
Zie akhirnya dipindahkan ke ruang inap biasa dengan Gia yang masih setia menemani. Putri tunggal Indra itu terlihat cemas dan berharap Zie segera pulih. Kondisi Zie masih sangat lemah, meski sudah bisa diajak bicara tadi.
Airlangga sangat menyesal dengan apa yang terjadi, dia memandangi sang putri yang terbaring lemah, meminta Zie untuk tidur dan tak perlu memikirkan kondisi Gani dulu.
“Pak Airlangga.”
Suara seseorang terdengar dari arah pintu. Pengacara Airlangga datang atas panggilan pria itu. Airlangga pun meminta izin ke Gia dan Zie untuk bicara berdua dengan sang pengacara.
Keduanya memutuskan duduk di kursi selasar depan kamar Zie, Airlangga tampak geram dan sudah berada di ambang batas kesabarannya menghadapi Alina.
“Sebagai kuasa hukum, aku butuh saranmu untuk bisa menyelesaikan masalah ini. Tentunya aku tidak ingin Alina bebas begitu saja, aku ingin dia mendapatkan hukuman. Apa kamu punya pendapat untuk bisa menjerat Alina?” tanya Airlangga ke pengacaranya.
“Apa Anda sudah yakin dengan keinginan Anda?” tanya pengacara bernama Haryo itu untuk memastikan.
“Aku benar-benar serius ingin melaporkan Alina ke pihak yang berwajib,” jawab Airlangga.
Haryo menghela napas kasar, kemudian mencoba memberikan pendapat sesuai dengan profesinya sebagai pakar hukum, karena seorang pengacara tidak boleh mengompori kliennya untuk berselisih jika masih bisa diselesaikan secara kekeluargaan.
“Kalau menurut saya, lebih baik Anda saat ini tetap tenang dan jangan terburu-buru dalam mengambil tindakan, apalagi jika menyangkut masalah hukum,” ujarnya menjelaskan.
__ADS_1
“Tapi tetap saja, perbuatan Alina sudah tidak bisa ditotelir sama sekali. Mungkin untuk saat ini aku ingin kamu ikut denganku menemui Alina di apartemennya,” balas Airlangga.
Di kamar inap Zie, Gia mencoba mengajak Zie bicara, tapi tetap meminta gadis itu berbaring karena tubuhnya masih lemas.
“Apa kamu menginginkan sesuatu?” tanya Gia.
Zie menggelengkan kepala, kemudian menjawab, “Aku hanya ingin Gani baik-baik saja,” jawab Zie dengan suara lirih.
“Aku takut kalau Gani dipukuli oleh mama Alina lagi,” imbuh Zie.
“Kamu tenang saja dan jangan terlalu banyak berpikir,” kata Gia kemudian. “Gani pasti baik-baik saja,” imbuhnya.
Saat Gia dan Zie masih bicara, Airlangga kembali masuk ke kamar itu, dia diam beberapa saat sambil memandang ke Gia juga Zie.
Zie mengangguk mendengar perkataan sang papa dan berkata,”Lebih cepat, lebih baik, Pa. Aku ingin Gani kembali ke rumah.”
“Kamu tenang saja, Papa akan membawanya kembali,” balas Airlangga agar Zie tidak khawatir.
“Apa kamu yakin kalau tidak akan ada keributan nantinya? Kamu tahu betul bagaimana sifat Alina,” ucap Gia cemas.
__ADS_1
“Bagaimana kalau kamu ikut juga? Bagaimanapun kamu orang LPA, mungkin dengan begini kamu bisa melihat dengan langsung serta menilai apa yang sebenarnya terjadi,” ujar Airlangga mengajak Gia ikut serta.
Gia tak langsung menjawab, tapi dia akhirnya memutuskan menemani Airlangga menuju apartemen Alina. Bagaimanapun juga, Gia harus memastikan kondisi Gani setelah Alina seenaknya memaksa membawa bocah itu pergi sampai melukai Zie.
***
Di apartemen Alina, ternyata Gani tidak berhenti menangis sejak datang hingga sekarang. Bocah laki-laki itu menangis sambil berbaring di lantai, hingga lama-lama diam karena lelah. Alina hanya membiarkan anak itu, dia duduk di sofa sambil menenggak wine dari gelas berleher tinggi, matanya tajam menatap Gani yang tertidur. Alina membiarkan putranya itu berbaring di sana dan tidak berniat memindahkannya ke kamar.
Saat Gani baru saja tertidur, suara bel apartemen Alina berbunyi. Wanita itu pun berjalan ke arah pintu untuk melihat siapa yang datang, setelah memastikan jika Auda yang ke sana, Alina pun membuka pintu tanpa segan.
“Masuklah!” Alina mempersilakan managernya itu masuk.
Auda yang memang butuh membicarakan masalah pekerjaan pun masuk. Wanita itu terkejut melihat Gani yang tertidur di lantai.
“Kenapa kamu biarkan dia tidur di lantai?” tanya Auda sambil berjongkok dan ingin menggendong Gani.
“Biarkan saja! Daripada nanti bangun dan nangis lagi!” hardik Alina saat Auda ingin memindah Gani.
Auda terlihat tidak peduli dengan ucapan Alina karena takut Gani masuk angin. Dia pun menggendong bocah berumur empat tahun itu untuk membawanya ke kamar.
__ADS_1
Di saat bersamaan, suara bel kembali berbunyi. Alina memutar bola matanya malas, dia berjalan ke pintu untuk melihat siapa yang datang dengan muka tertekuk.
Seperti tadi, sebelum membuka Alina mengintip melalui lubang kecil yang terpasang di pintu, dia malah tersenyum sinis, tak terkejut saat melihat kedatangan mantan suaminya karena sudah menduga hal ini pasti akan terjadi.