Lembaga Perlindungan Duda

Lembaga Perlindungan Duda
Bab 15 : Alasan


__ADS_3

Gia dan Airlangga melanjutkan makan meski sambil berdebat. Gia sendiri juga sudah mengutarakan maksud menemui Airlangga sesuai perintah Rafli.


“Aku menemuimu hanya untuk mengatakan itu saja,” kata Gia setelah selesai makan. Dia mengelap permukaan bibir dengan tisu.


Airlangga menatap Gia yang baru saja selesai makan, hingga kemudian gadis itu berdiri. Dia pun ikut berdiri, tidak mau jika ditinggal di sana.


Keduanya berjalan ke kasir, lantas sama-sama mengeluarkan dompet.


“Berapa total semuanya?” tanya Gia dengan cepat.


“Tidak bisa, aku yang akan membayar pesananmu.” Airlangga menolak jika dibayar Gia. “Berapa total semua?” tanya Airlangga ke kasir.


“Eh … siapa juga yang mau dibayari sama kamu. Aku tidak sudi,” ketus Gia sambil melengos.


Kasir itu pun kebingungan karena Gia dan Airlangga malah berdebat sendiri soal pembayaran.


“Di mana-mana cowok yang bayar makanan untuk cewek, bukan sebaliknya,” balas Airlangga yang tak mau kalah.


Gia menoleh Airlangga, kemudian berkata, “Kalau kita temenan, oke saja. Tapi kita ini tidak temenan, catat itu!”


Kasir semakin pusing melihat pertengkaran keduanya, hingga kemudian memiliki ide agar keduanya tidak bertengkar.


“Maaf, bagaimana jika bayarnya sendiri-sendiri saja agar lebih nyaman satu sama lain?” tanya kasir memberi usul.


“Setuju!” Gia dan Airlangga berucap secara bersamaan.


Keduanya akhirnya membayar sendiri-sendiri, itu lebih baik daripada mereka bertengkar tiada akhir.

__ADS_1


Indra yang sejak tadi memantau dari jauh, kini paham dengan apa yang terjadi, dirinya ternyata sudah salah paham berpikir Gia dan Airlangga akur. Pria itu menghela napas kasar sambil menggelengkan kepala.


***


Di sekolah Zie. Gadis itu sedang duduk bersama Marsha di samping kantin sambil menikmati minuman dan makanan ringan yang mereka beli.


“Sya, papaku sepertinya sedang dekat dengan cewek,” kata Zie.


“Cantik nggak?” tanya Marsha, kemudian menyeruput minuman kaleng.


“Lumayan, masih muda juga,” jawab Zie lantas memasukkan makanan ringan ke mulut.


Marsha mengangguk-angguk, kemudian menoleh Zie yang sedang memandang langit sambil mengunyah.


“Jangan-jangan papamu selingkuh, makanya mama tirimu minta cerai,” tuduh Marsha asal-asalan.


“Sembarangan!” amuk Zie.


Marsha mengusap-usap lengannya yang terkena gampar, ternyata tenaga Zie sangat kuat.


“Sakit Zie,” keluh Marsha sambil meringis.


“Jangan ngomong sembarangan, papaku tidak seperti itu. Dia itu pria super baik.” Zie mendengkus kasar, kesal jika ada yang menuduh bukan-bukan ke sang papa.


“Ya maaf, Zie. Aku ‘kan hanya menduga-duga.” Marsha mencoba membela diri karena temannya sudah marah besar.


Zie tentu saja tidak terima karena bukan itu penyebab Airlangga dan Alina bercerai. Dia tiba-tiba terdiam dan teringat akan kejadian sebelum hubungan Airlangga dan Alina renggang.

__ADS_1


_


_


Zie saat itu sedang menonton televisi di rumah sambil memakan camilan, hingga Alina datang dan langsung bersedekap dada menatapnya.


“Heh, enak sekali hidupmu, makan, tidur sesuka hati!”


Zie terkejut karena Alina berucap demikian. Dia yang awalnya duduk bersila di atas sofa, kini menurunkan kedua kaki ke lantai.


“Kamu seharusnya sadar diri, kamu itu bukan siapa-siapanya Airlangga, kamu ini hanya parasit yang numpang hidup! Anak yatim yang hanya butuh belas kasih!”


Zie semakin terperangah mendengar ucapan pedas dan begitu kejam dari Alina. Airlangga saja tidak pernah mengatainya atau mempermasalahkan statusnya, lantas kenapa Alina mempermasalahkan hal itu.


Saat Alina mengatai Zie, ternyata Airlangga yang baru saja pulang bekerja mendengar semuanya. Pria itu pun murka ke sang istri.


“Kamu jangan bicara sembarangan, jaga ucapanmu!” bentak Airlangga.


“Apa? Aku hanya bicara fakta,” kata Alina membela diri.


Airlangga meminta Zie untuk mendekat ke arahnya, melindungi gadis itu dari mulut pedas sang istri.


“Aku tidak terima kamu bicara sembarangan tentangnya!” bentak Airlangga.


“Bela saja terus dia! Dia itu bukan siapa-siapamu, ingat itu! Aku ini istrimu yang seharusnya lebih kamu bela dan utamakan!” Alina terlihat murka karena Airlangga membela Zie.


Airlangga malas menghadapi Alina yang dianggap kekanak-kanakkan, lantas memilih mengajak Zie pergi.

__ADS_1


Mulai dari hari itu, hubungan Airlangga dan Alina mulai retak, Airlangga akhirnya tahu jika istrinya itu memang memiliki sifat yang tidak baik dan pencemburu.


__ADS_2