
Konselir Rodriguez merasa sangat terganggu, "Aihh!"
Itu adalah hari ke enam Weed menunggu kemunculan Konselir di depan kediamannya. Konselir sendiri sudah menyadari kedatangan tamu tak diundang sejak hari pertamanya. Dia bertaruh sekrang Weed masih sibuk melayani pelanggan.
"Aku harus mencari tahu tentang pria ini dan apa yang dia inginkan dariku." Meski sangat malas, di hari keenam Konselir Rodriguez akhirnya tak bisa menahan rasa ingin tahunya dan mulai beranjak dari kediamannya.
“Hai, orang asing. Aku Konselir Rodriguez. Apa yang ingin kau berikan padaku hingga rela berhari-hari menunggu?”
"Wow! Konselir keluar!"
"Benar! Itu adalah Konselir!"
"Konselir Rodriguez, Bintang Kebijaksanaan!"
Kerumunan antrian pelanggan Weed sangat terkejut melihat kemunculannya.
Orang-orang bijak seperti Konselir memiliki kesamaan, yaitu tak ingin diganggu. Terutama ketika orang asing mengklaim bahwa dia membawa sesuatu untuk diberikan secara langsung. Konselir Rodriguez akhirnya muncul di luar gerbang.
Weed mengambil saputangan bermotif blue bird dari sakunya lalu menyerahkannya kepada konselir, "Inilah alasanku menunggu selama 6 hari terakhir, konselir."
Mata Konselir Rodriguez berkaca-kaca. “Ini, ini adalah saputangan Ratu Evane. Terlalu banyak mata dan telinga di sini, bagaimana jika kau masuk dulu, pengelana muda?”
"Baiklah tuan konselir. Maaf teman-teman! Aku tutup untuk hari ini!” Weed tersenyum cerah sambil menutus kiosnya.
"Tidak mungkin!"
"Aku ingin melihat juga!"
Kerumunan berteriak saling protes, beberapa dari mereka bahkan mengeluh karena ketinggalan momen bersejarah, tetapi baik Weed maupun Konselir Rodriguez tidak peduli itu. Konselir sibuk membawa tamunya ke manor.
“Sekarang sudah aman. Siapapun yang membawa sapu tangan ini memiliki hak istimewa untuk mengetahui satu hal dariku.”
“Ya aku mengerti tuan.”
Konselir Rodriguez! Dia secara terang-terangan menyatakan siapapun yang membawa barang milik Ratu Evane diizinkan untuk bertemu dengannya. Weed telah memberikan saputangannya.
“Katakanlah, pengelana. Aku akan mendengarkan."
Suara Konselir Rodriguez yang tulus terdengar layaknya seorang lelaki bijaksana saat berhadapan dengan orang lain yang sedang kesusahan. Namun konselir hanya berpura-pura. Sekalipun sarung tangan Ratu Evane sangat berharga baginya, ia tak punya sedikitpun niat untuk membantu Weed. Bukankah berarti ia akan melanggar janjinya sendiri? Tidak juga.
Komselir mendesak Weed untuk bicara, dan menambahkan bahwa ia akan mendengarkan apapun darinya. Yang sebenarnya konselir inginkan adalah untuk mengetahui apa yang sedang dikhawatirkan oleh Weed, untuk memuaskan keingintahuannya, hanya itu. Ia tak pernah berniat untuk memberi sebuah solusi entah masalah apa yang Weed miliki.
Banyak player telah ditipu oleh Konselir Rodriguez dengan cara yang sama. Ia selalu memainkan trik pada mereka, lalu menghindari memberikan jawaban yang sebenarnya mereka cari.
Selain gelarnya yang mulia Bintang Kebijaksanaan, konselir juga dikenal dengan julukan Dead End Quest. Weed tak akan tertipu dengan trik serupa. Karena dari awal, ia tak percaya dengan Konselir Rodriguez.
Seorang manusia sangatlah lemah. Itulah yang Weed rasakan selama setahun melakukan persiapan sebelum bermain Royal Road, keinginan yang lemah dan tubuh yang selalu ingin mencari kenyamanan. Weed tidak pernah mempercayai dirinya sendiri, jadi kenapa ia harus percaya Konselir Rodriguez yang tidak pernah ia kenal sebelumnya?
"Apakah akan ada perbedaan jika aku memberitahu tuan tentang masalahku?"
"Apa yang maksudmu, pengelana?"
"Maukah tuan memberiku solusi setelah mendengar penjelasanku, tuan konselir?"
“Itu--”
“Kalau begitu, aku menolak untuk menjelaskan apapun. Itu hanya membuat lidahku lelah."
Konselir mengerutkan keningnya. Ia bersikap seolah keinginannya yang tulus dilecehkan oleh sikap Weed.
"Ehm, Weed. Katakan padaku sekarang, kau mempunyai kebebasan untuk mengutarakan padaku apapun yang ada di pikiranmu. Kau membawakan ku sarung tangan Ratu Evane, dan mengatakan apa yang ada dipikiran mu adalah hak mu." Konselir membujuknya dengan kata-kata yang terdengar sangat tulus.
'Aku akan membuatnya bicara.'
Sayangnya Weed lebih cerdik daripada orang-orang yang pernah ditipu Konselir Rodriguez sebelumnya. Weed meminta konfirmasi akhir. "Konselir, maukah tuan memberi jawaban atas masalahku jika aku menjelaskannya padamu?
"..."
"Aku akan tetap diam sampai tuan mau memberiku sebuah jalan keluar."
"Eh, dengarkan aku, Weed."
“Sepertinya saputangan Ratu Evane adalah benda yang tak ternilai harganya, Tuan Konselir. Ku kira itu adalah benda berharga bagimu. Haruskah aku mengambilnya kembali?”
“Ambilah dan pergi dari sini!”
"Tentu. Semoga kau sehat selalu, tuan konselir yang bijaksana."
Ketika Weed benar-benar mengambil saputangan itu dan berbalik, Konselir Rodriguez mengangkat kedua tangannya ke udara tanda menyerah.
"Tunggu! Aku berjanji kepadamu secara langsung bahwa aku akan memberimu saran ketika aku selesai mendengar permasalahan mu. Aku sudah berjanji memberi saran kepada siapa saja yang membawa barang Ratu Evane. Jadi selama itu masih dalam kemampuanku, aku akan melakukannya. ”
“Maukah tuan membuat sumpah setia?”
“Tentu. Tapi sebagai gantinya kamu harus membantuku suatu hari nanti."
Weed mempertimbangkan janji dan permintaan Konselir Rodriguez, baru menyetujui. "Setuju."
Konselir menyeringai senang. “Apa kekhawatiran mu, Weed? Permasalahan sepele tidak mungkin membuatmu rela menunggu selama beberapa hari terakhir.” Konselir Rodriguez memiliki rencana sendiri di balik pertanyaannya.
'Siapa peduli denganmu? Berani-beraninya kau mempermalukan ku untuk membuat sebuah janji dengan makhluk rendah sepertimu! Memberimu jalan keluar? Tentu saja! Tapi jawabanku akan penuh tipu daya, melenceng dari jawaban aslinya sebagai balasan perbuatan mu ini.'
Konselir pasti akan membalas Weed pada saat mendengar pertanyaan darinya. Jika Weed ingin menemukan seseorang, ia akan menjawab seperti seorang keponakan perempuan dari keponakan laki-lakinya ibu mertua dari saudari suaminya di pihak ibu yang ternyata sak sedarah, ujung-ujungnya harus ia cari sendiri. Jika Weed ingin menemukan suatu tempat, ia akan menjawab sebuah tempat yang sangat jauh dengan nama yang mirip.
'Kekeke!'
Entah apa Weed curiga atau tidak dengan tipu daya Konselir Rodriguez, Weed akhirnya mengutarakan permasalahannya. "Aku bingung profesi apa yang harus kupilih."
"Profesi? Oh jadi kau belum memilikinya."
"Belum, Tuan Konselir."
Konselir Rodriguez tertawa kecil. Itu jauh lebih sepele dari yang dia prediksi. Dia pikir Weed akan bertanya tentang letak dungeon rahasia, atau kebijakan masa depan Rosenheim. Dungeon yang bagus akan menguntungkan penemunya, dan mengetahui kebijakan negara sangatlah berharga bila kau tahu cara memanfaatkannya.
Misalkan kau mengetahui lebih awal bahwa istana kerajaan tengah berencana untuk mengembangkan provinsi wilayah selatan tahun depan, kau bisa mengamankan hak komersil di provinsi itu terlebih dahulu dan menarik keuntungan besar darinya.
Rekomendasi pribadi tentang profesi apa yang harus dipilih sangatlah mudah bagi Konselir Rodriguez.
"Aku tak percaya masalah sekecil itu bisa mengganggumu. Kau tak perlu berkonsultasi denganku. Aku sarankan kau mengunjungi devisi inteligen. 6 hari terbuang sia-sia, Weed."
"Aku mendapat saran bahwa tuan dapat memberi saran yang paling bagus."
"Bagus. Aku akan merekomendasikan profesi yang sempurna untukmu! Tunjukkan statistik mu."
"Ya tuan."
Weed menampilkan statistik window untuk pertama kalinya sejak dia berjuang untuk meningkatkan statistiknya di Training Hall.
"Statistik Window!"
Character Name: Weed
Guild : Netral
Level : 13
Profesi : Belum Ada
Julukan : Belum Ada
HP : 960
Mana : 100
Strength : 55
Agility : 105
Vitality: 50
Wisdom: 10
Intellect : 10
Stamina : 89
Fighting Spirit : 67
Charm : 0
Luck : 0
Leadership : 0
Art : 23
Attack : 19
Defense : 5
Magic Resistance:
Fire: 0%
Water: 0%
Earth: 0%
Black Magic: 0%
Weed telah berkerja keras siang dan malam, dan baru mencapai level 13. Dia bisa berburu serigala dalam waktu singkat sekarang.
"Oh tuhan!" Konselir Rodriguez tercengang.
"Level 13, HP sebanyak 960? Di level mu sekarang, kau sudah melewati 50 poin di strength dan vitality, dan 100 poin di agility! Aku tahu kau pasti berlatih dengan keras di Training Hall. Semangatmu benar-benar mengagumkan."
Konselir Rodriguez benar-benar layak dijuluki bintang bijaksana karena ia mampu menebak dengan benar hanya dengan melihat exuipment milik Weed. Namun keterkejutannya tidak berakhir sampai disitu.
"Kau memiliki level 4 sculpture mastery, dan level 6 handicraft! Luar biasa, tak dapat dipercaya! Petualangan seperti apa yang telah kau jalani ceritakan padaku."
Weed menceritakan pada Konselir Rodriguez tentang pengalamannya. Mulut Konselir Rodriguez menganga lebar tak mempercayai cerita petualangan Weed.
"Kau telah mendapat quest yang unik berkat persahabatanmy dengan instruktur. Lalu apakah kau akan memenuhi keinginan Zahab? Tapi kau telah membuang kesempatan untuk menjadi Moonlight Sculptor?"
Mata Konselir Rodriguez terbelalak karena terkejut. Perlu dicatat bahwa dia hampir tidak tersentak saat mendengar berita tentang kerajaan tetangga yang tiba-tiba menyerang Rosenheim tanpa deklarasi perang sebelumnya.
'Zahab. Siapa dia?'
Zahab adalah salah satu dari kekuatan besar yang menetap di tempat terlarang Benua.
Rodriguez bertemu Zahab beberapa kali lewat pengaruh Ratu Evane, dan mengagumi sclupture mastery dan sword masterynya, mengagumi ketekunan dan bakat dari master sculptor. Konselir Rodriguez berteman baik dengannya. Persahabatan antara dua pemuda yang terjadi sekitar 50 tahun yang lalu. Bahkan Konselir pernah meminta sang raja untuk menahan Zahab di lingkungan istana bagaimanapun caranya.
“Hmph, kamu menolak profesi sebagus itu. Kalau begitu, profesi seperti apa yang kamu inginkan?”
__ADS_1
"Yang menguntungkan dan cocok untukku."
Konselir Rodriguez terdiam sejenak. 'Mungkin dia adalah orang yang ku tunggu-tunggu. Wasiat Kaisar Agung turun padanya.'
Sebuah profesi misterius yang sejarahnya dapat di telusuri hingga zaman kuno. Geihar von Arpen, kaisar legendaris yang pernah menguasai seluruh benua. Darahnya mengalir di dalam tubuh Rodriguez.
Pikiran Konselir mulai mengelana, 'Dia masih harus membuktikan dirinya melalui jalan yang pahit. Mampukah ia lulus ujian terakhir? Bagaimanapun, dialah yang akan di uji, bukan aku.'
Konselir Rodriguez menatap Weed dengan serius, “Weed.”
"Ya konselir."
"Aku punya quest untukmu, kau harus membuktikan bahwa dirimu lebih sabar dari seekor ulat, lebih semangat bertahan hidup daripada seekor kecoak, dan lebih tangguh daripada seekor lintah, jika tidak kau pasti gagal. Apa kau sanggup menjalankannya?”
“…”
“Kenapa kau menatapku seperti itu?”
"Aku tidak suka dengan cara tuan mendeskripsikannya. Namun aku dengan bangga bisa berkata bahwa aku siap untuk melakukan apapun."
“Tekadmu menyentuh hatiku. Kau bahkan terlihat siap mengunyah belatung sampai tetes terakhirnya."
“…”
“Lakukan seperti yang ku katakan dan quest ini akan membimbingmu pada profesi yang cocok untukmu. Aku ingatkan sekali lagi bahwa ini akan membahayakan hidupmu. Kau boleh menolak saranku jika kau takut."
Weed akhirnya merasa curiga dengan skema Konselir Rodriguez. "Baik. Aku terima.”
"Pernahkah kau mendengar tentang Dungeon Litvart?"
"Iya. tuan."
Dungeon Litvart secara kebetulan adalah quest yang pernah di rekomendasikan instruktur kepada Weed. Atau itu bukan kebetulan? Kau tidak akan pernah tahu kemana takdir akan mengalir.
"Lalu aku tidak perlu menjelaskan secara detil. Dengan seorang diri hancurkan kejahatan yang bersarang di situ. Setelah kau berhasil, kau akan mendapat profesi yang ditakdirkan untukmu."
Ting!
Quest Ekspedisi Dungeon Litvart [II]
Ada seratus monster yang hidup di dungeon Litvart. Bunuh mereka semua, dan buktikan dirimu cukup layak untuk profesi yang terhormat. Selesainya quest ini akan membuka jalur yang benar untuk takdirmu.
Tingkat kesulitan : Tidak Diketahui
Syarat : Tidak ada
Weed membaca jendela pesannya berulang kali, sampai ia menyimpulkan suatu hal, "Tua bangka ini pasti merencanakan sesuatu."
Jika tidak, Konselir tidak akan memberi Weed quest yang berhubungan dengan dungeon Litvart , Dungeon bawah tanah yang memiliki 5 lantai, yang sudah dijelajahi banyak orang, dan informasinya telah tersebar luas.
Banyak player berburu monster di sana siang dan malam. Penghuninya monster berlevel 20 sampai 50, sementara Weed masih level 13. Tetapi statistik tambahan yang ia tingkatkan di Training Hall memperkuat dirinya hingga setara dengan level biasa 40 warrior. Ditambah skill pasif seperti sword mastery dan handicraft, Weed yakin bahwa dia bisa mengalahkan monster berlevel 50. Memburu monster di Lair of Litvart mungkin sulit bagi Weed, namun tidak ada yang tidak mungkin.
'Ada sesuatu di balik ini semua. Tetapi aku bisa percaya bahwa tua bangka ini tidak berbohong kepadaku. Tidak peduli apa yang dia sembunyikan dariku, jika aku menyelesaikan quest ini, aku pasti akan mendapatkan sebuah profesi.'
Quest ini sudah jelas memiliki jebakan. 'Ini bukan tentang memburu monster biasa di dungeon. Lalu apa?' Mata Weed berkedip tajam.
“Katakan padaku, Weed. Kau akan menerimanya atau menolaknya? Sekadar informasi bahwa aku tidak bisa menemukan saran yang lebih baik. Aku tidak akan memaksa, keputusan ada di tanganmu."
Setelah beberapa saat menyiapkan mental, Weed akhirnya mengangguk.
"Suatu kehormatan bagiku bisa menerima saran dari tuan konselir."
Anda telah menerima quest!
"Bagus. Aku akan menyiapkan hadiah untukmu. Kembalilah ke sini setelah kau mengalahkan semua monster disana. Walau kesempatannya kecil kau bisa menyelesaikan quest ini.” Konselir Rodriguez tertawa terbahak-bahak. Ia merasa sangat puas.
Weed kembali ke Training Hall. 'Aku harus sampai di sana tepat waktu.'
Langkah kaki Weed bergerak cepat karena waktu masih menunjukkan sesaat sebelum istirahat makan siang. Ketika ia memasuki Training Hall, instruktur baru saja akan menyendok makanan yang ada di kotak makan siangnya.
"Selamat siang, Instruktur yang Terhormat."
“Kamu mengejutkanku, Weed! Aku sangat merindukanmu."
"Aku juga merindukan instruksur, itu sebabnya aku berkunjung.”
“Kemarilah dan duduk di sebelah ku, kita makan dulu sebelum bicara."
"Terima kasih, Instruktur."
Dengan timing yang bagus, Weed menyelesaikan makan siangnya. Kotak makannya sangat besar, sebanding dengan tubuh instruktor yang berukuran XXXL. Memisahkan bagian untuk Weed dari kotak makan siang itu seperti mengambil secangkir air di laut.
“Ngomong-ngomong, Instruktur, mengenai quest yang kau sebutkan tempo hari.”
“Oh Kenapa?”
“Aku ingin bergabung.”
"Ha ha ha. Sudah ku duga, jadi aku meminta mereka menyisakan tempat untukmu. Aku senang kau mengikuti quest ini." Instruktur dengan murah hati mengabulkan permintaan Weed.
Anda telah menerima quest!
Quest Ekspedisi Dungeon Litvart!
Kerajaan Rosenheim telah menderita akibat serangan monster, yang meningkat pesat selama dekade terakhir.
Raja Theodarren, penguasa Rosenheim yang baik hati, mengeluarkan titah untuk memerintahkan seorang knight terhormat, jenderal Midvale, untuk menjelajahi Lair of Litvart dan membasmi monster. Basmi monster di Lair of Litvart bersama jenderal Midvale dan tentaranya.
Tingkat kesulitan: E
“Kau memiliki satu hari tersisa sampai pasukan pergi besok. Bagaimana jika menginap di tempatku?”
“Maaf, Instruktur. Aku harus melakukan persiapan untuk quest."
"Sayang sekali. Padahal aku ingin mengajakmu makan malam.”
"Makan malam?"
"Iya. Istriku berkata dia akan memasak daging barbekque."
Weed menelan ludah membayangkan daging panggang yang gurih dan pedas! Godaan yang tertahankan.
“Sejujurnya, aku sudah lama ingin mengunjungi rumahmu.”
“Hahaha, aku mengerti.”
"Hehehe."
Weed tidak pernah malu mengakui bahwa dia menjalani kehidupan yang sederhana. Tapi dia muak dengan roti hitam. Royal Road menciptakan setiap hal seperti nyata, bahkan rasa, seperti sushi yang terbuat dari ikan segar yang baru di tangkap, dan roti hitam, rasanya seperti nyata.
Selama dua bulan terakhir, Weed hanya makan roti hitam dan lidahnya telah kebal oleh rasa gandum. Saat melihat roti membuatnya merasa ingin muntah. Daging barbekque akan sangat lezat, Terlebih lagi gratis. “Kalau begitu, aku akan mempersiapkan perlengkapan quest dulu, Instruktur.”
“Baiklah, Weed. Aku akan menunggumu."
Weed telah menerima quest lain di Training Hall. "Sekarang 3 slot quest sudah terisi."
Quest teratas tentang warisan Zahab, yang tidak mungkin selesai untuk saat ini, sedangkan 2 slot lainnya adalah quest yang sama tapi beda.
"Masalahnya adalah quest Konselir Rodriguez tidak sesederhana yang terlihat. tapi tidak masalah." Weed meyakinkan dirinya untuk menghadapi tantangan itu.
Dalam skenario terburuk, dia akan kehilangan nyawanya, Weed tidak ingin mati sia-sia, tetapi terkadang hambatan datang tiba-tiba. "Sekarang aku harus bersiap-siap, Pertama, aku akan menyiapkan bekal untuk perjalanan ke dungeon Litvart."
Weed berjalan kaki di pusat kota. Player lain yang memakai pakaian cantik melewatinya sambil berceloteh ria. Sekelompok player mendirikan kios di jalan dan menjajakan barang. Weed memasuki bengkel pandai besi untuk membeli sebuah busur dan anak panah.
Theo Grande Bow!
Endurance : 50/50
Attack: 5-6
Double rate of fire: 4
Mini Bow yang terbuat dari otot Orc. Yang ditempa dengan kasar, memiliki akurasi rendah tetapi memiliki kekuatan serangan yang besar, nyaman untuk archer pemula.
Busur itu berharga 1 gold 20 silver, tapi Weed tidak akan pernah membayar harga penuh untuk apapun. Dengan memberikan patung berbentuk kupu-kupu kepada wanita kasir, dia menyerahkan kurang dari 1 gold. Sebelumnya tanpa sengaja ia menemukan bahwa dia bisa memenangkan hati wanita dengan hadiah patung.
'Skill Sclupture mastery hanya bisa digunakan pada saat-saat tertentu.'
Weed juga memenuhi stok roti hitam, meskipun dia sangat muak, setidaknya roti lebih baik daripada kelaparan. Saat bertarung tingkat kepuasan akan berkurang sangat cepat. Ketika tingkat kepuasan turun di bawah 30%, agility akan melambat, dan HP akan turun. Tas punggungnya penuh dengan anak panah, potion, herb dan roti. Saat dia merasa siap, dia kembali menemui instruktur.
“Aku sudah selesai, Instruktur.”
"Oh begitu. Ayo kita pergi ke rumahku sekarang, karena ada tamu yang sudah menunggu."
"Tamu? Apakah instruktur mengundang orang lain lagi untuk makan malam?”
"Bukankah aku sudah memberitahu mu?" Instruktur tampak sedikit bingung, namun segera bersikap normal, “Dia gadis yang baik. Aku yakin kau akan menyukainya."
Meskipun kedengarannya aneh, Weed dengan santai mengesampingkan masalah itu. Instruktur menggandeng tangan Weed, mulai berjalan menuju kerumahnya. Tangannya berbulu lebat seperti gorila.
Weed mengerutkan dahinya. “Instruktur bisa melepaskan tanganku.”
“Tidak akan. Aku takut kamu akan tersesat.”
"Hah?"
Weed akhirnya sampai di rumah instruktur. Dia yakin ketika membuka pintu, dia akan melihat keluarga paling bahagia di dunia dengan tungku pembakaran yang memenuhi ruang tamu. Weed telah mengetahui bahwa instruktur menikahi seorang perempuan barbar, cinta sejati yang melampaui batasan ras, sayangnya mereka belum dikaruniai keturunan.
Namun, ketika pintu terbuka, Weed terkejut melihat seorang gadis yang duduk di meja makan.
"Sempurna."
Weed menahan nafas sejenak karena terkejut melihat kecantikannya. Seperti bidadari dari khayangan yang turun ke bumi. Namun ia segera sadar. Karena si gadis diundang ke rumah instruktur, Weed mengira bahwa dia adalah NPC. Namun, gadis itu adalah seorang player sepertinya. Terlihat dari pedang dan armornya yang tampak mahal, Weed tahu gadis itu player level tinggi. Bukan itu saja yang mengejutkan Weed. Nama gadis itu berwarna merah menyala terpampang jelas di dahinya.
Seorang player bisa menyembunyikan identitasnya, terkadang menyamar sebagai NPC selama yang dia inginkan, namun seorang pembunuh yang mem-PK satu atau lebih player lain segera ditolak hak privasinya. Nama berwarna merah darah di dahi adalah tanda seorang pembunuh sesama player.
"Tenang dulu Weed. Sekarang kau mengerti kan alasanku memegang tanganmu dengan erat."
Weed mencoba melarikan diri, namun usahanya sia-sia karena instruktur memegang tangannya dengan erat. "Instruktur."
"Hah?"
"Tidak ku sangka kamu begitu bersemangat untuk membunuhku."
“Jadi sekarang kamu tahu.” Instruktur tersenyum licik.
Weed merasa sedikit tenang. Dia mengakui bahwa jika instruktur menginginkan dia mati, dia akan lebih suka menggunakan tangannya sendiri daripada menyuruh orang lain untuk melakukannya.
“Silakan duduk, aku akan memperkenalkan kalian berdua. Ini Weed. Levelnya masih rendah, tapi dia lulus program pelatihan dasar dengan sempurna. "
Weed membungkuk sedikit pada gadis itu tapi dia diabaikan, gadis itu bahkan tidak memiringkan kepala walau sedikit, "Ini Seo Yoon. Dia juga baru menyelesaikan program latihan dasar. Ia mengunjungi rumahku sebulan sekali untuk makan malam bersama kami."
"Hai. Senang bertemu denganmu."
Weed menyapa Seoyoon dengan sopan, tapi gadis itu tetap berwajah datar dia bahkan tidak repot-repot mengarahkan pandangan ke arah Weed. Jelas-jelas ia tak peduli dengan Weed.
__ADS_1
"Kamu tidak ingin berteman dengan pemula berlevel rendah, kan? Jika aku tidak harus berada di ruangan yang sama denganmu, aku juga tidak ingin berkenalan denganmu."
Lalu instruktur meminta izin dan menyeret Weed ke pojok ruangan. "Aku minta maaf atas ketidaksopanannya."
"Tidak, tidak apa-apa, Instruktur."
"Sebenarnya dia gadis yang baik. Dia hanya tidak tahu bagaimana cara mengekspresikan diri. Dia sudah seperti anak perempuanku sendiri. Dia tak bisa bersosialisasi dengan orang lain. Aku mengundangnya kemari karena aku pikir ia akan membuka diri padamu."
"Tidak apa-apa, aku tidak keberatan sama sekali."
Namun Weed tidak punya alasan untuk mengulurkan tangannya pada Seoyoon. Dia merasa tidak ada gunanya mengenal seorang pembunuh, bahkan bukan seorang NPC.
"Ngomong-ngomong, apakah Instruktur keberatan jika aku ingin membantu Nyonya Lancer?"
“Apakah kamu pandai memasak?”
"Tidak juga. Tapi aku ingin membantunya di dapur, agar bisa diajari memasak."
"Lakukan sesukamu."
Sebagai seorang barbarian, istri instruktur sangat besar. Sambil mendengar perintahnya, Weed dengan cekatan memotong daging dan mencelupkannya ke dalam bumbu. Saat dia bekerja keras di dapur, Seoyoon menggulung lengan bajunya dan masuk ke dapur. Dia merasa malu duduk sendirian di meja. Dia menghampiri Weed, berdiri disampingnya dan menontonnya memotong daging. Dia ingin membantu, tetapi tidak tahu apa yang harus dilakukan dahulu. Weed mengarahkannya ke tumpukan piring kotor.
"Tolong cuci piringnya."
Weed berpikir bahwa Seoyoon akan menolak permintaannya, namun ternyata, dia mengambil piring-piring itu lalu berjongkok untuk mencucinya. Mereka mendapat pujian dari nyonya rumah atas kerja keras mereka.
"Kamu melakukannya dengan baik."
"Terimakasih."
“Kauu memiliki tangan berbakat. Apakah kau ingin belajar Skill Cooking?”
Inilah yang di tunggu-tunggu oleh Weed. Kalau tidak untuk apa dia repot-repot mengotori tangannya? "Tentu, nyonya. Terima kasih banyak atas kebaikannya."
Anda telah mempelajari Skill Cooking!
Seolah ia merasakan sesuatu saat ia melihat Weed, Seo Yoon juga minta pada istri instruktur untuk mengajarinya memasak. Skill Cooking adalah skill sederhana yang bisa kau pelajari dimana saja, dengan mengeluarkan biaya untuk mendaftar di guild cooking atau menjadi magang di sebuah restoran. Tak di ragukan lagi akan sangat berguna.
Daging panggang di atas nampan besar akhirnya disajikan di atas meja. Dagingnya dipanggang hingga berwarna kuning, asapnya menggepul, aromanya terasa sangat nyata di virtual reality. Weed segera mengambil pisau dan garpu.
Glare!
Tiba-tiba, instruktur mengambilnya duluan untuk memperingatkan Weed.
“Kamu adalah seorang tamu, Weed. Jangan makan terlalu rakus."
Tuan rumah seperti apa yang akan mengkritik tamu undangan di meja makan? Dia bukan lagi seorang instruktur yang gagah di Training Hall, namun seorang Orc ganas yang mengekspos kerakusannya akan makanan di atas meja. Seorang Orc level 200-an. Tapi Weed bukanlah tipe orang yang mudah menyerah pada ancaman di hadapan makanan seperti itu.
“Aku mohon keringanannya, Instruktur.”
“Kau tidak mendengarkan ku?”
Weed tiba-tiba merasa sangat tertekan, lebih dari yang bisa ia tahan. Ia merasa pusing dan tangannya yang memegang pisau bergetar.
'Sial.'
Weed menelan ludah dan melihat kesamping. Ia memperhatikan Seoyoon untuk mengetahui bagaimana gadis yang tampak rapuh itu bereaksi. Ini adalah Virtual Reality dalam game RPG. Level adalah segalanya. Gadis itu tampak biasa-biasa saja.
Weed mulai mengukur, "Gadis ini paling tidak berlevel 200. Dan istri barbarian itu juga."
Istri instruktur adalah salah satu barbarian yang menghormati hukum rimba, khususnya tentang yang kuat makan yang lemah. Karena barbarian adalah ras yang memiliki fisik superior dari ras lain, hanya Weed yang merasa terancam oleh intimidasi mematikan dari mata instruktur. Tak ada yang memiliki nasib sama. Namun ini adalah Weed. Bukankah ia orang yang dapat membuat musuh menjadi teman dan teman menjadi pengikut setia?
“Instruktur yang Terhormat, izinkan aku mengutarakan pendapat.” Ucap Weed dengan mulut gemetar.
"Apa? Jika ada yang ingin kau sampaikan, letakkan pisau dan garpu dulu, lalu kita bisa mengobrol dengan santai sampai selesai.”
"Istrimu yang cantik mempunyai keahlian memasak yang sangat luar biasa pada makanan ini. Aku sudah mabuk oleh aromanya yang memenuhi isi kepalaku tentang akan seperti apa rasanya. Setelah aku memakannya kenangan itu akan terkenang selamanya."
Instruktur tertawa terbahak-bahak. “Dia adalah juru masak yang hebat. Aku bangga padanya."
"Benar. Dia adalah istrimu. Barbeque-nya terlihat cantik.”
"Honey." Nyonya Lancer menyubit suaminya. Dia terlihat sangat senang oleh pujian manis Weed.
"Kau benar, dimana lagi kau bisa memiliki kesempatan untuk makan makanan selezat ini? Ambil sesukamu, Weed."
Seperti kata pepatah, istri adalah kebanggaan suami. Instruktur membuktikan bahwa ia bodoh jika menyangkut istrinya. Intinya, semua makanannya enak. Tak hanya barbeque namun juga lauk pauk yang dimasak oleh nyonya menggunakan resep dari Northen Province mengguncang lidah milik Weed.
"Yum, yum. Enak sekali. Nyonya yang terbaik. Aku iri pada instruktur yang bisa memakan masakan nyonya setiap hari."
"Benar sekali." Kata instruktur menyatakan setuju sambil tersenyum lebar. Weed mengendurkan ikat pinggang lalu bersendawa. Instruktur tertawa dengan terbahak-bahak, dan Seoyoon menyelesaikan makannya dalam diam layaknya boneka Prancis yang terbuat dari es. Malam itu Weed tidur di rumah instruktur dan berangkat ke Benteng keesokan harinya.
...* * *...
Jenderal Midvale dan 30 infanteri yang dikirim untuk menaklukkan dungeon Litvart tengah berkemah di dekat gerbang.
"Salam kenal. Apakah benar kau Weed?” seorang knight bertanya.
"Ya jendral." kata Weed.
Sedikit investigasi sebelum quest tidak ada salahnya. Dari apa yang berhasil Weed ketahui, jendral Midvale adalah anggota Red Order, sebuah unit kunci dari invantery Rosenheim, yang pernah ditugaskan untuk menyelesaikan quest-quest penting. Menurut rumor, ia baru saja dipromosikan menjadi seorang Royal Knight. Ia adalah kebanggaan dari kerajaan, dihormati sebagai lambang knight.
"Tujuan kita cukup jauh. Butuh waktu 3 jam dengan menunggang kuda," Kata Jendral Midvale.
“…”
Semua infanteri kecuali Weed, sedang menunggang kuda coklat. Dia hanya membawa tas punggung, dan tak pernah terpikir olehnya bahwa akan butuh seekor kuda. Sekalipun, tak akan ada bedanya bila ia diberitahu sebelumnya. Seekor kuda memiliki harga yang cukup tinggi, paling tidak 100 gold.
“Docke meminta bantuan ku. Jadi aku akan meminjamkan mu seekor keledai untuk sementara.” kata jendral Midvale.
"Terima kasih, Jendral." kata Weed.
"Vance, bawa keledainya."
Seorang knight datang membawa seekor kuda yang tampak menyedihkan. Ia ditarik paksa dengan kekangnya, kuda itu berusaha keras menahan dengan kedua kaki belakangnya. Hingga terlihat dua gigi emas yang menyembul saat ia mengerang, kuda jantan itu tampak seperti bajingan.
'Jika aku menunggang keledai itu, keberuntunganku akan hilang selama 7 tahun ke depan.' pikir Weed.
"Sampai quest ini selesai, keledai ini akan menjadi tanggung jawab mu sementara waktu," Kata jendral Midvale.
Ding!
Name : Arse
Type : Netral
Level : 3
Species : Horse
Title : Stallion
Fame : -300
HP : 30
Mana : 0
Ditugaskan dalam pasukan ekspedisi Lair of Litvart. Keledai jantan yang cerdik ini seringkali mencoba untuk menjahili pemiliknya. Ia membenci air dan menolak untuk berjalan saat hujan. Membutuhkan perawatan ekstra atau dia bisa mati karena sakit.
PS : Hati-hati, dia sering kentut.
“…”
Stat window untuk keledai itu membuat Weed frustasi. Dia pernah mendengar bahwa keledai berdarah murni itu sulit dijinakkan, namun ia berpikir bahwa memalukan jika kuda yang rapuh ini lebih buruk.
“Walau hanya sementara, tapi mari kita berteman.”
Weed mengangkat tangannya untuk mengelus keledai itu, tapi ia malah menggigit tangannya. "Kurang ajar!"
Saat Weed memelototinya, keledai itu berbalik arah dan melipat kedua kaki belakangnya.
"Anak baik." Kata Weed menenangkan. Saat dia mencoba menaiki punggung keledai itu, bunyi dan bau tak sedap muncul dari pantatnya yang kotor. Keledai itu tiba-tiba menundukkan kepalanya kedepan, lalu melempar Weed dengan kekuatan pinggul belakang.
"Aduh!"
Tubuh Weed terlempar karena aksi tersebut dan mendarat di tanah dengan menyedihkan. Serangan tunggal itu mengurangi 70 poin HP nya. Sangat jelas, keledai itu mencoba membunuhnya dengan tindakkan heroiknya.
"Dasar sialan!"
'huh!'
Sebuah takdir telah terbentuk diantara Weed dan keledai. Mereka saling memandang seolah ingin mematahkan leher satu sama lain.
Keledai itu memandang Weed dengan sinis, seakan berkata, "Aku tidak akan pernah membiarkanmu menaiki di punggungku, manusia bodoh,"
Sedangkan ekspresi Weed tergambar seperti, "Aku akan menghajarmu sampai mati suatu hari nanti,"
Pertarungan yang belum pernah terdengar antara manusia dan binatang sedang terjadi. Lalu bencana burukpun tiba.
Jendral Midvale berkata, “Jika kamu sudah siap, ayo berangkat sekarang.”
Jendral Midvale dan invanterinya mulai berbaris ke timur. Weed melompat ke punggung kuda dengan tenang dan memulai perjalanan.
...* * *...
Seoyoon juga menginap di kediaman instruktur. Dia tidak bisa menolak keinginan istri instruktur yang terus-menerus menyuruhnya menginap.
Dia bertemu Weed beberapa kali pagi ini. Ketika dia membuka pintu kamar tamu, Weed kebetulan melewatinya. Tapi mereka berpura-pura tidak saling peduli, dan tidak bertegur sapa. Ketika Weed berangkat dari rumah, Seoyoon ikut pergi karena dia terlalu malu untuk ditinggal sendirian. Dengan pandangan kosong ia menatap arah kepergian Weed beberapa menit sebelumnya.
'Kemana aku harus pergi sekarang?' Tanyanya dalam hati.
'Kemana pun aku mau.'
Tidak ada tempat seperti itu. Pada saat yang sama, dia bebas pergi kemana saja.
'Selama aku bisa lepas dari ingatan menyakitkan ini.'
Seoyoon mulai berjalan menuju Gerbang Selatan. Bukannya dia ingin pergi ke sana. Dia hanya ingin pergi ke tanah yang belum dieksplorasi, suatu tempat yang penuh dengan monster.
Dia telah memulai perjalanannya di pusat benua, sampai ke Perbatasan Barat untuk berburu monster yang lebih kuat.
'Aku ingin berburu monster.'
'Aku bisa melupakan masalahku saat melawan mereka.'
"Aku tak perlu berpikir tentang apapun.'
'Bahkan tentang kenyataan yang tak bisa ku hindari bahwa aku tak pernah dicintai seumur hidupku.'
'Berhenti, Seoyoon. Tabahkan dirimu.'
Meskipun Seoyoon tidak berbicara pada siapapun. Tapi tidak benar bahwa pikirannya juga berhenti berfungsi. Dibawah permukaan yang beku, air mengalir dengan deras ketika dia mengajukan pertanyaan pada diri sendiri lalu menjawabnya sendiri. Namun yang terlihat wajahnya yang kosong tanpa ekspresi, seolah sebuah patung es.
Petanyaan yang diulang-ulang, mengatakan ini itu, bergema dalam pikirannya. Seoyoon merasa penyakitnya berkurang saat ia bertarung dengan gerombolan monster. Dia mengharapkan pertarungan keras di sebuah dungeon yang penuh dengan monster. Selalu berharap untuk bertemu monster yang lebih mematikan, ia tidak takut mati. Dia tidak pernah membiarkan darah yang mengalir dari pertempuran kering.
__ADS_1
Seorang berserker yang hidupnya penuh dengan kekejaman dan pembantaian. Itulah dia, selalu menemukan kedamaian di medan perang.