Lembaga Perlindungan Duda

Lembaga Perlindungan Duda
Bab 46 : Kesempatan Lagi


__ADS_3

Setelah berjalan melewati orang-orang yang membicarakan mereka, akhirnya Gia dan Zayn sampai di depan ruangan Irawan. Di sana sekretaris Irawan agak heran karena Gia kembali lagi.


“Papa ada?” tanya Zayn.


“Ada, beliau baru saja selesai rapat tadi,” jawab sekretaris Irawan sambil melirik Gia.


“Anda bisa menunggu di ruangan sebelah seperti biasanya,” kata sekretaris Irawan. Dia tadi sempat membuat Gia pergi, tapi karena sekarang Gia bersama Zayn, membuat sekretaris itu membiarkan saja.


Zayn pun mengajak Gia masuk ke ruangan yang biasa digunakan untuk rapat, sambil menunggu Irawan datang.


“Soal kebusukan Rafli, kenapa baru sekarang kamu mau melaporkannya?” tanya Zayn ketika berada di ruangan berdua dengan Gia.


“Aku melakukan ini karena merasa pak Rafli sudah keterlaluan,” jawab Gia.


Zayn mengangguk paham, hingga menatap Gia yang seolah menghindari tatapannya.


“Lalu, sekarang kamu bertindak, apa mungkin karena ada hubungannya dengan Airlangga?” tanya Zayn yang penasaran.


Gia menoleh Zayn, hingga keduanya kini saling tatap. Gia tidak bisa menjawab dan bingung harus bagaimana menjelaskan, bertepatan dengan itu suara pintu terbuka. Zayn dan Gia pun menoleh ke arah sana dan melihat Irawan masuk.


Irawan cukup terkejut melihat Gia di sana, tapi kemudian mengukir senyum dan ikut bergabung dengan Zayn dan Gia.


“Tidak aku sangka akan mendapat tamu dadakan,” ucap Irawan dengan sedikit nada candaan.


Gia hanya mengulas senyum menanggapi ucapan Irawan, dia mengangguk sebagai rasa hormatnya ke pria itu.

__ADS_1


Irawan melirik Zayn, melihat putranya sedang membuka kotak makanan yang dibawa.


“Bagaimana pekerjaanmu?” tanya Irawan ke Gia. Dia mengajak berbincang Gia dan Zayn di sela makan.


“Sangat baik,” jawab Gia sedikit canggung.


Zayn sendiri hanya tersenyum melihat Gia yang sebenarnya merasa gugup dan canggung.


Mereka pun berbincang seputar pekerjaan dan juga usaha milik Zayn.


“Pa, sebenarnya Gia ke sini karena ada hal yang ingin dibicarakan dengan Papa,” ucap Zayn saat Irawan hampir menghabiskan makan siangnya.


“Benarkah?” Irawan menaikkan kedua sudut alis, lantas memandang Gia yang hanya mengulas senyum.


“Kamu ingin bicara apa?” tanya Irawan ke Gia.


Irawan pun memilih mendengarkan dengan selesai apa yang ingin dikatakan Gia.


Gadis itu menceritakan apa yang terjadi, menjelaskan kinerja Rafli dan juga masalah yang terjadi di LPA, semua tanpa terkecuali.


“Saya benar-benar tidak bermaksud untuk menjelekkan pak Rafli. Saya hanya ingin Anda melihat bagaimana sepak terjang pak Rafli selama ini di LPA. Jika Anda menginginkan bukti, saya bisa memberikan bukti kalau pak Rafli memang tidak benar dalam bekerja. Bahkan saya merasa sudah di luar kaidah LPA,” ujar Gia menjelaskan panjang lebar.


Irawan mengangguk-anggukkan kepala mendengar cerita Gia, hingga kemudian berkata, “Baiklah, untuk masalah ini saya akan mencoba membantu dan bicara ke pengawas LPA yang lain. Mungkin kami terlalu sibuk, sampai-sampai kurang memantau apa yang terjadi di LPA.”


Gia lega mendengar ucapan Irawan, setidaknya kini dia sudah membuat dewan pengawas tahu, mendapatkan dukungan dari pria itu atau tidak bisa dipikirkan nanti.

__ADS_1


Irawan melirik Zayn, lantas kembali menatap Gia. Pria itu seolah ragu tapi akhirnya berkata,“Aku bisa membantumu mengurus Rafli, asal kamu mau kembali ke Zayn."


Gia terkejut dan terlihat tidak suka, tapi dia tetap saja harus menyembunyikan rasa kesalnya karena permintaan Irawan. Gia tersenyum untuk menutupi rasa jengkelnya.


“Sepertinya Zayn sudah memiliki kriteria lain untuk masalah pasangan yang cocok dengannya,” ucap Gia untuk mengalihkan pembicaraan.


“Benarkah?” Irawan langsung menoleh sang putra.


“Mana mungkin,” elak Zayn. “Gia adalah wanita terbaik, tidak ada yang sebaik Gia.” Zayn malah sengaja memuji Gia di depan papanya.


“Meski kamu bilang aku baik, apa kamu pikir aku akan tersipu. Karena aku baik, makanya aku tidak pantas untukmu. Dasar pria tukang selingkuh, sekali selingkuh tetap selingkuh."


Meski dalam hatinya merasa begitu kesal, tapi Gia tetap mempertahankan senyum daripada Irawan berubah pikiran.


Usai makan siang, Gia pun pamit undur diri. Tak lupa dia berterima kasih karena Irawan mau mendengarkan keluhannya soal Rafli.


Gia dan Zayn pun berjalan bersama menuju parkiran, tiba-tiba saja Gia penasaran apakah Zayn setiap hari datang untuk membawakan Irawan makan siang.


“Apa kamu datang setiap hari dan memang suka makan siang bersama papamu?” tanya Gia.


“Papa punya penyakit jantung, jadi aku harus benar-benar mengontrol makanan papa. Salah satunya ya dengan mengajaknya makan siang bersama seperti tadi,” jawab Zayn.


Gia sedikit kagum karena Zayn sangat perhatian ke Irawan, hingga kemudian rasa kagum itu berubah dan dia pun menyindir Zayn.


“Aku masih tidak percaya kalau pria seperti kamu bisa perhatian,” sindir Gia.

__ADS_1


“Aku juga bisa perhatian kepadamu, asal kamu mau memberiku kesempatan lagi,” balas Zayn.


__ADS_2