
Setelah bertemu dengan Airlangga, Gia memutuskan pulang ke rumah karena tidak tahu harus pergi ke mana. Gadis itu kini sudah berada di kamar, duduk termenung di tepi ranjang sambil memikirkan ucapan Airlangga kepadanya tadi.
“Apa ini nyata?”
Hati Gia berbunga-bunga seperti ada banyak kupu-kupu yang menggelitiki rongga dadanya, Gia seolah tidak percaya dengan apa yang didengarnya.
“Bagaimana bisa hatiku kecantol duda?”
Gia menangkup wajah dengan kedua telapak tangan karena merasa malu sendiri. Bibir Gia tersenyum, dia bahkan menghentakkan kakinya sebelum membuka kedua telapak tangannya yang menutup wajah. Gadis itu menatap lurus ke depan sambil terus mengulas senyum. Dia pun membayangkan dan mengingat ucapan Airlangga kepadanya di coffee shop tadi.
_
Gia terlihat bingung mendengar ucapan Airlangga, kelopak matanya bergerak naik-turun sambil menatap pria itu.
“Kamu bercanda lagi,” ucap Gia mengelak dari apa yang diucapkan Airlangga.
Airlangga tersenyum manis, sebelum kemudian membalas, “Siapa yang bercanda, aku serius.”
“Bagiku yang sudah dua kali gagal menikah, tidak bisa jika diminta untuk pacaran dulu, baru kemudian menikah,” ucap Airlangga menjelaskan.
“Tapi, bagaimana bisa kamu yakin kalau hubungan tanpa pacaran bisa bertahan lama?” tanya Gia masih sedikit ragu.
“Aku menduda bukan karena aku selingkuh, tapi istri pertamaku meninggal dan yang ke dua selingkuh,” jawab Airlangga sambil menatap Gia yang terlihat sedikit ragu.
__ADS_1
Gia masih bingung mendengar jawaban Airlangga, keningnya semakin berkerut mencoba menelaah maksud perkataan pria itu.
“Maksudmu bagaimana?” tanya Gia memastikan.
“Cinta itu komitmen dan cinta bisa dipupuk seiring berjalannya waktu. Aku menyukaimu, kalau kamu mau menerimaku, kita bisa memupuk cinta itu bersama.”
_
Wajah Gia merona saat mengingat ucapan Airlangga, semuanya terlihat tidak nyata, bahkan dia sampai menepuk kedua pipi karena mengira itu hanya mimpi.
“Aduh sakit! ternyata ini bukan mimpi,” gumam Gia, sebelum kemudian kembali tersenyum-senyum sendiri.
Gia masih sibuk bergelut dengan hatinya yang berbunga-bunga, saat terdengar suara ketukan pintu dan disusul dengan suara Indra yang menggema.
“Ya, Pa.”
Gia pun menyahut panggilan sang papa, lantas berjalan ke arah pintu dan membukanya. Gadis itu kaget melihat Indra sudah berdiri di depannya.
"Kok Papa sudah pulang?" tanyanya heran.
“Papa perlu bicara denganmu, ayo ke ruangan Papa,” ajak Indra, kemudian berjalan mendahului Gia menuju ke ruang kerjanya.
Gia tahu apa yang akan dibicarakan oleh sang papa, hingga tak kaget dan mengekor Indra menuju ruang pribadi pria itu.
__ADS_1
Saat sampai di ruang kerjanya, Indra langsung mengajak Gia duduk dan tanpa basa-basi melontarkan pertanyaan.
“Kenapa kamu mencuri cek milik Papa?” tanya Indra sedikit tidak senang, terlebih siang tadi Gia belum menjelaskan sepenuhnya apa yang terjadi.
“Aku resign dari LPA, Pa. Cek itu aku gunakan untuk membayar pinalty, tapi aku yakin kalau uang itu pasti digunakan secara pribadi oleh Pak Rafli," jawab Gia.
"Aku merasa aneh saja lembaga seperti LPA memberi pinalty ke bawahan yang keluar sebelum kontrak berakhir, padahal di aturan LPA hal itu seharusnya dibicarakan secara musyawarah, tapi kontrak kerjaku berisi kalau aku harus membayar pinalty jika berhenti sebelum kontrak selesai." Gia menjelaskan panjang lebar. "Aku yakin kontrak kami dimanipulasi Pak Rafli," imbuhnya.
Indra pun terdiam mendengar penjelasan sang putri, memang sedikit aneh jika lembaga seperti LPA membebankan pinalty.
“Bukankah menurut Papa itu aneh?” tanya Gia melihat sang papa terdiam.
Indra mengangguk pelan menjawab pertanyaan Gia, meski sebenarnya dia masih bingung dengan tujuan sang putri menggunakan cek miliknya.
“Ya sudah kalau begitu,” ucap Indra. Pada akhirnya dia membiarkan saja apa yang dilakukan oleh Gia.
Setelah selesai bicara, Gia lantas meminta izin pergi keluar dari ruang kerja sang papa. Namun, dia tiba-tiba berhenti melangkah dan menoleh Indra.
“Pa, menurut Papa bagaimana Airlangga?” tanya Gia tiba-tiba.
Indra menarik satu sudut alis karena tidak paham dan heran dengan pertanyaan Gia.
“Memangnya dia kenapa?” Indra malah balik bertanya.
__ADS_1
Gia menggigit bibir bawahnya, lantas menjawab, “Airlangga bilang ingin menjadikanku istrinya.”