
Airlangga mendekat ke arah ranjang, hingga langsung berdiri tepat di hadapan Gia yang mematung.
“Bagaimana tidurmu semalam? Apa bisa tidur nyenyak?” tanya Airlangga.
Zie dan Marsha hanya diam menyaksikan sambil menikmati batagor mereka, sedangkan Citra langsung menoleh ke Gia yang bergeming memandangi Airlangga.
Gia melongo mendengar pertanyaan Airlangga, hingga Citra menyenggol lengannya, membuat Gia tersadar dari lamunan.
“Lumayan,” jawab Gia secara spontan setelah bisa kembali menguasi pikirannya.
Airlangga mengulas senyum sambil mengangguk, kemudian menatap Zie yang terlihat lebih ceria daripada kemarin.
“Soal Zie, apa kamu benar-benar akan mengambil tindakan?” tanya Gia untuk memecah kecanggungan.
“Ya, aku akan tetap melaporkan Alina ke polisi. Dia tidak bisa terus dibiarkan,” jawab Airlangga.
Airlangga juga membahas kondisi Zie, sedangkan Gia hanya mendengarkan dan sesekali melirik, tidak ada keinginan darinya untuk sekadar membalas ucapan Airlangga.
Cukup lama Gia dan Citra di rumah sakit, hingga kemudian pamit untuk kembali ke kantor LPA.
Saat dalam perjalanan pulang, Citra melihat gelagat aneh Gia. Temannya itu hanya diam saat menjenguj Zie, padahal biasanya akan lebih banyak bicara terutama saat berhadapan dengan Airlangga.
“Kenapa aku merasa kamu sekarang tak banyak bicara? Terutama saat di depan Airlangga. Apa ada masalah?” tanya Citra yang penasaran.
Gia menoleh Citra, kemudian menjawab, “Nggak ada apa-apa.”
__ADS_1
Citra sebenarnya masih tidak percaya, tapi karena Gia tidak mau bicara, membuatnya memilih diam.
_
_
Di kamar inap Zie, kini tinggal Airlangga yang menjaga gadis itu. Ia mengajak sang putri bicara, dan menyampaikan bahwa dia sudah melaporkan Alina.
“Soal kecelakaan ini, kamu pasti akan dijadikan saksi oleh polisi, apa kamu tidak apa-apa?” tanya Airlangga.
“Papa tenang saja, aku berani,” jawab Zie dengan senyum lebar.
“Nanti Papa akan meminta LPA untuk membantu, karena kamu masih di bawah umur dan mengalami kekerasan,” ucap Airlangga kemudian.
***
Laporan Airlangga ke polisi yang ingin menggugat Alina sudah terdengar sampai telinga media. Kini para wartawan mulai berbondong-bondong mencari informasi tentang masalah itu, mereka bahkan berkumpul di area apartemen Alina, untuk bisa mendapatkan informasi.
“Bagaimana ini? Wartawan kini berjaga di bawah apartemen juga banyak yang menghubungi untuk meminta penjelasan,” ucap Auda panik.
“Diam! Jangan semakin membuatku pusing,"bentak Alina. Tentu saja wanita itu jauh lebih panik dan cemas melebihi sang manager.
Awalnya Alina berencana mendapatkan hak asuh untuk bisa memeras Airlangga, tapi semuanya kini kacau dan akan gagal karena kesalahannya yang telah membuat Zie celaka.
“Aku harus pergi ke LPA untuk meminta bantuan dari Rafli,” kata Alina. Harapan satu-satunya sekarang adalah berusaha mendapatkan hak asuh Gani seutuhnya.
__ADS_1
Alina pun diam-diam pergi dari apartemen bersama Auda dengan menyamar. Tanpa sepengetahuan wartawan mereka bisa lolos menuju LPA untuk menemui Rafli.
***
“Bukankah kamu berkata akan membantuku mendapatkan hak asuh Gani, tapi apa yang kamu lakukan? Kamu hanya diam dan tidak cepat bergerak!” amuk Alina saat berada di kantor Rafli. Ia menumpahkan semua rasa kesalnya ke pria itu.
Rafli sampai memejamkan mata karena terkena sembur Alina, sedangkan Auda mencoba menenangkan emosi Alina yang dia tahu tidak stabil.
“Saya pasti akan bantu, Anda jangan mencemaskan hal itu,” ucap Rafli agar Alina tidak semakin murka.
Dada Alina naik turun tidak beraturan karena menahan amarah, kemudian memilih untuk pergi meninggalkan ruangan Rafli daripada semakin emosi setelah menggebrak meja.
Saat baru saja keluar dari ruangan Rafli, Alina bertemu dengan Gia dan Citra. Alina mengingat siapa Gia, hingga dia pun kembali emosi dan marah.
“Dasar gadis tidak tahu diri! Kamu ini berani mencampuri urusan orang lain! Gadis polos yang ternyata suka sama om-om! Berkedok kerja di LPA hanya untuk menggaet pria kaya!”
Gia dan Citra saling tatap, mereka malah bingung karena Alina tiba-tiba marah. Gia sendiri mencoba bersikap tenang, meski ingin rasanya menjambak rambut wanita itu.
“Dasar bodoh! Mau saja kamu dimanfaatkan pria payah macam Airlangga!” Kini Alina juga menghina sang mantan.
Entah kenapa saat nama Airlangga dijelek-jelekkan, Gia merasa Alina sangat keterlaluan, hingga kemudian memilih membela pria itu
“Kamu apalagi? marah-marah nggak jelas kayak orang mabok narkoba!” Gia membalas ucapan Alina, dan seketika membuat wanita itu tercengang.
“Meski Airlangga om-om, tapi dia itu hot! Memangnya kenapa kalau aku suka? Kamu keberatan! Kamu dan dia sudah mantan, apa hakmu?” sembur Gia lagi.
__ADS_1