
Hari itu, sebuah tempat yang digunakan sebagai lokasi syuting terlihat ramai dengan kesibukan beberapa kru yang mondar-mandir. Mereka memersiapkan syuting iklan sebuah produk. Alina terlihat duduk dan sedang dimake up oleh salah satu penata rias.
Auda sang manager pun memandang Alina yang baru saja selesai dirias, hingga kemudian mendekat untuk bicara dengan artisnya itu.
“Lin, apa tidak lebih baik kamu cari pengasuh untuk Gani?” tanya Auda dengan hati-hati. “Masa kamu tega ninggalin bocah sendirian di apartemen?” tanyanya lagi.
Alina melotot mendengar pertanyaan Auda, hingga menengok ke kanan dan kiri karena takut ada yang mendengar.
“Kamu seharusnya tidak membahas hal itu di sini, di sini banyak orang,” amuk Alina tapi dengan nada sedikit ditekan.
Auda malah bingung dengan sikap Alina, merasa jika artisnya itu terlalu cuek terhadap putra kandungnya sendiri.
“Memangnya kamu nggak cemas, bagaimana kalau ada apa-apa ke Gani?” tanya Auda yang memang mencemaskan keadaan bocah itu.
Bukannya menjawab pertanyaan Auda, Alina malah memilih tak acuh dan kembali melanjutkan syuting. Auda pun menghela napas kasar, memandang Alina yang sudah bersiap-siap pengambilan gambar.
Auda membuang napasnya kasar, dia lantas memilih mengeluarkan ponsel dan mengirimkan pesan ke Zie.
[Zie, apa kamu bisa melihat Gani di apartemen? Dia sendirian di sana.]
Auda berharap Zie segera membaca pesannya dan mau pergi ke apartemen untuk melihat keadaan sang adik. Auda dan Zie memang cukup dekat, sifat Zie yang ramah dan periang, membuat siapapun akan mudah akrab dengannya.
Zie masih di sekolah, dia belum membaca pesan dari Auda karena masih mengikuti pelajaran. Manager Alina itu nampak cemas, dia berharap Zie segera membaca pesannya.
Sementara itu di apartemen, Gani sendirian berada di depan televisi yang menyala, ponsel dan mainan berserakan. Bocah laki-laki itu menangis dan memegangi perut.
“Mama, perutku sakit.”
Gani terisak, tapi tidak ada siapapun di sana hingga membuatnya tidak bisa berhenti menangis.
__ADS_1
Saat jam istirahat tiba, Zie langsung mengecek ponsel dan melihat pesan dari Auda. Dia sangat terkejut mendapatkan pesan yang mengatakan Gani berada di apartemen sendirian.
“Wanita itu kenapa meninggalkan Gani sendirian terus!” gerutu Zie yang langsung berlari keluar kelas.
Marsha bingung melihat sahabatnya yang berlari ke arah gerbang sekolah, bahkan saat dipanggil pun Zie tidak menoleh atau berhenti berlari.
“Zie! Kamu mau ke mana?” Marsha berteriak keras, temannya itu pergi tanpa membawa tas atau dompet.
Zie sendiri pergi tanpa izin guru piket, bahkan menerobos gerbang sekolah yang tidak tertutup rapat. Saat ini dia tidak berpikir apa-apa selain Gani. Zie langsung mencari taksi agar bisa mengantarnya ke apartemen.
Saat sudah mendapatkan taksi, Zie pun menghubungi Airlangga untuk memberitahukan kondisi adiknya.
“Pa, aku sedang dijalan menuju apartemen Mama Alina. Aku dapat kabar kalau Gani di sana sendirian, Papa nyusul ya, soalnya aku naik taksi tapi tidak bawa uang,” ucap Zie dengan cepat saat panggilannya terhubung dengan Airlangga.
Sopir taksi melongo mendengar ucapan Zie, bagaimana bisa gadis itu naik taksi tapi tidak membawa uang.
Airlangga kebetulan sedang menghadiri rapat, pria itu kemudian meminta sang putri untuk tenang.
Airlangga terpaksa meminta tolong Alvian sebab dirinya harus menghadiri rapat dengan nilai kerjasama yang lumayan besar.
Alvian pun mengangguk, lantas pamit untuk menyusul Zie.
_
_
Taksi yang dinaiki Zie sudah sampai di apartemen Alina. Sebelum turun, gadis itu meminta sang sopir untuk menunggu.
“Pak, tunggu sebentar ya. Nanti ada yang akan membayar,” kata Zie sambil membuka pintu.
__ADS_1
Sopir itu ingin bicara, tapi urung mendapati Zie tidak jadi turun.
“Aku tidak bermaksud kabur ya, Pak. Aku hanya mencemaskan adikku yang ditinggal sendirian di apartemen. Bagaimana kalau dia naik ke balkon dan jatuh,” ucap Zie lagi karena takut jika sang sopir berpikir dirinya hendak kabur.
Sopir taksi itu hanya mengangguk-angguk, malah ikut panik melihat Zie yang begitu cemas dan terburu-buru.
Zie masuk ke apartemen milik Alina, ternyata Auda juga mengirimkan pasword unit apartemen artisnya itu sehingga Zie bisa masuk dengan mudah.
Zie terkejut saat masuk ke apartemen, dia mendapati Gani yang menangis dan bau kotoran menyengat di seluruh ruangan. Untungnya Zie bukan tipe gadis yang mudah jijik, sehingga dia langsung menghampiri Gani yang menangis.
“Ya ampun, Gani!" seloroh Zie. Ia pun mengajak Gani ke kamar mandi, kemudian membersihkan adiknya itu bahkan memandikannya agar bersih dan wangi.
“Gani duduk di sini, biar Kakak bersihin ruangannya dulu,” kata Zie meminta Gani tetap berada di kamar terlebih dahulu.
Zie membersihkan kotoran yang tersebar di ruangan, kemudian menyemprotkan banyak pengharum.
“Dia memang keterlaluan, bagaimana bisa meninggalkan Gani sendirian terus di apartemen, ini tidak bisa dibiarkan,” omel Zie sambil menyemprotkan pengharum ruangan.
Setelah memastikan semuanya wangi dan bersih, Zie pun mengirimkan pesan ke Airlangga tentang kondisi Gani saat ditemukan.
Airlangga masih mengikuti rapat, hingga mendapatkan pesan dari Zie dan langsung membacanya. Pria itu membulatkan bola mata lebar, hingga terlihat kesal karena kelakuan Alina.
“Maaf, saya permisi sebentar,” ucap Airlangga pamit undur diri.
Di luar ruang rapat, Airlangga langsung menghubungi Alvian untuk tahu apakah sekretarisnya itu sudah sampai di apartemen.
“Apa kamu sudah sampai?” tanya Airlangga.
“Belum, Pak. Saya malah terjebak macet.”
__ADS_1
“Agh … sial!" Airlangga mengumpat, dia bahkan menjambak rambutnya frustrasi.