
Zie terlihat gelagapan mendengar pertanyaan Gia, sudah sangat jelas kalau Zie tidak akan mungkin mau mengaku jika memang disuruh oleh papanya.
“Mana ada! Ini murni keinginanku sendiri,” ucap Zie menyanggah tuduhan Gia.
Gia melihat Zie salah tingkah, hingga bisa menilai jika gadis itu pasti sedang berbohong.
“Pak Airlangga ini memang keterlaluan, bisa-bisanya memanfaatkan anak kecil,” cibir Gia yang ditujukan ke Airlangga.
Zie terlihat tidak suka karena Gia menghina papa tirinya, kemudian membalas ucapan gadis itu.
“Ini semua karena Kakak yang ketus ke Papa. Padahal Papa itu pria baik, penyayang, bahkan mau mengasuh aku yang bukan anak kandungnya. Dia itu pria sempurna, kenapa masih ada yang memandangnya buruk?"
Zie membicarakan hal yang baik-baik tentang Airlangga, sambil menyindir balik Gia yang tidak menyukai papanya.
Gia pun terkejut mendengar ucapan Zie, merasa jika gadis yang sepuluh tahun lebih muda darinya itu mulai ngawur.
“Kamu ini masih kecil, belum tahu apa-apa,” kata Gia.
“Kakak jangan salah. aku tahu betul bagaimana Papa. Dulu dia menikah dengan almarhum Mamaku saat aku masih umur delapan tahun, dua tahun kemudian Mama meninggal dunia. Di saat aku sudah tidak memiliki siapa-siapa, hanya Papa yang mau menampungku,” ujar Zie yang tidak terima jika Gia terus menganggap buruk Airlangga.
Gia yang sedikit terpengaruh dengan cerita Zie pun memilih diam.
__ADS_1
Zie melihat jika Gia mulai menaruh simpati, hingga kembali berkata, “Aku yakin Gani akan lebih bahagia bersama Papa, seperti aku yang selama ini bahagia bersamanya.”
Gia menghela napas kasar mendengar semua cerita Zie, hingga kemudian balik berkata, “Aku tidak bisa menjanjikan apa pun kepadamu, tapi aku akan usahakan berdiskusi dulu dengan papamu.”
Mendengar ada sedikit kesempatan di mana Gia mau membantu, Zie pun merasa senang. Akhirnya dia dan Marsha pun pamit pulang setelah mendapat kejelasan dari Gia.
***
Malam harinya saat makan bersama, Airlangga menanyakan tentang pertemuan Zie dengan Gia siang tadi di LPA. Pria itu penasaran dan ingin mendengar langsung cerita putrinya.
“Jadi, apa dia setuju?”
“Tidak juga, Pa. Tapi aku sudah berusaha,” jawab Zie. Ia lantas menceritakan semua, termasuk Gia yang sudah tahu kalau kedatangannya atas perintah Airlangga.
“Tapi Kak Gia berkata, akan mempertimbangkan dan mengajak diskusi Papa,” ucap Zie di akhir cerita.
Mendengar jika Gia akan mengajaknya berdiskusi, entah kenapa membuat perasaan duda tampan dua kali itu sedikit lega.
**
Di rumah, Gia sendiri masih memikirkan permintaan Zie yang terdengar tulus, meski masih ada campur tangan permintaan Airlangga.
__ADS_1
“Sepertinya aku harus membahas dengan Pak Rafli terlebih dahulu,” gumam Gia sambil memandang televisi yang menyala.
“Masalah ini juga tidak bisa aku putuskan sendiri, kalau mau sebenarnya bisa saja aku membantu, tapi aku juga tidak punya wewenang, jangan sampai rambut cangkok itu malah membuatku kerja rodi."
Gia terus bicara sendiri, sampai Indra yang sedang melintas keheranan karena putrinya seperti orang gila.
“Dia ini kenapa?” Indra memperhatikan Gia yang terus saja bicara sendiri.
***
Hari berikutnya Gia langsung menemui Rafli begitu sampai di kantor Lembaga Perlindungan Anak. Ia ingin membahas masalah Gani.
“Pak, Saya ingin meminta izin untuk bisa bertemu dengan Gani,” kata Gia.
Rafli sangat terkejut mendengar permintaan gadis yang dia tahu sangat membencinya itu. Ia berpikir harus hati-hati jika sampai Gia sudah ikut campur dengan kasus perebutan hak asuh anak yang menguntungkan dirinya.
“Kamu, kenapa tiba-tiba mau ngurus kasus Gani. Memangnya kasus lain sudah selesai?” tanya Rafli hati-hati karena pria itu tidak ingin jika Gia sadar dia tidak senang.
Gia tak menjawab pertanyaan Rafli, dia malah melotot ke pria itu.
"Kenapa? apa Anda takut karena sudah menerima banyak uang dari bintang iklan kecap itu?"
__ADS_1
"Jangan sembarangan nuduh ya kamu Gia. Lama-lama kamu mau nginjak kepalaku, Ha!"