Lembaga Perlindungan Duda

Lembaga Perlindungan Duda
Bab 10 : Ini Takdir


__ADS_3

Zie yang mendengar suara wanita di dekat papanya pun kaget. Anak tiri Airlangga dari istri pertamanya itu menutup panggilan lalu memastikan lagi bahwa dia benar menghubungi sang papa, bukan orang lain.


"Balik ke LPA sekarang juga! apa kamu tidak dengar?" protes Gia lagi.


Namun, Airlangga tidak menggubris protes gadis di sebelahnya ini. Jika putar balik maka dia akan semakin malam sampai di rumah teman putrinya.


"Aku akan mengantarmu pulang ke rumah nanti, maaf harus begini," kata Airlangga.


Gia merasa kesal, masih tak terima kenapa Airlangga harus membawanya juga. Sepanjang perjalanan Gia cemberut dan tak mau menoleh ke pria di sebelahnya.


Setelah menembus sedikit kemacetan, akhirnya mobil Airlangga sampai di rumah teman putrinya. Mereka tidak turun, karena Zie sudah di depan.


Melihat mobil Airlangga masuk, gadis itu berlari dari teras rumah Marsha untuk menghampiri. Hingga langkah Zie terhenti saat melihat papanya bersama seorang gadis.


“Siapa dia?” Zie bertanya-tanya dalam hati.


Marsha yang mengikuti Zie, juga keheranan karena Airlangga datang bersama Gia, dia berpikir jika ayah tiri temannya itu pasti menyukai daun muda.


“Zie, sepertinya kamu bakal punya mama baru."


Zie langsung melotot mendengar bisikan Marsha, hingga menoleh dengan bibir siap mengeluarkan makian.


“Jangan ngaco! Sembarangan!”


Zie kesal sendiri karena dikatai akan punya mama baru. Ia yang sudah beranjak dewasa tentu merasa aneh jika memiliki seorang mama lagi. Terlebih Gia terlihat begitu muda, bahkan Zie bisa menebak jika umur Gia pasti terpaut jauh dari Airlangga.

__ADS_1


Gia memaksakan senyum saat melihat Marsha dan Zie, Marsha sendiri membalas senyuman Gia, sedangkan Zie langsung masuk mobil dan duduk di kursi bagian belakang.


Mobil Airlangga pun pergi meninggalkan rumah Marsha, sepanjang perjalanan Zie hanya diam dan sesekali melirik ke depan di mana Gia duduk di samping papanya.


"Turunkan aku di sana! aku bisa naik taksi untuk ambil mobil di kantor,” kata Gia sambil menunjuk ke depan.


“Tidak usah, aku akan mengantarmu,” tolak Airlangga sambil fokus ke jalanan. “Aku tidak mau jika sampai dibilang tidak bertanggung jawab,” imbuhnya.


Mulut Gia menganga mendengar ucapan Airlangga. Dirinya juga tak pernah ingin diantar, serta Airlanggalah yang menariknya duluan, bagaimana bisa sekarang membahas masalah tanggung jawab.


“Aku tidak pernah minta kamu bertanggung jawab, lagi pula siapa juga yang mau ngatain kamu? Bukankah kamu yang memaksaku ikut tadi!” geram Gia karena Airlangga seenaknya bicara.


“Itu karena kamu susah diajak bicara baik-baik, kalau sejak tadi kamu ikut dan kita bisa bicara dengan tenang, bukankah lebih enak,” balas Airlangga.


Gia semakin bingung, pikirannya dan Airlangga benar-benar tidak sejalan. Dua orang itu masih tak sadar sudah membuat seorang remaja ikut bingung. Zie sejak tadi melihat Gia dan Airlangga berdebat, hingga akhirnya memilih diam dan menyaksikan mereka bertengkar.


Gia terkejut dengan mulut menganga untuk yang kedua kali, kemudian bersedekap dada dan memalingkan wajah. Dia memang tidak bisa berbuat apa-apa, mana mungkin keluar dari mobil dengan cara melompat.


Akhirnya Gia hanya bisa pasrah, hingga Airlangga pun bisa tenang mengemudikan mobil menuju rumah Indra.


“Mobilku di LPA, kenapa dia mengantarku ke rumah,” gerutu Gia dalam hati, melirik Airlangga sebelum kembali memalingkan wajah.


_


_

__ADS_1


“Sudah sampai,” kata Airlangga saat mobilnya berhenti di depan gerbang rumah Gia.


"Aku tahu, aku masih ingat rumahku sendiri," ketus Gia. Ia lantas bergegas turun tanpa mengucapkan terima kasih dan masuk ke rumahnya.


Setelah Gia masuk rumah, Zie pun berpindah duduk ke depan, hingga Airlangga kembali mengemudikan mobil meninggalkan kediaman Indra.


“Pa, apa itu pacar baru Papa?” tanya Zie.


Airlangga terkejut mendengar pertanyaan sang putri tiri. Pria itu pun menjawab, “Mana ada! Papa ini sudah berumur berapa, Zie? Mana mau Papa sama bocah berumur dua puluh tahun seperti dia.”


Airlangga tidak terima dianggap pacaran atau menyukai Gia yang menurutnya menyebalkan itu.


“Kalau cinta mau apa? ‘Kan hanya selisih dua belas tahun, Pa.” Zie menghitung selisih umur antara Airlangga dan Gia.


Airlangga melotot mendengar ucapan Zie, dia menoleh dan mendapati putri tirinya itu sedang berhitung menggunakan jari.


“Jangan mengada-ada. Zie.


Zie berhenti menggerakkan jemari, gadis itu kemudian menoleh sang papa tiri yang masih fokus menyetir.


“Apa Papa nggak ingat kata almarhum kakek?”


Karena pertanyaan sang putri, Airlangga pun mengingat ucapan almarhum ayahnya, bahwa dia akan terus kawin cerai jika menikahi janda. Airlangga baru akan mendapatkan cinta abadi jika menikah dengan seorang perawan.


Pria itu menggelengkan kepala cepat, dia tidak ingin mempercayai ataupun terpengaruh, meski terkadang jika dipikir apa yang dikatakan oleh almarhum ayahnya benar.

__ADS_1


"Ngaco! semua itu sudah takdir."


"Lalu bagaimana kalau takdir Papa memang begitu?"


__ADS_2