Legendary Moonlight Scluptor

Legendary Moonlight Scluptor
Quest Ekspedisi selanjutnya!


__ADS_3

Di jalan menuju komandan Darius!


Weed mengajak anggota party nya mampir ke toko bahan makanan.


Surka dan Romuna saling pandang lalu angkat bahu, karena tidak tahu apa yang akan dilakukan Weed di toko bahan makanan seperti ini, bukannya pergi ke toko blacksmith.


"Weed, kenapa kita mampir disini?" Akhirnya Irene yang paling polos tidak tahan untuk segera bertanya.


Weed menyeringai tipis, "Lihat saja nanti."


Sayangnya pertanyaan dari mereka tidak mendapatkan jawaban yang jelas.


Toko pangan itu sangat ramai oleh pembeli. Sebagian besar dari mereka adalah kurir restoran di Benteng Serabourg.


Seorang lelaki kurus yang memakai pakaian seperti kurir berteriak lantang di tengah keramaian, "Aku ingin dada segar!"


Semua orang tampak terkejut sejenak lalu tertawa terbahak-bahak. Seorang bertubuh gemuk berusaha keras meredakan tawanya, dia adalah penjaga toko. "Kau salah memasuki tempat, anak muda. Rumah bordil terletak di pojok sebelah kanan jalan. Datanglah ke sana, itupun jika kau punya kartu penduduk." dia tertawa lagi bersama yang lainnya.


"Sial. Aku mau dada ayam!" Anak kurus itu menyeringai tajam.


Penjaga toko tersenyum hangat, dia memiliki lidah yang lebih tajam dari seringaian anak itu, "Yakin hanya dada ayam? Apa kau tidak butuh telur juga?"


"Oh iya, hampir lupa." Anak itu menepuk jidadnya sendiri. "Aku juga butuh telur."


"Tunggu ya. Aku akan memberikan telurnya ketika induk ayam sudah bertelur."


"Kalau ayamnya?"


"Tunggu telurnya menetas dulu, nak."


Romuna tertawa mendengar percakapan antara penjaga toko dan kurir kurus itu. "Anak yang lucu."


"Aku rasa dia bekerja di restoran karena belum bisa pergi keluar benteng selama 4 minggu." Surka mengeluarkan pendapatnya.


"Owh! Pilihan yang buruk. Kenapa harus memilih bekerja di restoran dari sekian banyak tempat? Restoran adalah tempat yang tidak menyediakan banyak hal untuk dipelajari." Pale menggeleng lemah.


Di mata Pale, bekerja di restoran bukanlah pilihan yang tepat. Saat pertama kali login, player baru disarankan untuk mengerjakan quest yang berhadiah lumayan, atau untuk mereka yang ingin belajar sihir harus membaca dan mempelajari banyak hal di perpustakaan. Semua itu agar mereka bisa membeli equipment yang lebih bagus, berburu monster jauh lebih mudah dan poin pentingnya adalah menaikkan level dengan cepat.


Weed menggeleng dengan tegas, "Tidak juga. Saat kau bekerja di restoran, kau bisa mempelajari skill cooking. Skill itu akan sangat berguna."


"Aku tahu, tapi apa gunanya belajar skill yang tidak penting seperti cooking? Kenapa harus merepotkan diri mempelajari skill itu, jika kau bisa membeli roti hitam yang diberi sihir pengawetan. Rotinya bahkan tahan selama sebulan." kata Pale.


"Pale benar. Kenapa kita harus belajar bagaimana cara memasak disaat kita bisa menaikkan faktor kepuasan dengan mudah?" Surka mengangguk puas dengan jawaban Pale.


Menurut Weed, Pale dan Surka terdengar bodoh dan kekanak-kanakan. Mereka meremehkan skill cooking sama seperti mereka meremehkan sculpture mastery, tanpa tahu efek besar pada statistik yang dihasilkan dari makanan enak. 'Orang-orang ini tidak tahu bagaimana rasanya menjalani hidup miskin.'


Mata Weed terlihat menggelap. Mereka yang pernah melalui masa-masa sulit karena uang tidak akan pernah meremehkan pentingnya skill cooking. Bayangkan bagaimana rasanya terpaksa hanya bisa makan roti hitam ketika sedang berburu monster di alam liar.


Jika kau adalah pemula berlevel kecil dan kehabisan uang, tentu saja akan bertahan karena memang tidak ada alternatif lain selain makan roti hitam. Namun sekali kau mencapai level dimana kau bisa membeli makanan yang lebih enak, lidahmu secara otomatis akan menolak roti hitam.


Bahkan sebenarnya Pale tidak selalu memakan roti hitam. Akhirnya, manusia itu sama saja. Mereka punya daftar keinginan yang sama, ketika mereka berhasil mendapatkannya, keinginannya akan bertambah besar begitu terus selanjutnya. Apalagi, soal kebutuhan sandang dan pangan yang tidak bisa dipisahkan dari kehidupan.


Apalagi, skill cooking juga berefek dalam kehidupan nyata. Saat skill cooking berkembang, skillmu akan memberikan daftar resep yang tersedia berdasar tipe bahan yang dimiliki. Kau bisa mencoba resep baru dalam game virtual, dan resep itu akan ada dalam ingatanmu setelah kau log out dari game.


Jika kau menguasai skill cooking paling tinggi sampai tingkat expert, kau tidak akan khawatir soal mencari pekerjaan, karena semua restoran akan merekrut mu dengan tangan terbuka.


Virtual reality!


Artinya bahwa realita benar-benar direalisasikan dalam dunia imajinasi. Dengan kata lain, apa yang dipelajari dalam game virtual akan berdampak juga di kehidupan nyata. Royal Road adalah game yang memiliki realistik dan detail yang sangat apik.


Tentu saja, sebagian besar player tidak berminat untuk belajar skill handicraft secara tulus seperti Weed. Sebenarnya Weed pun tidak akan pernah mengerti nilai yang sebenarnya dari skill handicraft sampai dia mengalaminya dengan tangannya sendiri.


'Aku juga tidak yakin mereka mau mencobanya atau tidak walau sudah ku jelaskan dengan detail.'


Weed meyakini bahwa nilai dari skill cooking akan melonjak tinggi ketika level seorang player mencapai ratusan. Makanan yang dimasak Weed dengan skill cooking tingkat dasar bahkan memberikan efek bonus HP, jadi efeknya pasti akan sangat besar ketika seorang master cooking yang menyajikan masakannya.


'Tidak hanya cita rasa masakan, namun bonus statistik yang didapat juga sangat spektakuler. Roti hitam keras yang tawar melawan masakan Perancis yang rasanya bagaikan surga serta menambah bermacam statistik! Kontesnya bahkan langsung selesai sebelum sempat dimulai. Aku yakin bahkan sebuah pasangan bahagia yang telah menikah beberapa tahun akan saling membunuh satu sama lain agar bisa mencicipinya.'


Weed membayangkan makanan yang disiapkan oleh chef terkenal akan menghasilkan banyak gold. Dia mulai berpikir bahwa harga patung bukanlah apa-apa jika dibandingkan dengan masakan master cooking. Karena, selama makanan masih menjadi kebutuhan terpenting dalam kehidupan, maka skill cooking tidak akan pernah turun nilai harganya dalam kehidupan sehari-hari.


Para juara juga pasti menginginkan makanan terbaik yang bisa mereka temukan, maka nilai dari koki profesional akan mencapai puncaknya. 'Yah, beberapa orang mungkin sudah memikirkan tentang hal ini sebelumnya. Chef adalah salah satu profesi yang paling ketat dalam menjaga rahasia mereka. Mereka pasti menciptakan resep mereka sendiri dan meningkatkan skill cooking secara perlahan.'


Weed berbalik menghadap semua orang dalam party dengan wajah tegas. "Aku tidak akan menyangkal bahwa kalian memandang rendah seluruh profesi pengrajin seperti chef. Tapi, perlu aku ingatkan pada kalian bahwa skill bertempur memang penting. Namun, siapa yang tahu mungkin skill kerajinan bisa jadi skill yang paling dibutuhkan di masa depan. Semua skill kerajinan mempunyai kelebihan satu sama lain dan mereka juga bisa membantu meningkatkan kekuatan bertarung sebuah profesi. Aku sarankan kalian mempelajari skill cooking. Skill ini sangat penting dalam kehidupan sehari-hari."


"..." Semua anggotanya terdiam mendengar ceramahan dari Weed.


"Maafkan aku " kata Surka dengan suara pelan dia menundukkan kepalanya menahan penyesalan.


"Aku lupa bahwa kau adalah seorang sculptor, dan aku tidak memikirkan ucapan ku dulu saat aku menjelek-jelekkan profesi pengrajin. Aku benar-benar minta maaf, Weed." Pale juga terlihat sangat menyesal.


Wajah Surka, Pale, dan Romuna tampak memerah menahan malu. Mereka pikir Weed marah karena mereka menganggap remeh skill cooking, salah satu dari skill seorang pengrajin, tepat di depan matanya.


"Hey, bukan itu maksudku. Kalian salah paham." Weed menggelengkan kepalanya tampak putus asa. Tidak peduli sekeras apapun usaha untuk menunjukkannya pada mereka, mereka tetap tidak akan mengerti dengan jelas sebelum mereka benar-benar membutuhkannya.

__ADS_1


Toko pangan ini memiliki suasana yang santai karena mereka melayani banyak pelanggan reguler. Weed menerobos kerumunan para pelanggan dan berjalan ke arah kasir. "Halo," kata Weed.


"Halo. Aku baru saja mendengar pendapatmu. Pandanganmu sangat benar soal skill cooking!" kata penjaga toko.


Weed tersenyum kecil, "Terima kasih."


"Wajahmu terlihat familiar."


"Itu karena aku pernah belanja kesini beberapa hari yang lalu."


Saat Weed menjual makanan beberapa hari lalu, dia selalu mengunjungi toko ini untuk membeli bumbu-bumbu masakan. Dia memaksimalkan keuntungan dengan memborong bumbu masakan dalam jumlah besar agar mendapat diskon. Dan keuntungan lainnya yaitu satu alasan simpel, harga disini murah meriah. Weed memang selalu belanja kesini, tapi baru pertama kalinya dia berbicara dengan penjaga toko.


"Ohhh wajar saja terlihat tidak asing. Terimakasih sudah belanja disini. Ngomong-ngomong apa kau memilih jalur sebagai chef?"


"Tidak. Profesi utamaku bukanlah seorang chef, tapi aku tahu nilai penting dari skill cooking." Weed memberikan senyuman terbaik yang dia punya.


"Ohhh begitu. Jadi apa yang ingin kau beli?" Mata penjaga toko bersinar terang saat menatap Weed.


Weed sendiri sudah tahu bahwa penjaga toko ini adalah seorang player, melihat percakapan intens nya dengan beberapa kurir, "Bumbu-bumbu masakan dan kecap."


"Hmm, kami punya banyak jenis bumbu." Dia menunjukkan beberapa botol bumbu dapur pada Weed, "Ada garam, gula, merica, dan aku bisa menunjukkan padamu bumbu-bumbu lokal yang spesial, seperti bumbu dari hutan Elf, dan sebotol getah penyedap rasa langka yang di peras dari tanaman bumbu khusus dari Utara."


Benua ini sangatlah luas, selain equipment, terdapat juga bumbu masakan khusus yang dipanen oleh petani lokal dan dijual melalui Merchant.


"Aku tidak butuh bumbu yang berlebihan, yang biasa saja."


"Baguslah, hanya orang bodoh sombong yang sering mencari sesuatu yang spesial karena tujuannya tidak lebih karena ingin pamer." Penjaga toko berseri-seri melihat Weed, "Nah, bagaimana dengan kualitasnya?"


"Tentu saja aku ingin yang terbaik." Weed menjawab dengan lantang.


"Berapa banyak?"


Weed menghitung berapa banyak uang yang ada di sakunya sekarang. Karena dia belum menjual equipment yang dia peroleh, jadi dia belum mendapatkan untung dari hasil berburu ratu cacing di dugeon Litvart. Weed sengaja menyimpan equipment itu untuk meningkatkan skill repair. Untunglah salah satu drop item yang dijatuhkan oleh ratu cacing ada yang berupa silver.


Setelah menjumlahkan semuanya, Weed sudah dapat kesimpulan tentang uang simpanan nya, "Berikan aku bumbu masakan sebanyak mungkin. Aku akan membayarnya dengan 27 gold."


"Tentu, aku akan memberimu diskon ekstra." Penjaga toko tentu saja merasa sangat senang karena Weed memborong dagangannya.


Ketika anggota party Weed mendengar percakapan Weed dan penjaga toko, mereka dapat merasakan rasa saling memahami satu sama lain layaknya mereka adalah teman minum lama yang bertemu kembali. Percakapan sederhana namun nyaman.


Tetapi, faktanya penjaga toko itu adalah seorang player seperti mereka, dia telah mengambil jalur menjadi chef. Ketika dia melihat Weed, dia merasakan bahwa saingan kuat telah muncul.


Weed juga mengakui bahwa penjaga toko adalah seorang senior dalam bidang memasak. Mereka berdua tidak butuh kata-kata untuk mengungkapkan hal itu, cukup dengan kontak mata pun mereka mengerti bahwa mereka adalah saingan yang kuat suatu hari nanti.


Weed mengemas bumbu masakan ke dalam tas di punggungnya. Karena dia telah puas mempersiapkan barang-barang untuk perjalanan kali ini, dia baru mengajak anggota timnya menuju pasukan Darius.


Darius duduk di sebuah kursi kecil untuk mewawancarai para pendaftar di quest nya. "Selanjutnya." Dia berkata dengan tegas dan lantang, layaknya mengomando sebuah peperangan.


"Perkenalkan aku Cochran, archer level 68. Aku ahli dalam Multiple Shot, dan senjataku adalah Lasante's Bow."


"Diterima."


Baris selanjutnya yang akan maju adalah tim Pale. Mereka berjalan ke arah Darius dengan gelisah. Terutama Irene, dia melirik Weed beberapa kali sambil menghembuskan nafas panjang.


Pale berbicara sebagai perwakilan dari party mereka. "Kami semua tergabung dalam party yang sama. Memiliki level 50-an. Ada seorang Priest, seorang Mage dengan elemen api, seorang Archer, seorang Paladin, dan--" Pale sedikit ragu-ragu untuk memperkenalkan profesi Weed, karena dia takut ketika dia menyebutkan bahwa Weed adalah seorang Scluptor maka Darius akan marah lalu menolak mereka dengan sadis.


Melihat Pale terdiam merenung, Darius berbicara duluan, "Hmm, kalian adalah party yang seimbang. Bagus sekali. Dan dia?" Darius melihat Weed sambil bertanya pada Pale, "Apakah dia juga bagian dari party mu?"


"Ya."


"Total 5 orang. Pas sekali dengan slot kosong yang tersisa di pasukan ku."


"Jadi?"


"Maukah kalian bergabung dengan quest ekspedisi untuk menyelamatkan Desa Baran?" tanya Darius.


Lalu Stat Window langsung muncul di depan mata Weed dan anggota timnya.


Quest Ekspedisi di Desa Baran!


Di luar perbatasan kerajaan Rosenheim adalah alam liar yang penuh monster. Tembok telah dibangun, dan pasukan telah dikirim untuk menjaga agar para monster tidak menginvasi desa, namun ada sebuah celah yang dilubangi oleh monster. Melalui celah itu, segerombolan monster menerobos masuk dan menguasai Desa Baran.


Bersama dengan prajurit Rosenheim, selamatkan Desa Baran dari bencana dengan membasmi para monster.


Tingkat kesulitan : D


Batas waktu : 1 Bulan


Pale tersenyum ceriah lalu menjawabnya dengan lantang, "Tentu."


"Aku juga ingin bergabung." Dilanjutkan oleh Romuna.


"Sama." Irene juga berseri-seri bersama ketiga gadis di timnya.

__ADS_1


"Terima kasih untuk ajakan quest nya."


"Ya." Weed adalah orang terakhir yang menerima quest ini.


Anda menerima quest!


"Ayo berangkat sekarang." Darius berdiri lalu berteriak lantang kepada pasukan ekspedisi.


"Semua yang ikut dalam quest ekspedisi ini, berkumpul lah kemari! Kita sudah punya cukup orang, jadi kita akan pergi sekarang!" Matanya memancar penuh keyakinan.


Tidak ada upacara khusus untuk pasukan ekspedisi Desa Baran.


Beberapa orang yang merupakan teman dari beberapa anggota pasukan melambaikan tangan dengan semangat melangkah maju.


300 player dengan bermacam-macam seragam berjalan beriringan keluar gerbang selatan menuju Desa Baran. Dengan tujuan yang sama, yaitu memberantas monster yang menginvasi Desa Baran.


"Hehe. Aku belum pernah pergi sejauh ini dari Benteng Serabourg sebelumnya. Rasanya seperti sedang menjalani sebuah karya wisata!" Wajah Romuna sangat senang.


"Seharusnya aku membawa kotak makanan," Irene mendesah lagi.


Kedua gadis itu mengobrol dengan santai.


Udara yang segar di pagi hari yang cerah! Ini adalah hari yang sempurna untuk melakukan sebuah karya wisata. Di sebrang jalan, ada singa dan serigala, mereka berlari ketakutan melihat banyaknya pasukan. Beberapa player tertawa melihat aksi konyol singa dan serigala yang berlari pontang-panting menghindari mereka.


Termasuk anggota party Weed, mereka ikut tertawa menyaksikan singa dan serigala barusan. Sambil berjalan santai menikmati pemandangan disekitar, mereka juga mengobrol kan ini itu tentang alam liar yang mereka lewati.


Berbeda dengan Weed, dia malah mengamati anggota pasukan yang lain, tentang tampilan mereka dan item yang mereka pakai. 'Rata-rata player di pasukan ekspedisi ini antara level 40 sampai level 60-an. Sedangkan menurut rumor, Darius berlevel 140.'


Darius juga memiliki 5 anggota tim khusus, 3 orang knight, seorang Thief, dan seorang Warrior.


'Aku anggap mereka memiliki level yang hampir sama dengannya.' Weed juga menyimpulkan bahwa Darius menerima semua orang yang meminta bergabung dalam quest, agar cepat mencapai syarat quest yaitu 300 player.


Kecurigaan telah muncul dalam pikiran Weed ketika Pale mendaftar pada quest ini, dan Darius tampak sangat santai dalam menerima timnya. Dalam kasus Weed, Darius bahkan tidak menanyakan level dan profesinya. 'Pasti dia ingin menyelesaikan quest ini secepat mungkin. Karena akan banyak hadiah yang diberikan jika dia menyelesaikannya dalam waktu singkat.'


Weed merasa dia harus siap siaga.


Saat Pale mengirim pesan tentang quest ekspedisi ini, Weed terlebih dahulu melakukan penelitian intens tentang Darius, pemimpin pasukan ekspedisi ini, untuk mengurangi resiko jika terjadi hal yang tidak terduga saat dia bergabung dalam quest.


Menurut penelitian yang dia dapatkan, Darius memiliki reputasi yang buruk. Fakta yang sudah di ketahui khalayak umum bahwa orang ini akan menghalalkan segala cara untuk mendapatkan apa yang dia inginkan, "Semuanya dengar." Weed berbisik pelan kepada anggota timnya.


"Huh?" Surka menatap Weed dengan bingung.


"Ketika kita sampai di Desa Baran, jangan mempercayai siapapun." Weed berbicara dengan tegas.


"Apa maksudmu?" Dahi Romuna mengernyit dalam.


"Maksudku, kita berjuang sendirian disini." kata Weed.


Pale melihat sekeliling tersadar oleh kata-kata Weed. Dia mengangguk setuju, "Aku mengerti maksudmu, Weed."


"Jelaskan secara detail, aku belum paham." Surka menatap Weed seakan memohon.


Weed cemberut padanya. "Apa kita kenal anggota lain dari pasukan ini?"


"Tentu saja tidak." Jawab Surka dengan cepat.


"Jadi maksudmu jika ada drop item bagus yang muncul, seseorang mungkin akan membunuh kita agar bisa mendapatkannya." Irene mulai beranalogi setelah terdiam cukup lama. Dia terlihat percaya diri dengan ucapannya.


Tetapi perkataannya barusan membuat kaget semua anggota party nya. Surka dan Romuna bahkan terlihat takut.


Weed menghembuskan nafas panjang, "Bukan itu yang aku maksud, walau kemungkinan besar bisa saja terjadi. Tapi tidak akan ada orang yang berani melewati batas di depan banyak saksi dalam pasukan ekspedisi. Orang itu akan mendapatkan tanda pembunuh setelah membunuh player lain, saat orang itu muncul di depan publik, secara otomatis dia akan menjadi musuh ratusan orang, mereka akan membunuhnya sebagai bentuk balas dendam. Dan lagi, Darius pasti tidak akan membiarkannya terjadi, karena hal itu akan membahayakan kepemimpinannya."


"Lalu apa yang mengganggumu?" Romuna mulai pusing dengan perkataan Weed. Yang dia inginkan adalah inti pembicaraannya.


"Kita tidak bisa bergantung pada orang lain. Itulah masalah kita." Weed memimpin anggota party nya sedikit menjauh dari pasukan untuk menghindari orang yang menguping, lalu menambahkan, "Kita memiliki level yang rendah, dan akan melawan monster dalam jumlah banyak."


"Tepat! Bukankah karena itu mereka merekrut 300 player dalam quest ini, dan meminjam 200 prajurit NPC dari tentara Rosenheim? Ketika kita menyelesaikannya, kita akan mendapat banyak exp dan fame," Surka sangat antusias dengan hadiahnya.


"Kalau begitu jawab pertanyaan ini. Bagaimana kalian akan bertarung ketika pertempuran telah dimulai?" tanya Weed. "Memang benar bahwa kita memiliki banyak orang, namun kita semua hanyalah orang asing. Kita tidak tahu skill apa yang dimiliki Archer itu. Kita tidak tahu apa orang yang terlihat seperti mage di sebelah sana benar-benar seorang Mage atau hanya penyamaran belaka. Bayangkan jika monster menyerang secara tiba-tiba, bagaimana kalian akan bereaksi? Apakah kita bisa berkerja sama dengan orang-orang asing ini dalam memberantas monster yang datang tiba-tiba?"


"Apanya yang salah? Bukankah pasukan ekspedisi dibentuk dengan tujuan itu?" Irene ikut pusing dengan penjelasan Weed.


Setelah Irene mengajukan pertanyaan itu, Pale menggelengkan kepala dengan lemah. "Kebanyakan quest ekspedisi hanya tentang membunuh sejumlah monster atau membersihkan beberapa area dari invasi monster. Aku belum pernah mendengar tentang pertempuran besar melawan pasukan monster di alam liar seperti quest ini. Kita punya 300 player dan 200 prajurit NPC disini, namun ketika pertempuran dimulai, kita akan tetap bergantung pada anggota tim kita sendiri, pastinya akan pecah menjadi beberapa bagian."


"Jadi artinya?" Irene masih tidak mengerti kemana arah pembicaraan ini.


"Irene, angka selalu menipu. 300 player dan 200 prajurit NPC tidak menjamin bahwa pasukan ini akan menjadi sekuat jumlahnya. Jika kita bisa mengalahkan para monster, maka kita akan baik-baik saja. Tapi jika kita mengalami kejadian yang tidak terduga, kita akan terpecah seperti pasir. Jadi kita harus waspada." kata Weed.


Darius adalah orang yang tidak sabaran dan terlalu terobsesi agar menang dengan cepat. Sebenarnya, sangat banyak player yang ingin bergabung dalam quest, dia bisa saja hanya menerima player yang berlevel tinggi untuk mengurangi resiko kegagalan dalam situasi berbahaya, sedangkan tim Weed yang berlevel rendah malah diterima dengan tangan terbuka.


Itu semua karena Darius berniat untuk mendapatkan semua fame, jadi dia menolak semua player yang memiliki level diatas 100. Sebaliknya, dia mengisi slot pasukannya dengan level rendah. Dia juga memerintahkan para prajurit Rosenheim untuk tetap di belakang dan mengikuti pasukan utama dengan jarak yang sedikit jauh. 'Aku yakin dia khawatir bahwa para prajurit NPC akan mengambil beberapa exp dan fame yang seharusnya akan menjadi milik mereka.'


Weed sangat menyayangkan tak-tik murahan Darius. Jika dia adalah pemimpin dari pasukan ekspedisi ini, dia jelas akan melakukan kebalikannya. Dia akan mengabaikan 300 player rekrutan, sebaliknya, memanfaatkan para prajurit Rosenheim.

__ADS_1


Setelah memerintah para NPC untuk memberantas para monster, dia akan mendapat kepercayaan dan status leadershipnya akan meningkat pesat. Kau bisa mendapat fame atau exp dengan cara yang berbeda-beda, namun status leadership butuh kesempatan seperti ini untuk naik dengan cepat. Sayang Darius tidak bisa melihat poin ini dengan benar.


Weed sekali lagi memperingatkan teman-temannya, "Ingat, selalu waspadai kanan kiri mu."


__ADS_2