
Jika kau berpikir bahwa para monster adalah satu-satunya hal yang berbahaya di Benua Versailles, maka kau akan salah total. Sebaliknya, hal yang sangat berbahaya adalah para player itu sendiri. Karena sejatinya, manusia adalah makhluk yang paling serakah. Manusia mampu membunuh saudara sendiri demi mendapat harta, kekuasaan, warisan maupun hal lainnya.
Intinya, manusia adalah makhluk paling berbahaya.
Weed tersenyum kecil membuka percakapan, "Aku memang seorang Sculptor. Tetapi, sebenarnya aku memiliki sebuah teknik unik."
"Teknik seperti apa itu?"
"Hanya sebuah lolongan. Ketika monster mendengar suaranya, mereka melarikan diri."
"Ahhh begitu." ******* Hammer terdengar lemah dan tidak tertarik.
Axe menyikut perutnya, "Benarkah?"
"Haruskah aku tunjukkan?"
"Boleh-boleh, kami semua ingin tahu." Axe tertawa kecil bersama rekannya, terlihat jelas meremehkan apapun yang akan dilakukan oleh Weed kedepannya.
Weed mengabaikan segala macam bentuk ekspresi dari mereka. Dia fokus untuk mengumpulkan mana dengan segala kekuatannya untuk mengeluarkan skill tersebut, Lion's Roar.
"Roooooaaaaaaaaar!"
Sesaat sebelum Weed menggunakan raungannya, Mapan telah menutup rapat kedua telinganya dengan tangan, tapi keempat orang itu tidak siap hingga terhuyung-huyung karena terlalu syok.
"Sialan!"
"Raungan macam apa ini?!"
Axe menenangkan emosi Hammer dan Spade hanya dengan lirikan tajam. Mereka akhirnya kembali menatap Weed dengan senyuman lebar yang terpaksa.
"Sungguh raungan yang luar biasa. Aku jadi ingin tahu satu hal. Apakah raungan ini punya efek untuk membuat para monster menjauh?" Lawn Mayer langsung menguasai situasi yang sempat kaku beberapa saat lalu.
Skill Lion's Roar!
Weed belum membentuk tim dengan Axe dan kawan-kawan, jadi setelah mengeluarkan skill barusan, stat leadership nya tidak meningkat, dan efek tambahannya pun tidak berpengaruh. Satu-satunya hal yang mereka alami adalah teriakan yang menyakiti telinga.
"Ya, inilah yang membuat para monster ragu-ragu setelah mendengar suara ini. Nah, saat itulah kami melarikan diri sejauh mungkin."
Mereka berempat serempak tertawa mendengar penjelasan konyol dari Weed.
'Benar-benar tidak penting.'
'Kurasa orang-orang bodoh ini adalah umpan yang sempurna?'
'Kita harus berhasil membawa mereka ke tempat itu.'
'Tapi kita hanya butuh sat--'
'Apa masalahnya? Kita hanya perlu menghabisi yang satunya dengan tangan kita sendiri. Karena dia adalah seorang Merchant, pasti akan menjatuhkan banyak item berharga. Kita akan sangat beruntung!'
'Bagus, ayo kita lakukan rencana pertama.'
Mereka berempat dengan cepat mencapai kesimpulan, bahkan tanpa berbicara, tetapi cukup berkomunikasi melalui tatapan masing-masing.
Axe menunjukkan ekspresi wajah yang tegas pada Weed dan Mapan. Dia langsung menjelaskan maksud dan tujuannya, "Sejauh ini, trik itu mungkin berhasil membuat kalian lewat dengan aman, tetapi Pegunungan Baruk adalah tempat yang benar-benar berbahaya. Sebut saja pertemuan kita ini telah ditakdirkan. Jadi, mulai sekarang kami berempat akan menjadi pengawal kalian. Ini semua karena kita bepergian melalui rute yang sama. Kami menawarkan keinginan ini dengan maksud baik, tidak ada alasan kalian untuk menolak oke! Haha."
"Haha!" Mapan ikut tertawa keras, "Jika itu yang kalian inginkan, maka kami akan sangat berterimakasih." Bagaimanapun, dia sangat polos sebagai seorang Merchant yang lemah, menurutnya hal ini bukanlah ide yang buruk untuk didampingi sekelompok 4 player yang terlihat kuat.
"Mohon kerjasamanya." Weed menyadari jika ada sesuatu yang mencurigakan dari kilatan mata mereka. Tetapi, sekarang ini dia memutuskan mengikuti permainan mereka untuk mengetahui seberapa jauh kegilaan ini akan berlangsung. Jadi Weed juga mengangguk setuju tawaran penjagaan dari mereka tanpa membantah.
Weed telah menyadari situasi berbahaya sedang mengintai, tapi yang dilihat oleh keempat orang itu adalah dirinya yang tampak lemah, tidak bisa berbuat apa-apa selain menuruti ajakan ini.
Inti kesenangan saat melakukan sebuah perjalanan adalah mendapati tempat baru dan bertemu rekan seperjuangan. Tentu saja rekan yang dapat diandalkan untuk saling melindungi, dari sana akan menciptakan kedekatan melalui perburuan yang sama. Ini adalah kesenangan yang tercipta saat bermain di Royal Road.
Kadang-kadang, Weed juga menikmati berburu dengan orang lain. Tapi, karena dia terlalu sering bermain, dia tidak bisa selalu bersama-sama dengan rekannya. Walau bagaimanapun, baginya sebuah kebersamaan adalah hal yang bagus.
Namun, hal ini tidak termasuk pada empat orang asing disekitarnya sekarang.
Mereka berempat bertugas melawan monster di sekitar gerobak. Tentu saja mereka tidak melupakan tugas utama untuk mengawasi segala tindakan yang dilakukan oleh Weed dan Mapan.
'Tidak ada hal-hal mencurigakan dari kedua orang ini.'
'Benar, orang itu malah sibuk memahat patung.'
'Sepertinya dia benar-benar seorang Sculptor.'
Keempat orang itu benar-benar lega mengetahui kenyataan ini. Namun, masih bersikap hati-hati sejak mereka menimbulkan masalah sebesar ini beberapa bulan lalu, jadi jangan sampai melakukan kecerobohan yang sama.
Saat Weed mengeluarkan satu berlian mentah, mata Dwicighi Kuartet tidak bisa tidak mengalihkan pandangan pada benda berkilauan itu. Mapan yang menyadari tatapan itu harus berusaha kuat menahan rasa bangga.
Spade yang selalu penasaran tentu saja langsung menyuarakan suara hatinya tanpa sadar, "Huh? Bukankah itu sebuah berlian?"
Mapan langsung menjawab sambil tersenyum kecil. "Betul, saat ini Weed sedang memahat berlian."
"Oh, pemahatan berlian-- huh?" Mulut Spade menganga lebar sambil menatap tak percaya ke arah berlian di tangan Weed.
"Nice." Saat menatap mereka semua Mapan seakan melihat dirinya di masa lalu yang juga sama kagetnya.
"Pemahatan berlian ya, itu sangat mengagumkan!" Mata Hammer dipenuhi oleh keserakahan. Bukan hanya Hammer, tapi termasuk ketiga temannya yang lain, jika sudah menyangkut harta kekayaan keserakahan mereka tiada tandingannya.
'Jackpot!'
'Aku harap benda berharga itu yang akan menjadi drop item kelak.'
Weed memang terlihat fokus pada pahatannya, tapi tidak dengan otaknya yang masih berkelana ke sana kemari. Dia yakin, jika mereka berempat ini berniat merampok, maka setelah melihat berlian seharusnya sudah menyerang tim Weed. Tapi kenyataannya tidak sesuai ekspektasi. 'Mereka bahkan tidak menyerang setelah melihat permata? Hoho! Mereka menginginkan sesuatu yang lain dari kami. Kira-kira apa ya?'
Tentu saja bagi keempat orang itu, mereka telah berhasil menjebak mangsa, jadi mereka bersikap santai. Padahal yang tidak mereka ketahui adalah fakta tentang para penipu yang sedang tertipu. Dan satu-satunya orang yang berpura-pura ditipu.
"Mari kita istirahat makan siang dulu. Kalian pasti kelelahan, kami akan mempersiapkan makanan." Axe langsung menggiring teman-temannya untuk membuat beberapa makanan.
"Haha, ini--"
__ADS_1
"Tenang saja, memasak hanya hal sepele bagi kami, tidak merepotkan sama sekali." Lawn Mayer membuat Mapan duduk kembali dengan paksa.
"Anu itu, tunggu sebentar--" Telunjuknya mengarah ke arah Weed sambil menunjukkan wajah putus asa. Mapan tidak bisa berbuat apa-apa kecuali menerima semua kebaikan ini. Padahal dia ingin mengatakan jika masakan Weed bermutu ekstra, tapi melihat keseriusan keempat orang ini, akhirnya dia tidak bisa menolak bantuan mereka lagi.
Selama di perjalanan, keempat orang itu terlihat sangat ramah dan memanjakan Weed dan Mapan. Mereka tidak hanya menghidangkan makanan tapi juga kadang-kadang bersedia memberi Weed dan Mapan drop item dan equipment hasil rampasan.
"Ini memang tidaklah banyak, tapi aku harap kalian akan menerimanya."
"I-itu."
"Karena kita berjalan di jalan yang sama, berarti kita teman, kan? Hal ini tentu adil untuk berbagi pada sesama teman." Lawn Mayer menyikut perut Hammer.
"Tolong terimalah." Hammer berusaha tersenyum seramah mungkin.
Mapan menatap Weed, temannya itu hanya mengangkat kedua bahu terlihat tidak peduli, dia bahkan terlihat santai saat menerima pemberian dari mereka. Mapan akhirnya menenangkan diri lalu tersenyum senang ikut mengambil bagiannya. Tak lama keempat orang itu berhasil mengambil hati Mapan dengan beberapa hadiah gratis.
"Dasar orang yang tak tahu malu." Hammer bergumam kecil melihat interaksi Mapan dan Spade dari kejauhan. Dia sangat muak menyaksikan senyuman lebar Mapan yang terlihat serakah. Dia ingin membunuhnya jika tidak dihentikan oleh cekalan tangan Axe.
"Belum waktunya, Buddy."
Hammer menghembuskan nafas kasar memilih mengalah.
Tanpa mereka sadari, Weed yang duduk diam-diam di sudut mengamati tingkah laku mereka. 'Pemberian dengan tulus tanpa mengharapkan imbalan seperti ini tidak ada dalam kamus manusia. Jika mereka tidak berencana merampok kami, lalu apa alasannya?'
Orang normal akan merasa berterimakasih saat orang lain memberi hadiah, atau terhadap orang- orang yang baik pada mereka.
Tetapi bagi Weed, semua yang dia rasakan adalah kecurigaan. Situasi ini jelas tidak tepat untuk berbagi drop item dan equipment. Lebih anehnya lagi karena keempat orang itu terlalu berusaha keras menunjukkan sisi baik. Meski berpikir demikian, Weed tidak menunjukkan sedikitpun emosi yang dia rasakan. Karena Mapan terlihat sangat percaya pada mereka berempat, Weed bisa menyembunyikan fakta bahwa dia benar-benar tidak percaya pada mereka.
Satu hari telah berlalu sejak Dwichigi Kuarted bergabung dengan Weed.
Sekarang mereka dihadapkan dengan sebuah jurang yang mengerikan. Jurang itu hanya selebar 20 meter, tapi sangat dalam dengan kabut tebal yang menutupi dasar jurang. Karena ada sebuah jembatan, melintasi jurang tersebut bukan perkara sulit.
Mapan tersenyum senang menunjuk jembatan yang sedikit berbelok ke kanan untuk mencapainya, "Itu dia jembatannya! Kelihatannya sangat kokoh, kita bisa melintasi jembatan ini secara bersama."
Axe tiba-tiba menghentikan langkah mereka dengan berdiri di depan gerobak yang dikemudikan Mapan seakan berdiri di atas podium, "Kawan-kawan sekalian, apa alasan kita saat berpetualang?"
Mapan mengerutkan kening dengan dalam, "Apa?"
"Menurutku adalah menikmati keindahan alam yang luar biasa menakjubkan ini adalah makna dari petualangan yang sebenarnya. Pikiran penat kita akan segar disuguhi alam yang menyejukkan mata, benar bukan?"
"Hmm."
"Lihatlah ke sebelah sini." Dia menunjuk jalan di balik semak-semak yang terlihat jarang dilewati, "Tampaknya ada sebuah jalan menuju ke bawah. Bukankah melewati jalan ini lebih menarik bagi seorang petualang? Bagaimana menurut kalian?"
Setelah mendengar kata-kata Axe, ekspresi Mapan berubah drastis, dia dengan terang-terangan menunjukkan ketidaksukaannya pada ide gila Axe.
Di Benua Versailles tidak mengenal yang namanya sebuah jalan satu-satunya yang bisa dilewati. Semua orang bebas berjalan melalui hutan lebat, mendaki gunung, atau menyeberangi samudra selama mampu melakukannya. Tidak ada keharusan untuk selalu menapaki jalan utama.
Meski demikian, perkataan Axe terlalu berlawanan dengan logika. Kenapa harus susah-susah memasuki jurang yang entah akan seberapa besar bahayanya saat ada jalan teraman dan tercepat di depan mata.
Mapan yang awalnya tidak peka dengan situasi akhirnya mulai sadar ada sesuatu yang tidak beres dengan keempat orang ini. "Eiy, kita juga bisa menikmati pemandangan dari atas jembatan, bukankah menatap kedalaman jurang dari ketinggian akan menjadi pengalaman yang berharga juga?"
Mapan tertawa kecil mencoba untuk menolak ide gila teman barunya itu. Bagaimanapun, dia adalah seorang Mercant yang berpikiran paling realistis, jalan paling aman adalah pilihan terbaik. Jadi, lebih baik menolak saran tak masuk akal itu.
Axe memutar pedangnya di udara sekali, "Jadi?"
Weed menatap sekitar, saat Axe memberikan tanda tadi, Hammer, Lawn Mayer, dan Spade mulai menyiagakan tangan pada gagang pedang. Secara tidak langsung Weed dan Mapan telah dikepung.
Sebenarnya, tidak ada alasan bagi mereka untuk bersikap tegang saat menghadapi seorang Merchant dan seorang Scluptor. Tapi, tidak ada salahnya untuk bersiaga jika hal yang tidak diinginkan terjadi.
"Kenapa tidak? Kedengarannya menyenangkan, iya kan, Mapan?" Weed langsung menyela sebelum Mapan memprotes dengan tegas.
"Huh? I-iya hahaha." Mapan mau tak mau menyetujui hal ini karena dia yakin Weed pasti punya rencana.
"Haha! Aku tahu kalian akan setuju. Kalian adalah pria yang memiliki semangat juang terbesar!" Tatapan Axe tidak setajam tadi. Ketiga orang lainnya akhirnya bersantai, mereka melepaskan tangan dari gagang pedang ikut tertawa dengan Axe.
Akhirnya Weed dan Mapan menuruni jurang dipimpin oleh Dwichigi Kuartet.
Lereng jurang itu sangat curam. Wajah Mapan terlihat gregetan sendiri saat roda gerobaknya beberapa kali tersangkut. Tanpa bantuan dari Dwichigi Kuartet, akan mustahil bagi mereka untuk turun ke dasar jurang.
Weed duduk dengan santai menikmati kenyamanan hidup. Dia bersiul beberapa kali sambil digoyang-goyangkan, membuat siulan itu terdengar seperti ditiup angin sepoi-sepoi.
Tanpa menghiraukan ada empat orang di luar sana yang berjuang mati-matian mengendalikan gerobak. Di bagian depan ada Axe dan Hammer yang menarik gerobak, Lawn Mayer dan Spade mendorong gerobak dari belakang. Sekilas apa yang mereka lakukan terlihat sangat terpuji dan mengagumkan. Tapi setelah dilihat wajah mereka dari dekat, semua orang akan mengetahui isi hati keempat orang itu walau hanya melihat matanya.
Hammer merasa tidak tahan lagi ingin segera menebas leher Weed dan Mapan, "Apa yang sebenarnya ku lakukan? Uh sialan!" Gerutunya sambil menghapus keringat yang membanjiri kening. Mulutnya langsung tertutup saat merasakan tatapan mematikan dari seseorang, dia adalah Axe.
"Umm, maaf karena telah merepotkan."
"Huh?" Mata Hammer terbuka lebar.
"Hahaha!" Axe berusaha memberi kode Hammer dengan mata agar tidak melakukan hal yang tidak diinginkan, "Tidak usah sungkan, Mapan. Bagi kami hal ini bukanlah apa-apa."
Sedangkan di barisan belakang, ada kubu Lawn Mayer dan Spade yang terlihat adem ayem, mereka bahkan memperlakukan gerobak itu seolah-olah milik mereka sendiri.
"Ah! Jalannya pasti di sana!" Axe berseru riang menunjuk sebuah jalan kasar.
Setelah beberapa saat, mereka masih menyusuri jurang tanpa mendapatkan hal yang berguna. Tampaknya Axe tidak mengetahui jalur ini dengan benar karena mereka telah berputar berjam-jam tapi tidak menemui jalan keluar, bahkan terkadang malah kembali ke jalur yang sama.
"Bukankah pemandangan di sebelah sana sangat indah? Ayo kita susuri jalan itu!" Axe menyisir wilayah dalam jurang itu beberapa kali. Tapi, sejauh ini hanya wajah dia yang terlihat antusias, sedangkan rekannya sudah muak dengan perjalanan memutar ini.
Dibalik kesulitan yang mereka hadapi, Weed adalah satu-satunya orang yang memiliki keberuntungan terbesar. Dia tidak lagi bersantai di dalam gerobak sambil memahat, sekarang malah asik menjelajahi sekitar jalan untuk mencabuti tumbuhan.
"Whoaaaa! Ini adalah tanaman herbal Red Sen." Dia baru saja berdiri setelah mengambil tumbuhan yang disebut Red Sen. Weed berteriak kegirangan lagi, "Woahhh! Di sana adalah tanaman herbal Blue Ceylon!"
Weed berlarian seperti anak paud dari suatu tempat ke tempat lain untuk mengambil tumbuhan yang dia sebut tanaman herbal.
Bagaimanapun pegunungan Baruk kaya akan tanaman herbal. Terutama di dasar jurang yang sedang mereka lalui, selain dari pengaruh udaranya, tanah di sana sangat subur karena belum tersentuh oleh peradaban manusia. Weed tentu saja sangat semangat mengumpulkan tanaman herbal yang dia anggap sebagai harta karun.
Wajah Dwichigi Kuartet sangat tertekan melihat kelakuannya yang terlihat seperti orang bodoh itu. Terutama Hammer, sudah cukup Axe membuat mereka berputar tanpa tahu arah, mereka juga harus terlambat oleh kegiatan tak berguna Weed, "Weed, apa yang sebenarnya kau lakukan?"
"Kau tidak bisa melihat apa yang sedang ku lakukan? Memetik tanaman herbal lah." Weed menoleh sejenak untuk menyunggingkan senyuman menyebalkan.
__ADS_1
Lawn Mayer langsung menyela sebelum emosi Hammer meledak, "Sepertinya kau terlihat senang."
"Hmm, aku sangat bahagia. Ini adalah tanaman-tanaman herbal langka. Bukankah ini namanya jacpot? Kau ingin ikutan? Ini sangat menyenangkan!"
Lawn Mayer seakan tersambar petir mendengar kalimat itu, "Tidak, aku tidak tertarik." Dia meringis pelan setelah Weed berbalik, "Sialan!" gumamnya kecil.
Spade tertawa lepas lebih ke merana. "Dia sangat menarik!"
Hammer meremas wajah dengan frustasi, 'Aku akan membunuhnya dengan tanganku sendiri!'
Pembuluh darah di dahi mereka berdenyut-denyut menahan amarah.
Setelah beberapa saat kemudian akhirnya kesabaran Mapan telah sampai batas, "Kenapa aku merasa kita sedang tersesat?"
Axe tentu saja langsung menyangkal dengan alasan untuk menunjukkan lebih banyak tanaman herbal pada Weed.
Sebenarnya, bukan hanya Mapan yang lelah. Tapi, mereka berempat pun sudah kelelahan, akhirnya memutuskan untuk membuka pesan pribadi.
-Hei, Axe. Jangan bilang kau melupakan lokasinya?
-Ya.
-Ck! Sudah kuduga! Padahal petanya di tanganmu!!!!
-Dasar bodoh! Maksudmu, tidak apa-apa mengeluarkan peta di depan mereka? Kau lupa ya mereka bukan rekan kita tapi umpan!
-Alihkan saja perhatian mereka berdua sebentar. Pria bernama Weed terlihat seperti orang bodoh, jadi hiraukan saja. Tapi, fokuslah pada Mapan, dari tadi dia telah mengamati perilaku kita, itu sangat mengganggu.
-Baiklah aku akan mengalihkannya. Lakukanlah dengan cepat.
Lawn Mayer mendekati Mapan dengan wajah ramah, "Hai Mapan!"
"Oh, hai juga."
"Jujur ya, sebenarnya aku lumayan tertarik dengan dunia pahatan. Maukah kau bertanya pada Weed untuk menggantikan ku, apakah sekarang aku bisa mengamatinya mengukir?"
Saat berbincang, Lawn Mayer sengaja menutupi arah pandangan Mapan menuju Axe.
Sementara di depan nya, wajah Axe sudah berseri-seri saat membaca kembali peta. Karena dia telah menemukan lokasi yang akan mereka tuju.
-Aku mendapatkan lokasinya, teman-teman.
-Syukurlah.
-Yah, kita sudah berjalan di jalan yang tepat, hanya kelewatan sedikit."
"Sekarang, bagaimana kalau kita mengikuti jalan ini?" Axe menunjuk arah mereka datang dengan senyuman lebar.
"Baiklah!" Ketiga orang lainnya langsung bersemangat tidak menerima penolakan apapun yang akan dikeluarkan oleh Mapan.
Gerobak itu akhirnya berputar ke berlawanan arah. Setelah mencari di beberapa semak belukar, mereka akhirnya menemukan sebuah monumen besar. Ditengah-tengah monumen itulah jalur masuk ke tempat yang mereka tuju. Dwichigi Kuartet terkikik bersama.
Lawn Mayer menatap sekitar dengan bingung, "Huh? Mungkinkah ini sebuah dungeon?"
"Makam dwarf?"
"Wow! Kita beruntung. Kita harus masuk. Bagaimanapun, kita sudah datang sejauh ini, akan rugi jika tidak dijelajahi."
"Mapan, Weed! Tentunya, kalian akan ikut dengan kami, kan?"
"Tentu saja!" Jawab Weed riang.
Mereka memasuki dungeon itu secara serentak. Tiba-tiba status window berdentingan menghentikan langkah mereka.
Anda adalah petualang pertama yang memasuki dungeon instruments, loving dwarves!
Hadiah:
Fame : +200
Akan mendapatkan double Drop item dan equipment. Monster pertama yang terbunuh akan menjatuhkan item kualitas tinggi.
"Wow!"
"Hebat!"
"Luar biasa!"
"Kita adalah orang pertama yang menemukan tempat ini!"
Mereka berempat berteriak kegirangan, saat memasuki dungeon tersebut. Walau level mereka lebih tinggi dari rata-rata, tetapi kebanyakan dari peningkatan ini berasal dari PK, bukannya berburu. Oleh karena itu, ini adalah pengalaman pertama mereka menemukan sebuah dungeon baru.
"Ayo! Mulai dari sini, percaya saja pada kami."
Dengan gagah, mereka berempat memimpin. Awalnya, tujuan menyisir jurang tersebut adalah untuk ekplorasi ini, jadi setelah sampai di tujuan mereka, antusiasme mereka langsung meningkat drastis.
"Sangat menggembirakan! Iya kan, Weed?" Tentu saja Mapan tidak ketinggalan, dia juga merasa sangat senang. Karena ini adalah sebuah pengalaman langka bagi seorang Merchant.
Weed hanya mengangguk dalam diam. 'Jadi tujuan utama mereka adalah membawa kami ke sini.'
Sekarang, dia mulai memahami perilaku ke empat orang itu yang bersikap baik dengan tangan terbuka. Ini juga alasan mereka menyesatkan Weed dan Mapan ke jurang alih-alih melewati jalur termudah.
'Ternyata orang-orang tidak bertujuan untuk melewati pegunungan Baruk. Sejak awal tujuan mereka adalah untuk menemukan tempat ini. Aku yakin mereka pasti memiliki informasi tentang tempat ini.' Sekarang akan sangat berbahaya jika Weed sudah mengungkapkan apa yang dia ketahui. Jadi, dia masih bertindak seolah tidak mengetahui apa-apa.
"Terimakasih Axe. Berkat mu kami berdua mendapatkan pengalaman petualangan yang menakjubkan. Bagaimanapun, Sculptor tidak akan mendapatkan pengalaman seperti ini dengan mudah." Weed menunduk dengan sedih.
Axe menepuk bahunya sekali bersikap layaknya teman dekat, "Sama-sama, Weed. Percaya saja pada kami."
"Berburu bersama adalah salah satu kegembiraan sebenarnya di Royal Road." Spade ikut ke dalam percakapan manis diantara mereka.
"Kedepannya, akan ada banyak hal yang lebih menarik." Lawn Mayer tersenyum lebar menatap Mapan dan Weed.
__ADS_1
Mereka terlihat layaknya teman sejati yang baru bertemu, interaksi antar sesama sangat adem dilihat.