
Sejak awal Dwicighi Kuartet bertemu satu sama lain sebagai pembunuh. Kelompok itu akhirnya terbentuk karena hobi yang sama, yaitu membunuh sesama player lalu menjarah drop item mereka. Karena inilah, diantara mereka berempat tidak terjalin yang namanya persahabatan dan kesetiaan dan ketulusan yang rela berkorban demi orang lain. Mereka bisa berpisah kapanpun dan di manapun saat ingin.
Rumble!
Boom! Boom! Booooooom!
Penampilan jalur di depan tiba-tiba berubah, sebuah terowongan muncul dari retakan tanah, mengarah ke lorong bawah tanah. Di jalur itu, petir-petir menghantam tak ada habisnya. Cahaya berwarna putih itu menyambar secara acak menyinari kegelapan lorong. Meskipun pemandangan itu sangat memanjakan mata, tapi anak kecil pun sadar bahwa jalur itu sangat berbahaya untuk dilalui.
Blar!
Tiga lingkaran petir menyambar pintu lorong meninggalkan pola bercabang di dasar lorong. Weed yang pemberani akhirnya mengeluarkan keringat dingin, dia tidak sanggup membunuh diri dengan ceroboh melalui lorong itu tanpa persiapan, dia menoleh ke belakang terlihat sangat gugup, "Bagaimana caranya kita bisa lewat?"
Axe tersenyum misterius, dari balik saku dia mengeluarkan sebuah batu seukuran jempol kaki, "Kita beruntung. Batu ini bisa menyerap petir. Mengandalkan batu ini, kita bisa lewat dengan aman."
"Oh syukurlah." Weed menerima batu tersebut untuk diidentifikasi.
Lightning Stone!
Defense : 100/100
Sebuah batu khusus yang memiliki kandungan penghantar listrik tinggi. Jika diolah dengan baik, batu ini akan menjadi besi yang berkualitas bagus.
Efek :
- Resistensi Listrik 99%.
- Memiliki kemampuan untuk menyerap listrik.
Saat Weed masih fokus membaca deskripsi item ditangannya, Axe dan Lawn Mayer berharapan lalu melempar tawa sinis satu sama lain. Mereka seakan sedang berbicara lewat tatapan masing-masing.
'Kita akan menyeberangi lorong sambil menggunakannya sebagai tumbal.'
'Satu langkah lagi, setelah melewati lorong ini, kita akan sampai di tempat harta karun itu bersemayam.'
Saat melewati lorong berpetir, satu orang akan dijadikan korban. Orang yang memegang batu petir lah yang akan jadi sasaran empuk.
Axe tersenyum lebar, "Weed. Majulah! Kau mungkin akan kehilangan nyawa, tapi sebagai gantinya kami akan selamat. Bukankah hal ini sebanding dengan pengorbanan kami selama ini untuk kalian?"
Akhirnya Axe mengungkapkan sifat sejati mereka. Tangannya dan Lawn Mayer sudah siap di atas pedang masing-masing untuk mengantisipasi hal yang tidak terduga.
Bukannya menyangkal, Weed dengan pasrah mengangguk, dirinya berusaha tersenyum menenangkan tapi malah terlihat lebih menyedihkan, "Yah, lebih baik seperti ini, jika dengan mengorbankan diriku kalian semua bisa lolos, aku akan baik-baik saja. Setidaknya, pengorbananku tidak akan sia-sia."
"We-Weed." Mapan menatap Weed dengan sendu.
"Sudah ku duga kau akan setuju." Axe menepuk bahunya beberapa kali.
"Tapi aku punya pertanyaan."
"Pertanyaan?"
"Bagaimana cara kalian untuk kembali?"
"I-itu--" Axe dan Lawn Mayer saling pandang dengan mata tercengang dan mulut terbungkam. Awalnya mereka hanya memikirkan tentang memiliki harta karun yang tersembunyi dalam dungeon ini. Tidak memikirkan bagaimana cara untuk kembali. Hal sepenting ini benar-benar tidak terlintas dalam pikiran mereka karena terlalu serakah.
"Ck!"
"Sialan."
Axe dan Lawn Mayer mendesis serempak. Mereka hanya memiliki satu batu petir, sudah pasti akan mati saat kembali nanti.
"Akan ku pikirkan itu nanti!" Axe tiba-tiba menghunus pedang.
Mapan mundur beberapa langkah, "A- apa yang kau lakukan, Axe?"
"Masalahnya sudah terlanjur seperti ini, kalian semua tidak berguna. Sudah saatnya bagi kalian untuk menjemput ajal masing-masing!" Axe berteriak dingin mulai memasuki postur menyerang. Tubuhnya diselimuti aura membunuh, diikuti dengan aktifnya skill menyerang.
"Dasar bajingan!" Mapan menggerakkan gigi terlihat tidak terima dengan kenyataan pahit yang menimpanya. Walau sangat kesal tapi dia tetap berkepala dingin, tidak seceroboh itu langsung menyerbu Axe saat itu juga, karena dia masih menyimpan kartu as di lengan bajunya, Weed!
Mapan menghembuskan nafas panjang untuk menetralkan emosi, dia cukup tenang karena tahu Weed akan menangani para pengkhianat di depannya. Dari pengamatannya selama ini, dia sadar bahwa Weed lebih dari sanggup untuk menangani mereka berdua.
Namun, saat menatap wajah rekannya, hati Mapan langsung gelisah. Sekarang Weed masih menampilkan wajah pucat penuh ketakutan. Dalam kondisi sepelik ini dia malah gemetar ketakutan layaknya seorang pengecut. Bahkan tidak ikut menghunuskan pedang yang menghiasi pinggangnya.
Mapan mengernyitkan kening merasa ada yang tidak beres, 'Bagaimana mungkin? Padahal, jelas-jelas Weed mampu menangani mereka berdua dengan mudah!'
Swing!
Axe memulai serangan pertama. "Mati kau!" Namun targetnya bukan Weed ataupun Mapan, melainkan rekan setimnya sendiri, Lawn Mayer.
Mapan mengerjapkan mata beberapa kali, masih syok saat berusaha mencerna situasi, "A-apa yang sebenarnya terjadi?"
"Axe, aku tahu kau akan melakukan ini!"
Lalu hal yang dilihat Mapan selanjutnya adalah pertarungan sengit antara Axe dan Lawn Mayer. Weed tentu saja sudah menduga hal ini, dia tersenyum kecil sambil menonton pertandingan berlangsung.
Axe merasa yakin bahwa dia bisa membunuh Weed atau Mapan kapan saja. Jadi, yang paling merepotkan disini adalah Lawn Mayer, harus dihadapi terlebih dahulu.
Karena sejak awal mereka memang tidak mempunyai kesetiaan satu sama lain, tentu saja Lawn Mayer tidak terkejut lagi dengan pengkhianatan yang diciptakan oleh rekannya sendiri. Berakhirlah mereka bertarung antara hidup dan mati.
"Flame Sword!"
"Cold Blade!"
Duarrrr!!!
Saat elemen Api dan Es bertubrukan langsung menciptakan ledakan bom dahsyat. Axe yang telah menyelesaikan dua Training Class tentu saja memiliki kemampuan yang baik saat mengendalikan kekuatan pedang.
Disisi lain, Lawn Mayer berspesialisasi sebagai seorang assassin bisa dengan mudah menyembunyikan diri dalam remang-remang dungeon. Dia memanfaatkan kelebihan dalam menyembunyikan diri sambil terus menyerang secara dadakan.
__ADS_1
Suara tubrukan pedang berdesis saling sahutan memancarkan percikan api yang bertebaran. Tak lama, bau amis langsung menyebar memenuhi dungeon, tanpa perlu ditanyakan penyebabnya adalah dua orang yang sedang bertarung mempertahankan nyawa masing-masing. Karena mereka sama-sama berpengalaman menyerang sesama player jadi keahlian mereka seimbang.
Setelah beberapa menit, akhirnya Axe merasa unggul. Serangan Lawn Mayer beberapa kali tak tepat sasaran. Sebagai seorang assassin yang terbiasa dengan serangan kejutan, dia tidak berpengalaman mengalahkan seorang ahli pendekar pedang dalam pertarungan secara langsung.
"Selamat tinggal, Lawn Mayer." Axe tersenyum keji sambil mengelap darah yang menghalangi pandangan mata dengan lengan baju.
"Sialan, padahal sudah sangat dekat. Hanya-" Nafas Lawn Mayer tersendat, dia menyemburkan seteguk darah kental, "Ha-hanya berjarak beberapa senti lagi untuk menuju harta karun itu."
Meskipun sudah saling khianati, tapi tidak ada perasaan khusus yang terjalin diantara mereka. Tidak mengenal yang namanya, keadilan, kesetiaan, dan loyalitas dalam persahabatan! Hal itu terlalu merepotkan. Tentu saja keterlibatan hati tidak berguna bagi mereka yang suka menipu dan mencuri.
Mata Lawn Mayer menatap ke arah lorong berpetir dengan getir. Dia terbujur kaku merasakan nyawanya sudah di ujung tanduk.
Srek!
Lalu pedang Axe menebas kepalanya dengan sekali tebas.
Setelah kepergian rekan terakhirnya, Axe tertawa terbahak-bahak layaknya orang gila, "Hahaha! Akhirnya semua harta itu akan menjadi milikku!"
Dari tempat kematian Lawn Mayer, sebuah perisai terjatuh.
Setelah puas dengan tawanya, Axe menoleh ke arah Mapan dan Weed yang berwajah pucat, "Nah, Weed, Mapan, saatnya kalian memutuskan siapa yang akan memegang batu itu, berkorban untukku. Tentu saja tidak gratis."
Axe mengangkat sebelah bibir menunjukkan perisai yang dijatuhkan oleh Lawn Mayer, "Siapapun dari kalian yang mengorbankan diri akan mendapatkan perisai ini sebagai imbalan. Item ini berlevel sekitar 200 an, jadi cukup layak sebagai bayaran dari pengorbanan bukan?"
"..."
"Lebih baik jika kalian tidak menolak tawaran dariku. Karena aku hanya membutuhkan satu orang korban jadi satunya lagi akan langsung ku bunuh setelah kalian menentukan pilihan."
Perhitungan di kepala Axe sudah selesai. Dia sangat yakin dengan keputusannya untuk mengorbankan satu orang saat melewati lorong berpetir, lalu akhirnya dia akan menguasai semua harta karun itu seorang diri. Ketika kembali nanti, dia sadar nyawanya pun tidak akan selamat. Tapi, jika dia tidak benar-benar sial, saat mati dia tidak akan menjatuhkan harta karun yang baru didapatkan. Karena kemungkinannya sangat rendah. Selain itu, memang dirinya akan menjatuhkan salah satu item, tapi maslah ini bukan masalah besar baginya.
Mata Axe berbinar gembira saat merasakan rencananya sangat memuaskan. Kegembiraan itu lenyap seketika saat mendengar suara pedang yang keluar dari sarungnya.
Swing!
Suara Clay Sword yang lepas dari sarungnya terdengar lembut memecah keheningan.
"Woah! Kau berencana untuk menentang ku?" Nada suara Axe berganti dari menghormati menjadi mengancam.
"Hmm."
"Kalau begitu, matilah di sini! Mapan yang akan memandu ku! Ck! Ini menggelikan, aku memang sudah terluka tapi kau yang--" Dia menatap Weed dari atas sampai bawah dengan tatapan meremehkan, "Ah sudahlah! Baiklah! Sebagai gantinya kuberi kau waktu tiga detik untuk menyerang ku duluan! Silahkan serang aku sebanyak yang kau mau."
"Terimakasih, akan ku terima dengan senang hati." Konsensi tiga detik adalah sesuatu yang terlalu berharga untuk dilewatkan begitu saja oleh Weed, "Ini adalah pilihanmu sendiri, jadi jangan menyesal."
Axe tertawa kecil sambil menggelengkan kepala tak habis pikir, "Ya, tentu saja."
"Sculpting Blade!" Pedang Weed menarik gerombolan cahaya.
Mata Axe melebar sempurna, instingnya mengatakan akan ada sesuatu yang mengancam nyawa. Dia tidak bisa menghindari rasa gelisah yang mulai menyelimuti hatinya. 'Mungkinkah seharusnya aku tidak memberinya kesempatan untuk menyerang? Ya, aku hanya harus mengecoh nya seperti memberi kesempatan padanya selama 3 detik.'
Saat Axe masih memikirkan langkah yang akan diambil. Pedang Weed sudah mendekati dirinya dengan kecepatan yang tak terbayangkan.
Slash!
Pedang itu menebas kepala Axe dengan ganas. Nyawanya menghilang dengan menyisahkan ekspresi tak percaya di wajahnya. Awalnya, Axe berniat membiarkan Weed menyerangnya sekali lalu menyerang balik, tapi dalam satu serangan itu, HP Axe yang memang sudah rendah sepenuhnya menghilang.
Mapan mengehela nafas dalam-dalam. Dia telah memprediksi lambat laun hal ini akan terjadi, tapi sekarang keempat orang itu telah mati, jadi tidak ada yang harus diwaspadai lagi. "Jadi apa yang akan kita lakukan selanjutnya? Haruskah kita kembali sekarang?"
"Mmm!" Weed menggelengkan kepala dengan tegas, "Kita sudah datang sejauh ini, tentu saja aku harus menjemput harta karun itu terlebih dahulu. Meskipun masih dipertanyakan ada tidaknya harta karun itu."
"Bagaimana caranya melewati medan petirnya? Ya, kau bisa masuk dengan mengorbankan ku, tapi apa? Kau tidak akan bisa keluar dari sana tanpa kehilangan nyawa. Jika kita sama-sama mati di sini. Keempat orang tadi akan bangkit sebelum kita, bagaimana nasib barang dagangan?"
"Jangan khawatir, kau tidak harus berkorban. Orang-orang ini tidak tahu apa-apa tentang dunia penjelajahan. Walau memiliki peta, bahkan mereka gagal melewati jalan yang benar. Sangat mengecewakan."
"Lalu, apa yang akan kau lakukan?"
"Terbang."
"Te-terbang? maksudmu terbang seperti ini, kan?" Mapan menggerakkan kedua tangan layaknya seekor burung yang sedang terbang.
"Yap!"
Sejak awal, Weed sepenuhnya yakin bisa melintasi pegunungan Baruk dengan aman. Alasan keyakinannya yang sangat tinggi terletak pada kartu as dibalik lengannya yang disiapkan dengan baik, feather of lightness. Dengan menggunakan item itu seorang player bisa terbang selama sebulan penuh. Sedangkan kekuatan penerbangannya tergantung pada kekhasan asal bulu tersebut.
Weed terbang bebas menghindari sambaran petir dengan mudah, akhirnya bisa menggapai sisi di sebrang. Saat sampai, matanya langsung tertarik pada sebuah petik mati mini. Saat membuka kotak itu, dia mendapati sebuah harpa. "Sudah pasti inilah harta karun nya."
Weed mengambil alat musik itu dengan hati-hati.
"Identification!"'
Harp of Vino the Dwarf!
Defense : 20/20
Vino adalah seorang dwarf yang bertubuh pendek dan gemuk. Tetapi dia mencintai seorang gadis dari ras manusia. Cinta ini telah melampaui ras yang ada. Sebuah cinta bertepuk sebelah tangan yang tidak akan pernah tergapai. Karena, gadis itu tidak menyukai ras Dwarf. Membuat Vino putus asa, akhirnya melampiaskan kesedihan hatinya pada dunia musik.
Musik mengandung keindahan artistik yang menenangkan jiwa dan raga, juga bisa menarik perhatian seorang gadis.
Efek :
Charm : +30% terhadap NPC perempuan.
Weed menatap harpa itu dengan pandangan tertegun. Setelah beberapa saat, akhirnya dia tertawa terbahak-bahak tanpa bisa mengendalikannya. "Puhahahaha."
'Siapa sangka Axe, Lawn Mayer, Spade dan Hammer ternyata sangat sangat bodoh.'
Untuk semua konspirasi tentang kebohongan, pengkhianatan dan pembunuhan yang mereka lakukan, demi mendapatkan harta karun ternyata hanyalah sebuah harpa magis. Weed mengira setidaknya hal yang mereka perebutkan lebih berharga dari armor atau perisai, tetapi kenyataan tak sesuai prediksi. Kerja keras mereka digunakan hanya untuk mengejar alat musik untuk menarik perhatian kaum wanita.
__ADS_1
Weed tambah tidak bisa menghentikan tawa saat membaca peta yang dia ambil dari Axe, di sana dengan jelas tertulis fakta yang mengindikasikan tentang alat magis yang bisa menarik perhatian wanita.
"Puahahahaha!"
...***...
Komputer Lee Hyun terhubung pada sebuah situs jual beli item. Dia akan memeriksa situs tentang harga jual beli barang hampir setiap hari, namun kali ini dia memiliki alasan lain.
"Benar-benar menakjubkan." Weed benar-benar takjub dengan pertumbuhan Royal Road yang kian meledak hari demi hari.
Seminggu yang lalu daftar item yang terdaftar sekitar 160 ribu, tapi hari ini angkanya sudah melampaui 165 ribu item. Hal ini bukan berarti item-item yang dijual tidak laku. Malah sebaliknya, selain item-item yang harganya setinggi langit dan item yang tidak berguna, hampir semua item yang dijual dari minggu sebelumnya telah ludes terjual. Tentu saja, item-item yang telah terjual akan otomatis terhapus dari daftar penjualan sehari setelah item itu terjual.
Tapi, terlepas dari itu, akan lebih dan lebih banyak lagi item baru yang terdaftar.
Lee Hyun perlahan-lahan menelusuri daftar item yang tertera di sana. "Sepertinya ada banyak item-item langka yang bagus di sini."
Sword of Melain!
Defanse : 105/105
Damage : 40-43
Strenght : +25
Agulity : +17
Bentuk pedang yang panjang terbuat dari campuran mithril dalam jumlah sedikit yang ditempa langsung oleh seorang Blacksmith terkenal bernama Melain. Pedang ini dianggap memiliki keunggulan dalam kekuatan.
Syarat :
- Strength : 200
- Level : 100
Efek : +50% damage tambahan pada undead.
Weed membaca lebih banyak untuk memperluas pengetahuannya dalam bidang item langka yang menarik perhatiannya dan mungkin saja dia temui di masa depan.
Saikuri's Bracelet!
Defense : 40/40
Mana : +30%
Magic : +20%
Diperkuat oleh seorang mage yang kreatif dan eksentrik bernama Saikuri. Dia sangat ahli dalam mantra penguatan, hingga menambah kekuatan sihir pada gelang yang dia pakai. Item ini telah menjadi sesuatu yang diinginkan oleh semua orang di seluruh Benua Versailles.
Syarat : Level 150
Efek : +10 untuk semua statistik
Item-item semacam ini jumlahnya sangat sedikit dan didambakan oleh banyak orang. Bahkan Lee Hyun juga mendambakan senjata dan aksesoris yang memiliki kemampuan spesial. "Tunggu, berapa harganya tadi?!"
"Keekkk! Leher ku!" Nafasnya tercekat saat melihat harga kedua item tersebut.
Lelang Sword of Melain dimulai 1.500 ribu won. Namun harganya terus meningkat, saat ini sudah melampaui 2.500 ribu won. Senjata tersebut tak memiliki kriteria khusus pada sebuah profesi, dan bisa digunakan dengan level yang relatif rendah. "Karena kelangkaan itu jadi wajar item ini dijual dengan harga yang mahal." Weed berusaha menenangkan hatinya yang bergejolak setiap melihat angga.
Tak berbeda jauh dengan Saikuri's Bracelet yang merupakan item unik, awalnya berharga 3 juta won, dan saat ini harganya lebih dari 5 juta won.
"Harganya benar-benar selangit." Lee Hyun hanya bisa menjilat bibir sambil menggelengkan kepala. Sejak awal, dia tidak pernah berencana membeli item dari situs pelelangan. Tapi, jika Weed ingin meningkatkan kekuatan saat berburu, dia masih tergolong mampu membeli kedua item langka ini. Karena, tabungannya masih menyimpan uang sekitar 30 jutan won khusus untuk dirinya.
Walau lebih dari mampu, kepribadian Weed tidak mengizinkannya untuk memboroskan uang dengan hal yang tidak berguna. Pada hakikatnya, akan selalu ada item yang lebih, lebih baik lagi. Jika ingin menuruti hasrat manusia tidak akan pernah puas, lebih baik menahan diri.
Setelah beberapa kali berkeliling mempelajari harga, Lee Hyun berhenti mencari. Jemarinya mulai mengetik sebuah postingan di barang lelang. Dia ingin menjual item-item hasil berburu di Lavias. Terutama senjata Death Knight, dan drop item langka yang sengaja dia simpan.
Di antara item-item yang akan dijualnya, ada beberapa item yang akan mempermudah saat menjalankan sebuah quest. Kebanyakan orang tidak akan bersusah payah seperti Lee Hyun, mereka pasti akan menjual item-item ini di toko terdekat setelah selesai berburu.
Tapi, Lee Hyun berbeda, dia tidak akan melepaskan kesempatan berharga untuk menggandakan uang. Jika di toko dia hanya akan mendapat untung sedikit lebih banyak, maka di tempat lelang untungnya bisa berkali lipat lebih banyak lagi.
Jangka waktu sebuah pelelangan adalah satu minggu di dunia nyata dan sekitar 4 minggu di dunia game.
Lee Hyun menyisihkan beberapa item langka untuk dirinya sendiri. Barulah menjual sisa item lain dengan memasang harga 10 ribu won per-item.
Saat memulai pelelangan akan lebih baik jika banyak pemirsa yang melihat item yang di lelang. Karena harga akan meningkat berkat kompetisi dari banyaknya penawar yang datang. Maka, tidak akan lama kompetisi akan memanas hingga meningkatkan harga.
Lee Hyun meyakinkan diri agar tidak khawatir dengan item lelangannya, karena pada umumnya sebuah item yang dilelang akan naik ke harga pasaran.
Untuk item-item umum, dia memasang harga minimum 3 ribu won. Jika kurang dari itu, item tersebut tidak layak di posting di pelelangan online.
Beberapa menit kemudian, Lee Hyun selesai memposting lebih dari 30 item di situs pelelangan. Dia menggosok kedua tangan harap-harap cemas, "Semoga harganya meningkat berlipat-lipat."
Sudah pasti Lee Hyun sangat gelisah mengingat ini adalah pertama kalinya mendaftarkan drop itemnya sendiri di Royal Road untuk di lelang. Dia sadar harganya tidak akan meningkat hanya mengandalkan sebuah harapan, tapi dia masih ingin berdoa agar harganya setidaknya setimpal dengan usaha yang dia keluarkan untuk mendapatkannya.
"Aku sangat penasaran akan seberapa tinggi harga ini meningkat?"
Berita baiknya, Lee Hyun menempati posisi khusus di situs pelelangan tersebut, karena dia memiliki rating 3 diamond. Mengandalkan rating ini, dia menerima 100 komisi transaksi gratis. Dan, drop item postingannya akan muncul di tempat yang mencolok, di tengah-tengah layar pelelangan dengan kotak merah menyala, pasti akan menyorot perhatian publik.
"Dengan pelelangan sebanyak ini, setidaknya tidak akan tergusur oleh item-item baru." Lee Hyun mengangguk puas pada diri sendiri. Dia berdiam diri sejenak untuk mengamati laju pelelangan item miliknya. Hatinya sedikit puas saat orang-orang mulai berdatangan untuk menawar senjata Death Knight seharga lebih dari 30 ribu won.
"Datanglah kekayaanku." Weed tersenyum kecil. Pelelangannya akan berakhir seminggu ke depan, jadi dia keluar dari sana menuju kapsul game untuk log in kembali ke Royal Road.
...•••...
Puas gak?
Yaudah kalo engga :D
__ADS_1
LIKE AJA DULU!