Lembaga Perlindungan Duda

Lembaga Perlindungan Duda
Bab 8 : Bertemu Alvian


__ADS_3

Gia tak menyangka jika nasibnya akan sesial ini. Bagaimana bisa misi memata-matai pertamanya malah dilihat oleh Alvian si sekretaris Airlangga.


Tentu saja Gia sangat terkejut, dia sampai melongo dan menjatuhkan buku menu berbahan karton tebal, sampai tepat mengenai jari kaki.


“Aduh!” Gia memekik lalu menunduk.


Rafli yang sedang berbincang dengan Alina pun terkejut mendengar suara gaduh. Gia yang menyadari jika Rafli menoleh, lantas menarik tangan Alvian dan meminta pria itu duduk di hadapannya untuk menutupi dirinya agar tak terlihat oleh sang atasan.


“Ada apa?” tanya Alina karena Rafli menoleh ke belakang.


“Tidak ada,” jawab Rafli, lantas kembali berbincang dengan Alina.


Alvian tidak protes saat Gia menarik tubuhnya, hingga menatap Gia yang sesekali melirik ke arah Rafli.


“Apa yang kamu lakukan, hah?” tanya Alvian dengan suara lirih.


Gia kini menatap Alvian, kemudian melihat kumis palsu yang dipakai sekretaris Airlangga itu.


“Kamu sendiri ngapain, hah? Kenapa pakai kumis palsu?” tanya Gia balik.


Keduanya saling tatap, sepertinya saling tebak dan akhirnya tahu bahwa tujuan mereka di sana sama.


“Apaan ini pakai beginian?” Gia tiba-tiba menarik kumis palsu Alvian hingga pria itu terkejut dan mengaduh.

__ADS_1


“Huss … kalau tidak pakai ini, nanti ketahuan.” Alvian mengusap bawah hidung yang terasa sedikit perih karena perekat kumis palsunya ditarik paksa. Dia keceplosan bicara, secara tidak langsung mengakui tujuannya berada di restoran yang sama dengan Gia.


Gia pun menyeringai nakal, masih sedikit menunduk sambil memandang Alvian dan telunjuk yang terarah ke wajah pria itu.


“Hayo, kamu lagi memata-matai mereka, ya?” tebak Gia.


“Apa? Memangnya kamu tidak? Kamu sendiri sedang apa? Bersembunyi di balik buku menu, memangnya itu tidak mencurigakan,” bantah Alvian yang tak ingin kalah dari Gia.


Saat keduanya masih berdebat soal apa yang dilakukan. Alina tiba-tiba berdiri dan pamit ke Rafli untuk pergi ke kamar kecil sebentar. Seketika Gia menutup wajah dengan buku menu, sedangkan Alvian memalingkan wajah ke kanan dan menutup setengah wajah dengan telapak tangan.


“Kamu ada di sini, apa CEO Kecap itu yang menyuruhmu?” tanya Gia saat Alina sudah hilang dari pandangan. “Ah … maksudku Pak Airlangga.”


“Tidak tahu,” jawab Alvian tak mau jujur. Ia mengusap bawah hidungnya yang terasa perih.


***


Setelah selesai melakukan tugas yang harus dilalui dengan terus berdebat dengan Gia, akhirnya Alvian kembali ke perusahaan untuk menemui atasannya.


“Bagaimana?” tanya Airlangga saat melihat kedatangan sang sekretaris.


Alvian duduk dikursi yang terdapat di depan meja Airlangga, kemudian mulai menyampaikan apa yang dia lihat dan tahu.


“Tadi saya bertemu dengan Gia di restoran, tampaknya gadis itu juga sedang memata-matai atasannya,” jawab Alvian yang malah menceritakan pertemuannya dengan Gia terlebih dahulu.

__ADS_1


Airlangga mengerutkan dahi, kenapa Gia sampai memata-matai Rafli. Namun, bukan itu yang ingin didengar Airlangga, pria itu ingin mengetahui apa saja yang dibicarakan oleh Alina dan Rafli. Airlangga sudah curiga sebelumnya jika Alina pasti akan meminta bantuan lembaga perlindungan anak, tapi siapa sangka jika Alina juga meminta bantuan Rafli.


“Abaikan gadis itu. Aku ingin tahu apa saja yang dibicarakan Alina dan Rafli?” tanya Airlangga yang tak sabaran.


“Saya tadi melihat Bu Alina memberikan amplop lumayan tebal ke Pak Rafli. Tentunya Anda bisa menebak apa isi amplop itu,” jawab Alvian menyampaikan apa yang diketahuinya.


Airlangga terlihat berpikir, ternyata dugaannya benar jika Alina pasti akan menyuap juga demi mendapatkan dukungan dari LPA untuk mengambil hak asuh Gani.


“Anda harus lebih berhati-hati dengan pria itu, Pak.” Alvian tak lupa memperingatkan Airlangga karena Rafli sepertinya sangat licik dan serakah.


“Sepertinya pria itu memang tidak benar kelakuannya. Dia telah menerima uang dariku, tapi kini juga menerima uang dari Alina. Serakah sekali,” gumam Airlangga yang merasa tertipu dengan Rafli.


Dia sudah berharap banyak kepada Rafli, tapi siapa sangka jika ternyata Airlangga sedang ditipu mentah-mentah setelah memberikan uang.


“Sepertinya Gia tahu akan sesuatu tentang Rafli, mungkin bertemu dengannya adalah pilihanku satu-satunya saat ini.”


***


Sore harinya, Airlangga berinisiatif mendatangi LPA tempat Gia bekerja. Dia menunggu di depan lobi sampai jam kerja Gia habis.


Para karyawan LPA mulai keluar dari gedung perusahaan. Hingga Airlangga melihat Gia yang baru saja keluar dari lobi dan berjalan menuju parkiran mobil. Pria itu pun menyusul dengan cepat, saat Gia akan membuka pintu mobil, Airlangga langsung mencekal lengannya.


Gia terkejut ketika ada yang menahan tangannya, hingga gadis itu dibuat semakin terkejut saat melihat siapa yang mencekalnya.

__ADS_1


“CEO Kecap!”


__ADS_2