Lembaga Perlindungan Duda

Lembaga Perlindungan Duda
Bab 52 : Karena Menyukaimu


__ADS_3

“Siapa?”


“Gia, dia ingin bertemu dengan Anda.”


Airlangga masih sibuk memandangi laptop di hadapannya saat Alvian masuk dan memberitahu kalau di bawah ada Gia yang menunggu. Dua menit yang lalu resepsionis di lobi menghubunginya untuk memastikan, apakah Airlangga bisa menerima tamu atau tidak.


“Kenapa bertanya?”Airlangga menutup laptop dan menatap kesal sang sekretaris.


Alvian bingung, dia bahkan menggaruk sisi kepala tak tahu harus menjawab apa. Bukankah SOP untuk bertemu dengan Airlangga memang seperti itu, lalu kenapa malah bertanya kenapa.


“Kamu itu, tidak peka!”


Airlangga berdiri dan langsung meninggalkan ruang kerjanya. Pria itu bergegas ke bawah untuk menemui Gia. Bukan meminta gadis itu naik ke ruangannya, tapi dia yang menjemputnya ke bawah.


“Astaga! apa benar dugaanku kalau pak Airlangga memang memiliki perasaan ke Gia?” gumam Alvian. Pria itu menoleh ke belakang dan sudah tak mendapati punggung sang atasan. Alvian pun memilih untuk melanjutkan pekerjaannya alih-alih ikut menyusul ke bawah.


Sesaat setelah lift sampai di lobi, Airlangga berjalan cepat mencari di mana Gia berada. Melihat gadis itu duduk di sofa, dia pun berhenti dan melepas kancing lengan kemejanya. Airlangga berjalan sambil menggulung satu persatu lengan kemejanya dan tersenyum karena Gia menoleh. Ia tidak ingin terlihat sangat formal di hadapan gadis itu.


Gia berdiri, si resepsionis dibuat tak percaya karena pemilik perusahaannya itu sampai turun sendiri untuk menemui tamunya.


“Maaf Pak!” Resepsionis itu merasa bersalah.

__ADS_1


Melihat apa yang ada dihadapannya sekarang dia menduga Gia pasti orang penting bagi Airlangga.


“Tidak apa-apa,”jawab Airlangga tanpa menoleh resepsionis. Tatapan mata pria itu tertuju pada wajah Gia yang semringah.“Tumben, ada apa?” tanyanya kemudian.


“Aku datang ke sini untuk meminta pertanggungjawaban.”


“Apa kamu hamil?”


Dua orang itu berbicara dengan santai, Airlangga bahkan tertawa setelah melempar pertanyaan ke Gia. Mereka tidak sadar di sana ada resepsionis yang melongo mendengar perbincangan itu.


“Bisa kita bicara sambil duduk dan minum kopi?” pinta Gia. “Ah … sebelum kopi aku butuh air mineral yang ada manis-manisnya,”imbuhnya.


“Apa benar dia hamil? apa mulutnya pahit karena ngidam sampai dia minta air yang manis."


_


Airlangga mengajak Gia ke coffee shop yang berjarak sepuluh menit dari perusahaannya. Mereka berjalan kaki di trotoar beriringan, sesekali Airlangga menoleh Gia yang hanya diam. Ia salah duga, wajah Gia tadi ceria dan dia berpikir gadis itu pasti akan banyak bicara. Namun, sepertinya dia lah yang harus memulai perbincangan.


“Apa kamu tidak bekerja? Atau ada kerjaan di luar LPA pagi ini?”


“Aku sudah tidak bekerja di sana, aku memberikan surat pengunduran diriku ke pria rambut cangkok tadi,” jawab Gia. Ia terus berjalan sambil sesekali membetulkan letak tali tas di bahu, tapi ada yang aneh. Airlangga tiba-tiba menghentikan langkah kaki.

__ADS_1


“Kenapa? apa karena masalah dengan dewan pengawas?”


Airlangga merasa bersalah, karena tahu Gia sangat mencintai pekerjaannya di LPA.


“Bukan! aku hanya sudah tidak betah bekerja di bawah pimpinan macam pak Rafli,”kata Gia.


“Lalu apa karena membantuku?”


Gia tak bisa langsung menjawab, dia hanya memandangi wajah Airlangga yang masih menunggu jawabannya. Gia sadar sepertinya memang tidak bisa menyembunyikan alasan sebenarnya dari pria ini.


“Ayolah aku haus, kita minum dulu baru bicara, aku bilang ke Citra ingin memintamu mentraktir kopi.”


Airlangga tak bergerak dari posisinya, sampai Gia dengan berani menarik lengan pria itu agar mau kembali melangkahkan kaki. Airlangga cukup kaget dengan perlakuan Gia. Namun, tak bisa dipungkiri ada perasaan aneh dan senang di hatinya karena putri rekan bisnisnya ini mulai bersikap biasa padanya.


“Aku tidak ingin melakukan hal yang tidak aku sukai, perjuangan bisa dilakukan lewat jalan lain, dan hanya karena keluar dari LPA bukan berarti perjuanganku berakhir. Ini bahkan baru dimulai,”cerocos Gia.


Airlangga diam memandang wajah Gia dari samping, tangan gadis itu masih memegang erat lengannya. Airlangga kembali menghentikan langkah dan kali ini Gia menoleh dengan bibir cemberut.


“Aku mau minum kopi,”rengeknya.


“Gi, kenapa kamu sampai melakukan ini untukku? Aku merasa tidak pantas menerima bantuanmu seperti ini.”

__ADS_1


“Karena aku menyukaimu ...,”jawab Gia.


__ADS_2