Lembaga Perlindungan Duda

Lembaga Perlindungan Duda
Bab 56 : Huru Hara


__ADS_3

“Masa depan apa?” tanya Zayn dengan dahi berkerut halus.


“Ada, Pak. Tapi yang jelas saya tidak bisa mengatakannya kepada Anda. Ini rahasia,” jawab Alvian yang tidak mau memberitahu.


Zayn terlihat kecewa, tapi juga tidak bisa memaksa.


“Maaf jika ketidakhadiran Pak Airlangga membuat Anda tidak berkenan,” ucap Alvian kemudian.


Zayn mengangguk-angguk lantas membalas, “Tidak apa, aku memaklumi.”


Alvian pun bisa sedikit tenang karena Zayn bisa memahami kondisi yang terjadi. Ia lantas membahas pekerjaan yang seharusnya dilakukan langsung dengan sang pemilik perusahaan.


**


Airlangga ternyata pergi menemui Indra di kantor pria itu. Ia sengaja datang ke sana karena merasa tidak enak hati sebab semalam menolak tawaran Indra.


“Oh ...Air, masuklah.” Indra terlihat senang melihat kedatangan Airlangga di kantornya.


Airlangga pun mengulas senyum, lantas duduk di sofa bersama Indra.


“Saya ke sini untuk meminta maaf karena semalam tidak bisa memenuhi undangan Anda,” ucap Airlangga begitu sopan ke Indra.


Indra malah tertawa kecil menanggapi ucapan Airlangga, lantas membalas, “Tidak apa-apa. Sebenarnya aku hanya senang karena mendengar kamu mau melamar Gia.”


“Apa kamu benar-benar ingin melamar Gia?" Lagi-lagi Indra bertanya untuk memastikan.

__ADS_1


“Tentu saja, saya sangat serius,” jawab Airlangga, “Namun, apa Gia mau dengan duda dua anak seperti saya?” tanyanya kemudian.


“Kalau masalah itu, kamu tanyakan langsung ke Gia. Kalau aku pribadi, aku tidak keberatan jika kalian benar-benar menikah,” jawab Indra sedikit dengan nada menggoda.


Airlangga merasa lega karena Indra setuju dengan keinginannya, kini hanya perlu memastikan ke Gia apakah mau menikah dengannya.


**


Gia sendiri sedang berada di mobil, ponselnya terus berdering dan dia melihat nama Zayn terpampang di sana. Ternyata Zayn menghubungi Gia yang sedang berada di mobil, Gia sendiri memang sengaja tidak ingin menjawab panggilan itu karena malas.


Gia pergi ke perusahaan Indra. Dia langsung masuk ke ruangan sang papa, hingga terkejut melihat Airlangga di sana.


Airlangga dan Indra sendiri masih mengobrol, hingga keduanya menatap ke arah pintu dan melihat Gia sudah berdiri di sana menatap ke mereka. Kedua pria itu tersenyum bersamaan melihat Gia datang.


“Kalian kenapa senyum-senyum sendiri? Apa yang sedang kalian bahas?” tanya Gia sambil berjalan mendekat.


Airlangga berdeham dan melirik sekilas ke Indra, sebelum kemudian menjawab, “Kami sedang membicarakan masa depan.


Wajah Gia seketika merona mendengar jawaban Airlangga, entah kenapa dia malah dibuat malu sendiri oleh jawaban Airlangga.


**


Sementara itu di LPA, semua staff melakukan mogok kerja. Mereka demo di depan kantor karena menanyakan nasib mereka jika melanggar kontrak seperti Gua.


“Kami butuh kejelasan, kenapa harus ada pinalty?”

__ADS_1


Suara salah satu teman Gia terdengar lantang dan meminta klarifikasi dari Rafli.


“Benar, kami merasa poin tentang pinalty di surat perjanjian kerja kami itu curang,” timpal yang lain.


“Pak Rafli, keluar! Kita butuh kejelasan ke mana uang itu dan digunakan untuk apa!”


“Benar! Keluar, Pak!”


Semua staff begitu kompak mempertanyakan masalah pinalty yang harus dibayarkan, mereka pun tidak ingin bernasib sama dengan Gia jika tiba-tiba harus terpaksa resign karena alasan tertentu.


Di ruang kerjanya, Rafli tampak kalang-kabut karena staffnya memberontak, belum juga masalah demo staffnya bisa diselesaikan, ponsel Rafli berdering dan nama Irawan terpampang di sana.


Rafli ingin mengabaikan, tapi tahu kalau itu malah akan menambah masalahnya. Dia akhirnya menjawab panggilan itu.


“Halo, Pak Irawan.”


“Saya mendapatkan laporan kalau kamu meminta uang pinalty dari staff yang berhenti bekerja. Apa maksudnya itu? Serta untuk apa uangnya?”


Rafli kebingungan menjawab pertanyaan Irawan, bahkan sampai mengguyar kasar rambutnya ke belakang.


**


Citra sedikit mundur dan memisahkan diri dari teman-temannya. Dia mengambil gambar teman-temannya yang sedang demo, lantas mengirimkannya ke Gia bersamaan dengan sebuah pesan.


[Kami sedang demo untuk memperjuangkan hak. Kami akan membuat huru-hara, jika sampai Pak Rafli tidak mundur juga.]

__ADS_1


__ADS_2