Legendary Moonlight Scluptor

Legendary Moonlight Scluptor
Perkelahian orang-orang bodoh


__ADS_3

Setelah berpamitan dengan Ghandilva, Weed dan kawan-kawan mulai mengangkut barang rampasan meninggalkan Desa Baran.


Di tengah jalan Becker dan Hosram mendekati mereka sambil membawa bawahan masing-masing, "Senang bertemu denganmu lagi, Komandan." Becker langsung menyapa Weed dengan ramah.


"Hai Becker, Hosram. Dimana yang lain?" Weed membalas senyumannya tak kalah ramah.


"Mereka sibuk mengejar monster yang kabur." Kali ini gantian Hosram yang menjawab.


Weed manggut-manggut, "Bagaimana dengan kalian?"


"Kapten Darius memerintahkan semua prajurit invanteri Rosenheim untuk tetap di sini, menjaga warga desa."


Weed curiga bahwa Darius telah menugaskan invanteri Rosenheim untuk menjaga keamanan desa, jadi dia bisa mendapatkan semua fame untuk dirinya sendiri.


Hanya invanteri Rosenheim yang tertinggal dalam tugas pengejaran sisa-sisa monster dengan dalih mengamankan desa.


"Ohhh begitu, baiklah Horam, Becker sampai jumpa lagi di lain hari."


Mereka berpisah di simpang jalan.


...* * *...


Setelah jauh berjalan, Weed mengajak rekannya ke tempat terpencil sambil menggenggam erat benih, hadiah quest Desa Baran.


"Ngomong-ngomong, Weed, tentang hadiah yang kita dapatkan setelah menyelamatkan warga Desa Baran, sebenarnya kau tahu kan biji apa itu?"


Tersadar oleh pertanyaan Surka, Weed membuka genggaman telapak tangannya, lalu memandang benih kecil di dalam sana, "Eum, kawan-kawan, aku memiliki sebuah buku aneh. Ini cerita di dalamnya."


Kota Surga!


Setelahnya Weed menceritakan tentang buku aneh yang dia dapatkan dari Volk. Pale yang biasanya tenang sangat terkejut dengan fakta ini. "Jadi ini dan ini." Dia menunjuk biji kecil ditangan Weed dan buku aneh di tangan lainnya.


"Ya, kita sepemikiran." Weed mengangguk kecil.


Setiap player yang berpetualang di benua Versailles memiliki mimpi untuk menjelajahi sebuah wilayah yang penuh misteri, menjadi penemu pertama, mengekploitasi dungeon tersembunyi untuk menemukan rahasia dibaliknya. Lalu membuat legenda yang tak terlupakan.


Akan sangat beruntung jika bisa menemukan cakrawala baru yang memiliki banyak keuntungan selain fame yang tinggi, meningkatkan level dan lain lain.


"Kota Surga? Apakah kamu serius adanya tempat itu? Yang pernah ku dengar itu tentang Kota Bawah Tanah." Pale menatap Weed tak percaya.


“Kota Bawah Tanah?” Weed justru baru mendengar kota ini.


"Ya, kota itu penuh dengan misteri, katanya di sana ada sebuah istana khusus yang diciptakan oleh para dwarf, letaknya hampir di perut bumi, ya itupun hanya prediksi, tidak ada yang tahu persis di mana tempatnya." Pale tidak heran Weed belum mengetahuinya, karena berita ini memang sangat rahasia, hanya segelintir orang yang baru mengetahuinya.


"Lalu apakah para player baru yang memilih profesi dwarf bisa mencapai Kota Bawah Tanah?"


"Tidak juga. Rumor berkata, tidak sembarang dwarf diizinkan masuk ke kota itu. Bagaimanapun, hanya segelintir orang yang tahu keberadaan tempat itu. Tapi jika kau bisa sampai ke tempat itu, keberuntungan besar akan memihak mu, kau akan memperoleh skill blacksmith tingkat expert plus skill handicraft."


"Dwarf ya." Kepala Weed sedikit pusing karena telah memilih jalan sebagai scluptor, setelah mendapat pencerahan dari rekannya itu hatinya menjadi bimbang.


Khusus player manusia, saat mempelajari skill handicraft, harus memilih profesi utama yang berkaitan dengan skill tersebut. Seperti scluptor yang secara otomatis bisa mempelajari skill handicraft dimulai dari tahap basic sclupture mastery.


Dalam kasus Weed, dia telah mendapatkan skill handicraft bahkan sebelum dia memilih profesi scluptor, berkat diselesaikannya quest berantai tentang penerus Zahab. Tapi tidak semua orang seberuntung dia. Bahkan perbandingannya hanya 1 banding sejuta umat di muka bumi ini.


Khusus profesi chef dan blacksmith setidaknya harus meningkatkan skill mereka ke tingkat intermediate agar bisa mempelajari skill handicraft. Sedangkan untuk profesi tailor, sudah bisa mempelajarinya ketika skill sewing level 8 tingkat basic.


Terlepas dari profesi pengrajin, walau seorang sudah mencapai level skill tingkat intermediate, dia tidak akan bisa mendapatkan skill kerajinan apapun. Jadi jika ingin memiliki cepat memiliki skill handicraft , maka skill sewing adalah rekomendasi utama.


Tapi khusus untuk profesi dwarf, sangat berbeda dengan profesi pengrajin lainnya. Mereka langsung dikaruniai skill handicraft sejak awal memasuki profesi dwarf. Ditambah dengan vitality dan strenght yang sangat tinggi, mereka bahkan memiliki skill handicraft yang tak kalah tinggi.


Seketika peringatan bahaya berdengung di otak Weed. Secara tidak langsung dia merasa saingan terbesarnya telah tiba, "'Aku tak bisa menurunkan kewaspadaan ku pada ras itu. Sebaiknya aku ingat kekurangan mereka dulu.'


Weed berpikir keras untuk menemukan kelemahan musuh barunya, 'Para dwarf bertubuh pendek, tidak memiliki ilmu sihir, tidak bisa menunggang kuda, apalagi memiliki keahlian dalam bertempur. Itu sedikit keuntungan untukku.'


"Jika diberi kesempatan, aku ingin pergi ke sana." Tidak, ini bukan sebuah mimpi semata tapi Weed berjanji pada diri sendiri akan mengunjungi Kota Bawah Tanah suatu saat nanti.


Pale menatapnya prihatin, "Hal itu akan sulit, Weed. Ku dengar ras itu sangat membenci manusia. Dan hanya seorang pengrajin yang diterima dengan baik di sana. Kecuali jika kau bisa memenangkan hati mereka, bahkan sebelum memasuki kota, kau akan ditolak mentah-mentah."


'Master scluptor seperti Zahab dan Kaisar Geihar bisa saja pernah mengunjungi Kota Bawah Tanah. Firasat ku mengatakan ada sesuatu yang berhubungan dengan misteri sclupture mastery di sana. Aku benar-benar harus berkunjung.' Mata Weed bersinar setelah dia memikirkan sampai sejauh ini.


Terlepas dari intuisi itu, Weed mengeluarkan biji tak dikenal dari Ghandilva. "Baiklah, kalau begitu ayo kita identifikasi. Jika aku salah, berarti selama ini kita telah membuang-buang waktu."


"Aku sangat yakin kau tidak akan salah!"


"Ya, firasat ku bagus tentang ini!"


Irene dan Romuna menyemangati Weed secara bersamaan.


Weed menatap semua orang, sebenarnya dia sedikit terbebani akan ekspektasi yang terlalu tinggi rekan setimnya. Ketika dia melihat semua orang mengangguk barulah dia mengaktifkan skill nya dengan hati-hati, "Identification!"


Biji Pohon Surgawi!


Endurance : 1/1


Efek : Menuntun Anda ke Kota Surga.


Persyaratan : Anda harus menanamnya di sekitar Desa Baran.


Setelah Weed membaca keseluruhan deskripsi dari status window, dia langsung menutup matanya perlahan, berusaha untuk menenangkan diri agar tidak loncat kegirangan.


Saat membuka mata, Weed mendapati wajah rekannya yang sudah pucat menunggu penjelasan darinya. Dia diposisi ini tadi, khawatir dan gugup. Sekarang pun dia masih sedikit shock, berusaha meyakinkan diri bahwa hal ini bukanlah mimpi.


"Biji ini asli."


Setelah Weed memberikan konfirmasi, anggota partynya bersorak kegirangan, mereka bahkan saling peluk, terlihat lega sekaligus bahagia dengan keberuntungan langka ini.

__ADS_1


Setelah selesai bersuka cita, mereka mengadakan rapat kloter kedua. Semua mata fokus menatap mata sang pemimpin.


"Jujur saja, aku tidak ingin menanamkan biji ini di tempat terbuka dan terlihat oleh orang lain saat sedang menaikinya ke Kota Surga." Weed memang akan membawa semua rekannya ke sana, tapi beda halnya dengan Darius dan antek-anteknya, atau anggota lainnya dalam pasukan ekspedisi Desa Baran. Yang diinginkannya, hanya mereka yang menguasai dan mengekploitasi Kota Surga duluan.


Sangat egois, bukan, ini namanya sangat-sangat-sangat egois. Tapi apa salahnya, biji itu milik mereka, terserah mereka ingin diapakan di bagaimanakan.


Karena Weed dan rekannya telah berjuang keras antara hidup dan mati, intinya mereka sudah sangat bersusah payah menghadapi marabahaya, menguras keringat dan darah untuk mendapatkan biji ini. Maka orang lain dengan seenaknya mendapatkan keuntungan yang sama, Weed sangat tidak rela.


"Aku sangat-sangat setuju dengan pendapat Weed. Kenyataan bahwa Kota Surga itu hanya legenda semata sudah kita patahkan, mungkin suatu hari nanti akan ada juga orang lain yang menemukannya, tapi kita tidak perlu mendekralasikan nya." Pale menjadi pendukung utama saran Weed.


Hal ini tentu berbeda dengan kasus monopoli informasi. Tapi lebih ke siapa yang tahu yang layak untuk menggunakan pengetahuan itu, layaknya sebuah umpama, siapa cepat dia dapat.


Jika sekarang semua orang mengetahui keberadaan Kota Surga, maka keuntungan untuk merekapun akan berkurang. Bahkan perjuangan keras mereka sejauh ini tidak membuahkan hasil yang memuaskan.


Di dunia yang kejam ini, hidup dengan moral yang baik dan berbudi luhur adalah hal yang bodoh. Bayangkan jika mereka menceritakan kebenaran tentang Kota Surga, apakah akan ada orang yang rela memberikan sebuah quest, atau berbagi quest langka pada mereka. Tidak ada orang yang akan menghargai beberapa orang naif yang bodoh.


"Aku juga setuju. Sekarang kita bahkan belum ke sana, masih terlalu dini untuk memberitahu orang lain tentang hal ini." Irene mengangguk beberapa kali seakan mengatakan, gagasan ini memang paling benar dan rasional untuk dilakukan.


"Baiklah, ayo kita saja yang pergi." Surka mengangkat kedua sudut bibirnya.


Kesepakatan bersama akhirnya tercapai dalam waktu singkat. Namun keberangkatan menuju Kota Surga ditunda sampai mereka menyelesaikan perkara masing-masing.


Weed yang harus menyelesaikan quest Patung Dewi Freiya, dan rekan setimnya yang harus menyelesaikan quest ekspedisi Desa Baran yang saat ini masih berlangsung.


Jadi mufakat kali ini terdapat tiga poin. Pertama, mereka akan pergi ke Kota Surga tanpa memberitakannya ke publik. Kedua, kepergian ke Kota Surga harus di tunda. Ketiga, mereka berangkat setelah menyelesaikan perkara quest yang membebani pundak masing-masing.


Saat ini hati mereka sangat bergejolak, antara setengah semangat dan setengah khawatir akan berjelajah ke dunia baru. Jika wilayah itu terlalu sulit dieksploitasi, mereka mungkin hanya akan menikmati pemandangan di sana lalu kembali dengan tangan kosong. Karena eksploitasi ke wilayah tersembunyi biasanya selain banyak keuntungan tapi juga banyak bahaya besar.


...***...


Weed bersiap membuat berbagai alasan yang masuk akal untuk menjelaskan situasinya pada Darius, yang telah dilaporkan akan segera kembali. Dirinya sedikit gugup jika ada pertanyaan mengenai timnya yang menghilang selama pertempuran inti terjadi.


Namun saat kembali ke Desa Baran, mereka semua terkejut melihat penampakan yang diluar ekspektasi. Hampir 100 player babak belur. Bukan itu masalah besarnya, tapi semua player di sana sedang bertengkar hebat saling menyalahkan dan saling memerangi.


Dan masalah terbesarnya sekarang adalah sebuah pertunjukan menarik yang menyenangkan hati Weed. "Ini lebih baik daripada tontonan bioskop."


Surka mengangguk, dia menyerahkan popcorn yang entah dapat darimana, "Selamat menikmati, semuanya."


Mereka duduk santai menonton pertunjukan besar antara pemimpin pasukan dan bawahannya yang mengamuk layaknya banteng gila. Ini termasuk tontonan langka.


"Kau harus bertanggung jawab untuk ini!"


“Kenapa kau malah mengkambing hitamkan ku?"


"Kau masih tak sadar?! Gara-gara rencana tolol mu itu Collonya terbunuh saat pertempuran!"


“Itu adalah tanggung jawabnya untuk mengurus nyawanya sendiri!"


"Sial! Jadi sekarang kau menyalahkan orang mati?!"


Sebenarnya ada banyak kelemahan yang menyebabkan situasi ini terjadi. Pertama, mereka semua hanyalah orang-orang asing yang disatukan. Kedua, taktik pertempurannya tidak terorganisir bisa dikatakan sangat kacau balau. Ketiga, mereka tidak dipimpin oleh pemimpin yang bertanggung jawab. Sehingga kejadian seperti ini tidak mustahil terjadi. Karena sejak awal memang tidak ada rasa royal yang tercipta antara Darius dan pasukan ekspedisi.


Darius berdiri tegak mengangkat dagunya tinggi-tinggi, "Pertempuran ini juga termasuk perang! Jadi beberapa korban yang tak terhindarkan selalu menjadi bagian dari perang, bukan? Sudahlah, saling menyalahkan hanya akan membuang-buang tenaga."


“Beberapa korban? Maksudmu kematian Collonya adalah korban yang tak bisa dihindari? Kau sama sekali tak peduli? Ini semua terjadi karena kemimpinan mu yang buruk!" Player berkulit pucat itu berteriak menggila tak terima telah kehilangan sahabat karib.


“Bukankah kalian yang secara sukarela bergabung dan mematuhi kepemimpinan ku yang buruk? Sudahlah aku lelah bertengkar denganmu seperti ini padahal jelas-jelas kita sudah menang." Darius sengaja menekankan kata sukarela untuk menyadarkan lawan, jiwa raga nya sudah lelah, pertengkaran kecil ini bisa-bisa membuatnya meledak jika tak segera disudahi. Tangannya gatal ingin mematahkan leher player di depannya, tapi itu terlalu beresiko.


"Apa-apaan!"


Tapi bukannya diam, malah semakin banyak player yang meminta pertanggung jawaban Darius.


Weed mengamati Darius dan partynya, semua orang tidak ada yang mati bahkan tidak ada yang terluka, terlihat segar bugar. Pantas saja semua player menyalahkannya. Dia menggelengkan kepala, sangat menyayangkan taktik buruk Darius.


Dengan ini masalah besarnya sudah terselesaikan. Karena tidak ada yang peduli saat Weed dan rekannya kabur selama quest berlangsung.


"Aku yakin mereka memakan sebagian besar EXP dari quest ekspedisi kali ini. Mereka sengaja menuntun player lain masuk dalam jebakan. Dan akan menyerang hanya ketika monster-monster itu sudah lelah dan lemah." Weed masih menggelengkan kepala, tak habis pikir dengan isi otak Darius."Ck ck ck! Dasar."


"Tidak tahu diri." Romuna refleks mengeluarkan isi pikirannya.


"Tidak tahu terimakasih." Lanjut Irene.


"Ti.dak ber.peri.kema.nu.sia.an." Tambah Surka menekankan setiap kata.


"Dan jelek."


Semua orang menatap asal suara.


"Hah?"


"Apa?"


"Woah! Seorang Pale baru saja mengejek orang lain bung!" Surka berseru riang, setelah sekian abad, teman kakunya itu sedikit terbuka. Akhirnya mereka sibuk menggoda Pale.


Tapi tidak dengan Weed, dia masih menganalisis pertempuran kali ini. Pertempuran ini termasuk tipe perang berukuran menengah. Untuk seukuran ini, pemimpin infanteri yang akan menentukan taktik bertarung.


Dari sini dia menyadari bahwa, para monster yang bersembunyi di hutan telah memancing pasukan ekspedisi untuk memasuki hutan hingga ke pedalaman yang tak terjamah, 'Rencana yang cukup bagus, hutan adalah wilayah bertarung yang paling strategis bagi mereka.'


Yang pasukan ekspedisi tahu, mereka sedang memberantas para monster. Mereka mengejar dengan penuh semangat. Tidak terbayang akan ada banyak perangkap di dalam hutan. Akhirnya, mereka terjebak antara hidup dan mati.


Ketika pasukan utama sudah membersihkan jalan, sambil berjuang mempertahankan nyawa sekuat tenaga, barulah Darius dan rekannya membasmi para monster, tentu saja akan mudah bagi mereka karena monster itu sudah lelah dan lemah. Intinya, Darius dan rekannya mendapatkan banyak fame dan EXP berkat keringat dan darah dari pasukan utama.


"Aku sudah melakukan yang terbaik dengan membunuh monster sebanyak mungkin. Bahkan teman-temanku telah menyelamatkan nyawa kalian beberapa kali. Kalian seharusnya berterimakasih pada kami." Darius menjawab semua pertanyaan dengan tenang. Diwajahnya tak ada rasa bersalah sama sekali.


Rasanya Weed ingin menjambak rambutnya yang seperti moncong ayam itu. Tapi apa gunanya ia melakukan hal berbahaya itu disaat dirinya masih belum kuat.

__ADS_1


"Terimakasih?! Kau pikir kami tidak tahu apa yang telah kau lakukan?!" Player berkulit pucat tadi semakin marah.


Begitupun player lain, mereka merasa sangat menyesal telah dipimpin oleh orang yang tidak tahu diri dan serakah ini, "Bagaimana dia bisa berkata seperti itu? Padahal taktinya sangat bodoh."


“Darius adalah pemimpin sampah."


Mereka semua berbondong-bondong menyatakan keluhan terpendam. Bahkan ada yang sengaja membuang ludah di depan matanya.


Darius menggertakan gigi, tak kuasa menahan kesal, "Jika kalian punya nyali berhentilah mengeluh, dan lawan aku layaknya lelaki sejati! Ingat! Kalian tidak akan bergabung dalam pasukan ekspedisi jika aku tidak memilih kalian semua, banci!"


Weed memandang Darius dan pasukan ekspedisi tak berdaya, %Dasar para orang-orang bodoh.'


Darius rela membuat reputasinya terkenal buruk hanya karena segelintir fame dan leadership. 'Dia rela melewatkan tangkapan besar hanya untuk mendapatkan ikan teri yang kebetulan ada di depan mata. Sayang sekali.'


Seharusnya dia menangkap tangkapan besar dengan sekuat tenaga, sambil mendapat tangkapan kecil sekaligus. Sama seperti ungkapan, sekali dayung dua tiga pulau terlampaui. Itu baru hal yang benar untuk dilakukan.


Dan lagi, disini bukan hanya Darius yang bodoh, tapi semua player yang sudah mempercayai kepemimpinannya juga bodoh. Mereka malah mengikuti semua perintah Darius tanpa curiga sedikitpun. Jika mereka tidak mendengarkan perintah bodohnya, maka tidak akan masuk dalam perangkap.


Walau terdengar remeh, tapi hal ini termasuk kesalahan besar karena mempercayai orang asing. Jika mereka lebih berhati-hati, mungkin sekarang teman-teman mereka masih bisa mempertahankan nyawa.


"Sudahlah, tak ada untungnya menonton sekelompok orang-orang bodoh ini." Weed berdiri duluan.


"Ya, Weed benar." Pale ikut berdiri diikuti yang lain.


Mereka semua berjalan santai menuju alun-alun desa untuk mengantar kepergian Weed ke sana.


“Semoga berhasil, Weed.” Irene mengacungkan kepalan tangan kanan, untuk menyemangati rekannya.


"Jika kau memahat patung itu terlihat seperti wajah cantikku, aku akan memberi sebuah hadiah khusus nanti." Surka tersenyum bangga.


"..."


"He he he." Surka nyengir lebar. "Aku tidak bercanda loh."


"Baiklah Weed, bekerja keraslah, kamipun akan begitu." Pale menepuk pundaknya dua kali. "Sampai jumpa lagi."


Mereka berdada ria sebentar, lalu menghilang di antara kerumunan. Tinggallah Weed seorang diri yang melamuni alun-alun desa.


Seperti mufakat di awal, Weed akan meneruskan quest patung Dewi Freiya, sedangkan rekannya meneruskan quest pasukan ekspedisi untuk memberantas sisa-sisa monster. Karena masih ada beberapa monster yang sering mengganggu warga desa. Selain itu, ada banyak tempat berburu bagus disekitar desa.


Ada beberapa invanteri Resenheim maupun penduduk desa sedang berlalu lalang di sekitar alun-alun sambil memperhatikan Weed yang sedang melamun seorang diri.


"Ada apa dengannya?"


"Entahlah, mungkin temannya mati di sana."


"Ah! Masuk akal."


Weed mengabaikan percakapan tentang dirinya, karena sekarang dirinya pun cukup sibuk, "Aku harus menemukan sebuah batu besar."


Batu adalah bahan yang tepat untuk membuat patung Dewi Freiya, karena sifat batu yang tak mudah hancur ketika kena hujan, badai dan tidak akan mudah rusak termakan usia.


Sebelumnya, Weed belum pernah memahat dengan bahan utamanya batu, dia selalu memakai bahan kayu. Walau sedikit gugup tentang hasil akhirnya, tapi dia tidak terlalu khawatir karena dilingkungan ini terdapat banyak batu. Bagaimanapun, Baran adalah sebuah desa terpencil yang terjebak di kaki pegunungan.


Weed menuju ke bebatuan yang menumpuk tak jauh dari alun-alun. Dia memilih batu yang paling besar, lebih besar dari pelukan kedua tangan lelaki dewasa.


"Ayo mulai." Weed mengeluarkan Hammer dan Chiser dari inventory.


Dia pernah membelinya dari toko patung di Benteng Serabourg sebagai persiapan memahat. Tapi, dia tidak menyangka akan memakainya secepat ini.


Hammer and Chiser for sclupture !


Endurance: 10/10


• Item khusus untuk memahat batu.


• Relatif mudah rusak karena harganya yang murah.


• Dianjurkan untuk berhati-hati saat memakainya.


Efek : Sclupture Mastery +1


Clang! Clang! Clang!


Weed mulai memahat batu raksasa didepannya dengan hati-hati. Mengukir sebuah batu yang padat dan keras membutuhkan banyak waktu dan kerja keras daripada yang terlihat. Jika salah pahat sedikit saja, maka retakan akan menyebar ke seluruh batu. Maka dari itu dia harus ekstra hati-hati.


'Sebuah patung harus memiliki daya tahan tinggi.' Bulir-bulir keringat membanjiri dahi Weed, dia tidak bisa berhenti walau tangannya mulai kebas.


Saat lelah dia selalu meyakinkan diri untuk fokus pada tujuannya, 'Uang adalah hidupku, waktuku adalah uang.'


Maka semangatnya akan terisi penuh seperti sebelumnya.


Clang! Clang! Clang!


'Satu-satunya perbedaan dengan patung kayu adalah bahannya. Memahat adalah tentang membentuk suatu objek sesuai dengan gambar yang telah dipikirkan sejak awal. Jadi mari pikirkan lagi, bentuk seperti apa yang bagus untuk dijadikan patung yang cantik tak tertandingi. Patung ini harus menjadi patung terbaik yang pernah ku buat. Aku akan menjadikannya monumen bersejarah yang melegenda dan mengukir namaku disana. ke ke ke ke.' Weed tertawa licik saat memimpikan hal-hal yang berbau kekayaan.


...•••...


Hi readers! Aku ingin fokus pada LMS dulu ya, lagi terobsesi pada Weed dan kawan-kawan. Jujur, bukan ngidam kok, aing masih jomblo eh single ಥ⌣ಥ


Bagi yang kangen Yunxi vs melatih putih harap bersabar sampai moodku kembali ya ಥ⌣ಥ


Jangan lupa LIKE LIKE LIKE


Salam

__ADS_1


Istri masa depan Angga Yunanda ^^


__ADS_2