
...Terima kasih sudah mau menunggu Na update kembali...
...Sayang kalian banyak-banyak. Untuk novel ini akan Na Up 1 day 1 chapter ya (sehari satu bab) Semoga lancar sampai tamat...
...-------------------...
Gia mengendarai mobil ugal-ugalan. Ia menunjukkan kemampuannya menyetir, yang sudah dikuasai sejak berumur tujuh belas tahun. Setiap mobil yang berjalan lambat dibalapnya sampai Airlangga merasa nyawanya tak berharga. Pria itu berpegangan pada handgrip, meminta Gia mengurangi kecepatan.
"Tolong aku tidak mau mati dalam kondisi duda," ucap Airlangga. Pria yang pernah dua kali menikah itu terus berdoa agar selamat sampai ke tujuan.
"Tenang saja, sebelum bekerja di LPA cita-citaku dulu menjadi pembalap formula."
Setelah mengatakan itu Gia menambah kecepatan mobil, dia tak peduli dengan Airlangga yang hampir terkena serangan jantung karena tingkahnya.
Beberapa menit kemudian, Gia sampai dan ternyata ambulance sudah membawa Zie ke rumah sakit, penjaga berkata kalau Zie ditemani pembantu rumah. Gia dan Airlangga tak banyak bicara, mereka kembali masuk ke mobil, tapi kali ini Airlangga menarik tangan Gia, meminta gadis itu duduk di kursi penumpang.
"Kenapa?" tanya Gia yang tak langsung menuruti ucapan Airlangga.
"Apa masih perlu bertanya?"
Gia tak menjawab atau mendebat lagi, dia sadar kondisi pria yang dijulukinya CEO kecap ini sedang panik memikirkan nasib putrinya, belum lagi sang putra juga dibawa pergi oleh Alina.
Airlangga diam seribu bahasa, tatapan matanya fokus ke depan membuat Gia seketika merasa iba. Gadis itu ikut menatap lurus, memandangi kendaraan yang berlalu lalang, hingga Airlangga menekan pedal rem dalam-dalam, dia mengurungkan niat menerobos lampu lalu lintas.
"Maaf! Apa kamu baik-baik saja?" tanya Airlangga. Dia merasa bersalah karena tubuh Gia hampir saja membentur dashboard mobil.
"Tidak apa-apa! “ Gia berdusta, padahal dadanya hampir saja melompat keluar karena kaget.
***
__ADS_1
Setibanya di rumah sakit, Airlangga berlari menuju UGD, dia meninggalkan Gia yang kesusahan karena memakai gaun panjang. Airlangga bertemu dengan pembantu rumahnya yang nampak ketakutan, dia pun mencari tahu detail kejadian yang menimpa putrinya.
Pembantu itu menjelaskan dengan rinci, membuat Airlangga merasa sangat geram. Pria itu bersumpah, jika sampai terjadi sesuatu dengan Zie, dia tidak akan memaafkan Alina.
Gia ingin sekali menenangkan Airlangga, tapi dia bingung. Hubungannya dan pria itu tak sedekat apa yang dibayangkan oleh Zayn. Gia mensejajari Airlangga, mencoba menenangkan dengan berkata semua pasti akan baik-baik saja.
Tak berselang lama dokter keluar bersama perawat. Airlangga yang panik tak bisa membendung rasa penasaran untuk tahu bagaimana kondisi putrinya. Ia tidak akan bisa tenang sampai melihat sendiri keadaan Zie.
“Putri bapak mendapat tiga jahitan di kening, untuk bagian tubuh lain tidak ada cidera yang cukup serius, hanya memar di beberapa bagian tubuh, tapi sebaiknya dilakukan pemeriksaan secara menyeluruh,”kata Dokter.
“Lalu, apa saya bisa melihat kondisinya sekarang?”
Airlangga memandang dengan penuh harap, hingga dokter mengangguk dan dia pun bergegas masuk ke dalam. Gia dan pembantu rumah pun mengikuti, mereka juga ingin melihat bagaimana kondisi Zie.
Namun, baru saja masuk, Airlangga keluar lagi. Ia mengangkat telunjuk sambil memejamkan mata seolah bingung mengungkapkan apa yang ada di kepala.
“Visum, saya mau anak saya dibuatkan laporan visum, dia jatuh dari atas tangga karena didorong oleh suketi,”ujar Airlangga. Setelah itu masuk lagi ke dalam meninggalkan dokter, perawat, Gia dan juga pembantu yang kebingungan.
“Su-suketi, siapa Suketi?” tanya pembantu rumah Airlangga sambil menoleh Gia.
“Ih … itu lho Bi, mantannya, siapa lagi?”jawab Gia.
Dokter memandangi wajah Gia dengan gurat kebingungan, lalu menyampaikan informasi agar bisa diteruskan ke Airlangga, bahwa dokter tidak bisa membuat laporan visum tanpa perintah dari polisi. Dokter itu menjelaskan prosedur rincinya ke Gia sebelum pergi.
***
“Zie, kamu tidak apa-apa ‘kan?” tanya Airlangga ketakutan, dia memindai kaki dan wajah putrinya yang malang.
“Sakit Pa, keningku rasanya perih,”ucap Zie.
__ADS_1
“Papa akan minta dokter memberikan anti nyeri lagi,” ucap Airlangga. Dia memutar badan dan mencari-cari di luar bilik tempat Zie berbaring. “Ke mana mereka?” gerutunya.
Gia dan pembantu rumahnya mendekat, mereka membiarkan saja Airlangga yang kebingungan, dan bergegas melihat kondisi Zie.
“Zie, ya ampun kenapa kamu bisa begini.”ujar Gia bersimpati.
“Mama Alina datang, dia mau membawa Gani. Aku hanya mencoba untuk menahan tapi malah jatuh terguling.”
Gia mengusap pipi remaja berumur empat belas tahun itu, Zie sadar Gia dan papanya pasti meninggalkan pesta untuk buru-buru ke sana.
“Papa, aku takut Gani kenapa-kenapa.” Zie terlihat murung, sedangkan Airlangga sudah sibuk dengan ponsel di tangan.
“Tenang! Papa akan meminta pengacara papa untuk membuat tuntutan, aku tidak peduli akan masuk akun lambe ember atau acara gosip pagi, akan aku tutup telingaku dari gunjingan nitizen julid, atau bahkan pembaca platform online yang sering menyumpahi penulisnya,”cerocos Airlangga.
“Apa kamu suka baca novel online?” tanya Gia, dia malah penasaran dengan hal yang satu itu.
Airlangga diam, dia dan Gia terlibat adu tatap mata sebelum putri Indra itu berkata,”Sudahlah lupakan! Tidak seharusnya kita membahas ini.”
Zie dan sang pembantu tertawa, mereka melihat kecocokan pada Airlangga dan Gia, Zie bahkan berharap dua mahkluk itu bisa menjadi sepasang kekasih.
Di sisi lain, Gani terus saja menangis karena dibawa Alina pergi begitu saja. Bocah itu takut, bahkan mamanya tak segan membentaknya dengan kasar.
“Mama jahat, aku mau sama Papa,”ucap Gani.
“Diam kamu! Papamu itu memang menyebalkan.” Alina sejatinya katakutan, dia melihat Zie tak sadarkan diri dengan kepala mengeluarkan darah tadi. “Anak itu tidak mati ‘kan?” gumamnya di dalam hati.
Alina duduk di sofa dan membiarkan Gani menangis di lantai, karena sebal dia bahkan melempar bantal sofa sampai mengenai badan putranya.
“Diam kamu Gani, berisik! mau mama kunci di kamar mandi? Ha!” bentak ibu kandung rasa ibu tiri ini.
__ADS_1