chung Il Hoon bisa menonton dengan tenang.
__ADS_1
Sementara kedua pedang di tengah lapangan itu terus berbenturan menciptakan suara yang membuat penonton merinding.
Kekuatan Lee Hyun keluar berkat keinginan kuatnya untuk bertahan hidup dihadapan lawan yang kuat. 'Lebih keras! Lebih kuat! Lebih cepat!'
Keahliannya perlahan-lahan bangkit dan meningkat. Lee Hyun sepenuhnya telah mampu mengendalikan kekuatan tubuhnya sendiri. Hal ini menyebabkan semangat dari dalam tubuhnya semakin memberontak.
Dan, dari kejauhan Chung Il Hoon telah menyadari saat-saat peningkatan kekuatan Lee Hyun. 'Dia mulai menembus lebih jauh dalam ilmu pedang.'
Praktisi terampil seperti dirinya mampu melihat hal ini hanya dengan memperhatikan pertarungan. Tapi, bahkan praktisi biasa akhirnya juga merasakan sesuatu dari pertarungan itu.
"Huh?"
"Itu sedikit berbeda."
"Apa yang berubah?" Chaenyol menoleh ke arah seniornya.
Ahn Hyundo memotong jalur untuk mencegah serangan Lee Hyun, sebuah tebasan diagonal. Pada saat yang sama, Lee Hyun secara naluri langsung membungkuk untuk menghindari tebasan pedang.
Lee Hyun berjuang melawan keterampilan pertarungan pedang Ahn Hyundo yang luar biasa tanpa ragu-ragu.
'Kenapa kau malah bersenang-senang? Ini adalah saat-saat yang berbahaya!' Tegas Lee Hyun pada diri sendiri saat merasakan sudut bibirnya telah melengkung membentuk senyuman.
Lee Hyun sendiri tidak bisa mengerti alasan kenapa tubuhnya bertindak diluar nalar. Dia memutuskan untuk kembali fokus pada duel yang berlangsung. Tapi, tubuhnya tidak bekerja sama, sudut bibirnya tidak bisa diturunkan. 'Huh! Sepertinya aku terlalu banyak berpikir. Hei! Ingat! Kau sedang berada diantara hidup dan mati! Harus fokus!'
Perlahan ayunan pedang Lee Hyun membaik. Tapi tak lama kemudian tubuhnya mulai menunjukkan reaksi yang tidak stabil. Lee Hyun akhirnya menyerah, dia melepaskan pedang, sepenuhnya kelelahan. Dia mengalami nyeri otot yang mengerikan. Kakinya sangat lemas hingga tidak bisa berdiri.
Lee Hyun akhirnya istirahat di aula khusus Ahn Hyundo.
"Minumlah. Teh ini akan sedikit menenangkan tubuhmu." Ahn Hyundo memberinya secangkir teh yang memiliki aroma tajam.
Srup!
"Em. Enak sekali."
"Tentu saja. Ini adalah teh ginseng liar yang berasal dari Gunung Baekdu."
"Harganya pasti mahal."
"Terlepas dari itu, tidak ada yang lebih berharga dari kesehatan tubuh, iyakan?"
"Ya, itu benar." Lee Hyun meminum tehnya dengan sekali teguk. Di rumah dia juga menyetok banyak teh dan akan meminumnya setiap hari. Karena khasiat teh bagus untuk menyehatkan tubuh.
"Cepat sekali kau menghabiskannya. Ini, tambah lagi."
"Terimakasih. Ini karena aku sangat kehausan dan kelelahan." Lee Hyun minum lagi sampai menghabiskan 5 cangkir teh.
Ahn Hyundo mengambil kesempatan itu untuk memulai percakapan. "Ahem, aku sangat penasaran. Kau tidak terlalu panik saat memegang pedang tadi. Apakah benar bahwa ini adalah pertama kalinya kau memegang pedang?"
"Betul."
"Jadi begitu. Namun, mengenai kehormatan 9 orang yang telah kau kalahkan, apakah selama ini kau telah mempelajari ilmu pedang di tempat lain?"
"Tidak. Ceritanya sedikit panjang." Lee Hyun akhirnya bercerita tentang Royal Road dan isinya. Tentang awal mula dia memperkuat diri dengan memukuli orang-orangan sawah selama berhari-hari. Lalu, meningkatkan keahlian pedang dengan memburu para monster yang lebih kuat.
Sebenarnya, Lee Hyun tidak bisa percaya pada orang lain dengan mudah. Dia menjadi sulit terbuka pada orang lain berkat kenangan pahit yang menghantui hidupnya selama ini.
Namun, tampaknya dia telah mempercayai Ahn Hyundo.
Lee Hyun telah memperhatikan Master Pedang ini selama menjadi peserta pelatihan di dojang. Selain dirinya, ada beberapa orang di dojang yang sepertinya mengalami masa-masa suram dalam kehidupan hingga menyembunyikan perasaan dari ranah luar. Dan Ahn Hyundo berhasil mengulurkan tangan pada mereka semua dan membuatnya menjadi dipercayai murid-muridnya, hingga tidak sedikit yang bergantung padanya.
Semua pria percaya jika sebuah tindakan jauh lebih berharga dari beribu kata penghibur.
Begitulah akhirnya Lee Hyun juga membuka diri pada lelaki di hadapannya.
"Aku mengerti." Ahn Hyundo mengelus punggung Lee Hyun dengan lembut, "Kau pasti telah mengalami perjuangan yang sulit untuk meningkatkan keahlian pedangmu."
"Namun, berkat perjuangan itu, aku berhasil mempelajari dasar-dasarnya sampai sejauh ini."
"Em, jadi di dunia sana benar-benar ada para monster? Dan monster itu memiliki nyawa hingga bisa kau buru untuk mendapatkan item dan uang? Dan--" Ahn Hyundo berhenti sejenak untuk mengingat semua hal, "Ah! Dan mendapatkan EXP? Aku jadi penasaran apa di sana ada naga?"
"Tentu saja! Naga yang perkasa!"
"Benarkah?" Mata Ahn Hyundo berkilauan seakan baru saja mendengar letak harta karun dunia, "Em. Untuk saat ini, kau pasti sangat kelelahan, jadi beristirahatlah. Aku harap, kau bisa mengunjungi dojo di lain hari, jadi kita bisa bertanding lagi."
"Hmm. Selamat tinggal." Lee Hyun telah selesai beristirahat, kemudian meninggalkan dojo.
...•••...
Like!
Like!
Like!
__ADS_1