Legendary Moonlight Scluptor

Legendary Moonlight Scluptor
Dungeon perangkap!


__ADS_3

Bayangan keempat orang yang memimpin sebuah gerobak terlihat beriringan memasuki kedalaman dungeon.


Setelah menyentuh kedalaman dungeon akhirnya mereka bertemu dengan musuh pertama yang memiliki mata runcing menyala-nyala dalam temaram kegelapan.


"Keeeeek!"


"Ada penyusup!"


"Musuh muncul!"


"Manusia-manusia ini memasuki sarang kita."


Mereka adalah para Lycanthrope penjarah yang sedang menghangatkan diri di depan sebuah api unggun. Berita buruknya, mereka tidak hanya seekor tapi sangat banyak.


Karena Lycanthrope hidupnya berkelompok, jadi wajar saat ditemukan jumlahnya akan melebihi ekspektasi. Bagaimanapun, populasi Lycanthropelah yang memenuhi sebagian besar Pegunungan Baruk.


"Huh, lawan kita hanya para cecunguk ini?" Hammer mencibir.


"Haaa!" Lawn Mayer mendesah panjang setelah berhadapan dengan Axe.


"Sayang sekali!" Spade ikut mengeluh.


Awalnya mereka berharap akan menemukan monster yang lebih kuat, tapi takdir berkata lain mereka malah menemukan lawan yang cukup lemah.


Srettt!


Axe memimpin kelompok itu langsung menghunuskan pedang untuk menyerbu musuh. Seketika mereka berempat langsung terorganisir saat menyerang musuh bersama."Bodoh."


"Sungguh menyedihkan mati di tempat seperti ini."


Margaux mengambil armor tersebut untuk dirinya sendiri. Gran dan Margaux hanya menyeringai. Mereka saling tak percaya pada satu sama lain, melihat tak ada dari mereka yang menggerakkan jari untuk menolong Levi.


Sebagai informasi tambahan, para Lycanthrope di sini sedikit lebih kuat dari pada teman-teman mereka yang ada di luar dungeon, umumnya berlevel 130. Tapi, tetap saja mereka tidak bisa mengalahkan ketajaman pedang Axe dan Hammer.


Weed menilai situasi dalam diam, 'Mereka lawan yang tangguh.'


Keempat orang itu tidak hanya kuat di level, tapi saat pertempuran berlangsung dalam situasi sesulit apapun mereka mampu mengeluarkan refleks yang luar biasa, terlihat sangat gesit saat menghindari serangan musuh, menangkis ataupun menyerang. Mereka mengetahui dengan jelas bagaimana cara yang tepat untuk mengalahkan musuh seefisien mungkin. 'Ku akui mereka berbakat dalam pertempuran.'


Weed mengangguk beberapa kali melihat kerjasama yang terjalin di antara mereka, 'Empat orang player ya. Mungkinkah mereka--'


'Dwichigi Kuartet?!'


Sebuah video yang Weed tonton di sebuah website melintas dalam pikirannya. Video yang diunggah para korban yang ingin balas dendam pada Dwicighi Kuartet. Dia tidak benar-benar mengingat wajah mereka, tetapi sekarang setelah menyaksikan secara langsung bagaimana cara mereka bertarung akhirnya Weed mengingat mereka.


Namun, Weed mendesah tak berdaya, 'Sepertinya dalam petualangan mereka hanyalah pemula.'


Monster pertama yang mati akan menjatuhkan item kualitas terbaik dalam dungeon baru. Oleh karena itu, akan lebih baik jika mereka mengesampingkan para Lycanthrope dan memburu monster kelas boss. Tetapi mereka berempat tampak tidak peduli dengan kenyataan ini dan malah menerjang para Lycanthrope. 'Salah satu keuntungan menjadi orang pertama yang menemukan dungeon ini telah disia-siakan. Sayang sekali."


"Yang harus kalian lakukan adalah percaya pada kami." Lawn Mayer sempat-sempatnya menyombong pada Mapan dan Weed selama pertarungan berlangsung.


"Ya, hanya itu saja yang harus kalian lakukan." Lanjut Spade ikut tersenyum penuh kemenangan setelah menebas leher Lycanthrope, lalu dia mengelap darah yang muncrat di dagu sambil mengerjakan sebelah mata pada Weed dan Mapan.


"..." Mapan sampai tidak bisa berkata-kata saking terkejut.


Dwicighi Kuartet langsung tertawa puas saat membantai para Lycanthrope seakan semudah menebas para kelinci.


Disisi lain, Weed mulai memunguti apapun yang bisa menghasilkan uang, 'Keahlian bertempur mereka tidak bisa diremehkan begitu saja.'


Karena keahlian seorang PK jauh lebih tinggi dibandingkan para player normal di level yang sama. Berkat pengalaman melawan sesama player, mereka sangat terampil saat bertarung melawan monster.


Keempat orang itu bertarung dengan baik, bahkan tidak melewatkan titik lemah musuh sedikitpun. Kerja sama mereka tidak terbantahkan, sangat kuat dan epik.


Weed yang awalnya bersikap santai hampir tersedak saat menyaksikan Dwicighi Kuartet yang menelan potion HP dan potion mana yang seharga 5 gold seakan meminum air mineral. Walau uang tersebut didapatkan dari menjual drop item hasil membunuh player lain. Tapi tetap saja mereka terlalu boros menghabiskan uang seakan tidak akan pernah habis.


Weed mendesah panjang, "Dasar! Mereka tidak akan menghabiskan uang seceroboh itu jika merasakan bagaimana susahnya mencari uang dari hasil berburu.'


Mata Weed terlihat mengasihani Dwicighi Kuartet karena tidak mau repot-repot memungut copper dan drop item yang dijatuhkan oleh para Lycanthrope. Bagi mereka hal itu terlalu merepotkan, bahkan harganya tidak seberapa saat dijual. Dari sini prinsip Weed dengan mereka terlampau sejauh langit dan bumi. Weed akan memungut hal apapun yang bisa menghasilkan uang bahkan seharga 1 copper.


Berpikir sampai sejauh ini Weed memikirkan ide gila, 'Haruskah aku pindah haluan menjadi seorang PK? Aku memang akan kehilangan semua fame yang telah susah payah ku kumpulkan sampai sejauh ini. Tapi, sebuah pengorbanan sulit pasti akan terbayar kembali.'


Sambil mengamati berlangsungnya pertarungan, Weed masih santai memunguti drop item yang dijatuhkan oleh para monster.


"Kyaaa!!" Mapan berteriak kencang saat seekor Lycanthrope menerobos Dwicighi Kuartet menuju dirinya dan Weed. "Se-seekor Lycanthrope! Ja-jangan mendekat!"


Tapi Lycanthrope itu tentu saja tidak mendengar peringatan keras Mapan.


"Dagingku pahit!!!"


Sambil berlari mundur terbirit-birit mata Mapan menatap Weed dengan sendu seakan meminta tolong agar segera diselamatkan. Namun, ekspresi yang dikeluarkan Weed sepenuhnya mengejutkan Mapan. "A-apa yang terjadi?"


Weed yang Mapan kenal selama ini telah membantai banyak Lycanthrope setelah mengeluarkan lolongan panjang. Lelaki itu bahkan tidak memiliki belas kasihan pada setiap monster yang ditemuinya. Dia menebas semua Lycanthrope yang datang seakan memotong daging untuk dimasak. Setelah pedangnya hampir hancur dia akan menggunakan tinju dan tendangan mematikan. Mapan akhirnya mengenal teman seperjuangannya itu, bagi Weed tidak ada yang mustahil dalam pertarungan.


Awalnya Mapan sangat percaya diri karena Weed sang pemberani berada tidak jauh darinya, dia percaya Weed akan melindunginya seperti sebelum-sebelumnya. Tetapi, yang terjadi di hadapannya sekarang bertolak belakang dengan dugaannya.


Seorang pelindungnya, Weed, menunjukkan tanda-tanda yang jauh lebih ketakutan dari dirinya. Wajah Weed sebiru samudra atlantik, tubuhnya bergetar hebat, ekspresinya sangat putus asa.


Mapan mengernyitkan dahi merasa ada sesuatu yang tidak beres, "Um- We-Weed."


Weed menutup wajah dengan kedua tangan setelah terduduk lemas di tanah.


Kedua mata Mapan melebar sempurna, "Akh! Kita akan mati?!" Teriaknya nyaring ikut putus asa.


"..."

__ADS_1


Mapan akhirnya berhenti mengeluh, dirinya pusing sendiri tidak mengerti dengan isi kepala Weed.


Sedangkan Lycanthrope telah mencekramkan cakar ke arah mereka.


Growl!


Lycanthrope berusaha menyerang Mapan, dia beberapa kali berlari, setelah tidak mempunyai tenaga yang cukup, dia hanya bisa berguling di tanah untuk menghindari cakaran lawan. Diapun tidak punya waktu lagi untuk memikirkan Weed yang berubah jadi pengecut. Terlalu sibuk menyelamatkan nyawa yang sudah di ujung tanduk.


Lycanthrope itu terlihat sangat ganas saat menyerang dengan rahang dan cakar. Untungnya, Mapan telah sering menyaksikan Weed saat bertarung melawan para Lycanthrope, jadi dia cukup terbiasa dengan pola serangan mereka. Karena itulah Mapan bisa menghindari semua serangan musuh dan bisa menyelamatkan nyawanya yang berharga.


Tak jauh dari tempatnya berada, akhirnya Lycanthrope berusaha menggampai Weed. Seakan mengikuti langkah Mapan, akhirnya Weed juga ikut berguling ke sana kemari untuk menghindari serangan Lycanthrope sampai membuat tubuhnya terlihat sangat menyedihkan.


Karena tidak bisa menggapai target, Lycanthrope itu meraung kesetanan. Weed menjadi sasaran empuk kemarahan itu.


"Uwaaaaaaaa!" Weed berteriak nyaring sambil berguling terus-menerus untuk menghindari maut. Dalam situasi genting itu Weed masih bisa memperkirakan arah pelarian, dia sengaja berlari menuju tempat Dwicighi Kuartet. Akhirnya Lycanthrope yang menyerang Weed ditebas oleh pedang Lawn Mayer.


Setelah pertarungan berakhir, mereka berempat terlihat merasa bersalah kepada Weed dan Mapan. Axe sebagai perwakilan dari mereka angkat bicara, "Kami dengan tulus meminta maaf atas insiden tidak terduga ini. Walau bagaimanapun kami telah membuat kesalahan fatal karena membiarkan satu Lycanthrope lolos sehingga membahayakan nyawa kalian."


"Aih! Tidak apa-apa." Weed tersenyum secerah mentari pagi sambil melambaikan tangan beberapa kali, "Nyawa kami tidak lenyap, ini semua berkat bantuan kalian juga kan. Aku tidak bisa membayangkan bagaimana keadaan kami tadinya jika kalian tidak ada. Kamipun dengan tulus mengucapkan terimakasih sebanyak-banyaknya karena kalian telah menyelamatkan kami."


Axe tersenyum lebar, "Itu sudah kewajiban kami, sobat."


Mereka mengakhiri percakapan itu dengan sama-sama saling lapang dada. Dalam hati Weed mendengus.


- Pesan privat kelompok -


- Seperti yang sudah ku duga, tidak ada yang spesial dari orang lemah ini.


- Percuma kita khawatir, hanya karena equipment nya terlihat bagus.


-Yah, jika dipikir-pikir equipment yang dimilikinya hanyalah equipment umum yang bisa digunakan di segala profesi. Bahkan level equipment nya hanya 100-an. Tidak jauh berbeda dengan pedang lusuh yang menggantung di pinggangnya.


- Kita sudah memastikannya, kalau begitu ayo bergegas!


Keempat orang itu akhirnya merasa lega, lalu menghilangkan kewaspadaan terhadap Weed dan Mapan. Sayang sekali mereka telah tertipu oleh niat Weed yang sebenarnya.


Hanya satu Lycanthrope, bukanlah lawan yang sulit baginya. Tapi dia telah mengamati pertarungan keempat orang itu dengan detail. Dengan kemampuan tempur sebaik itu, tidak mungkin ada satupun monster yang bisa lolos dari serangan mereka. Situasi itu jelas bisa diatasi dengan mudah hingga tidak membahayakan Weed dan Mapan. Namun, mereka dengan sengaja membiarkan satu Lycanthrope lolos. Dengan ini, Weed dengan jelas mengetahui niat mereka yang sebenarnya adalah untuk menguji kekuatan Weed dan Mapan.


Weed tentu saja tidak akan melewatkan peran penting, dia akan senang hati melakukan apa yang keempat orang itu harapkan, dengan bertindak seperti orang bodoh yang lemah. Mapan pun hanya bisa menutupi tentang kehebatan Weed yang sebenarnya lebih dari mampu untuk membantai satu Lycanthrope.


Axe mengingatkan teman-temannya dengan singkat sebelum melanjutkan perjalanan berbahaya, "Ingat, di depan akan banyak bahaya-bahaya lain yang menantikan kita, jadi berhati-hatilah."


"Baik."


Mereka melanjutkan perjalanan dengan perasaan gugup bercampur bahagia.


Booooom!


"Aaaaaahhhhhhhh!" Mereka berteriak serempak saat perangkap pertama muncul. Tanpa seorang Thief atau Adventurer tentu saja perangkap yang ada tidak bisa dihilangkan.


Crack!


Seakan tidak ada habisnya, berbagai rintangan kembali terkuak untuk menghambat perjalanan mereka.


Rummmmmble!


Tiba-tiba tanah terbelah beberapa bagian mengungkapkan paku runcing dari dalamnya. Terkadang beberapa karung pasir berjatuhan dari langit-langit menghimpit mereka semua.


"Aaaaaahhhhhhhh!"


Dengan perangkap sekejam hukuman penjara ini mereka selalu terjatuh. Kadang-kadang ada perangkap yang tidak terduga terkadang juga ada perangkap yang sama seperti sebelumnya.


Namun, di mata Weed perangkap yang memenuhi dungeon ini bukanlah apa-apa, dia bahkan mampu melihatnya dengan mata telanjang. Awalnya dia memang menikmati Dwicighi Kuartet yang jatuh dalam perangkap berulang-ulang. Tapi, lama kelamaan diapun muak dengan semua ini, hampir mengatakan letak kunci perangkap.


Saat itu Lawn Mayer tertawa lebar dengan percaya diri mengatakan, "Jangan khawatir! Percayakan saja pada kami berem--"


"Ahhhhhhhhh!" Perkataan Lawn Mayer langsung terpotong oleh jeritan Hammer yang mengalami pendarahan hebat.


Ditengah kejadian yang tengah pelik itu untung saja Axe berhasil menemukan tangga menuju ke lantai bawah. "Ah! Sepertinya dewi fortuna sedang memihak kita! Hahahahaha! Ayo!" Dia memimpin mereka untuk terus maju tanpa ragu-ragu.


Weed bisa mendengar hembusan nafas lega yang keluar dari mulut Mapan. Tapi, dirinya tidak bisa menganggap bahwa penemuan ini adalah hal yang melegakan. Karena, lantai kedua pasti perangkap yang memenuhinya jauh lebih berbahaya lagi daripada lantai pertama tadi.


Benar saja, saat mereka baru saja menginjak lantai kedua, para Lycanthrope berdatangan untuk menyerang mereka, walau tidak menakutkan, tapi neraka yang sebenarnya baru saja dimulai saat perangkap yang tidak ada habisnya terus menerus muncul.


Hwareukreuk!


Bau menyengat memenuhi udara, ternyata berasal dari minyak tanah yang mengalir dari langit-langit dungeon, berita buruknya, minyak tersebut langsung membakar habis ruangan tanpa memberi waktu bagi mereka untuk bereaksi. Akhirnya Hammer yang memiliki HP terendah berubah menjadi cahaya abu-abu dan log out.


Weed dan Mapan yang mengikuti langkah tepat dibelakang Hammer untung bisa selamat.


"Hufth." Lawn Mayer menghembuskan nafas panjang.


"Perangkap disini sangat tak masuk akal." Spade sudah beberapa kali mengeluhkan hal yang sama.


Walau satu rekan mereka telah kehilangan nyawa, tapi sisa anggota kuartet itu tidak memiliki penyesalan sedikitpun. Keserakahan mereka telah membutakan hati nurani sebagai manusia. Mereka melihat hasil tersebut dengan pendekatan yang kejam, semakin sedikit orang yang tersisa maka akan semakin besar bagian yang bisa dihasilkan.


'Jika salah satu dari mereka ikut mati maka penghasilanku akan lebih banyak.'


'Saingan ku tinggal dua orang lagi, jangan kasih kendor, aku harus bisa selamat untuk menguasai bagian ku.'


'Aku ingin menjadi satu-satunya yang bertahan hidup dan menguasai semua harta.'


Setelah kematian Hammer, yang lain diam-diam mengharapkan kematian rekan yang tersisa. Pikiran anggota kuartet tidak jauh beda dari keserakahan duniawi, mereka sedikitpun tidak mempunyai kesetiaan kawanan.

__ADS_1


Kepada sesama teman saja sudah sekejam itu, apalagi kepada Weed dan Mapan yang notabete nya adalah orang asing. Mereka tentu saja sudah menyiapkan kematian Weed dan Mapan kapan waktu yang tepat.


"Tunggu." Axe tiba-tiba berbicara. "Mau dipikir bagaimanapun, rasanya tidak adil hanya kami satu-satunya menghadapi resiko tinggi."


Lawn Mayer dan Spade berpandangan sejenak, terkejut dengan ucapan rekan sendiri.


- Pesan privat kelompok -


- Axe, apa yang kau lakukan?


- Simpel. Tujuan utama kita membawa kedua orang ini adalah untuk dikorbankan, bukan?


- Benar


- Tapi itu kan untuk dikorbankan saat di dungeon petir. Apa kau ingin membunuh mereka sekarang?


- Sudah lihat saja. Aku punya ide bagus.


"Apa maksudmu?" Mapan menatapnya dengan canggung.


Tetapi Axe membalasnya dengan senyuman kecil, "Bukan masalah besar. Niatku adalah kita berbagi resiko bersama. Nyawa satu rekanku baru saja terenggut, tidakkah kalian merasa sedikit bertanggung jawab?"


"Lalu?"


"Aku ingin salah satu dari kalian untuk memimpin jalan. Karena kita adalah teman seperjuangan, kita harus berbagi resiko yang sama, bukan?"


Wajah Mapan terlihat ragu-ragu, pikirannya berkecamuk, menyesali pilihannya untuk mengikuti saran Axe saat di depan jembatan. Dia sangat ingin untuk meninggalkan dungeon ini, tapi suasana saat ini membuatnya sulit untuk berbicara dengan jujur. 'Dari awal seharusnya aku tidak pernah menginjakkan kaki ke tempat terkutuk ini!'


Mapan ingin menjerit tapi disisi lain dia tidaklah berdaya, 'Aku sangat berhutang budi pada Weed.' Dia menarik nafas panjang sambil memejamkan kedua mata untuk memantapkan hati.


"Aku akan memimpin jalan." Weed mengajukan diri sendiri sebelum Mapan mengorbankan dirinya. "Ku akui, sebagai seorang scluptor, serangan ku memang lemah, tapi aku memiliki HP yang lumayan tinggi, jadi tolong izinkan aku untuk berjalan duluan."


"Benarkah? Kalau begitu terimakasih, Weed."


Sejak saat itu, Weed berganti posisi menjadi pemimpin jalan. Tapi, mau bagaimanapun kelompok itu tidaklah membentuk sebuah party secara sempurna, karena baik tim Weed maupun party Dwicighi Kuartet tidak pernah mengusulkan hal itu. Keempat orang itu tidak pernah mengundang dirinya dan Mapan untuk menjadi bagian dari mereka. Alasannya sangat sederhana, karena mereka tidak mau berbagi EXP. Sebagai gantinya mereka hanya membagi drop item murahan yang bahkan tidak dilirik oleh mereka.


Mereka juga tidak bisa menjual drop item hasil jarahan tersebut, jadi dengan senang hati memberikannya pada party Weed. Biasanya, PK tidak bisa memasuki kebanyakan kota. Bahkan ada kasus yang melibatkan penjaga kota untuk menangkap para PK. Akan lebih berbahaya lagi jika banyak musuh yang menargetkan mereka. Karena itu Dwicighi Kuartet menahan diri untuk mengunjungi kota.


Mata Weed berbinar menatap tempat berbahaya di sekelilingnya. 'Tempat ini sangat menarik!'


Biasanya dungeon yang dia jelajahi akan penuh dengan monster berbahaya yang haus darah. Tentu saja sekarang adalah pengalaman baru yang menarik baginya, menjelajahi dungeon yang dipenuhi perangkap.


Mata Weed bersinar layaknya memancarkan laser saat menatap perangkap baru di depan sana, 'Nyawaku akan segera melayang jika aku ceroboh sedikit saja.'


Weed berhenti sejenak setelah berjarak beberapa senti dari sebuah tempat di mana ada ubin berwarna biru dan merah tersusun menyerupai papan catur. Seharusnya saat ini skill pencari jebakan lah yang digunakan. Namun, di kelompok mereka tidak ada yang mampu menggunakannya.


"Hei Weed, kita harus terus bergerak." Tepat dibelakangnya, Axe berusaha menyemangati Weed dengan tegas.


Weed mengangguk singkat sebagai balasan, kakinya melangkah perlahan-lahan sambil menekan kuat pada lantai ubin, agar bisa merespon dengan cepat pada setiap perangkap. Pada pijakan pertama dia memilih ubin berwarna biru. Ketegangan sekitar sedikit mereda setelah tidak ada sesuatu yang terjadi. Mereka kembali bernafas lega setelah Weed melangkah ke ubin merah dan tidak ada sesuatu yang terjadi. Berita buruknya, mereka masih berjarak 50 meter dari ujung lorong. Tanpa petunjuk nyawanya bisa terancam kapanpun.


'Ubin biru, ubin merah. Ubin biru, ubin merah. Aku menginjak ubin secara bergantian tapi tidak ada yang terjadi. Bukankah cara ini terlalu mudah untuk sebuah perangkap? Apakah benar seperti itu urutannya?'


Weed punya banyak siasat tapi firasatnya tidak bisa tenang. 'Bagaimana jika aku melangkahi ubin dengan warna yang sama secara berturut-turut?'


Dia akhirnya memilih opsi berbahaya walau tak pasti, kakinya menginjak ubin dengan warna biru dua kali berturut-turut. Ternyata masih tidak ada apapun yang terjadi. Bukannya lega hal ini malah membuat adrenalinnya terpacu kencang. 'Jelas sekali ubin-ubin ini sengaja diberi warna sebagai tipuan. Tidak ada maksud lain kecuali sebagai pengalihan. Jika seperti itu--'


Mata Weed menajam menatap sekitar, 'Di sana!' Bibirnya mengangkat tipis saat menemukan benang tipis setinggi pergelangan kaki yang hampir tidak terlihat. Benang tersebut berada di perbatasan antara ubin merah dan biru, jadi cukup sulit ditemukan kecuali oleh orang yang benar-benar fokus. 'Orang yang tersandung benang itu akan berada dalam masalah besar!' Tentu saja dia melewati benang tersebut dengan baik.


Tepat di belakang Weed ada Axe, sedang mengikuti jejak yang dia ambil. Tapi, dia secara sengaja menjaga jarak diantara mereka. Jaraknya dengan Weed cukup jauh hingga dia tidak akan terkena masalah saat Weed terkena perangkap.


Sedangkan di belakang Axe ada Spade yang mengikuti jejaknya, diikuti oleh Lawn Mayer yang menjaga Mapan di barisan paling belakang. Bagaimanapun, mereka membutuhkan satu orang korban untuk perangkap petir, jadi sengaja menempatkan Mapan di tempat yang paling aman.


Axe yang jeli juga melihat keberadaan benang tipis diantara ubin biru dan merah. Meskipun benang itu sangat tipis, dia bisa mendapatkannya berkat mengamati pergerakan Weed yang sangat lambat. Dia sangat serius mengamati gerak gerik Weed tak lain dan tak bukan adalah untuk menghindari terkena jebakan. Saat ini setelah menemukan kelemahan jebakan, dia tidak memberitahukannya pada anggota kelompok yang lain.


'Hmm, jebakan ini, apakah dia cuman kebetulan sedang beruntung dapat menghindarinya? Atau--' Axe melintasi satu persatu benang dengan cepat sambil terus mengamati Weed. Pergerakannya sedikit dia percepat untuk menghindari masalah yang mungkin terjadi di belakangnya.


Bruk!


Benar saja, tepat setelah Axe melangkah, dibelakangnya Spade terkait benang karena terlalu ceroboh.


Kuahak!


Tiba-tiba dinding sebelah kanan dan kirinya terbuka, membuat hujan panah yang seketika langsung menerjang Spade.


Chesss!


Badan Spade yang tergolong besar tidak bisa menghindari panah-panah itu lebih lama. Satu-satunya yang bisa dia lakukan adalah menjerit tidak berdaya.


"To-Tolong aku!" Spade memohon dengan putus asa. Tapi rekannya, Axe dan Lawn Mayer hanya terdiam di tempat, sama sekali tidak berniat untuk menolongnya.


"A- aku--" Pada akhirnya Spade merenggang nyawa sambil bersimbah darah tanpa bisa menyelesaikan ucapannya. Setelah dia berubah menjadi cahaya abu-abu, sebuah equipment jatuh dari tempatnya semula.


"Bodoh."


"Sungguh menyedihkan mati di tempat seperti ini." Lawn Mayer melangkah untuk memungut equipment tersebut. Saat mengangkat wajah dia menyeringai bertatapan dengan Axe. Mereka tidak percaya satu sama lain, jadi tidak aneh saat tidak ada yang menggerakkan seujung jari untuk menolong sesama rekan setim.


...•••...


Hi!


Annyeong chingguya!


Kangen gak? Kangen gak? Kangen lah masak enggak?

__ADS_1


Wakakakaka


Walau bagaimanapun, Weed tetap nomor satu, keke.


__ADS_2