Lembaga Perlindungan Duda

Lembaga Perlindungan Duda
Bab 13 : Cepat Bergerak!


__ADS_3

[ Apa maksudmu mengirimiku bunga? kamu pikir aku bisa dengan mudah disogok]


Gia mengirim pesan ke Airlangga, dia tahu kontak pria itu dari indra. Tentu saja papanya itu dengan senang hati memberikan kontak pria itu kepadanya saat Gia minta. Indra berpikir pria berpengalaman dan mapan adalah yang paling cocok menjadi menantunya.


Gia menggoyangkan kaki menunggu balasan pesan dari Airlangga. Ia tidak ingin pria itu menganggapnya gadis gampangan yang bisa dengan mudah memaafkan, hanya karena satu bucket mawar merah.


[ Itu bukan sogokan, hanya hadiah permintaan maaf. Jika kamu tidak mau memaafkan ya sudah ]


“Haish … sial, kenapa aku membalasnya seperti ini?”


Airlangga memandang benda pipih di tangan, dia menyesal karena terlalu kaku. Seharusnya dia rayu saja Gia dengan jurus tipu-tipu. Ia pria dewasa, seharusnya tidak kalah dengan gadis berumur dua puluh empat tahun.


[ Ya sudah, aku tidak akan memaafkanmu! ]


Gia memaki layar ponselnya, bibir gadis itu sudah maju mundur karena kesal dengan balasan pesan dari Airlangga. Ia pun memilih meletakkan bunga itu di bawah. Tak sudi melihatnya bertengger di atas meja kerja.


“Gia, sayang banget bunga sebagus itu.” Citra geleng-geleng, dia tak menyangka Gia bisa sebenci itu ke Airlangga. “Awas Gi, benci bisa jadi cinta,” bisiknya.


“Hanya berlaku untuk orang kurang kerjaan, aku banyak kerjaan. Aku harus membuat si rambut cangkok itu menyesali perbuatannya!”

__ADS_1


Gia berbicara sambil menunjuk ruang kerja Rafli, dia tak menyangka atasannya membuka pintu dan melihat dirinya mengangkat telunjuk.


“Gia!”


Citra yang mendengar panggilan Rafli langsung menggeser kursi dan bersembunyi di balik kubikel. Sedangkan Gia menoleh lalu menarik bibir agar tersenyum dan bersikap ramah ke Rafli.


“Iya Pak Rafli. Apa ada masalah?” tanya Gia, tak lupa dia kedip-kedipkan matanya bak boneka cantik dari India.


“Aku mau bicara!”


Tepat setelah mengatakan itu, Rafli masuk kembali ke ruang kerjanya. Gia pun memutar bola mata malas. Gadis itu menatap Citra yang mengerutkan kening lalu mengedikkan bahu, tanpa bersuara Citra bertanya ke Gia-


“Ada apa lagi?”


_


_


“Bapak mau ngomong apa?” tanya Gia dengan tangan saling bertumpu di depan badan.

__ADS_1


“Aku mau kamu temui orang ini, lalu bujuk dan jelaskan padanya agar dia tidak lagi sibuk memperebutkan hak asuh. Anaknya masih berumur empat tahun, sudah sewajarnya diasuh oleh ibu kandungnya,” ucap Rafli panjang lebar lalu menyodorkan sebuah kertas.


Gia pun maju untuk menerima kertas itu dari tangan Rafli. Ia kaget melihat profil Airlangga terpampang di sana. Gia semakin kesal karena sadar bin yakin bahwa sogokan Alina pasti lebih besar, sehingga Rafli lebih memilih membantu artis itu.


“Kenapa tidak Anda katakan sendiri padanya? Bukankah Anda dekat, Pak.”


Gia meletakkan kembali kertas itu ke meja Rafli. Ia tahu tidak ada seorang pun staff di LPA selain dirinya yang berani menghadapi orang yang memiliki latar belakang seperti Airlangga, maka dari itu Rafli memintanya.


“Kamu itu lho, digaji setiap bulan, menuruti perintah atasan aja ngebantah.”


Gia tersenyum, dia tahu betul baik dirinya dan Rafli tidak akan bisa saling mengusir satu sama lain. Di kontrak kerjanya jelas tertulis bahwa yang memecat harus membayarkan pesangon satu tahun gaji, sedangkan yang mengundurkan diri harus membayar pinalti lima tahun alias enam puluh kali gaji.


Gia yang awalnya tidak memiliki prasangka buruk, tak membaca kontraknya dengan baik dan langsung tanda tangan. Alhasil, kontrak itu benar-benar merugikan dirinya sebagai individu dan mahkluk sosial.


“Sudah jangan buang-buang waktu, hubungi pria itu dan katakan kalau LPA tidak bisa membantunya. LPA akan membantu sesuai dengan perkembangan dan fakta di lapangan,” ujar Rafli.


“Iya, perkembangan dan fakta di lapangan. Siapa yang duitnya paling gede yang akan Anda bela,” sindir Gia. Namun, hanya di dalam hati. Ia tidak mungkin mengatakan hal itu secara terang-terangan di depan muka Rafli.


“Sudah sana cepat bergerak! Ajak dia bertemu di kafe atau restoran, kamu bisa minta uang transportasi dan konsumsi ke Tiwi,” titahnya.

__ADS_1


Gia keluar dari ruangan Rafli dengan perasaan dongkol. Ia bahkan duduk di kursinya dengan kasar. Gia tak percaya, dia yang baru saja marah ke Airlangga harus menghubungi pria itu dan mengajaknya bertemu.


“Dia bisa besar kepala,” gerutu Gia.


__ADS_2