
Setelah kepergian mereka, Weed memutuskan keluar dari game sebentar untuk mengatur urusan di dunia nyata.
Sekarang dia sedang duduk santai di depan meja lipat, ditemani satu pena dan satu buku. Didalam buku itu tertulis beberapa angka yang membuat kepalanya pening tujuh keliling. Buku itu adalah buku terpenting dalam hidupnya.
Buku akuntan keluarga!
"328.200 won untuk biaya makan pada bulan ini. Uh! Katanya harga beras naik. Tapi, kami tidak boleh memakan beras import."
Dia tidak mau adiknya ataupun neneknya makan nasi Amerika, yang biasanya terlalu banyak bahan kimia didalamnya. Walau harganya yang murah meriah, dia tidak bisa mempercayakan makanan beracun itu memasuki perut keluarganya yang berharga.
"Kami menghabiskan terlalu banyak uang. Aku harus berhenti memakai resep masak yang aku pelajari secara online." Weed menghapus daftar resep makanan, "Selanjutnya adalah pemanas ruangan, tapi tidak mungkin bisa menghemat hal ini, karena nenek membutuhkannya."
Dia tidak berhenti sampai sana. Mulai memeriksa semua daftar belanjaan bulanan. Secara alami dia adalah lelaki idaman yang sesungguhnya. Kegiatannya bahkan lebih-lebih sulit dari ibu rumah tangga sekalipun. Setiap hari dengan tekun dia mengurus rumah tangga.
Saat subuh dia sudah bangun untuk belanja bahan makanan, memasak, membersihkan rumah terkahir menangani urusan keuangan seorang diri. Semuanya dia lakukan untuk menghidupi seorang adik kecil, dan seorang nenek renta, hanya dia nyawa keluarga ini.
Untung keuangan keluarga kecilnya terbantu berkat menjual akun pada hari itu. Tapi, setelah diambil rentenir sebanyak 3 miliar won, dan tersisa 90 juta won.
Setelah merasa dirampok oleh para rentenir, Lee Hyun tidak bisa tidur nyenyak, amnesia nya meningkat karena terlalu cemas. Untung saja, setelah berjalannya waktu akhirnya dia bisa menenangkan diri kembali. Tapi dia akan menyimpan sakit hati ini sampai hari pembalasan tiba.
Itu semua masa lalu. Bahkan, ia merasa lega mengetahui semua itu telah berakhir. Dia akan terus menderita jika hutangnya belum dibayar.
Para rentenir itu memburu Lee Hyun selama 8 tahun, sengaja menunggu Lee Hyun dewasa agar mereka bisa memaksanya melakukan pekerjaan berbahaya, seperti berurusan dengan narkoba atau lebih buruk lagi memasukkannya dalam suatu geng untuk membasmi geng saingan. Jika Lee Hyun tertangkap, mereka bisa saja menyuap polisi dan menjebaknya atas semua kejahatan yang telah dilakukan. Itulah cara menghindari masalah terbesar dari para penegak hukum yang gila uang.
Lee Hyun telah menjalani masa kecil yang sulit, sehingga para wartawan dan publik akan mengasumsikan itu adalah hal yang wajar baginya untuk melakukan kejahatan-kejahatan ini.
Bahkan bisa dikatakan, orang-orang seperti ini layak dihukum. Karena, tak ada harapan keselamatan bagi mereka. Tetapi orang yang bijaksana akan memahami bahaya yang telah dialami oleh orang- orang seperti ini. Sudah pasti mereka sangat takut masuk penjara. Lagi pula keluarga mereka akan sekarat, jika salah satu dari anggota keluarga tertangkap.
Lee Hyun hanya punya nenek dan adik perempuannya.
Bisa jadi, para rentenir itu juga menunggu Lee Hye Yoon menjadi dewasa. Atau mungkin mereka bahkan tak mau repot-repot menunggu selama itu. Gadis muda bisa dijual dengan harga yang tinggi, apalagi dengan paras adiknya yang cantik, pasti akan laku lebih cepat dengan harga menguntungkan.
Dalam kasus Lee Hyun, seorang pria muda berurusan dengan narkoba dan membunuh anggota geng lain tak diragukan lagi akan menarik perhatian publik, dan akan menjadi topik hangat untuk diberitakan.
Kebanyakan orang tak mau tahu alasan, kenapa laki-laki muda menjual narkoba dan membunuh anggota geng musuh. Mereka bisa mengira karena dipaksa atau mungkin dijebak. Tapi tidak akan ada yang peduli hingga mengorbankan waktu dan nyawa untuk menyelamatkan orang asing.
Jika Lee Hyun dipenjara karena masalah seperti itu, meninggalkan adiknya untuk menjalani kehidupan yang keras dan kejam, Lee Hyun mungkin akan menjadi gila. Untung saja hutang nya sudah lunas, hingga kejadian-kejadian mengerikan dimasa depan tidak akan terjadi.
"90 juta won ditambah 9 juta won, hasil dari menambahkan 5 juta won yang didapatkan dari menjual rumah lama dan 4juta won yang disimpan untuk keadaan darurat." Lee Hyun masih sibuk mengotak-atik perhitungan keluarganya.
Namun, mereka telah menghabiskan 50 juta won untuk membeli rumah baru. Mereka termasuk beruntung bisa membeli rumah semurah itu, karena terletak di lingkungan yang kurang diminati. Jadi, sisa uang mereka setelah dikurangi dengan harga rumah adalah 49 juta won, dikurangi lagi dengan pengeluaran selama setahun terakhir sebesar 20 juta won.
Setelah ditelusuri lagi, hal ini termasuk kerugian yang besar. Dimulai dari membeli kapsul untuk bermain game Royal Road seharga 10 juta won termasuk pemasangannya. Belum lagi, harga berlangganan selama sebulan sebesar 300 ribu won. Sisanya digunakan untuk biaya hidup dan sekolah Lee Hye Yoon.
Hati Lee Hyun mulai sakit menulis angka-angka berikutnya, "29 juta won." Dia menghembuskan nafas panjang, "Hanya cukup sekitar 2 tahunan. Tidak, harus cukup."
Lee Hyun jatuh dalam keputusasaan. Dia mulai mencatat tulisan penyemangat di kertas besar sebagai pengingat untuk berhemat.
"Mendapatkan uang seperti menggali tanah dengan jarum. Menghabiskan uang seperti air yang meresap ke dalam pasir."
Dia ngeri melihat tulisannya sendiri, tapi dia akan terus berhemat setelah melihat ini di pagi hari.
"Oppa, aku pulang!"
Suara semanis madu mengagetkan Lee Hyun. Bersamaan dengan nongol nya wajah bak malaikat dari balik pintu yang baru terbuka. Mata Lee Hyun melebar langsung menyembunyikan buku akuntan dalam kemeja yang dipakainya.
Dia memasang senyuman semanis mungkin, "Tumben kau pulang lebih awal. Ngomong-ngomong nilai rapor mu keluar hari ini, kan?"
Lee Hye Yoon berderap menghampiri sang kakak, senyumannya tak kunjung luntur, "Ya, ini dia."
"Coba lihat." Lee Hyun tidak sabar ingin segera membuka raport tersebut. Tahun ini adalah tahun-tahun terpenting bagi adiknya, sebelum memasuki kelas terakhir masa SMA.
"Ranking 3 di kelas mu dan ranking 14 seangkatan. Woah! Peringkat mu naik sedikit dari semester kemarin." Lee Hyun tidak bisa menyembunyikan kebanggaannya pada adik semata wayang ini. Dialah harapan satu-satunya keluarga rapuh ini.
"Tentu saja! Adik siapa dulu dong?" Lee Hye Yoon menepuk dadanya sekali, terlihat sangat bangga.
Senyuman Weed surut, berusaha setengah mati untuk menahan rasa bangganya, "Hmm, yasudah."
"Ada apa dengan nada itu?" Senyuman Lee Hye Yoon ikut surut, dia memasang wajah cemberut.
Lee Hyun kemudian melihat daftar calon perguruan tinggi di bawah raport itu. Korea University berada di urutan paling atas, dengan 98% kesempatan bagi Lee Hye Yoon untuk diterima.
Lee Hyun tidak menyangka hal ini, karena selama beberapa waktu berlalu, Lee Hye Yoon selalu berteman dengan anak-anak gaul yang mungkin membawa pengaruh buruk bagi adiknya. Tetapi di luar dugaan ternyata Lee Hye Yoon masih memiliki otak yang cerdas. Setelah dia kembali menjadi adik Lee Hyun yang lembut, nilai-nilainya meningkat dengan cepat. Pada akhirnya, sudah hampir dipastikan ia akan bisa masuk ke universitas ternama.
__ADS_1
Lee Hyun memang senang dengan kenyataan ini, 'Namun.'
Untuk kuliah seseorang bisa menghabiskan lebih dari 10 juta won dalam seminggu. Bukan hanya untuk membayar pelajarannya, tetapi juga untuk biaya transportasi, makanan, buku-buku dan lain-lain. Agar, dia bisa mengimbangi nilai teman-temannya.
'Aku tidak bisa berhenti di sini, adikku harus masuk perguruan tinggi.' Dia bertekad kuat sambil menatap adiknya.
Lee Hye Yoon bergidik melihat tatapan kakaknya, "Tatapan mu mencurigakan!" Dia bergegas masuk kamar untuk ganti baju.
...***...
Rumah Sakit I-Chang!
Lee Hyun sedang duduk tenang di kursi pasien. Di depannya seorang berjas putih mengangguk sekali-kali saat membaca dokumen di depannya. Lalu dia menatap Lee Hyun sambil tersenyum kecil, "Hasil tes ini sangat bagus. Kesehatan mata tidak buruk, tidak minus ataupun plus, bagus bagus. Lalu hati dan ginjal juga sangat sehat."
Lee Hyun menjadi tenang setelah mendengarnya, "Bagaimana dengan sumsum?"
"Juga sehat. Meskipun untuk transplantasi tulang sumsum, dibutuhkan penerima yang cocok. Tetapi aku yakin seorang pembeli akan muncul dengan segera. Reaksi dari usus sangat baik, dan aliran darah juga bebas dari infeksi."
Lee Hyun mendengarkan setiap kata yang diucapkan oleh dokter. Setelah dokter selesai menjelaskan secara mendetail barulah dia bertanya, "Jadi, tesnya sekarang sudah selesai?"
"Ya."
Tanpa menunggu lama dia langsung berdiri setelah menyelesaikan urusan di sini, "Terimakasih dok. Tolong kirimkan dokumennya padaku. Aku akan menjual apapun yang memberikanku uang paling cepat. Tetapi biarkan aku menunggu selama 1 tahun 4 bulan. Jika saat itu aku masih membutuhkan uang, aku akan melakukan operasi donor organ."
Dokter itu mengangguk penuh perhatian, sebenarnya tidak tega dengan permintaan pemuda di depannya, tapi dia tidak bisa melakukan apa-apa katena ini adalah pilihan hidupnya, dia hanya bisa memberi senyuman penyemangat, "Baiklah, aku akan mengirim dokumennya."
Lee Hyun berjalan gontai keluar dari rumah sakit. Walau sudah menyelesaikan alternatif terakhir, tapi hatinya tidak merasa lebih baik. Karena hal yang dia lakukan akan menggerogoti raganya.
Menjual organ!
Kebetulan dia pernah menemukan rumah sakit ini melalui pasar gelap. 50 juta won untuk satu bola mata, 30 juta untuk ginjal. Meskipun hati dan sumsum tulang membutuhkan penerima yang cocok, mereka masing-masing bisa dijual sekitar 20 juta won. Sekarang dia hanya punya sekitar 1 tahun 4 bulan yang tersisa, sebelum menjual organnya satu persatu.
Tapi dia yakin satu hal, suatu hari Royal Road akan menghasilkan uang untuknya. Walau keyakinannya tak tergoyahkan, tapi dia merasa harus memiliki alternatif lain. Bagaimanapun dia harus bersiap untuk situasi terburuk.
Untuk menghidupi keluarga dan menjadikan adiknya orang berpangkat tinggi agar tidak mengalami pahitnya kehidupan seperti yang dia alami, cukup dia saja yang tersisa. Jika adiknya menjadi orang yang lebih baik, maka dia akan nyaman menitipkan neneknya yang sudah renta meski harus kehilangan nyawa.
Untuk sekarang dia harus bergantung pada Royal Road. Selagi mencari cuan dia bisa menikmati kehidupan didalamnya. Walau tidak bisa bersantai ria dan berfoya-foya dengan kemewahan di dalamnya. Dia harus memaksakan diri bekerja berkali lipat lebih keras agar cepat dan lebih banyak mendapat uang. Dia bahkan bertekad harus bisa menjadi orang terkaya di Royal Road. Bagi seorang Lee Hyun, tidak ada hal yang tidak mungkin.
'Lee Hye Yoon, kamu harus melanjutkan mimpiku yang tak terpenuhi. Sekarang, aku akan memastikan jalan yang kau lalui tidak seburuk yang telah ku lalui. Tidak, jalan yang kau tempuh haruslah jalan terbaik di dunia ini.'
Dia tidak peduli pada sekitar. Yang jadi masalahnya adalah kelangsungan hidup keluarganya sedang di pertaruhkan. Dia tidak masalah jika hanya hidup sebatang kara di dunia ini. Tapi keluarganya berbeda, dia bahkan rela kehilangan kedua mata, yang penting bisa mendapatkan uang untuk menghidupi mereka, orang-orang yang berharga baginya.
Lee Hyun ingin memastikan, setidaknya sang adik akan tumbuh dengan nyaman dan jauh dari dunia yang kejam.
Ini semua berkat masa kecilnya yang terlalu banyak melalui kesulitan hingga menjadi trauma tersendiri. Tidak bisa dibandingkan dengan anak-anak yang tumbuh dengan baik dalam lingkungan yang baik pula. Lee Hyun sangat tegas jika menyangkut jalan hidup keluarganya kedepannya.
Dia akan serakah, akan egois, asal bisa mencapai kepercayaan dirinya kembali. Bahkan dia rela memakai pakaian bekas dan tidak makan dengan baik asal keluarganya tidak akan iri lagi dengan orang lain. Tidak banyak seorang kakak yang segitu tanggung jawabnya dengan adik perempuan mereka. Mungkin ada sebagian. tapi kasih sayang Lee Hyun untuk adiknya tidak tertandingi, hingga Lee Hye Yoon lebih terlihat seperti anak gadisnya.
Sejak saat orang tua mereka meninggal, Lee Hyun sudah berganti menjadi wali nya, karena sang nenek sibuk mencari uang untuk membesarkan mereka.
...***...
Setelah sampai ke rumah, Lee Hyun kembali menekuni diri ke dalam game andalannya, Royal Road.
Sekarang, tidak ada lagi support sistem yang membantunya. Tidak ada holy magic dan blessing dari Irene. Tidak ada sihir fire ball dan skill pengintai kedatangan musuh dari Romuna. Tidak ada bantuan serangan jarak jauh dari Pale ataupun rekan sejawat, Surka. Weed yakin keloyalan sebuah party seperti mereka akan sulit ditemukan lagi. Meski demikian, Weed masih punya diri sendiri, jika bukan diri sendiri harus kepada siapa lagi dia menggantungkan dirinya.
Berburu dengan sebuah party memiliki kelebihan dan kelemahannya tersendiri. Jika lebih banyak orang biasanya sering menyia-nyiakan waktu dengan mengobrol. Terkadang perburuan sudah selesai sebelum sempat dimulai.
Sedangkan, berburu secara solo keuntungannya sangat simpel. Tidak ada waktu yang akan terbuang sia-sia. Dan akan cepat meningkatkan level. Dalam kasus Weed, akan lebih menguntungkan untuknya jika berburu secara solo untuk meningkatkan sword mastery dan skill bertempurnya.
Avatar nya masih berada dalam dungeon. Saat masuk dalam game dia langsung bertemu dengan skeleton knight.
"Grr, manusia!"
Aura permusuhan memancar dari skeleton knight yang masih kaget oleh kemunculan Weed yang tiba-tiba. Dia langsung mengayunkan pedang ke arah Weed. Gerakannya sangat gesit sambil mengeluarkan aura mendominasi.
Namun, gerakan Weed tak kalah unik. Tubuhnya bergerak lincah menghindari serangan musuh, hingga musuhnya masuk dalam perangkap. Dia sengaja sedikit bermaian-main mengurangi HP musuh perlahan-lahan. Hasilnya sesuai dugaan, serangan skeleton knight mulai melambat.
"Sculpting Blade!" Weed berteriak.
Pedang Weed memancarkan cahaya ilahi langsung menyerap energi skeleton knight. Cahaya matanya meredup bertepatan dengan hancurnya kerangka tubuhnya. Sebuah tanda yang memastikan kematiannya.
Weed ngos-ngosan, dia mengelap keringat yang membanjiri wajahnya. Tidak dapat disangkal bahwa dia kelelahan tanpa ada blessing dari Irene. Pertarungan dalam royal road terlihat sangat nyata. Efek spesial seperti tubuh yang kelelahan benar-benar terasa secara nyata. Bahkan alam nya saja sangat alami.
__ADS_1
Seorang player solo memiliki kesempatan besar untuk meningkatkan stat strength. Statistik ini menentukan kekuatan dibalik setiap serangan, layaknya di dunia nyata.
Untuk memburu monster, seorang player butuh stat strength. Jika strength nya tidak cukup, damage maksimal tidak bisa dikeluarkan. Seperti, rindu yang dihantamkan sambil berlari kencang, hasil damage nya jauh lebih rendah daripada damage tinjuan dari jarak dekat.
Oleh karena itu, damage ditentukan oleh seberapa banyak seseorang bisa mengontrol kekuatannya sendiri, posisi tubuh, penggunaan otot, jarak dan ledakan kekuatan.
Royal Road adalah game virtual reality yang mengijinkan player untuk memanfaatkan kelemahan lawan. Para player Royal Road, seperti warrior mengetahui dengan jelas kemampuan diri sendiri. Tak hanya dari angka-angka di jendela status mereka, namun benar-benar merasakan kekuatan mereka sendiri. Rasanya ada kenikmatan tersendiri setelah memberantas monster. Tentu saja, Weed bukanlah pengecualian.
Dia telah mendedikasikan diri untuk berlatih ilmu pedang selama setahun untuk menguasai akurasi, hindaran, dan ilmu dasar pertempuran. Melalui banyak pertarungan membuatnya tidak takut akan pertarungan lagi, sampai ke titik di mana dia menikmati pertarungan saat melawan musuh yang lebih kuat.
Pedang menjadi jalur untuk memuaskan hasratnya.
Pedang adalah alat yang paling baik saat digunakan untuk memahami dasar-dasar pergerakan tubuh dan pertempuran. Tentu saja, seseorang yang memulai Royal Road, tanpa mempelajari seni bela diri masih bisa terbiasa dengan skill pertempuran setelah melalui berbagai macam pertempuran.
Sebenarnya, itulah yang dilakukan kebanyakan player. Mereka berpikir jika hal tersebut hanya bagian lain dari game yang harus mereka biasakan. Namun sudut pandang Weed berbeda.
Menurutnya, pohon yang akarnya tertanam lebih dalam akan tumbuh lebih tinggi dan kokoh. Sama seperti seorang player yang melawan monster tanpa fondasi ilmu beladiri juga bisa tumbuh tapi tidak sempurna.
Makanya dia sengaja mempelajari seni beladiri dan menahan semua kelelahannya selama setahun penuh. Saat memasuki dunia royal road Weed juga mengasah ilmu bela dirinya dengan tekun. Dia dengan gencar memburu monster yang lebih kuat darinya untuk mengokohkan dan meningkatkan kemampuan beladiri. Ini alasan utama kenapa Weed bisa lebih kuat dari yang telah dicatat stat window sekalipun.
"Hmm. Dengan ini, Aku sudah punya semua item yang dibutuhkan untuk menyelesaikan quest."
Mata Weed membulat saat memeriksa status window, Mananya hampir mencapai dasar, "Whew. Aku harus mengisi ulang mana." Jadi dia memutuskan untuk istirahat sebentar.
Karena Weed menjadi solo leveling, dia tidak bisa bersantai begitu saja. Walau sedang istirahat, dia harus selalu waspada. Sambil menunggu mana terisi kembali, dia duduk manis untuk memahat beberapa patung.
Srak!
Bentuk pahatan itu lama-lama muncul, kali ini terlihat seperti burung gagak yang sedang terbang bebas. Kebetulan dia pernah melihatnya saat di depan toko senjata, di pasar Kota Surga.
Tak lama kemudian, beberapa patung mini berserakan menemani kesendirian Weed dalam kegelapan dungeon. Walaupun sedikit, tapi peningkatan stat art dan sclupture mastery nya masih layak untuk dikumpulkan sampai menjadi bukit. Karena Weed tidak sembarangan memahat, tapi dibumbui dengan nuansa unik dan beda dari biasanya.
Dia bertujuan untuk mengukir setiap ras Avian yang ada di Lavias.
Setelah beberapa waktu menghabiskan waktu senggang dengan memahat patung, Weed keluar dari dungeon menuju keramaian pusat Lavias.
Di sana, dia kembali melancarkan aksinya, untuk mendekatkan diri pada warga lokal. Dengan tersenyum ramah dia membagikan patung pahatan berbentuk ras Avian.
"Patung ini hanya ada satu jenis di seluruh dunia. Aku memahat seluruh penampilan kalian dengan penuh ketulusan saat memikirkan kalian." Tak lupa dia membumbui dengan rayuan semanis madu.
Tentu saja para avian ini hatinya lemah, langsung terharu oleh beberapa pujian dari Weed sang perahu ulung, "Terima kasih banyak."
Tiap Avian menerima sebuah patung yang mirip dengan mereka. Saat mereka menerimanya, mereka berkata, "Aku tak bisa menerima ini dengan cuma-cuma."
Senyuman Weed semakin mengembang, 'Investasi yang memuaskan.'
"Berapa banyak uang yang kamu inginkan?" Avian tua bertanya dengan sungguh-sungguh karena menghargai ketulusan Weed.
Tiap kali mereka bertanya, Weed memberikan jawaban yang sama. "Jangan memperumit hubungan kita hanya karena uang. Sebenarnya aku sangat-sangat tertarik dengan Lavias. Nah sebagai gantinya bisakah kamu menceritakan padaku sesuatu tentang kota ini?"
Avian di depannya mengangguk cepat merasa hal ini terlalu sederhana sebagai balasan dari ketulusan hati, jadi dia berniat menceritakan kisah yang setimpal dengan ketulusan Weed, "Mmm. Kalau begitu aku akan memberitahumu tentang Northen Nest--"
Weed mengangguk antusias mendengar setiap kata yang keluar dari mulut avian di depannya. Terjadilah bagi-bagi legenda yang bertema tentang Lavias. Tak cukup satu avian, mereka berebutan untuk bercerita ria pada Weed.
"Aku akan memberitahumu tentang kebiasaan para undead di bawah tanah."
Cerita para Avian menjadi sumber informasi yang penting. Meskipun kebanyakan adalah gosip yang tak berguna, kadang-kadang, ada informasi tentang quest dan tempat berburu.
Weed menghampiri burung gagak yang berdiri di depan toko armor. Dari tadi dia terlihat tidak peduli dengan keributan yang diciptakan oleh Weed. Dia menyerahkan pahatan patung yang mirip dengan avian itu.
Keningnya mengerti dalam, "Apa ini?"
"Aku membuat patung ini khusus untukmu, Crow."
"Hoh, terima kasih," kata burung gagak itu, sambil mengepakkan sayapnya tanda berterima kasih. Dia senang Weed tidak melupakan dirinya. Tadi dia tidak bisa meninggalkan toko karena tidak punya karyawan lepas. Lalu dia berkata, seolah baru dapat pencerahan sangat ilahi. "Oh benar, pernahkah kamu pergi ke Dead Warrior's Cave?"
"Dead Warrior's Cave?"
"Ya, jika kamu dari Memphis Hall dan berjalan ke Utara selama 30 menit, kamu akan melihat pintu masuknya. Tapi hati-hati, ada Ghoul, Skeleton Mercenary, dan Dullahan di sana. Kamu tak akan bertahan hidup, jika masuk tanpa persiapan yang matang."
Di Royal Road, level akan naik lebih cepat jika melawan monster yang berlevel lebih tinggi. Sekarang, skeleton soldier dan skeleton Mage bukan lagi lawan yang menjadi ancaman bagi Weed. Terlebih, dia sudah bosan memburu Skeleton Knight seorang diri. Jadi siapa memutuskan untuk berlanjut ke tahap selanjutnya.
"Waktunya bersenang-senang!"
__ADS_1
Dia sedikit merindukan rekan-rekannya yang sering menghibur diwaktu luang seperti ini. Biasanya para gadis akan bernyanyi sambil berjoget ria. Tapi sekarang dia hanya bisa mengandalkan diri sendiri. Membuat dia bernostalgia kembali dengan game lamanya.
Weed tertawa kecil memikirkan segala hal sampai sejauh ini. "Ternyata ini yang dinamakan kesepian saat menahan rindu?"