Lembaga Perlindungan Duda

Lembaga Perlindungan Duda
Bab 39 : Tolong Bawa Pergi!


__ADS_3

“Aku akan mengantarmu, aku juga sudah selesai di sini.” Airlangga melempar tatapan benci ke Alina. Memeluk erat tubuh Gani agar wanita itu tidak bisa macam-macam ke putranya.


“Turunkan dia! Kamu tidak bisa membawanya!”


Alina marah, mendekat dan hampir merebut Gani kembali tapi Auda menahan lengannya. Ia sadar kalau Alina berada di bawah pengaruh obat, jika sampai masalah ini diperpanjang malam ini, dan Alina ketahuan, bisa-bisa karir wanita itu menjadi taruhannya.


“Kalian pergilah, kita bisa bicarakan ini nanti,”ucap Auda berharap Airlangga, Gia juga pengacara yang datang bersama mereka tak curiga.


Tanpa banyak bicara, Airlangga keluar dari sana, sedangkan Alina murka bahkan masih ingin mengejar Airlangga. Auda buru-buru menutup pintu apartemen lalu mengguncang tubuh Alina.


“Alin, kamu sudah gila. Apa kamu memakai obat laknat itu lagi?” amuk Auda.


“Sialan, bagaimana kamu tahu?” umpat Alina.


Sementara itu, pengacara Airlangga pamit untuk pergi, dia berjanji akan datang ke kantor pria itu besok untuk membahas masalah malam ini. Airlangga mengucapkan terima kasih, meski sejatinya pengacara itu juga tidak banyak membantu tadi.


Gia yang duduk di kursi penumpang dengan kepala Gani yang berada di atas pahanya pun membuka jendela, mengeluarkan suara lirih Gia berkata,” Bisa tidak kamu mengantarku pulang sekarang? aku takut dicoret dari kartu keluarga.”


Airlangga seolah baru sadar memiliki janji ke Indra, untuk mengantar Gia pulang sebelum jam dua belas malam. Duda dua anak itu melihat jam di pergelangan tangan, matanya memejam sejenak dengan bibir bawah yang dia gigit karena merasa bersalah.


“Aku pasti akan dimarahi Pak Indra,”ucap Airlangga lantas buru-buru masuk ke dalam mobil.


“Nanti kita jelaskan apa yang terjadi, Papa pasti maklum.”

__ADS_1


Gia mencoba menenangkan. Dia terlibat saling pandang dengan Airlangga yang menatapnya dari kaca spion tengah.


Gia yang merasa sedikit malu pun menundukkan pandangannya ke Gani. Diusapnya kening anak itu kemudian membuang muka keluar jendela.


“Perasaan aneh apa ini?” gumamnya di dalam hati.


Gia malah tidur sepanjang perjalanan, hingga saat bangun dia mendapati Airlangga sedang berbicara dengan papanya di teras.


"Kenapa dia tidak membangunkan aku?"


Gia menurunkan kepala Gani dari pangkuannya pelan-pelan, dia membuka pintu mobil perlahan karena takut mengganggu bocah - yang pasti akan terus mengingat kejadian menyedihkan yang dialami hari ini. Gia mendekat ke teras sambil mengangkat gaun yang dikenakannya. Ia takut terkena sembur Indra, tapi sepertinya Airlangga sudah menjelaskan apa yang terjadi ke sang papa.


“Pa, maaf aku telat!”


“Ih … Papa, aku tidak sedang bercanda. Aku tadi harus ke rumah sakit dulu dan ke …. “


“Airlangga sudah cerita, dia bilang kamu tidur sangat nyenyak di mobil,” potong Indra cepat.


“Jam berapa ini?” Gia merogoh ponsel dari dalam tas. Matanya membelalak menyadari bahwa ternyata dia sudah tidur hampir satu jam.


Indra geleng-geleng kepala melihat tingkah putri semata wayangnya. Gia tak sadar kalau Airlangga sudah lama berbincang dengannya. Mereka kini berada di teras karena Airlangga hendak pulang.


“Baru saja kami ingin membangunkanmu, tapi ternyata kamu sudah bangun,”ujar Airlangga dengan seulas senyum di wajah.

__ADS_1


Gia menelan ludah, sejak kapan dia jadi aneh seperti ini. Memandang wajah Airlangga membuat dadanya berdebar-debar, mungkinkah dia terpesona saat pria itu menunjukkan sisi kepakannya tadi? dia pasti sudah gila jika sampai menyukai duda beranak dua.


“Sekali lagi saya minta maaf Pak Indra, saya tidak ingin Anda berpikir saya adalah pria yang tidak bisa dipercaya.” Airlangga kembali menegaskan, dia menundukkan kepala saat Indra meneyentuh pundaknya.


“Aku tahu, tidak perlu merasa bersalah. Kalau saja apa yang kamu alami tadi menimpaku, aku juga pasti akan mendahulukan anak-anakku, dari pada harus mengantar perawan jomlo pulang.”


“Papa!”


Gia tak terima dengan ucapan Indra, apalagi Airlangga terkekeh karena ucapan papanya itu.


“Air, apa kamu tahu? pria yang pestanya kamu hadiri tadi adalah mantan terindah Gia, dia menangis tujuh hari tujuh malam karena diselingkuhi pria itu”


“Papa!” Gia semakin tak terima, dia menarik tangan Indra lantas membuat gerakan mengusir Airlangga. “Kamu pulang saja, aku mohon! Pergi! Aku tidak ingin aibku terbongkar di depan orang asing.”


“Siapa bilang orang asing, Airlangga mau papa jadikan menantu kok,"ucap Indra.


“Papa!” Gia menghentakkan kaki, hancur sudah harga dirinya di depan Airlangga, dia benar-benar malu, sedangkan pria itu malah tersenyum malu-malu.


“Apa Anda serius? kalau iya, tentu saja dengan senang hati saya akan menerimanya.”


Respon Airlangga semakin membuat Gia menyesal, kenapa dia tidak tidur lebih lama di dalam mobil tadi.


“Tolong bawa aku pergi dari sini!” jerit hati kecil Gia.

__ADS_1


__ADS_2