
Satu hari berlalu sejak Weed memahat sebuah batu besar tanpa bentuk. Wajahnya terlihat berkonsentrasi penuh, walau keringat membanjiri badan, bau bajunya pun sudah tak enak, karena dia tidak punya waktu untuk memikirkan hal lain selain pekerjaan ini dan perutnya saja.
Tapi, pahatannya terlihat tak jauh berbeda dengan hari pertama. Karena dia masih tidak tahu pasti mau dibentuk seperti apa wajah khas Dewi Freya.
Dewi Freya terkenal dengan paras cantiknya yang mampu membalikkan kota. Tapi, tidak ada satupun manusia yang pernah melihat wujud aslinya. Inilah alasan yang membuat para scluptor dan painter sering tertantang saat membuat karya seni tentangnya.
Para seniman bingung bagaimana menggambarkan Dewi Freya untuk mewujudkan kecantikannya secara maksimal. Karena hal inilah, Dewi Freya tidak pernah digambarkan secara identik dalam lukisan ataupun patung.
Mereka dipusingkan oleh satu hal ini. Pada saat yang sama, hal itu merangsang kebanggaan tersendiri sebagai seorang seniman.
Misalkan ada dua orang yang bersaing untuk menciptakan karya seni tentang Dewi Freya. Yang satu akan menjadikannya patung, sedangkan yang satu lagi akan menghasilkan lukisan. Diantara mereka pasti tercipta karya yang lebih cantik. Skill handicraft yang tinggi tidak ada harganya dibandingkan hasil karya yang tercantik. Pada akhirnya yang akan mendapatkan penghargaan hanyalah orang yang bisa menciptakan karya seni tercantik.
'Kecantikan, ya inilah intinya. Aku harus mengukir Dewi Freya tercantik di benua ini.'
Hanya inilah hal yang memenuhi otak Weed saat ini. Dia jadi teringat bercandaan Surka yang mengizinkannya untuk menjiplak wajahnya.
Claaang! Dentang!
Saat Weed semakin dalam menggali ke pedalaman otak, kecepatan palu dan pahat yang mengerjakan patung melambat, 'Siapa dan bagaimana aku harus membentuk patung ini?'
Weed merasa otaknya seperti dalam labirin, berputar-putar tanpa menemukan pintu keluar. Walau awalnya profesi scluptor sangat dibencinya, tapi sifat melalaikan tugas bertentangan dengan temparamennya.
Jika hasil pekerjaannya ternyata biasa-biasa saja, hal itu akan melukai harga dirinya sebagai seorang scluptor. Dirinya tidak bisa mengabaikan kerugian besar karena kehilangan banyak fame. "Siapa yang harus aku pahat, siapa--"
Weed terdiam beberapa saat, dia teringat sebuah wajah yang familier, "Benar! Dia!" Sinar semangat berkobar-kobar di mata Weed, terlihat sama persis ketika dapat rejeki nomplok.
“Ke ke ke.” Mulutnya menyeringai puas.
Claaang! Claaang! Dentang!
Palu dan pahat itu bekerja dengan kecepatan ekstra. Bongkahan batu besar di depannya secara bertahap terpangkas, garis besar patung muncul sedikit demi sedikit.
Setelah potongan batu banyak yang menumpuk di tanah, barulah bentuk patung itu terungkap. Patung itu sangat indah. Layaknya bidadari yang turun dari khayangan. Wajahnya cantik tak tertandingi, memiliki senyuman yang seakan menyelimuti dunia dengan cahaya. Walau tampak tak nyata, tapi faktanya dia adalah manusia yang benar-benar hidup di dunia nyata.
Seoyoon!
Dia adalah role model yang tanpa izin tubuhnya dijiplak oleh Weed, dari ujung kepala sampai ujung kaki. Walau mereka hanya pernah bertemu sekali seumur hidup, yaitu saat pesta barbeque di rumah instruktur.
Harus Weed akui, dirinya belum pernah menemui kecantikan yang sebanding dengan gadis itu. Bahkan semua artis wanita sekalipun tidak ada yang dapat menyaingi kecantikannya, dimana aura misterius dan mulia bersatu di dalamnya.
Namun, ada satu kekurangan darinya, wajah itu belum pernah tersenyum, matanya pun terlihat kosong tanpa kehidupan di dalamnya. Apa guna wajah cantik tak tertandingi jika tanpa emosi, seperti boneka pajangan.
Sedangkan patung yang Weed pahat, memiliki senyuman yang luar biasa.
Patung itu terlihat seperti seorang wanita yang sedang berpetualang di negeri nan jauh, ditangannya tersemat pedang panjang yang seakan mampu membelah lautan dan samudra.
Mata Weed berbinar takjub oleh patung buatannya sendiri. Awalnya dia berpikir hanya menjiplak wajah cantik Seoyoon, tetapi semakin lama dia memandang senyuman itu, semakin pula jantungnya berdetak kencang.
Patung yang menyimpan sejuta pesona, secara ajaib akan memikat orang yang berlalu-lalang di sekitar sana untuk menonton aksi pemahatan berlangsung.
"Ya ampun!"
"Lihat itu!"
"Apa ini nyata?"
Meskipun baru bentuk kasarnya yang terlihat, tapi semua orang tidak bisa tidak terpikat oleh patung yang belum sempurna itu, semua orang sadar tak sadar sedang terpesona oleh keindahan yang dipancarkan oleh pahatan Weed.
Dari anak kecil sampai orang dewasa, dari infanteri Rosenheim sampai warga desa, semuanya berbondong-bondong untuk menyaksikan proses berlangsungnya pembuatan patung Dewi Freya. Mereka tak berhenti memuji betapa agungnya karya seorang seniman yang tak lain dan tak bukan adalah Weed. Kuping nya memanas oleh pujian yang datang berduyun-duyun.
Patung Dewi Freya!
Freya, dewi kecantikan dan kesuburan adalah dewi pelindung di Desa Baran. Patung Dewi Freya berdiri di alun-alun desa, tetapi hancur tertimpa pohon pinus saat gempa bumi yang merobohkan pohon itu.
Kepala Desa Ghandilva sangat sedih atas kehancuran patung Dewi Freya, lalu meminta Anda mencari pengganti sang Dewi untuk membawanya kembali.
...***...
Seorang player memasuki gerbang Desa Baran dengan langkah tegap. Posturnya terlihat tinggi semampai, memakai pakaian pertualang, sayang wajahnya tertutup oleh jubah hitam yang menjuntai semata kaki.
Dialah topik terpanas saat ini, Seoyoon!
Tanda merah sebagai identitas pembunuh manusia di dahinya sudah lenyap. Karena selama ini dia sudah berkontribusi besar dalam membasmi para monster. Jadi tidak ada lagi tulisan namanya yang berwarna darah di dahi.
Mata dibalik jubah itu melirik ke sana kemari. Walau bingung dengan situasi yang terjadi di Desa, tapi mulutnya tetap bungkam seribu bahasa.
'Kenapa sangat ramai?' Dia memilih berperang melawan batinnya sendiri.
'Uh! Ini sangat mengganggu.'
'Rasanya sangat sesak.'
'Aku ingin segera berburu.'
Seoyoon mempercepat langkah menuju rumah kepala desa untuk menyelesaikan questnya. Dia telah menyelesaikan quest itu dengan sepenuh hati, yaitu quest mencari pengganti patung Dewi Freya. Patung itu tersimpan dengan baik dalam ransel ajaib miliknya, yang bisa menampung seberat dan sebesar apapun benda di dunia ini.
Setelah menyusuri desa yang telah hancur dimana-mana, akhirnya dia sampai juga di rumah kepala desa yang keadaannya tak jauh berbeda dengan rumah warga lainnya. Sebagian besar rumah telah menjadi puing akibat perbuatan brutal para monster. Untung masih bisa dikenali dan masih lumayan untuk ditempati.
__ADS_1
Seoyoon sedikit tersentak saat akan membuka pintu, dia mendengar suara yang tak asing dari balik sana.
"Kamu hebat. Patung Dewi Freyanya terlihat sangat luar biasa."
"Bapak terlalu berlebihan, patung itu baru terbuat setengah jalan.”
Seoyoon merasa perlu menguping pembicaraan mereka sedikit lagi, karena ini menyangkut kelangsungan questnya.
"Ya aku tahu. Tapi tidak bisa menahan rasa syukurku padamu, Weed. Ketika nanti patung Dewi Freya selesai, desa ini akan memulai kembali kehidupan baru yang damai dan makmur. Bagaimana aku bisa melupakan bantuan berharga ini, tolong jangan terlalu merendahkan diri. Nah sekarang ayo kita makan malam."
Munch! Munch! Munch!
Sekarang Seoyoon mendengar suara orang yang menyantap makanannya dengan lahap.
"Woah! Ini sangat lezat, setara dengan masakan seorang chef pro." Weed menggunakan trik yang sama saat menyanjung instruktur di training hall.
“...”
Hal ini sudah cukup baginya. Seoyoon melepaskan tangannya dari kenop pintu. Lalu menjauhi rumah kepala desa.
Dalam perjalanan dia teringat dua bulan sebelumnya, saat dia meninggalkan rumah instruktur untuk menuju ke Selatan.
Kegiatannya hanya berkeliaran di pedalaman yang tak berpenghuni dan desa-desa terpencil, dia berjuang keras untuk memberantas para monster di sepanjang jalan yang dia lalui.
Entah itu pegunungan ataupun dungeon akan membuatnya nyaman selama banyak monster yang hidup di sana. Dia telah menjalani pertempuran tiada ujung. Setelah itu dia akan melupakan segala hal yang terjadi dalam petualangannya.
Hingga suatu ketika dia terdampar di sebuah desa yang damai dan indah. Pemandangan sekitar dapat menyejukkan hati ketika jenuh, akan menjernihkan pikiran ketika kacau balau, bisa menenangkan hati yang terluka, dan menjadi pelipur lara bagi raga yang berduka.
Padahal saat itu dia mengunjungi desa ini saat ingin menjual drop item hasil rampasan, sekaligus membeli bekal makanan selama perjalan. Saat itu langkahnya terhenti melihat seorang orang tua berambut putih yang sedang jongkok di tanah sambil meremas rambut. "Ya Tuhan, apa yang harus aku lakukan sekarang?" Tangis pedih pecah membelah luka.
Orang tua itu terlihat sangat berduka atas hancurnya patung Dewi Freya dari tempatnya, saat melihat keberadaan Seoyoon, tenaganya otomatis pulih, larinya sangat kencang menuju Seoyoon, seakan tak mengizinkan gadis itu beranjak se-incipun dari sana.
Orang tua itu langsung memegang kedua tangan Seoyoon dengan berlinang air mata, "Akhirnya orang yang tepat untuk menemukan pengganti patung Dewi Freya yang hancur di desa ini telah tiba. Hai anak muda yang budiman nanti bijaksana, maukah kau mengabulkan permintaan orang tua renta ini?"
"..."
Seoyoon membeku di tempat, dirinya belum pernah mengalami hal seperti ini sebelumnya.
Karena tidak pernah berbicara, dirinya tidak pernah mendapat sebuah quest yang tersedia untuk seorang player. Karena inilah dia juga tidak dapat membangun persahabatan dengan NPC, apalagi sesama player, bahkan hampir tidak mengetahui apa-apa tentang informasi dalam game.
Biasanya yang dia lakukan di suatu kota atau desa adalah menjual drop item lalu mengisi ulang keperluan sehari-harinya dalam perjalanan memburu monster. Terulang seperti itu terus setiap harinya.
'Tidak ada ruginya jika aku mengambil quest ini.' Seoyoon mengangguk pada Ghandilva yang terlihat menyedihkan.
Pilihan yang tepat untuk menyelesaikan quest ini adalah kembali ke Benteng Serabourg, membeli patung wanita manapun di sana lalu membawanya ke sini.
Ia tidak peduli walau jalan ini memakan banyak waktu dan berbahaya. Perjalanannya akan melewati Kerajaan Brent di Utara dan melintasi Gurun Halkos di Barat Daya, itu adalah kota kebebasan, Somren. Gereja Dewi Freya terletak di sana.
Rute resmi ini akan memakan waktu tiga bulan lamanya, tapi bisa dipangkas menjadi sebulan jika dia mendaki Pegunungan Baruk di wilayah Barat.
Petualang yang waras pasti menghindari jalan tikus ini karena masih sayang nyawa, di pegunungan itu selain terjalin dan curam, terdapat banyak monster bos yang bersarang di dalamnya.
Tentu saja bagi Seoyoon jalan itu bukan hal yang mustahil untuk di laluinya. Malah ia akan menikmati perjalanan panjangnya kali ini, karena dia memiliki sebuah tujuan yang harus diselesaikan.
Seperti rasa beraninya yang tinggi, di setiap jalan yang telah ia lalui menuju gereja Dewi Freya, maka di sana ada darah para monster yang bergelimangan memenuhi tanah.
Setelah sebulan lamanya memberantas berbagai tipe monster, akhirnya dia tiba dengan selamat di gereja Dewi Freya, dan membeli patung yang asli di sana. Bahkan tindakan mulianya diakui dan di berkati oleh Bishop Agung Mandolin.
Dia telah kehilangan sebagian besar gold miliknya hanya untuk membeli patung itu.
Flashback off!
Seoyoon berjalan santai semakin menjauhi rumah kepala desa. Dia telah menyaksikan semua keindahan alami yang membentang indah dalam Desa Baran jauh sebelum kekacauan ini terjadi. Saat melewati desa yang sudah tak berbentuk ini, dia sedikit menyayangkannya, karena dirinya tidak berada disini saat kekacauan ini terjadi.
Dalam perjalanan menuju gerbang, tanpa sengaja langkahnya membawa dirinya ke alun-alun desa.
Di sana berdiri tegak sebuah patung yang belum pernah ia lihat sebelumnya.
Patung Dewi Freya yang belum sempurna.
"Menakjubkan. Dia dewi yang benar-benar sangat cantik kan, pengelana?" Tiba-tiba seorang gadis manis berbicara padanya, walau matanya terpaku pada patung itu.
"..." Seoyoon ikut memandang patung itu.
“Kau tahu, orang yang memahatnya adalah Weed, pahlawan heroik di desa kami. Setelah patung ini selesai nanti, desa kami akan terbebas dari invasi para monster dan kembali menjadi desa yang damai sentosa. Ah senangnya." Mendadak wajah ceritanya menjadi suram, dia menghela nafas panjang, "Aku tidak sanggup membayangkan bagaimana jadinya jika Weed tidak pernah menginjakkan kakinya disini." Gadis itu tetap melanjutkan curhatannya walau tanpa balasan dari orang di sebelahnya.
Seoyoon sedang terpesona oleh keindahan patung setengah jadi itu. Walau begitu, patung itu sudah memancarkan kemegahan yang memikat hati para penonton. Senyumannya terlihat damai dan menenangkan. Dia seakan teringat kedamaian desa sebelum invasi monster. Senyuman itupun terlihat seperti pembawa energi positif sebagai pelipur lara siapapun yang mendatanginya.
Berbeda dengan patung Dewi Freya asli yang Seoyoon bawa dari gereja nya langsung, patung itu lebih condong ke aura religius yang tinggi.
Jika dibandingkan dengan patung pahatan Weed, bagaimanapun dia menganggap bahwa patung yang dibawanya hanyalah remahan kecil, layaknya kilauan kunang-kunang di hadapan mentari pagi.
"..."
Seoyoon menyempatkan dirinya untuk menatap patung itu sedikit lebih lama. Lalu meninggalkan Desa Baran dalam diam. Tanpa mengetahui bahwa model yang telah dijadikan oleh Weed untuk memahat patung itu adalah dirinya.
...***...
__ADS_1
Hari berganti hari, jam terus berdentang, begitupun Weed yang senantiasa menyelesaikan tugasnya. Tak peduli seberapa terik cahaya matahari membakar kulit, dia tetap menahan diri. Jemari tangannya gemetar menahan kebas yang terlalu sering muncul akhir-akhir ini. Bagaimana tidak, dia telah mengabdikan diri menyelesaikan pahatannya selama sepuluh hari penuh tanpa kenal lelah.
Sejak berita tentang proses pembuatan patung Dewi Freya tersebar luas, banyak player yang berdatangan mengunjungi Desa Baran untuk menonton aksi heroik itu. Bahkan berita panas ini telah menyebar sampai ke kota terdekat, Demeron. Akibatnya pengunjung membludak akhir-akhir ini.
Clang!
Setelah sekian banyak keringat yang bercucuran, akhirnya Weed menyelesaikan sentuhan terakhir pada pahatannya.
"Woah!"
"Ini dewi sungguhan!"
“Dewi Freya benar-benar turun ke kita di desa kita!”
Seru penduduk desa bergembira. Area sekitar sangat bising oleh percakapan ria antar penonton, mereka sangat bangga akan terciptanya sebuah karya luar biasa ini, dan lebih bangga lagi karena menjadi orang yang menyaksikan proses pembuatannya sampai sekarang selesai.
Secara serentak semua orang berlutut di depan patung.
Ting!
Stat Window yang hanya terlihat oleh Weed muncul di hadapannya.
Fine Piece : Anda telah menyelesaikan Patung Dewi Freya!
Seni tidak selalu dinilai dari model dan keahlian dari karya seni tersebut. Sebuah seni akan disebut bernilai saat bisa menyentuh banyak hati dan membuat semua orang terpesona oleh keindahannya.
Patung Dewi Freya, dengan kecantikan tiada tara, sekalipun dengan sclupture mastery yang rendah, akan tetap menarik perhatian publik selamanya.
Nilai Artistik : 150
Efek: Meningkatkan regenerasi HP dan mana sebesar 15% selama 24 jam.
Efek patung ini tidak bisa ditumpuk dengan efek patung lain.
Jumlah Fine Piece : 1
Fine Piece!
Gelar ini hanya diberikan pada karya seni yang telah diakui oleh banyak orang. Memiliki skill yang tinggi saja tidak cukup untuk menghasilkan sebuah karya Fine Piece, Grand Piece, ataupun master piece dalam sclupture mastery.
Gelar-gelar hebat di atas barulah akan layak di dapatkan hanya ketika seorang player tersebut mengabdikan diri dengan sepenuh hati pada sebuah karya seni agar bisa menyentuh hati semua orang yang melihatnya.
Dengan kata lain, Patung Dewi Freya pahatan Weed ini hasilnya sangat luar biasa. Karena langsung dianugerahi Fine Piece, bahkan bisa memberi manfaat yang bagus kepada orang yang melihatnya.
Padahal, sclupture mastery Weed masih tingkat basic, seharusnya dia belum memenuhi syarat untuk menghasilkan karya seni yang memberikan manfaat bagi orang yang melihatnya. Ini semua berkat kombinasi dari engraving knife Zahab, Fine Piece miliknya bisa menghasilkan efek spesial. Weed benar-benar mendapatkan jackpot melebihi harapannya.
Sclupture Mastery : Level 7,0%
Memungkinkan Anda untuk menghasilkan karya yang lebih detail.
Fame : +50
Art : +15 poin
Endurance : +10
Vitality : +5
Beberapa statistik meningkat sebagai imbalan telah menghasilkan karya seni Fine Piece.
Walau sclupture masterynya sudah hampir mencapai tingkat menengah. tetap saja Weed merasa tertipu, dia berdecak kesal beberapa kali, "Sial."
Fine Piece tidak akan muncul setiap saat.
Intinya kenaikan level sclupture mastery Weed saat ini berkat kontribusi besar engraving knife Zahab.
Pada umumnya sebuah karya Fine Piece tidak mungkin tercipta dibawah tingkat intermediate sclupture mastery. Weed menyesal karena dia tidak akan berdaya jika tanpa bantuan engraving knife Zahab, diapun tidak akan menghasilkan sebuah karya seni yang sangat indah.
Tingkat skill sclupture mastery nya masih rendah. Dia berandai-andai jika sekarang skillnya sudah di tahap Intermediate atau bahkan expert maka karyanya ini mungkin bisa menghasilkan grand piece dibawah sedikit master piece.
Kemudian, dia juga akan menerima lebih banyak peningkatan stat, salah satu dari sedikit hak istimewa yang terbatas bagi para scluptor.
Sedangkan scluptor lain yang bisa dihitung dengan jari di dunia ini, tidak memiliki kemampuan tempur.
Dari awal, mereka tidak bisa menggunakan sihir, bahkan strength dan defense mereka bukanlah sesuatu yang spesial. Hanya mengandalkan skill handicraft, walau serangannya lemah, tapi sedikit berguna untuk mereka.
Saat proses pencarian rekan se tim untuk berburu bersama juga tidak ada tim yang waras akan menerima kehadiran mereka. Jadi, kebanyakan scluptor harus melalui rintangan seorang diri. Profesi scluptor bergantung pada peningkatan statistik yang lebih tinggi daripada rata-rata player di level yang sama.
Namun, bukan berarti saat sclupture mastery meningkat, seorang scluptor akan menciptakan sebuah karya Fine Piece sesuai kehendaknya. Bahkan seorang master scluptor yang sudah terkenal sekalipun tidak mampu menghasilkan Fine Piece atau Grand Piece sekehendak jidadnya.
Sebuah karya seni yang bagus biasanya tercipta hanya ketika seorang scluptor melelehkan jiwa dan raga nya dalam karyanya.
Tapi bagaimana jika kau sudah melalui kesulitan bagai di neraka selama beberapa hari saat memahat sebuah karya, dan ternyata hasilnya biasa-biasa saja. Kekecewaan mu tidak akan bisa dijelaskan dengan kata-kata. Berita terburuk nya, jika reputasi mu jadi tercoreng, padahal selama ini kau telah bekerja keras siang dan malam untuk membangun reputasi mu tapi bisa hancur dalam sekejap mata.
Seorang scluptor akan dianggap hebat jika tidak bunuh diri. Sebenarnya ada banyak mantan scluptor yang menghapus avatar mereka setelah melalui berbagai kesialan.
Karena sculptor adalah profesi yang berat dan penuh cobaan.
__ADS_1